Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 27327 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Bayu Dwiantoro; Pembimbing: Hendra; Penguji: Dadan Erwandi, Ahmad Yani
S-5442
Depok : FKM-UI, 2008
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sabam Frando Sinaga; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Yuni Kusminanti
S-6298
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ulfha Aulia Nasution; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Dadan Erwandi, Christoffel Maranto
Abstrak: Kelelahan merupakan hal yang sering terjadi di berbagai industri, termasuk industri transportasi dalam hal ini khususnya pada masinis KRL. Aktivitas yang dilakukan oleh masinis KRL memiliki potensi menimbulkan terjadinya kelelahan kerja dikarenakan karakteristik pekerjaan dari masinis yang berisiko terpapar oleh faktor fisik (postur janggal), psikososial (usaha, peghargaan, overcommitment, pekerjaan monoton, dukungan social dari rekan kerja, atsan dan keluarga, stres kerja dan shift), dan faktor individu (umur, indeks massa tubuh, status merokok).Penelitian ini dilakukan pada masinis KRL UPT Crew Depok PT. KCI. Desain penelitian yang dilakukan pada penelitian ini bersifat kuantitatif observasional dangan pendekatan cross sectional. Penelitian sebelumnya terkait kejadian kelelahan kerja meneliti faktor risiko psikososial sedangkan masih sedikit penelitian yang meneliti faktor risiko fisik. Selain itu penelitian terkait kelelahan kerja pada umumnya menggunakan instrumen kuesioner sedangkan dalam penelitian ini selain menggunakan instrumen kuesioner juga melakukan pengukuran secara objektif melalui pengukran Salivary Alpha Amilase (SAA) menggunakan cocorometer sebagai salah satu indikator untuk mengukur tingkat stres dan menggunakan aplikasi sleep-2-peak untuk mengukur kelelahan kerja. Hal tersebut yang mendasari peneliti untuk melakukan penelitian terkait gambaran kelelahan kerja serta mengalisis hubungan faktor fisik, psikososial, dan faktor individu terhadap kelelahan kerja pada masinis KRL PT. KCI tahun 2018.
Kata kunci: ix Universitas Indonesia Kelelahan, faktor risiko fisik, faktor risiko psikososial, masinis

Fatigue is a common occurrence in many industries, including the transportation industry in this case particularly in electric train drivers. Activities performed by commuter train drivers have the potential to cause fatigue due to job characteristics of train drivers are at risk of exposure to physical factor (awkward posture), psychosocial factores (effort, reward, overcommitment, monotonous work, social support from co-workers, supervisor and family, work related stress and shift), and individual factors (age, body mass index, smoking status). This research was carried out on the train drivers of UPT Crew Depok PT. KCI. The design of this research is quantitative observational with cross sectional approach. Previous studies have linked the incidence of work fatigue to psychosocial risk factors while only few studies have examined physical risk factors. In addition, the study related to work fatigue in general used questionnaire instrument while in this study in addition to using the questionnaire instrument also made an objective measurement through Salivary Alpha Amylase (SAA) using cocorometer as one of the indicators to measure stress levels and using sleep-2-peak applications to measure work related fatigue.This is the the background to conduct research related to the overview of work related fatigue as well as to analyze the relationship of physical factors, psychosocial, and individual factors to work related fatigue in train drivers of PT. KCI 2018.
Key word: Fatigue, physical risk factors, psychosocial risk factors, train drivers
Read More
S-9825
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arie Yanty Maica; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Zulkifli Djuanaidi, Yuni Kusminanti
S-5682
Depok : FKM-UI, 2009
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Naila Adinda Achmad; Pembimbing: Hendra; Penguji: Abdul Kadir, M. Fiki Handriyanto
Abstrak:
Stasiun Manggarai merupakan stasiun paling aktif yang menghubungkan tujuh persimpangan jalur kereta api. Sebelum pandemi, tercatat bahwa Stasiun Manggarai merupakan stasiun tersibuk yang melayani lebih dari 20.000 pengguna setiap harinya (Ditjen Perkeretaapian 2022). Pada Januari 2023, terkonfirmasi bahwa Stasiun Manggarai memiliki 150.000 pengguna transit dan 14.000 pengguna stasiun per harinya (Fransisca, 2023). Jumlah pengguna yang banyak dapat meningkatkan kepadatan sehingga dapat meningkatkan potensi bahaya dan risiko, termasuk bahaya dan risiko kebakaran. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran sistem proteksi kebakaran dan keselamatan kebakaran di Stasiun Transit Manggarai Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line Jabodetabek dengan menggunakan metode deskriptif observasional dengan pendekatan komparasi. Penulis membandingkan hasil penerapan sistem proteksi kebakaran dan keselamatan kebakaran di Stasiun Manggarai dengan standar NFPA 130 dan Code of Practice for Fire Precautions in Rapid Transit Systems 2022. Hasil dari penelitian ini didapatkan dengan wawancara, telaah dokumen, dan observasi langsung pada stasiun. Berdasarkan penelitian didapatkan bahwa persentase pemenuhan sistem proteksi kebakaran dan keselamatan kebakaran pada Stasiun Manggarai adalah sebesar 84,34% dengan pemenuhan tertinggi pada aspek Fungsi, Reliabilitas, dan Ketersediaan Sistem Komunikasi dan Kontrol dan Persyaratan Kawat dan Kabel sebesar 100% dan pemenuhan terendah pada aspek Sistem Komunikasi Keadaan Darurat sebesar 50%.

Stasiun Manggarai is the most active station. In January 2023, Stasiun Manggarai has 150,000 transit users and 14,000 station users per day (Fransisca, 2023). This large number of users can certainly increase the density – and according to research – density can increase the existing potential hazards and risks, including fire hazards. Therefore, this research was conducted to find out the implementation of fire protection and fire safety system at Stasiun Transit Manggarai Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line Jabodetabek using a descriptive observational method with comparative approach. The author compares the results of implementing fire protection and fire safety systems at Manggarai Station with NFPA 130 and Code of Practice for Fire Precautions in Rapid Transit Systems 2022. The results of this study were obtained through interviews, document review, and observation. The research found that the proportion of implementation of fire protection and fire safety systems at the Stasiun Manggarai is 84.34% with the highest fulfillment at the percentage of 100% on Function, Reliability, and Availability of Communication and Control Systems; and Wire and Cable Requirements aspect. The lowest compliance is in the Emergency Communication System aspect with the percentage of 50%.
Read More
S-11285
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Deden Suharya; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Baiduri, Budi Khumaedi
S-4932
Depok : FKM-UI, 2007
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ike Pujiriani; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra, Sumadi
S-5405
Depok : FKM-UI, 2008
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hemalia Sari; Pembibing: Dadan Erwandi; Penguji: Fatma Lestari, Yuni Kusminanti
S-5936
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wafi Syukri Baraja; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Dadan Erwandi, Indri Hapsari Susilowati, Broer Rizal, Muhammad Rinaldo
Abstrak:

Distres kerja pada masinis Kereta Rel Listrik (KRL) merupakan isu penting dalam sistem transportasi massal perkotaan karena berpotensi menurunkan keselamatan operasional, performa kerja, dan kesejahteraan psikologis pekerja. Peningkatan jumlah pengguna KRL Jabodetabek disertai tingginya tuntutan operasional, sistem kerja shift, tekanan ketepatan waktu, serta kompleksitas kerja berbasis teknologi diduga meningkatkan paparan bahaya psikososial pada masinis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor risiko personal dan faktor risiko pekerjaan dengan distres kerja pada masinis KRL PT Kereta Commuter Indonesia wilayah operasi Jabodetabek tahun 2026. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan deskriptif analitik dan rancangan cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 440 masinis dengan sampel sebanyak 231 responden yang dipilih menggunakan teknik quota accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur, meliputi NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (NIOSH GJSQ), ICAWS, NASA-TLX, JCQ, Job Insecurity Questionnaire, dan IFRC. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan regresi Poisson sederhana untuk memperoleh Prevalence Ratio (PR), serta multivariat menggunakan modified Poisson regression dengan robust variance pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 47,2% masinis mengalami distres kerja. Faktor personal seperti usia, status perkawinan, tingkat pendidikan, masa kerja, dan status kesehatan tidak berhubungan signifikan dengan distres kerja, sedangkan kelelahan kerja hanya signifikan pada analisis bivariat. Pada faktor pekerjaan, perselisihan di tempat kerja, beban kerja berlebih, beban kerja rendah, kontrol terhadap pekerjaan, dan keamanan pekerjaan berhubungan signifikan secara bivariat dengan distres kerja. Namun, hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa hanya perselisihan di tempat kerja (p=0,012: Adjusted PR=0,896: 95% CI=0,822–0,976) dan keamanan pekerjaan (p<0,001: Adjusted PR=0,803: 95% CI=0,744–0,866) yang menjadi faktor dominan terhadap distres kerja pada masinis KRL Jabodetabek. Penelitian ini menyimpulkan bahwa hampir separuh masinis mengalami distres kerja dan faktor pekerjaan merupakan determinan utama, sehingga diperlukan intervensi berbasis Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk mengendalikan bahaya psikososial, memperkuat keamanan pekerjaan, dan menciptakan lingkungan kerja yang suportif guna meningkatkan keselamatan operasional dan kesejahteraan psikologis masinis. Kata kunci: distres kerja, masinis KRL, bahaya psikososial


 

Work distress among Electric Rail Train (KRL) drivers is an important issue in urban mass transportation systems because it has the potential to reduce operational safety, work performance, and workers’ psychological well-being. The increasing number of KRL passengers in the Greater Jakarta area, accompanied by high operational demands, shift work systems, punctuality pressure, and technology-based work complexity, is suspected to increase psychosocial hazard exposure among train drivers. This study aimed to analyze the relationship between personal risk factors and occupational risk factors with work distress among KRL drivers of PT Kereta Commuter Indonesia in the Greater Jakarta operational area in 2026. This study employed a quantitative design with a descriptive-analytic and cross-sectional approach. The study population consisted of 440 train drivers, with a sample of 231 respondents selected using a quota accidental sampling technique. Data were collected using structured questionnaires, including the NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (NIOSH GJSQ), ICAWS, NASA-TLX, JCQ, Job Insecurity Questionnaire, and IFRC. Data analysis was conducted using univariate analysis, bivariate analysis with simple Poisson regression to obtain the Prevalence Ratio (PR), and multivariate analysis using modified Poisson regression with robust variance at a 95% confidence level. The results showed that 47.2% of train drivers experienced work distress. Personal factors such as age, marital status, educational level, years of service, and health status were not significantly associated with work distress, while work fatigue was only significant in the bivariate analysis. Occupational factors including workplace conflict, excessive workload, low workload, job control, and job security were significantly associated with work distress in the bivariate analysis. However, multivariate analysis revealed that only workplace conflict (p=0.012: Adjusted PR=0.896: 95% CI=0.822–0.976) and job security (p<0.001: Adjusted PR=0.803: 95% CI=0.744–0.866) were dominant factors associated with work distress among KRL drivers in the Greater Jakarta area. This study concludes that nearly half of KRL drivers experienced work distress and that occupational factors were the primary determinants. Therefore, Occupational Health and Safety based interventions are needed to control psychosocial hazards, strengthen job security, and create a supportive work environment in order to improve operational safety and the psychological well-being of train drivers. Keywords: work distress, KRL drivers, psychosocial hazards

 

Read More
T-7512
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
M.Yuzar Virza; Pembimbing: Chandra Satrya
S-2654
Depok : FKM-UI, 2002
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive