Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 28915 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Imam Rasjidi; Promotor: Bambang Sutrisna; Ko-promotor: M. Farid Aziz, Akmal Taher; Penguji: Syahrizal Syarif, Soewarta Kosen, Laila Nuranna, Chaidir A Mocthar, Ratna Djuwita, Mondastri Korib Sudaryo, Bambang Sutrisna, Farid Aziz, Akmal Taher
D-223
Depok : FKM-UI, 2008
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Czeresna Heriawan Soejono; Promotor: Bambang Sutrisna; Ko-promotor: Supartonodo, Soewarta Kosen, Penguji: H.A. Aziz Rani, Harry Isbagio, Nuning Maria Kiptiyah, Mardiati Najib, Syahrizal Syarif
D-200
Depok : FKM-UI, 2007
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Poppy Elvira Deviany; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Bambang Dwipoyono
T-1946
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rini Mutahar; Promotor: Asri C. Adisasmita; Kopromotor: Denni Joko Purwanto, Ratna Djuwita; Penguji: Mardiati Nadjib, Mondastri Korib Sudaryo, Noorwati Sutandyo, Fachmi Idris, Misnaniarti
Abstrak:
Kemoterapi neoadjuvan, merupakan standar perawatan untuk kanker payudara stadium lanjut lokal (KPSLL). Terdapat hasil yang kontradiktif terhadap efektivitas kedua golongan rejimen kemoterapi neoadjuvan yaitu antrasiklin dan taksan pada pengoabatan KPSLL. Pada umumnya kemoterapi neoajuvan kanker payudara stadium lanjut lokal di RKS Dharmais menggunakan regimen berbasis antrasiklin. Namun belum ada penelitian lebih lanjut studi efektivitas klinis dan evaluasi ekonomi penggunaaan kemoterapi neoadjuvan berbasis antrasiklin dan taksan pada pasien Kanker Payudara Stadium Lanjut Lokal di RSK Dharmais, Jakarta.
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui Efektivitas Klinis dan Evaluasi Ekonomi Pengobatan Kemoterapi Neoadjuvan pada Pengobatan Kanker Payudara Stadium Lanjut Lokal di RSK Dharmais Jakarta 2011 – 2016.
Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan rancangan studi kohort retrospektif. Pengumpulan data dilakukan dengan mengikuti riwayat medis dan billing pasien penderita kanker payudara saat berobat ke Rumah Sakit Darmais pada periode tahun 2011 hingga 2016. Penelitian ini menggunakan analisis regresi logistik,  survival dan evaluasi ekonomi dengan ICER (incremental cost effectiveness ratio) .
Hasil penelitian menunjukkan Pasien kanker payudara stadium lanjut lokal di RSK Dharmais  yang menerima kemoterapi berbasis taksan memiliki risiko 1,516 kali lebih besar untuk mendapatkan respons klinis positif dibandingkan dengan pasien yang menerima kemoterapi berbasis antrasiklin. (RR adjusted 1,516; 95% CI: 0,601–3,826). Pasien dengan respon klinis yang negatif memiliki risiko kematian 1,7 kali lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang menunjukkan respon positif tstelah dikontrol oleh faktor perancu yaitu, jenis histopatologis dan  stadium ( ajusted hazard ratio   1,729;95% CI: 1,031–2,902). Pasien kanker payudara stadium lanjut lokal (KPSLL) yang melakukan kemoterapi neadjuvan berbasis antrasiklin memiliki risiko 2 kali lipat lebih besar dibandingkan berbasis taksan untuk mengalami kematian setelah dikontrol oleh faktor perancu yaitu respon klinis, jenis istopatologis, stadium dan Subtipe molekular Luminal (adjusted hazard ratio  2,128 :95%CI:1,097-4,128). Nilai ICER (incremental cost effectiveness ratio) menunjukkan bahwa membutuhkan biaya sebesar Rp 3,1 juta untuk meningkatkan satu unit efektivitas (persentase jumlah pasien dengan respon klinis positif)  dengan pemakaian regimen berbasis taksan dibandingkan dengan antrasiklin.
Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar untuk melakukan Penilaian Teknologi Kesehatan dengan evaluasi ekonomi yang lebih komprehensif, khususnya dalam menilai intervensi kesehatan untuk penyakit kronis seperti kanker. Penelitian lanjutan diperlukan untuk lebih mendalami faktor-faktor perancu yang mungkin mempengaruhi hasil, seperti keterlambatan diagnosis dan pengobatan, riwayat terapi sebelumnya, dan status sosial ekonomi
Neoadjuvant chemotherapy is the standard treatment for locally advanced breast cancer (LABC). Contradictory findings exist regarding the effectiveness of two main types of neoadjuvant chemotherapy regimens, anthracycline and taxane, for treating LABC. At RSK Dharmais, anthracycline-based regimens are commonly used for LABC treatment. However, there is a lack of research on the clinical effectiveness and economic evaluation of anthracycline-based and taxane-based neoadjuvant chemotherapy regimens in patients with LABC at RSK Dharmais, Jakarta.
This study aims to assess the clinical effectiveness and economic evaluation of neoadjuvant chemotherapy for LABC at RSK Dharmais Jakarta from 2011 to 2016.
This study employed an observational analytic method with a retrospective cohort study design. Data collection was conducted by reviewing the medical records and billing data of breast cancer patients treated at RSK Dharmais during the 2011–2016 period. Logistic regression analysis, survival analysis, and economic evaluation using the Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER) were performed.
The results showed that patients with LABC at RSK Dharmais who received taxane-based chemotherapy had a 1.516-fold higher likelihood of achieving a positive clinical response compared to those receiving anthracycline-based chemotherapy (RR adjusted 1.516; 95% CI: 0.601–3.826). Patients with a negative clinical response had a 1.7-fold higher risk of death compared to those with a positive response after adjusting for confounding factors, such as histopathological type and cancer stage (adjusted hazard ratio 1.729; 95% CI: 1.031–2.902). Patients undergoing anthracycline-based neoadjuvant chemotherapy had a two-fold higher risk of death compared to those on taxane-based regimens, after controlling for confounding factors including clinical response, histopathological type, stage, and Luminal molecular subtype (adjusted hazard ratio 2.128; 95% CI: 1.097–4.128). The ICER analysis showed that it costs IDR 3.1 million to achieve one additional unit of effectiveness (percentage of patients with a positive clinical response) using taxane-based regimens compared to anthracycline-based regimens.
This study provides a basis for conducting a more comprehensive Health Technology Assessment, particularly in evaluating healthcare interventions for chronic diseases like cancer. Further research is needed to explore confounding factors that may influence outcomes, such as delays in diagnosis and treatment, prior therapy history, and socioeconomic status.






Read More
D-568
Depok : FKM UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adhitya Bayu Perdana; Pembimbing: Asri C Adisasmita; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Denni Joko Purwanto
Abstrak: Limfedema merupakan komplikasi kronis yang umumnya terjadi setelah diseksi kelenjar getah bening (KGB) aksila pada pasien kanker payudara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian, faktor risiko, dan model prediksi limfedema pasca diseksi KGB aksila pada pasien kanker payudara stadium lanjut. Penelitian ini merupakan desain kohort retrospektif pada 174 pasien di Rumah Sakit Kanker Dharmais. Regresi Cox digunakan untuk mengidentifikasi faktor risiko signifikan terhadap limfedema. Keakuratan model prediksi dinilai dengan menghitung area under the receiver operating characteristic curve (AUROC). Hasil penelitian menunjukkan limfedema teridentifikasi pada 88/174 (50,6%) pasien dan sebagian besar mengalami limfedema pada 12 hingga 36 bulan pertama setelah diseksi KGB aksila. Faktor risiko yang terkait dengan limfedema di antaranya adalah usia, obesitas, diabetes, kemoterapi neoadjuvan, dan kemoterapi adjuvan. Model prediksi menunjukkan sensitivitas yang baik (80,2%) pada populasi penelitian dengan nilai AUC 0,706 (95% CI 0,629-0,783; p-value < 0,05). Dapat disimpulkan bahwa model prediksi yang dikembangkan dalam penelitian ini cukup baik untuk diterapkan oleh para klinisi dalam mengestimasikan risiko limfedema, khususnya untuk pasien kanker payudara dengan stadium lanjut.
Lymphedema is a chronic complication that commonly occurs after axillary lymph node dissection (ALND) in breast cancer patients. This study aimed to determine the incidence, risk factors, and prediction model for lymphedema after ALND in advanced-stage breast cancer patients. This was a retrospective cohort design on 174 patients at Dharmais Cancer Hospital. Cox regression was used to identify significant risk factors for lymphedema. The prediction accuracy of the model was assessed by calculating the area under the receiver operating characteristic curve (AUROC). The results showed that lymphedema was identified in 88/174 (50.6%) patients and most of them experienced lymphedema in the first 12 to 36 months after ALND. Risk factors associated with lymphedema include age, obesity, diabetes, neoadjuvant chemotherapy, and adjuvant chemotherapy. The prediction model showed good sensitivity (80.2%) in the study population with an AUC value of 0.706 (95% CI 0.629-0.783; p-value < 0.05). It can be concluded that the prediction model developed in this study is good enough to be implemented by clinicians in estimating the risk of lymphedema, especially for advanced-stage breast cancer patients in our hospital.
Read More
T-6902
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Budi Riyanto Wreksoatmodjo; Promotor: Nuning Masjkuri; Ko-Promotor: Ratna Djuwita Hatma, Jan Sudir Purba, Tri Budi W. Rahardjo, Asri C Adisasmita, Yvonne Suzy Handayani, Czeresna Heriawan Soejono
D-273
Depok : FKM-UI, 2013
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lusiani; Promotor: Nurhayati Adnan; Kopromotor: Mardiati Nadjib, Idrus Alwi; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Sabarinah, Trisari Anggondowati, Budi Yuli Setianto, Soewarta Kosen
Abstrak:
Latar Belakang : Gagal jantung masih menjadi penyebab morbiditas, mortalitas dan beban biaya medis yang tinggi, terutama akibat perawatan ulang yang dapat menyebabkan penurunan cadangan jantung dalam perjalanan klinisnya. Program multidisiplin (MDP) direkomendasikan sebagai tatalaksana komprehensif gagal jantung. Penelitian ini bertujuan menilai efektivitas klinis program MDP pada aspek risiko perawatan ulang dan biaya dibandingkan program standar (PS) di Klinik Gagal Jantung Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).  Metode : Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif dengan data longitudinal pada 2 periode tatalaksana yang berbeda, yaitu 2017-2018 dan 2022-2023. Data yang diambil adalah data elektronik dari sistem informasi manajemen rumah sakit dan data tertulis dari rekam medik rumah sakit.  Sampel penelitian adalah populasi terjangkau yang memenuhi kriteria pemilihan subjek penelitian. Analisis generalized estimating equation (GEE) digunakan untuk estimasi besar risiko perawatan ulang, Nelson-Aalen estimator digunakan untuk analisis hazard kumulatif perawatan ulang pertama, analisis generalized linear model (GLM) untuk menilai efektivitas MDP dan cost-effectiveness analysis (CEA) perspektif rumah sakit sebagai analisis ekonomi penelitian ini. Data dikumpulkan dan diolah dengan menggunakan Stata 16. Hasil : Pada 189 subjek (98 MDP dan 91 PS), MDP konsisten dalam penurunan risiko relatif perawatan ulang tanpa dipengaruhi waktu (bulan) dengan penurunan risiko sebesar 82,1% dibandingkan subjek penelitian pada kelompok PS setelah dikontrol dengan perancu ARNI dan NYHA, selama masa 8 bulan pengamatan. Median durasi bebas perawatan ulang kelompok MDP lebih panjang dibandingkan PS (106 hari MDP; 34 hari PS, uji Mann–Whitney p = 0,0383). Hazard kumulatif perawatan ulang pertama kelompok MDP 0,10, lebih rendah dari hazard kumulatif kelompok PS 0,40. MDP memiliki efektivitas lebih tinggi dibandingkan dengan PS (MDP 88,2%; PS 65,4%) dan menghemat rerata biaya medis per pasien sebesar Rp. 11.955.308,-. Kesimpulan : Selama masa pemantauan 8 bulan, MDP memiliki risiko yang lebih rendah terhadap  perawatan ulang rumah sakit dibandingkan dengan PS setelah di kontrol perancu, memiliki durasi bebas perawatan ulang rumah sakit lebih panjang dari PS, memiliki hazard kumulatif perawatan ulang pertama yang lebih rendah dari PS  dan MDP lebih efektif secara klinis dan biaya (strategi dominan) dibandingkan dengan PS.

Introduction: Heart failure remains a major cause of morbidity, mortality, and high medical costs, primarily due to hospital readmissions which may lead to a decline in cardiac reserve during the clinical course.The Multidisciplinary Program (MDP) is recommended for a comprehensive management approach for heart failure. This study aimed to evaluate the MDP in terms of readmission risk and cost-effectiveness compared with the standard care (SC) program at the Heart Failure Clinic of Cipto Mangunkusumo Hospital. Method: This study employed a retrospective cohort design using longitudinal data from two periods: The pre-MDP implementation phase (2017-2018) and the MDP implementation phase (2022-2023). Data were obtained from the hospital information system and written medical records. The study sample consisted of all eligible patients meeting the inclusion criteria. Generalized Estimating Equation (GEE) analysis was used to estimate readmission risk, the Nelson-Aalen estimator for cumulative hazard of first readmission, the Generalized Linear Model (GLM) for program effectiveness, and a cost-effectiveness analysis (CEA) from the hospital perspective for the economic evaluation. Data was compiled and analyzed using Stata 16. Results: In 189 subjects (98 MDP and 91 PS), MDP consistently reduced the relative risk of readmission regardless of time (months), with a risk reduction of 82.1% compared to subjects in the SC group after controlling for ARNI and NYHA confounders, over an 8-month observation period. The median readmission-free duration in the MDP group was longer than in the SC group (106 days in MDP; 34 days in PS; Mann–Whitney test p = 0.0383). The cumulative hazard of the first readmission in the MDP group was 0.10, lower than the cumulative hazard in the SC group (0.40). MDP was more effective than PS (88.2% in MDP; 65.4% in SC) and saved an average of Rp. 11,955,308 in medical costs per patient. Conclusion: During the 8-month follow-up period, MDP had a lower risk of hospital readmission compared to PS after controlling for confounders, had a longer readmission-free duration than PS, had a lower cumulative hazard of first readmission than SC and MDP was more clinically and cost-effective (dominant strategy) compared to SC.
Read More
D-602
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Widyorini Lestari Hardjolukito Hanafy; Promotor: Asri C. Adisasmita; Kopromotor: Bambang Dwipoyono, Sukwan Handali; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Ratna Djuwita, Syahrul Rauf, Primariadewi Rustamadji, M. Soemanadi
Abstrak:
Latar belakang: Kanker serviks masih menjadi masalah kesehatan global yang signifikan, dengan perkiraan 660.000 kasus baru dan 350.000 kematian setiap tahun. Di Indonesia, kanker serviks adalah masalah kesehatan utama, dengan 9,2% wanita diperkirakan menderita kanker serviks pada tahun 2020. Meskipun telah dilakukan histerektomi radikal, tingkat kekambuhan pada kanker serviks stadium awal (IA2-IIA2) tetap tinggi, sekitar 20-30% dalam tiga tahun pertama pasca pengobatan. Hal ini menunjukkan kemungkinan keterlibatan faktor prognostik lainnya, seperti genotipe DNA Human Papillomavirus (HPV) dan viral load HPV, yang belum dipelajari secara ekstensif pada kanker serviks stadium awal di Indonesia. Tujuan: Mengetahui genotipe HPV dan viral load HPV sebagai faktor prognostik untuk kekambuhan pada pasien kanker serviks dengan stadium IA2-IIA2. Metodologi: Studi ini memakai desain kohort retrospektif, dengan data dari rekam medis di Rumah Sakit Kanker Dharmais dari 2014-2019. Populasi studi adalah pasien kanker serviks stadium IA2-IIA2 yang menjalani histerektomi radikal dan limfadenektomi. Analisis molekuler untuk genotipe HPV dan viral load dilakukan pada tumor primer dan kelenjar getah bening (KGB). Analisis data melibatkan univariat, bivariat (Kaplan-Meier dan regresi Cox), dan analisis multivariat untuk menilai disease-free survival (DFS) dan mengidentifikasi faktor prognostik kekambuhan. Hasil: Sebagian besar pasien kanker serviks stadium IA2–IIA2 memiliki HPV16/18 pada tumor primer (75,9%) maupun KGB (66,5%), kelompok HPV unknown ditemukan sebanyak 18,2% dan 25,6%. Pada tumor primer (n=121), mayoritas HPV16/18 memiliki viral load tinggi (88,3%), sedangkan tipe non-16/18 umumnya rendah (79,4%); pola serupa terlihat pada kelenjar getah bening (84,2% dan 78,6%). Koinfeksi HPV16 dan 18 menunjukkan kecenderungan risiko lebih tinggi (aHR=1,79; 95%=CI 0,29–10,66). Pada kelompok non-metastasis KGB (n=82), koinfeksi 16 dan18 juga meningkatkan risiko kekambuhan (cHR 5,39; 95% CI 1,09–26,74; aHR 3,54; 95% CI 0,70–17,87). Infeksi HPV ganda merupakan faktor prognostik independen terkuat, meningkatkan hazard kekambuhan 4 kali lipat (95% CI 1,82–9,04) dan bahkan 6,63 kali pada subkelompok non-metastasis KGB (95% CI 1,71–25,69). Analisis stratifikasi menunjukkan kecenderungan tumor infiltrating lymphocytes (TILs) keras menurunkan efek genotipe dan viral load terhadap kekambuhan (log-rank p=0,046), namun belum dapat dipastikan sebagai efek modifikasi karena keterbatasan ukuran sampel. Kesimpulan: Temuan studi ini menyoroti pentingnya pemeriksaan genotipe HPV, terutama pada pasien yang ditemukan infeksi ganda, dan evaluasi komponen TILs sebagai panduan strategi tatalaksana klinis untuk pasien kanker serviks stadium awal.

Background: Cervical cancer remains a significant global health problem, with an estimated 660,000 new cases and 350,000 deaths annually. In Indonesia, cervical cancer is a major health burden, with 9.2% of women estimated to be affected in 2020. Despite radical hysterectomy, the recurrence rate in early-stage cervical cancer (IA2–IIA2) remains high, at approximately 20–30% within the first three years after treatment. This suggests the potential involvement of additional prognostic factors, such as Human Papillomavirus (HPV) DNA genotype and HPV viral load, which have not been extensively studied in early-stage cervical cancer in Indonesia. Objective: To determine the role of HPV genotype and HPV viral load as prognostic factors for recurrence in patients with stage IA2–IIA2 cervical cancer. Methods: This retrospective cohort study utilized medical record data from Dharmais Cancer Hospital from 2014–2019. The study population included patients with stage IA2–IIA2 cervical cancer who underwent radical hysterectomy and lymphadenectomy. Molecular analyses for HPV genotype and viral load were performed on primary tumors and lymph nodes. Data analyses included univariate, bivariate (Kaplan–Meier and Cox regression), and multivariate analyses to assess disease-free survival (DFS) and identify prognostic factors for recurrence. Results: Most patients had HPV16/18 in primary tumors (75.9%) and lymph nodes (66.5%), with HPV-unknown cases accounting for 18.2% and 25.6%, respectively. Among primary tumors (n=121), HPV16/18 infections predominantly showed high viral load (88.3%), whereas non-16/18 types mainly had low viral load (79.4%); similar patterns were observed in lymph nodes (84.2% and 78.6%). HPV16+18 coinfection demonstrated a tendency toward increased recurrence risk (aHR=1.79; 95% CI 0.29–10.66). In the non–lymph node metastasis subgroup (n=82), coinfection also increased recurrence risk (cHR 5.39; 95% CI 1.09–26.74; aHR 3.54; 95% CI 0.70–17.87). Multiple HPV infection emerged as the strongest independent prognostic factor, increasing recurrence hazard fourfold (95% CI 1.82–9.04), and up to 6.63-fold in the non-metastatic subgroup (95% CI 1.71–25.69). Stratified analysis suggested that high tumor infiltrating lymphocytes (TILs) may reduce the effect of genotype and viral load on recurrence (log-rank p=0.046), although this potential effect modification remains inconclusive due to limited sample size. Conclusion: The findings of this study highlight the importance of HPV genotyping, especially in patients with multiple infections, and evaluation of TIL components as a guide for clinical management strategies for patients with early-stage cervical cancer.
Read More
D-609
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nikson Sitorus; pembimbing: Helda, Ajoedi Soemardi; penguji: Yovsyah, Sastriwati
T-3057
Depok : FKM UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nuraini Oktaviani; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Sonar Panigoro, Syahrizal Syarif
Abstrak:

ABSTRAK Nama :   Nuraini Oktaviani Program Studi :   Epidemiologi Judul : Analisis Kesintasan 5 Tahun Pasien Kanker Payudara Stadium Lanjut Lokal Berdasarkan Kemoterapi Neoadjuvan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Tahun 2011-2016 Latar belakang: Salah satu modalitas terapi yang digunakan untuk meningkatkan angka kesintasan hidup pasien kanker payudara adalah dengan pemberian kemoterapi neoadjuvan. Pada umumnya kemoterapi neoajuvan kanker payudara stadium lanjut lokal di RSCM menggunakan regimen doxorubicin based. Namun belum ada penelitian lebih lanjut mengenai perbandingan kesintasan hidup lima tahun pasien kanker payudara lanjut lokal yang mendapatkan kemoterapi neoadjuvan doxorubicin based dengan non-doxorubicin based di RSCM. Tujuan: Mengetahui angka kesintasan hidup lima tahun penderita kanker payudara stadium lanjut lokal yang diberikan kemoterapi neoadjuvan doxorubicin based dan non-doxorubicin based di RSCM tahun 2011 – 2016. Metode: Sebanyak 236 pasien kanker payudara stadium lanjut lokal yang mendapatkan kemoterapi neoadjuvan di RSCM tahun 2011-2016 menjadi sampel dalam penelitian ini. Analisis data dilakukan dengan metode Kapplan Meier, uji Log Rank dan Cox Regreession. Hasil penelitian: Angka kesintasan hidup lima tahun pasien kanker payudara stadium lanjut lokal yang diberi kemoterapi neoadjuvan doxorubicin based sebesar 37% dan non-doxorubicin based sebesar 48,9%. Pasien kanker payudara stadium lanjut lokal yang mendapatkan kemoterapi neoadjuvan doxorubicin based memiliki probabilitas 1,38 kali lebih cepat terjadinya kematian (95% CI 0,946 – 2,026) setelah dikontrol dengan variabel invasi pembuluh limfatik, respon klinis, stadium, radiasi, jenis histopatologi, grade, dan status menopause. Invasi pembuluh limfatik merupakan variabel dengan hazard ratio terbesar yaitu 4,74 (95% CI 3,213 – 7,284). Kesimpulan: Kemoterapi neoadjuvan non-doxorubicin based menunjukkan kesintasan hidup yang lebih tinggi dibandingkan kemoterapi neoadjuvan doxorubicin based. Kata kunci : doxorubicin based, non-doxorubicin based, kanker payudara, kemoterapi neoadjuvan


ABSTRACT Name :   Nuraini Oktaviani Study Program :   Epidemiologi : Survival Rate 5-years Breast Cancer Locally Advanced Based on Chemotherapy Neoadjuvan in Hospital Cipto Mangunkusumo 2011-2016 Background : One of the therapeutic modalities used to increase survival rates of breast cancer patients with neoadjuvan chemotherapy. In general, neoajuvan chemotherapy for locally advanced breast cancer at RSCM used a doxorubicinbased regimen. But there has been no further study on the survival comparison of five years of locally advanced breast cancer patients who are neoadjuvan chemotherapy doxorubicin based or non-doxorubicin based at RSCM. Title Objectives: This study is conducted for determine 5-years survival rate of locally advanced breast cancer who were given neoadjuvan chemotherapy doxorubicin based and non-doxorubicin based at RSCM in 2011 - 2016. Methods: A total of 236 patients with locally advanced stage breast cancer who received neoadjuvan chemotherapy at RSCM in 2011-2016 were sampled in the study. Data analysis was perfomed by Kapplan Meier method, Log Rank and Cox Regreession analysis. Results: 5-years survival rate of locally advanced breast cancer patients given neoadjuvan doxorubicin based chemotherapy is 37% and non-doxorubicin based is 48.9%. Locally advanced breast cancer patients receiving neoadjuvan doxorubicin based chemotherapy had a 1.38 times faster probability of death (95% CI 0.946 - 2.026) after controlled by invasive variation of lymphatic vein, clinical response, stage, radiation, histopathology, grade, And menopausal status. Invasion of lymphatic vessels is the variable with the largest hazard ratio of 4.74 (95% CI 3,213 - 7,284). Conclusions: Neoadjuvan chemotherapy non-doxorubicin based showed a higher survival than doxorubicin-based for locally advanced breast cancer. Keywords: doxorubicin based, non-doxorubicin based, breast cancer, neoadjuvan chemotherapy

Read More
T-4918
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive