Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 26147 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Delvi Yolanda; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Ridwan Zahdi Syaaf, Robiana Modjo, Tata Soemitra, Muhammad Mushanif Mukti
Abstrak:

Para pekerja konstruksi seringkali dihadapkan pada kondisi terpapar faktor risiko terjadinya gangguan otot rangka. Smallwood (2002} mernbuat skor dan me­rangking 23 kegiatan kontruksi di Afrika Selatan pada tabun 1996 - 2001 menempatkan pekerjaan pengecoran dalam 3 teratas pekerjaan yang paling beresiko terhadap terjadinya gangguan otot rangka. Pekerjaan pengecoran sarat dengan task task menggunakan tenaga manual, merupakan suatu slklus yang berufang-ulandan bersifat kontinu dimana pekerjaan tidak. boleh terhenti sebelum seluruh area yang direncanakan selesai dicor (durasi yang lama). Kondisi tersebut sangat berpeiuang dalam mengembangkan risiko-risiko terjadinya gangguan terhadap sistem otot dan rangka. Oleh sebab itu perlu dilakukan analisis faktor risiko tenuama terhadap risiko pada otot dan rangka pada pekerjaan pengecoran agar dapat ditetapka.n program pengendalian risiko yang tepat untuk menghilangkan atau meminimalisasi risiko tersebut. Metode penelitfan ini adalah kualitatif dengan desain deskriptif. dimana peneliti mengumpulkan data dengan melakukan observasi langsung di Japangan dengan mengamati setiap task pada kegiatan pengecoran. Data observasi juga didukung dengan pengambilan foto dan video. Ada 8 (de!apan) task daJam pekerjaan pengecoran yang menjadi diobservasi oleh peneliti, yaitu uji slump, menyambung pipa pompa, menuangkan belon, memadatkan beton dengan sistem vibrasi, menyebarkan beron. meratakan pennukaan beton, merapikan permukaan beton, dan menggarisi permukaan beton. Hasil penelitan memperlihatkan adanya beberapa faktor risiko yang terjadi pada pekerjaan pegecoran,yaitu postur janggai (5 tasks}, gerakan repetitive (6 tasks)pengerahan tenaga beriebihan (2 tasks), getaran (I rask) dan contact stress (1 task). Dad faktor risik.o tersebut,. rask yang diketabui beresiko dapat menyebabkan gangguan otot nmgka adalah task menyambung pipa pampa, menuangkan beton, memadatkan beton dengan sistem vibrasi, menyebarkan beton, dan merapikan pennukaan beton, Sedangkan task uji slump, meratakan permukaan beton dan menggatisi permukaan beton tidak beresiko menyebabkao gangguan otot rangka karena durasinya yang pendek.


Construction worker are mostly exposed with the risk factors of musculoskeletal disorders, Smallwood (2002) had scored and ranked the 23 of the construction-s jobs fn South Africa within 1996- 2001, and placed !he concreting task as the top three of the riskies task for developing musculoskeletal disorders. The nature of concreting works (if still doing the manual task, as the repetitive circle of work, and fasting continuously, where the work cannot be stopped before finished all of the planned area (long duration). These conditions lead the jobs in increasing the risk for developing musculoskeletal disorders. So that, is necessary to analyze the ergonomic's risk factors particulary in musculoskeletal disorders risk in concreting jobs, as the point in developing the required control programs to eliminate or minimize those risks. This research is a descriptive research design with the qualitative method, in which the researcher conducted the direct observation at the field by observed each concreting ask. This observation was also supported with photos and video. Eight tasks in concreting had been observed by researcher, those are: slump Jest, joining the pump's pipes, concrete pouring, vibrating, concrete spreading, concrete leveling, concrete finishing, and concrete lining. The result shown some rikk foctars founded in concreting jobs, those are: aukward postures (5 tasks). repetitive movement (6 tasks), overexertion (2 Jasks), vibrating (I task), dan contact stress (I task). From the risk factors, it is founded that the 1ask.s in which increasing the risk of musculoskeletal disorders are: joining are pump's pipes, concrete pouring, vibrating, concrete spreading. and concrete finishing. While, the slump test, concrete leveling, and concrete lining were not increasing the risk of musculoskeletal disoreders because of ifs short duration.

Read More
T-3014
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irfan Nurhidayat; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Ridwan Z. Sjaaf, Kurniawan
S-5949
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mas Fadhli Aria Ponta; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Ridwan Zahdi Syaaf, Hanny Harjulianti, IStiati Suraningsih
Abstrak: Pekerjaan rigger berisiko LBP, tujuan penelitian ini untuk mengetahuifaktor risiko ergonomi pekerjaan dan tingkat risiko LBP serta pengendaliannya.Desain penelitian adalah cros sectional terhadap pekerja rigger, denganmenggunakan metode Rapid Entire Body Assesment (REBA). Hasil penelitian inimenunjukkan tingkat risiko tertinggi adalah pada saat melepaskan hook craneskor (11), sedangkan yang terendah adalah saat melepaskan lilitan wire sling skor(6). Disarankan menambah alat bantu berupa grating basket bertingkat, basketpanjang, penyanggah casing, penyanggah hook crane dan meningkatkanperawatan pada alat bantu ini.Kata Kunci : Ergonomi, Rigger, LBP, REBA
LBP can caused by Rigger jobs, the purpose of this study to determineergonomic risk factor, level of risk and risk control of LBP. The study design wascross-sectional using REBA (Rapid entire body assessment) method. The result ofthis study shows that the highest risk rate was 'release the hook crane" with 11score.The lowest score was "release the wire sling" with 6 score.This studysuggest to added graded grating basket, long basket, casing buffer, hook cranebuffer, and do appropriate maintenance to this tools.Keywords : Ergonomics, Rigger, LBP, REBA
Read More
T-4064
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vanya Wahyulianti Hartono; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Erlangga Genta Prasasti
S-9993
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wanwan Ridwan; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Hendra, Irma Setiawaty Wulandari
S-6173
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Yuliani; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Abdul Kadir, Ali Syahrul Chairuman, Bimo Prasetyo
Abstrak:
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan aspek vital dalam proyek konstruksi jalan tol yang memiliki risiko tinggi dan kompleksitas pekerjaan besar. Meskipun Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK) telah diwajibkan melalui Permen PUPR No. 10 Tahun 2021, implementasinya di lapangan masih belum optimal, ditunjukkan oleh tingginya angka kecelakaan kerja pada proyek infrastruktur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor individu berdasarkan Model Green—yang mencakup faktor predisposisi (pengetahuan keselamatan, sikap terhadap keselamatan, kesadaran terhadap bahaya), faktor pemungkin (pelatihan keselamatan, fasilitas dan dukungan keselamatan, penerapan SOP dan kepatuhan), serta faktor penguat (kepemimpinan dan pengawasan K3, pengalaman kerja dan sharing session)—terhadap perilaku aman pekerja dalam implementasi SMKK pada proyek Jalan Tol Trans Sumatera ruas Palembang–Betung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional, melibatkan 138 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert 1–5 dan dianalisis dengan uji korelasi Pearson serta regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan, seluruh faktor individu memiliki hubungan signifikan dengan perilaku aman (F = 4,462; p < 0,001). Namun secara parsial, hanya variabel pelatihan keselamatan yang berpengaruh signifikan (β = 0,373; p < 0,001). Faktor sikap terhadap keselamatan dan kesadaran terhadap bahaya menunjukkan korelasi positif signifikan pada uji korelasi (p < 0,05), tetapi belum cukup kuat dalam regresi parsial. Faktor lain, seperti pengetahuan keselamatan, fasilitas dan dukungan keselamatan, SOP dan kepatuhan, kepemimpinan dan pengawasan K3, serta pengalaman kerja dan sharing session tidak menunjukkan pengaruh signifikan dalam model regresi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa efektivitas implementasi SMKK sangat dipengaruhi oleh pelatihan keselamatan yang efektif, didukung komunikasi dua arah, kepemimpinan yang kuat, serta internalisasi nilai-nilai keselamatan untuk menciptakan budaya kerja yang aman dan berkelanjutan.

Occupational health and safety (OHS) is a vital aspect in toll road construction projects, which involve high risks and complex activities. Although the Construction Safety Management System (SMKK) is mandated by Ministry of Public Works Regulation No. 10 of 2021, its implementation in the field remains suboptimal, as indicated by the high number of occupational accidents in infrastructure projects. This study aimed to analyze the influence of individual factors based on the Green Model—including predisposing factors (safety knowledge, safety attitude, hazard awareness), enabling factors (safety training, safety facilities and support, SOP implementation and compliance), and reinforcing factors (leadership and OHS supervision, work experience and sharing session)—on safe behavior within SMKK implementation in the Trans Sumatera Toll Road Project, Palembang–Betung section. This research used a quantitative approach with a cross-sectional design involving 138 respondents selected through purposive sampling. Data were collected using a Likert scale (1–5) questionnaire and analyzed using Pearson correlation and multiple linear regression. The results showed that simultaneously, all individual factors had a significant relationship with safe behavior (F = 4.462; p < 0.001). However, partially, only safety training had a significant effect (β = 0.373; p < 0.001). Safety attitude and hazard awareness showed positive correlations with safe behavior (p < 0.05), but their effects were not strong enough in partial regression analysis. Other factors, such as safety knowledge, safety facilities and support, SOP implementation and compliance, leadership and OHS supervision, and work experience and sharing session did not show significant effects in the regression model. This study concludes that the effectiveness of SMKK implementation is highly influenced by effective safety training, supported by two-way communication, strong leadership, and internalization of safety values to establish a safe and sustainable construction work culture.
Read More
T-7351
Depok : FKMUI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayu Amalia; Pembimbing: Hendra; Penguji: Robiana Modjo, Padang Purwosusilo
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan pada pekerja konstruksi proyek pembangunan jalan tol layang Y oleh PT X khususnya pada saat pekerjaan pier head. Faktor risiko yang menjadi fokus pada penelitian ini adalah faktor risiko terkait pekerjaan (durasi kerja, durasi lembur, masa kerja dan heat index) dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan (usia, indeks masa tubuh, status merokok, konsumsi air minum, konsumsi minuman berkafein, kuantitas tidur, kualitas tidur, pekerjaan sampingan, waktu tempuh). Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain studi cross-sectional menggunakan kuesioner gejala kelelahan subjektif Fatigue Assessment Scale for Construction Workers (FASCW).
Read More
S-10162
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rockyanto V. Sasabone; Pembimbing: Syahrul Meizar Nasri; Penguji: Fatma Lestari, Robiana Modjo, Masjuli, Eko Adianto
T-3530
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dennis Setiawan; Pembimbing: Hendra; Penguji: Mila Tejamaya, Sjahrul Meizar Nasri, Selamat Riyadi, Desyawati Utami
Abstrak:
Tesis ini membahas analisis tingkat pajanan getaran dan faktor individu di proyek jalan tol dan hubungannya dengan gejala Hand-arm Vibration Syndrome (HAVS). Desain penelitian dengan metode cross-sectional menggunakan data primer (tingkat pajanan getaran, usia, durasi pajanan getaran , masa kerja, kebiasaan merokok, penggunaan APD, dan riwayat HAVS) dan data sekunder (indeks massa tubuh dan diabetes) yang diperoleh dari PT DNS. Sebanyak 28 pekerja berpartisipasi dalam penelitian ini. Analisis Chi Square digunakan untuk melihat hubungan antara tingkat pajanan getaran dan faktor individu dengan gejala HAVS. Tingkat pajanan getaran diukur menggunakan vibration meter dalam pengoperasian jackhammer pada 1 shift kerja. Sedangkan faktor individu diukur dengan menggunakan kuisioner. Khusus untuk kebiasaan merokok diukur dengan kuisioner Fagesteron Test Nicotine Dependence (FTND) . Hasil penelitian didapatkan 89,3% operator jackhammer mengalami gejala HAVS pada operator jackhammer yang terpajan getaran HAV ≥ NAB. Keluhan gejala HAVS berupa nyeri, kesemutan, dan rasa lemas pada tangan dan lengan. Sebagian besar pekerja memiliki usia < 41 tahun (57,1%), masa kerja < 9 tahun (64,3%), kebiasaan merokok ketergantungan sangat rendah (42,9%), tidak pernah menggunakan APD (42,9%), IMT kategori gemuk (57,1%), Diabetes kategori pre diabetes (64,3%), durasi pajaan getaran ≥ 3 jam (60,7%) dan riwayat tidak pernah mengalami HAVS (96,4%) Analisis hubungan antara tingkat pjanan getaran dengan gejala HAVS menunjukan hasil hubungan yang signifikan (p = 0,00 ; OR = 3,47). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara faktor individu dengan gejala HAVS. Dapat disimpulkan bahwa keluhan gejala HAVS yang dirasakan oleh operator jackhammer disebabkan oleh tingkat pajanan getaran . Oleh karena itu, untuk mengurangi keluhan HAVS bisa dilakukan pengecekan alat secara rutin, membatasi durasi pajanan getaran, sertapemberian APD yang sesuai untuk mengurangi tingkat pajanan getaran yang diterima.

This thesis discusses the analysis of vibration exposure levels and individual factors in toll road projects and their relationship with Hand-arm Vibration Syndrome (HAVS) symptoms. The research design was cross-sectional using primary data (level of vibration exposure, age, duration of vibration exposure, working period, smoking habit, PPE use, and history of HAVS) and secondary data (body mass index and diabetes) obtained from PT DNS. A total of 28 workers participated in this study. Chi-Square analysis was used to see the relationship between vibration exposure levels and individual factors with HAVS symptoms. The level of vibration exposure was measured using a vibration meter in the operation of a jackhammer on 1 work shift. While individual factors were measured using a questionnaire. Especially for smoking habits measured by the Fagesteron Test Nicotine Dependence (FTND) questionnaire. The results showed that 89.3% of jackhammer operators experienced HAVS symptoms in jackhammer operators exposed to HAV vibration ≥ NAB. Complaints of HAVS symptoms in the form of pain, tingling, and weakness in the hands and arms. Most of the workers had an age < 41 years (57.1%), a working period < 9 years (64.3%), a very low dependency smoking habit (42.9%), never used PPE (42.9%), BMI in the obese category (57.1%), Diabetes in the pre-diabetes category (64.3%), vibration exposure duration ≥ 3 hours (60.7%) and a history of never experiencing HAVS (96.4%). Analysis of the relationship between the level of vibration exposure and HAVS symptoms showed a significant relationship (p = 0.00; OR = 3.47). There is no significant relationship between individual factors and HAVS symptoms. It can be concluded that complaints of HAVS symptoms felt by jackhammer operators are caused by the level of vibration exposure. Therefore, to reduce HAVS complaints, routine tool checks can be carried out, limiting the duration of vibration exposure, and providing appropriate PPE to reduce the level of vibration exposure received.
Read More
T-6914
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Oktariani Solekhah; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra, Muzakir
Abstrak:
Proses pembangunan jalan Tol A-B, pekerja menggunakan alat-alat berat yang menghasilkan getaran termasuk peralatan yang mengguanakan tangan salah satunya jackhammer. Risiko kesehatan juga menjadi permasalah bagi pekerja yang menggunakan jackhammer yakni CTS. Maka dari itu, penelitian ini dibuat dengan tujuan untuk melakukan penilaian faktor risiko gejala CTS pada operator jackhammer Proyek Jalan Tol A-B Tahun 2023. Penelitian ini adalah penelitian dengan desain potong lintang pada operator jackhammer di Proyek Jalan Tol A-B, pada bulan April sampai dengan Juli 2023. Sampel penelitian adalah seluruh populasi penelitian yaitu seluruh pekerja operator jackhammer sebanyak 32 orang dan memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Variabel terikat penelitian ini carpal tunnel syndrome dan variabel bebas adalah akselerasi akselerasi getaran dan durasi pajanan. Pengumpulan data primer dengan melakukan pengukuran gejala carpal tunnel syndrome berdasarkan Boston Carpal Tunnel Questionnaire (BCTQ), penilaian durasi pajanan meliputi jumlah dan lama penggunaan jackhammer dan hasil pengukuran akselerasi getaran dengan vibrometer. Rerata akselerasi getaran yang diterima pekerja jack hammer adalah 6,27 + 1,5 m/s2. Gejala CTS pada pekerja Jackhammer proyek jalan tol A-B tahun 2023 terjadi pada 14 pekerja (43,7%). Terdapat hubungan antara akselerasi getaran dengan gejala CTS (p=0,04) dan OR = 10,6 pada pekerja Jackhammer proyek jalan tol A-B . Terdapat hubungan antara kebiasaan merokok dengan gejala CTS pada pekerja Jackhammer proyek jalan tol A-B dengan (p=0,014) dan OR = 5,36. Selain itu tidak terdapat hubungan antara usia, masa kerja, IMT, riwayat diabetes melitus dengan gejala CTS .

The process of building the A-B Toll Road, workers use heavy equipment that produces vibrations including hand-held equipment, one of which is a jackhammer. Health risks are also a problem for workers who use a jackhammer, namely CTS. Therefore, this study was made with the aim of assessing the risk factors for CTS symptoms in jackhammer operators of the A-B Toll Road Project in 2023. This research is a cross-sectional design study on jackhammer operators at the A-B Toll Road Project, from April to July 2023. The research sample was the entire study population, namely all 32 jackhammer operator workers and met the inclusion and exclusion criteria. The dependent variable of this study is carpal tunnel syndrome and the independent variables are vibration acceleration acceleration and exposure duration. Primary data collection by measuring symptoms of carpal tunnel syndrome based on the Boston Carpal Tunnel Questionnaire (BCTQ), assessment of exposure duration including the number and duration of jackhammer use and the results of vibration acceleration measurements with a vibrometer. The average vibration acceleration received by jack hammer workers is 6.27 + 1.5 m/s2. CTS symptoms in Jackhammer workers of the A-B toll road project in 2023 occurred in 14 workers (43.7%). There is a relationship between vibration acceleration and CTS symptoms (p=0.04) and OR = 10.6 in Jackhammer workers of the A-B toll road project. There is a relationship between smoking habits and CTS symptoms in Jackhammer workers of the A-B toll road project with (p=0.014) and OR = 5.36. In addition, there is no relationship between age, length of service, BMI, history of diabetes mellitus with CTS symptoms.
Read More
T-6843
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive