Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40423 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Trisari Anggondowati; Pembimbing: Yovsyah, Asri C.; Penguji: Endang L. Achadi, Sri Lestari, M. Baharuddin
Abstrak:

Dua dekade telah berlalu sejak kematian maternal diangkat sebagai isu global, namun hingga kini secara umum, angka kernatian ibu (AKI) di berbagai belahan dunia masih tetap tinggi. Di Indonesia, estimasi AK1 pada tahun 2002/2003 sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup, jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara tetangga seperti Srilanka (58), Thailand (110), dan Malaysia (62). Tingginya AKI hanya menggambarkan sebagian dari masalah kesehatan ibu, Diperkirakan, di luar 529.000 kernatian ibu di dunia, sekitar 9,5 juta perempuan mengalami kesakitan yang berhubungan dengan kehamilan dan 1,4 juta mengalami near-miss/nyaris meninggal. Kesakitan dan kematian ibu menggambarkan masih rendahnya kualitas pelayanan kcsehatan ibu. Berbagai pendekatan dilakukan untuk menilai kualitas pelayanan, salah satunya dengan menghubungkan waktu-waktu tertentu yang berpotensi tenjadi penurunan kualitas pelayanan dengan outcome negatifpasien. Dengan metode kohort retrospektif peneliti menilai pengaruh waktu masuk atau menerima tindakan tcrhadap kejadian komplikasi ohstctrik yang mengancam jiwa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu hamil/bersalin/nifas yang masuk atau menerima tindakan di RS pada waktu seputar pergantian shift berisiko 1,75 kali Iebih tinggi mengalami komplikasi obstetrik yang mengancarn jiwa dibandingkan jika masuk atau menerima tindakan pada waktu lainnya (RR 1,75; 95%CI=l,02 - 3,0). Hasil tersebut mengimplikasikan penlingnya evaluasi terhadap pmktck pelayanan kesehatan di RS. Selain itu, selarna periode Desember 2005 - Mei 2006, diketahui rasio kematian ibu terhadap kasus near-miss di RSU Serang dan Pandeglang sebesar 1:11, yang menunjukkan bahwa upaya pencegahan komplikasi obstetrik yang mengancam jiwa dapat menyelamatkan lebih banyak jiwa, dibandingkan jika hanya berfokus pada pencegahan kematian ibu.


Two decades has passed by since maternal mortality being raised as a global issue. But until now, matemal mortality ratio (MMR) in most part of the worlds remains high. In Indonesia, the estimate MMR for 2002/2003 is 307 per 100,000 livebirth, considerably higher that other countries such as Srilanka (58), Thailand (110), and Malaysia (62). The high MMR only reflects a part of matemal health problem. It is estimated that beside 529,000 matemal deaths, there are approximately 9.5 miilon women suffer from pregnancy-related morbidity, and 1,4 million of them survive fiom near-miss. Matemal morbidity and mortality related with the low quality of matemal health care. Various approaches can be used to assess quality of care, one is by relating certain potentially dangerous time, which have the potential of low quality of care, with the negative outcomes of patients. Using retrospective cohort, the effect of time of admission or time receiving definite intervention to the incidence of obstetric life-threatening complication was investigated. The result shows that pregnant/delivery/post partum women who admitted or received definite intervention around the time for handover had 1,75 higher risk to develop obstetric life-threatening complication, compared to admission or receiving intervention at different times (RR 1,75; 95%CI=l,02 - 3,0). The result implies the need for evaluation of the practice of health care delivery in the hospital. Between December 2005 - May 2006, the maternal death to near-miss ration in both hospitals was 1:11, implies the need for prevention of obstetric life-threatening complication which would save more lives, compared to focusing effort only on matemal death.

Read More
T-2969
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yulia Nur Izati; Pembimbing: Asri Adisasmita, Endang L. Achadi; Penguji: Sri Lestari, M. Baharuddin
Abstrak:

Setiap tahunnya terdapat 1 juta bayi yang meninggal pada hari pertama dikarenakan asfiksia. Risiko kematian karena asfiksia adalah 8 kali lebih tinggi di negara dengan angka kematian neonatal tinggi (Lawn dkk, 2005). Di Indonesia, sekitar 27.0()0 bayi baru lahir meninggal pada hari pertama karena asfiksia (Save the Children, 2005). Selain itu, asfiksia menempati urutan kedua penyebab utama ematian neonatal di Indonesia, setelah berat bayi lahir re dah (29%) ya itu sebesar 27% (SKRT:, 2001). Kejadian astiksia pada bayi baru lahir di RS, menggambarkan kualitas pelayanan kesehatan yang diterima oleh ibu dan bayi baik sebelum masuk RS maupun sesudah masuk RS. Kualitas pelaya nan yang diterima ibu dan bayi dapat dipengaruhi oleh beberapa aktor, diantaranya adalah akses terhadap pelayanan kesehatan. Akses terhadap pelayanan kesehatan yang bagus akan dapat mencegah keterlambatan dalam enerima pela):anan kesehatan yang berkwalitas dan mencegah terjadinya asfiksia. Sebaliknya akses yang tidak bagus terhadap pelayanan kesehatan akan menggamoarkan adanya permasalalian sebelum mencapai fasilitas kesehatan dan hal ini dapat terlihat dengan adan ya tanda dan gejala asfiksia pada bayi baru lahir. Faktor tempat tinggal ibu merupakan salah satu proksi yang dapat setelah mempertimbangkan faktor ibu dan anak dan pelayanan kesehatan. Pola kejadian asfiksia di RS berdasarkan wilayah tempat tinggal menunjukkan bahwa ibu­ ibu yang berasal dari wilayah rural memiliki risiko 1,57 kali untuk bayinya mengalami asfiksia jika dibandingkan dengan ibu yang berasal dari wilayah urban (OR I ,57 95% Cl I,17 - 2, I 0) setelah dikontrol dengan variabel terkait lainnya.


 

Every year I million babies died on the first day born due to asphyxia. The risk of asphyxia i8 times higher in the country with high neonatal Heath (Law n et al,:2005). In Indonesia, about 27.0. 0 newborn babies d ied in he fi rst day of their life d ue to asphyxia (Save the childre , 2005). Asphyxia is the second cause of death in neonatal periooe in Indonesia (27%), after lew birth weight in th first place (29%) (SKR1\ 2001). Asphyxia of newborn by, ill ustrate health service qualiry hat mother and baby accept before and afte care in tHe hospi tal The quality of services received by mother and Baby can be infl uence by sev ra J factors; one f those is access to the hea lth service. Good access to t h hea lth service can prevent delayed i n the acceptance for quality of hea lth service an prevent baby to get asphyxia. On the other side, poor access to the health service ean ill ustrate a prob le before reaching the healtH facilities and thi can be seen i n he sign and symptom of birth asphyxia of the newborn baby. Mother's residence is one of the p oxies that can illustrate access to the health facilities in one area. The proxy of health service facilities can used to evaluate improveme to prevent asphyx ia. Identify the delay before reaching hospital can also be illustrated poor access t0 the healt}l service. And t his can be used to identify poor access through mother-'s residence rela. ed to birth a hyxia.

Read More
T-2918
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Reni Setiawaty; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Yovsyah, Susi Badrayanti, Siti Nurul Qomariah
T-3179
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhamad Amin; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Ratna Djuwita, Yovsyah, Hartati
T-3111
Depok : FKM-UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bambang Priyanto; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Yovsyah, Tri Yunis Miko Wahyono, Suharno, Agus Handito
T-3093
Depok : FKM-UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mutia Eka Nuriani; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Putri Bungsu, Eka Widya Khorinal
Abstrak:

Latar belakang. Demam neutropenia merupakan salah satu adverse event yang sering terjadi pasien kanker payudara. Demam neutropenia yang tidak dapat dicegah dan ditangani dengan baik mengakibatkan komplikasi, kematian dan mempengaruhi efektivitas pengobatan. Olehkarena itu perlu diketahui faktor-faktor dominan apa saja yang dapat mempengaruhi terjadinya demam neutropenia agar kejadian demam neutropenia dapat dicegah. Tujuan. Untuk mengetahui hubungan variabel bebas usia, status performa, penyakit penyerta, jenis kanker payudara, stadium kanker payudara, pemberian kemoterapi sitotoksik, albumin, hemoglobin dengan kejadian demam neutropenia pada pasien kanker payudara di RS Kanker Dharmais Jakarta. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain potong lintang. Hasil. Proporsi demam neutropenia adalah 13,67%. Faktor risiko dominan penyebab demam neutropenia adalah variabel status performa pasien PR Crude 3,64 (95% CI 2,07-6,39, p-value 0,001), PR Adjusted 2,16 (95% CI 1,09-4,30, p-value 0,027); diabetes PR Crude 2,30 (95% CI 1,21-4,53; p-value 0,012), PR Adjusted 2,17 (95%CI 1,07-4,41; p-value 0,030); stadium tiga PR Crude 2,28 (95% CI 1,2-5,07; p-value 0,001) PR Adjusted 2,49 (95% CI 1,11-5,60; p-value 0,001), dan stadium empat PR Crude 3,93 (95% CI 1,72-8,97; p-value 0,001) PR Adjusted 3,6 (95% CI 1,45-8,93; p-value 0,001). Kesimpulan. Kejadian demam neutropenia pada pasien kanker payudara menunjukkan hasil yang signifikan. Upaya pencegahan menggunakan profilaksis G-CSF diperlukan untuk pasien dengan risiko tinggi mengalami demam neutropenia. Penelitian lanjutan terkait konsekuensi demam neutropenia perlu dilakukan. Kata kunci. Demam neutropenia, faktor risiko, kanker payudara, kemoterapi sitotoksis


 

Background. Febrile neutropenia is one of the adverse events that often occur in breast cancer patients. If it cannot be prevented and treated properly, it increases complications and mortality and decreases the effectiveness of treatment. Therefore, knowing the dominant factors that can affect febrile neutropenia is necessary, and febrile neutropenia can be prevented.  Objective. To determine the relationship between independent variables of age, performance status, comorbidities, type of breast cancer, stage of breast cancer, regiment of cytotoxic chemotherapy, albumin, and hemoglobin with the incidence of febrile neutropenia in breast cancer patients at Dharmais Cancer Hospital, Jakarta. Method. Observational study with cross-sectional design. Results. The proportion of febrile neutropenia was 13.67%. The dominant risk factors causing febrile neutropenia are patient performance status PR Crude 3,64 (95% CI  2,07-6,39, p-value 0,001), PR Adjusted 2,16 (95% CI  1,09-4,30, p-value 0,027); diabetes PR Crude 2,30 (95% CI 1,21-4,53; p-value 0,012), PR Adjusted 2,17 (95%CI 1,07-4,41; p-value 0,030); stages three of breast cancer PR Crude 2,28 (95% CI 1,2-5,07; p-value 0,001) PR Adjusted 2,49 (95% CI 1,11-5,60; p-value 0,001); stage four of breast cancer PR Crude 3,93 (95% CI 1,72-8,97; p-value 0,001) PR Adjusted 3,6 (95% CI 1,45-8,93; p-value 0,001). Conclusion. The incidence of febrile neutropenia in breast cancer patients showed significant results. Prophylaxis G-CSF is needed for patients at high risk of developing febrile neutropenia. Further research related to the consequences of febrile neutropenia is required. Keywords. Breast cancer, cytotoxic chemotherapy, febrile neutropenia, risk factors

Read More
T-7174
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ritanugraini; Promotor: Nasrin Kodim; Kopromotor: Ratu Ayu Dewi Sartika, Syafruddin; Penguji: Inge Sutanto, Lukman Hakim, Abas Basuni Jahari, Kholis Ernawati
D-337
Depok : FKM-UI, 2016
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Murti Utami Putri; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Trisari Anggondowati, Zakiah, Siti Nurul Qomariyah
Abstrak:

Komplikasi merupakan penyebab utama kematian ibu di Kota Depok. Continuum of Care (CoC) memiliki peranan untuk mendeteksi dini risiko komplikasi dan mencegah kematian ibu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak CoC pada ibu hamil, bersalin dan nifas terhadap Adverse Pregnancy Outcomes (APOs) pada ibu bersalin dan nifas di 6 Puskesmas mampu PONED Kota Depok dengan desain studi kohort retrospektif. Data dikumpulkan pada Maret sampai Mei 2024. Data sekunder yang digunakan bersumber dari data register kohort ibu (dari masa kehamilan-nifas). Data dianalisis menggunakan chi square, dilanjutkan Regresi Logistik dan dikoreksi dengan OR corrected. Hasil Analisis multivariat menunjukkan pada populasi ibu multipara dan Grande multipara yang melaksanakan CoC adekuat berisiko lebih rendah untuk mengalami APOs (RRcorrected= 1,46, 95%CI: 0,96-1,86). Sedangkan, Ibu hamil dengan kondisi primipara yang melaksanakan CoC adekuat memiliki risiko lebih rendah untuk mengalami APOs (RRcorrected 1,41, 95%CI: 1,00-1,67). APOs dapat dicegah sebesar 39,81% dan 40,11% masing-masing pada populasi umum dan populasi ibu primipara apabila layanan CoC di optimalkan. Asuhan ANC dan PNC yang dilaksanakan adekuat dapat menurunkan APOs sebesar 21,97% dan 19,51%. CoC perlu dilaksanakan secara adekuat untuk mencegah APOs. CoC yang dilaksanakan sesuai rekomendasi akan memberikan manfaat yang baik bagi ibu maupun bayi nya.

Keywords: Antenatal Care; Continuum of Care; Maternal Mortality; Postnatal Care; Pregnancy Complication

 

Complications are the main cause of maternal mortality in Depok City. Continuum of Care (CoC) has a role in detecting early risk of complications and preventing maternal mortality. This study aimed to determine the impact of CoC on Adverse Pregnancy Outcomes (APOs) in pregnant, delivery, and postpartum women at 6 PONED capable health centers in Depok City with a retrospective cohort study design. Data were collected from March to May 2024. Secondary data were sourced from maternal cohort register data (from pregnancy to postpartum). Data were analyzed using chi-square, followed by Logistic Regression, and corrected with OR corrected. Results Multivariate analysis showed in the population of multiparous and Grande multiparous mothers who implemented adequate CoC had a lower risk of experiencing APOs (RRcorrected = 1.46, 95%CI: 0.96-1.86). Meanwhile, pregnant women with primiparous conditions who carry out adequate CoC have a lower risk of experiencing APOs (RRcorrected 1.41, 95%CI: 1.00-1.67). APOs could be prevented by 39.81% and 40.11% in the general population and primipara population respectively if CoC services were optimized. Adequately implemented ANC and PNC care can reduce APOs by 21.97% and 19.51%. CoC needs to be implemented adequately to prevent APOs. CoC implemented according to recommendations will benefit both mothers and their babies. Keywords: Antenatal Care; Continuum of Care; Maternal Mortality; Postnatal Care; Pregnancy Complication

Read More
T-6957
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuli Farianti; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Syahrizal Syarif, Lukas C. Hermawan, Teti Tejayanti
Abstrak: Mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar dinegara berkembang. Sebagian besar penyebab utama kematian ibu di Indonesia(60-90%) adalah akibat komplikasi persalinan (persalinan lama, diikuti olehketuban pecah dini, perdarahan dan demam). Kualitas pelayanan antenatal diduga sebagai faktor risiko kejadian komplikasi persalinan. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui pengaruh kualitas pelayanan antenatal terhadap kejadiankomplikasi persalinan di delapan propinsi di Indonesia setelah dikendalikanseluruh confounding. Desain studi yang digunakan dalam penelitian ini adalahcross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah ibu yang mempunyaibayi/balita di delapan propinsi di Indonesia dengan jumlah sampel 2823 . Teknikpengambilan sampel pada penelitian ini adalah multistage sampling. Analisismultivariat yang digunakan adalah cox regression. Hasil analisis multivariatmenunjukkan tidak ada pengaruh kualitas pelayanan antenatal terhadap kejadian komplikasi persalinan setelah dikendalikan variabel penolong persalinan dancara/metode persalinan dengan prevalence ratio (PR) sebesar 0,89 (CI 95% : 0,59-1,34). Perlunya peningkatan kualitas pelayanan antenatal terpadu dan terintegrasi agar dapat mencegah, mendeteksi dini dan menanggulangi kejadian komplikasi persalinan serta diharapkan adanya penelitian selanjutnya yang meneliti spesifik jenis ANC yang dapat menurunkan komplikasi persalinan. Kata kunci: Komplikasi persalinan, kualitas, pelayanan anatenatal
Mortality and morbidity on pregnant women and maternity is still big problem indeveloping countries. Mostly caused of maternal mortality in Indonesia aredelivery complication (prolonged labor, water broke, vaginal bleeding, and fever).Quality of antenatal care may be a risk factor of delivery complications. Thepurpose of this study to know how much effect quality of antenatal care todelivery complications after adjusted all confounding. This study used the crosssectional design. Respondent of this study are mother who had infant/childrenunder five years at eight provinces in Indonesia and number of respondent were2823 took with multistage sampling. The multivariate analysis used coxregression. There was not effect of antenatal care to delivery complications afteradjusted delivery helper and methods of delivery with prevalence ratio (PR)sebesar 0,89 (CI 95% : 0,59-1,34). Needed to increasing the comprehensive andintegrated quality of antenatal care to prevent, early detection, and to controlled ofdelivery complication and another similar studies was still needed that examinedspecific of ANC which can reduced delivery complications.Keyword:Delivery complications, quality, antenatal care
Read More
T-4153
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andri Musita; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Kusharisupeni, Besral, Minarto, Anies Irawati
T-4782
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive