Ditemukan 34729 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Industri seks komersial menjadi penting diperhatikan karena bukan saja menyangkut masalah kualitas moral, namun juga karena banyaknya dampak yang ditimbulkan. Salah satunya adalah penyebaran IMS termasuk HIV/AlDS. Salah satu isu yang mendapat perhatian besar akhir-akhir ini adaJah penggunaan kondom pada industri seks komersial sebagai upaya pencegahan IMS terutama infeksi HIV. Selain di lokalisasi prostitusi. industri seks komersial terkadang terselubung dalam industri hiburan seperti bar, diskotik, karaoke, live music (musik hidup), panti pijat, spa, hotel, dan restoran. Program kondom seratus merupakan program yang dilaksanakan sejak tahun 1995 yang terintegrasi dengan program pencegahan dan pengangguangan HIV/AIDS lainnya. Program kondom seratus persen mempunyai tujuan utama mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual pada kelompok resiko tinggi, salah satunya pada penjaja seks komersial. Pada industry seks komersial fackor yang berpengaruh terhadap penggunaan kondom adalah ekonomi, pengetahuan mengenai kondom, IMS dan HIV/AIDS, ketersediaan kondom di tempat prostitusi, dukungan dari mucikari, petugas LSM dan petugas kesehatan, serta dukungan komitmen dari Pemerintah. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dan jenis desain yang digunakan adalah Rapid Assessment Producers (RAP). Pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam kepada enam wanita penjaja seks (WPS), dua mucikari/pemi!ik tempat, dua petugas LSM terkait. dan dua petugas kesehatan di Kelurahan Maphar. Hasil penelitian ini menunjukkan belum ter1aksananya Program Kondom 100% di panti pijat yang menjadi lokasi penelitian. Kurangnya dukungan komitmen dari pemerintah, tidak tersedianya akses kondom di tempat seks komersial, tidak adanya peraturan penggunaan kondom. kurangnya dukungan dari mucikari, dan faktor ekonoml menjadi hambatan pelaksanaan Program Kondom seratus persen di Kelurahan Maphar, Di panti pijat yang menjadi lokasi penelitian tidak terdapat peraturan penggunaan kondom, dan tidak semua panti pijat menyediakan kondom. Terdapat perbedaan karakteristik WPS dan pelanggan WPS yang menggunakan dan yang tidak menggunakan kondom. Dukungan manajer panti pijat hanya sebatas mengingatkan penggunaan kondom. Peran petugas LSM adalah melakukan penyuluhan IMS, pendampingan, dan bantuan pemberian kondom. Peran petugas kesehatan terutama melakukan pemeriksaan kesehatan, selain itu petugas kesehatan juga melakukan penyuluhan IMS dan bantuan pemberian kondom. Dengan demikian untuk meningkatkan pencapaian Program Kondom Seratus Persen perlu adanya kerja sama dari instansi pemerintah terkait dalam membuat undang-undang yang menjadi dasar penanggulangan lMS dan HIV/AlDS, khususnya peraturan mengenai penggunaan kondom di tempat-tempat hiburan. Apabila peraturan penggunaan kondom pada ke!ompok beresiko sudah ditetapkan, diharapkan instansi pemerintah terkait, LSM, petugas kesehatan, dan pemilik tempat hiburan dapat bekerjasama melakukan monitoring Program Kondom Sersatus persen. Selain itu untuk mencegah penularan IMS dan HIV, diperlukan pendidikan kepada masyarakat umum mengenai hubungan seks yang aman, yaitu tidak melakukan hubungan seks sebelum nikah, setia kepada pasangan, dan menggunakan kondom pada hubungan seks yang beresiko menularkan IMS dan HIV.
Hasil penelitian ini menemukan dari seluruh variabel pada studi ini faktor yang berhubungan dengan penggunaan kondom yang konsisten adalah : menawarkan kondom (OR= 19,539 95% CI 8,701-43,876), ketersedian kondom ( OR= 0 95% CI 0) dan pasangan seks (OR= 0,110 95% CI 0,057- 0,211).
Penelitian ini merekomendaksikan adanya outlet kondom pada tempat tertentu yang mobile agar WPSTL dapat mengakses dan mendapatkan kondom secara berkala.
Kata kunci: Human Immunodeficiency Virus (HIV), Wanita Pekerja Seks Tidak Langsung (WPSTL), Kondom, Survei Cepat Perilaku (2013)
Female Sex Workers (FSW) is a high-risk population for infection HIV/AIDS until now. This study aims to explore the determinant consistency of condom use to prevent HIV/AIDS in FSW / client. This study used cross sectional study design by using Rapid Behavior Survey among key population at DKI Jakarta with total sample 240 respondents.
This study found of all variables in this study factors associated with consistent condom use is: to offer condoms (OR = 19.539 95% CI 8.701 to 43.876), the availability of condoms (OR = 0. 95% CI 0) and sexual partners (OR = 0.110 95% CI 0.057 to 0.211).
The study recommended to provide condom outlets in certain specific places to give more access for condom to WPSTL regularly.
Keywords: Female Sex Workers Indirect, condoms, HIV/AIDS, Rapid Behavior Survey
Wanita pelacur adalah salah satu kelompok resiko tinggi untuk tertular lnfeksi Menular Seksual termasuk HIV/AIDS. Hal ini mengingat perilaku seksual yang tidak aman dengan berganti pasangan. Mereka menjaja seks di jalanan sehingga dianggap mengganggu ketertiban umum kemudian ditertibkan oleh aparat (digaruk) untuk dikirim ke panti rehabilitasi sosial. Rehabilitasi tidak selalu berjalan efektif karena terlihat setelah keluar dari panti mereka kembali ke jalan. Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah untuk melakukan optimalisasi peran panti sosial. Tujuan penelitian: mendapatkan gambaran tentang proscs rehabilitasi sosial yang dilakukan di kedua panti, gambaran tentang persepsi dan tingkat pcngctahuan tentang HIWAIDS, serta proses rehabilitasi sosial yang sedang dijalaninya. Metodologiz penelitian ini dilakukan studi deskriptif dengan teknik wawancara, observasi, dan studi kepustakaan, sedangkan studi kualitatif dengan cara wawancara mendalam yang dilakukan di Panti Rehabilitasi Sosial Marga Rahayu dan Mulya Jaya Jakarta sejak April-Juni 2008. Hasil: Gambaran karakteristik penghuni dengan rentang usia 16-49 tahun. Tingkat pengetahuan tentang HIV masih rendah. Pada umumnya menikah dan berasal dari Jawa Barat, mobilisasi 26,6 persen, pernah dibina lebih dari 2 kali 63 persen, persepsi tentang rehabilitasi sosial mereka mengetahui tentang kegiatan panti, tentang peratunan dan sanksi, (sanksi yang dilakukan banyak yang tidak tertulis) sebagian besar merasa senang dengan keterampilan, 72,3 persen berpozensi kembali lurun ke jalan. Hal ini menggambarkan efektifitas peran panti untuk teljadinya perubahan perilaku untuk tidak kembali menjadi pelacur. Saran: Bagi Penghuni hendaknya menngkatkan kesadaran pentingnya pencegahan untuk tidak tertular dan menularkan penyakit kepada orang lain akibat perilaku seksual yang tidak aman, dan meningkatkan keterampilan hidup (LW Skill) untuk dimanfaatkan agar tidak kembali ke jalan.Bagi panti perlu mengajarkan IW skill yang berorientasi pada kebutuhan individu dan upaya promotif tentang HIV/AIDS khususnya umumnya tentang kesehatan rcproduksi di panti jangka panjang dcngan meningkatkan kerjasama Iintas sektoral dalam rangka penyaluran penghuni setelah selesai menjalani rehabiiitasi sosial. Untuk akademisi hendaknya melakukan Studi kualitatif mengapa mereka kembali kejalan.
The prostitute is one of the groups that have the highest risk to be infected by Sexually Transmitted Infection including HIV/AIDS (Human lmmunodejiciemy Virus/ Acquired Immune Deficiency Syndrome) unsafe sexual behavior by changing partner. They try to offer sexual relation on the street and it bothers public order. If it is happened, they are usually arrested by the social oflicers and are sent to the social rehabilitation center. The rehabilitation does not always run effectively. We can see after they followed the rehabilitation program, they go back to the street. This problem becomes a challenge for the govemment to do the maximum part of social center/house. The aim of the research : To get the description about the process ofthe social rehabilitation which is done in both of the houses, the description about perception and thc knowicdgc of HIV / AIDS, also social rehabilitation process that is running. Methodology: This research is done in description study through interview technique, observation and literature study. Qualitative study through depth interview is done in both of Social Rehabilitation Center Marga Rahayu and Mulya Jaya Jakarta since April-June 2008. Result: inhabitant in that place are between I6 - 49 years old. Their knowledge of HIV is not maximum. Most of them are married and came fiom West Java, mobilization 26, 6 percent, has rehabilitated more than twice are 63 percent. Their perception about social rehabilitation are the activities, the rules, and punishment of the house (most of the punishments were unwritten). Most of them are happy because they can get some skills hom the social center. And 72,3 percent is potential to go back to the street. Those things describe the effectively of the social center in order to change the prostitute’s behavior and try to make them not go back to thc street to become a prostitute again. Suggestion: The writers suggest the inhabitant to do the safe-sex to make them healthy and are not infected by HIV. And for the For the house, needs to teach life skill which has orientation in individual need and promotion effort especially about HIV/AIDS, and generally about reproduction healthy for long term by increasing cooperation among the sectors. The house also has to think where the prostitute must go afier following the program in social rehabilitation. And for the researcher they can do some researches why the ex-inhabitants of the social control go back to the street.
This study uses cross sectional design which aims to obtain a picture and the factors associated with the use condom with on Jakarta in 2010. The research with this quantitative study involving 118 gay men in Jakarta as a respondent. From the multivariate analysis we found two related variables significantly. The variables are attitudes towards condoms and accessibility in obtaining condoms. Attitude variable is the variable most dominant influence in this study. Parties are advised to Jakarta health department programs, increase condom use empowerment program to the community particularly vulnerable to sexually transmitted diseases gay community. Still looking forward to the activities that lead to the emergence of knowledge and attitude changes. For the gay community in Jakarta is expected to increase the knowledge of condoms and sexual venereal disease by joining in the gay social groups that continue to get infomation and learning. For other researchers, further research must be done both qualitatively and quantitatively by using other research designs are more powerful, less biased and more adequate sample size.
Growth and development of a baby depends on how parents stimulatethem. Infant massage is one way of stimulating the growth and development ofbabies where it is a tradition that is still often done by the Java community,especially in the districts of the district Adipala cilacap region that is generallydone by TBAs This study aims to get an overview and in-depth information aboutinfant massage in the District Adipala Cilacap. This study used a qualitativeapproach to the design of RAP. Information obtained through in-depth interviewson 10 mothers who have babies 0-11 months, 4 TBAs, 2 midwives coordinatorchildren, and 2 heads of health centers Adipala District Area. The results showedthat infant massage or do mothers bye baby in the District of Cilacap Adipala notin accordance with the guidelines of infant massage is recommended the Ministryof Health because the massage is done on the local community performed on theentire body after the baby is born and massage when the baby is sick. InfantMassage in District Area Adipala a hereditary tradition performed by TBAs.Benefits of infant massage for smooth blood circulation, relax muscles, optimalgrowth, rest ful sleep, and a healthy baby. Infant massage should only beperformed on healthy babies and under certain conditions such as fever, cough,colds, sprains and should not be done too often. Baby's entire body except theabdomen be massaged because there is not yet off the umbilical cord and cancause illeus. Information about massage is generally obtained from the familyespecially the baby 's grandmother. Currently there are no policies or rules of theclinic on infant massage.Keywords : massage , baby
