Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39056 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ajub Paddy; Pembimbing: Izhar M. Fihir; Penguji: Dadan Erwandi, Yogi Saputra
S-5680
Depok : FKM-UI, 2009
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Rudy Ihsani; Pembimbing: Hendra; Penguji: Dadan Erwandi, Doni Hikmat Ramdhan, Irma Primadiati Afika, Ridha Renaldi
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara laporan observasi keselamatan kerja dan angka kecelakaan kerja di PT X selama tahun 2022–2024. Selain itu, penelitian menilai tingkat penerapan program observasi, kualitas tindak lanjut temuan, serta karakteristik kecelakaan yang terjadi. Desain penelitian yang digunakan adalah studi ekologi dengan pendekatan kuantitatif berdasarkan data observasi UA/UC dan data insiden yang tercatat dalam sistem perusahaan. Total laporan UA/UC selama tiga tahun adalah 17.008 laporan, sedangkan total insiden berjumlah 270 kasus. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan nilai r = –0,99, yang menggambarkan hubungan linear sangat kuat dan bersifat negatif antara jumlah laporan UA/UC dan jumlah insiden. Uji signifikansi menghasilkan nilai p-value < 0,05, sehingga hubungan tersebut dinyatakan signifikan secara statistik. Berdasarkan penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara aktivitas observasi keselamatan, kualitas tindak lanjut temuan dan angka kecelakaan kerja di PT X. Temuan ini menegaskan pentingnya penerapan program observasi yang efektif dan tindak lanjut temuan dalam upaya pencegahan kecelakaan kerja.

This study aims to analyze the relationship between workplace safety obsearvation reports and occupational accident rates at PT X during the period 2022–2024. In addition, the study evaluates the level of implementation of the safety observation program, the quality of follow-up actions on observation findings, and the characteristics of occupational accidents that occurred. The research employed ecological design with a quantitative approach, using data from Unsafe Action/Unsafe Condition (UA/UC) observation reports and incident records documented in the company’s internal system. Over the three-year period, a total of 17,008 UA/UC observation reports and 270 incident cases were recorded. The Pearson correlation analysis yielded a correlation coefficient of r = –0.99, indicating a very strong and negative linear relationship between the number of UA/UC reports and the number of occupational accidents. The significance test produced a p-value < 0.05, confirming that the relationship is statistically significant. Based on these findings, the study concludes that there is a significant relationship between safety observation activities, the quality of follow-up actions, and occupational accident rates at PT X. These results Highlight the importance of effective implementation of safety observation programs and adequate follow-up actions in preventing workplace accidents.
Read More
T-7466
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tyagita Meyril Rahmadhani; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Mila TejamayaLaksita Ri Hastiti, Irma Primadiati Afifka, Wahyudin Lihawa
Abstrak:
Pelaporan Observasi Keselamatan (POK) diterapkan di industri minyak dan gas di PT.X, Provinsi Riau untuk mencoba mengurangi angka kejadian kecelakaan kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pelaporan observasi keselamatan kerja sebagai alat yang digunakan untuk mengurangi angka kecelakaan. POK ini merupakan hasil modifikasi dari STOP Cardnya DuPont. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif yang berfokus pada kajian pelaporan observasi keselamatan kerja. Angka kejadian kecelakaan juga dikumpulkan untuk dibandingkan dengan jumlah pelaporan observasi keselamatan. Kuesioner sebanyak 15 pertanyaan juga diberikan kepada 50 pekerja untuk melihat persepsi pekerja terhadap POK yang diterapkan. Scatterplots digunakan untuk menetapkan korelasi antara penerbitan pelaporan dan kejadian kecelakaan kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaporan observasi keselamatan berkaitan dengan penurunan kejadian kecelakaan. Pelaporan observasi keselamatan secara positif memengaruhi pola pikir pekerja terhadap praktek kerja aman. Namun, perlu diperhatikan oleh managemen perusahaan terkait penyelesaian status temuan (finding) pelaporan observasi keselamatan yang statusnya masih tertunda penyelesaiannya

Safety Observation Reporting (POK) is implemented in the oil and gas industry at PT X, Riau Province to try to reduce the number of work accidents. The purpose of this study is to examine the safety observation reporting as a tool used to reduce the number of accidents. This POK is a modified version of the DuPont STOP Card. This study uses a descriptive analysis method that focuses on the study of safety observation reporting. Accident figures were also collected to compare with the number of safety observation reporting. A questionnaire of 15 questions was also given to 50 workers to observe workers' perceptions of the applied POK. Scatterplots are used to establish the correlation between issuance reporting and occupational accident incidents. The results showed that the safety observation reporting was associated with a reduction in the occurrence of accidents. Safety observation reporting positively influences the mindset of workers towards implemented safe work practices. However, company management needs to pay attention to the completion of finding progress status of safety observation reporting whose completion status is still pending
Read More
T-6067
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syamsurizal; Pembimbing: Ridwan Z. Sjaaf; Penguji: Baiduri, Robiana Modjo, Syahrul E. Panjaitan, Mayarni
Abstrak:
Tujuan inti keselamatan dan kesehatan kenja (K3) adalah mencegah terjadinya kecelakaan termasuk penyakit akibat kerja, Sejak diberlakukannya Undang undang No. I tahun 1970 tentang keselamatan kerja, masih banyak kalangan industri yang belum menjiwai penerapan keselamatan dan kesehatan kerja. Contoh kasus pada perusahaan perkebunan kelapa sawit milik PT. X yang berlokasi di Sumatera Barat dimana kasus terjadinya kecelakaan kerja cukup tinggi seperti tercatat pada tahun 2007 terjadinya 241 kasus kecelakaan kexja. Dengan latar belakang ini penulis ingin melihat bagaimana gambaran persepsi risiko di PT. X adakah peran lama bekerja dan pelatihan terhadap persepsi risiko di perusahaan tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa persepsi terhadap pekerjaan dan prosedur kerja cukup baik di kalangan pekerja, sedang persepsi terhadap APD cenderung buruk. Hal ini cukup beralasan karena angka terjadinya kecelakaan kerja yang tinggi dan mereka merasa telah bekerja sesuai dengan prosedur kerja. Mereka menggangap bahwa APD kurang mampu melindungi mereka dari terjadinya kecelakaan kerja bahwa APD dapat mengganggu proses kexja yang mereka jalankan karena adanya rasa tidak nyaman. Dari hasil uji statistic ternyata. hanya lama kerja yang berhubungan signifikan terhadap persepsi pekerjaan (p-value= 0.001) dan persepsi terhadap prosedur kerja (p-va1ue= 0.036), sedangkan terhadap persepsi pemakaian APD tidak signifikan berhubungan )p-value= 0.746). untuk pelatihan tidak ada yang berhubungan signifikan terhadap persepsi risiko kecelakaan responden.

Main target of work health and safety (K3) is preventing accident including the disease of work effect. Since the existence of law No. I, 1970 conceming job health, many industries did not get implementation of work health and safety yet. For example, case of palm oil plantation at PT. X which located in West Sumatera where case of work accident was higher; there were 241 cases of work accident in 2007. Because of this background, the writer wants to find the description of risk perception at PT. X ls there role of work and training period affected to risk perception in the company. Research result indicated that perception of work risk and work procedures were good enough among the workers, but perception of APD was bad. This thing is enough for the reason of highest level of accident and they feel worked based on procedure. They assumed that APD can’t avoid them from the accident of working even APD can disturb their work process because of feeling not comfort. From statistical test result indicated only work period which had relation of risk perception signiicantly (p-value 0.00l) and perception of work procedure (p-value* 0.036), while perception of APD usage did not have effect significantly (p-value=0.746). Training didn't have effect of risk perception.
Read More
T-2805
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuwan Martus Tegar Charisma; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Ridha Renaldi, Ahmad Afif Mauludi
Abstrak:
Pelatihan Critical Risk Standard (CRS) Traffic Management merupakan salah satu upaya pengendalian risiko kecelakaan lalu lintas tambang. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas pelatihan CRS Traffic Management terhadap peningkatan pengetahuan dan perilaku keselamatan operator di PT X. Penelitian menggunakan metode mixed method dengan melibatkan 94 operator Articulated Dump Truck (ADT). Data kuantitatif diperoleh melalui pre-post test, kuesioner, dan observasi perilaku, sedangkan data kualitatif diperoleh melalui wawancara dengan informan dari Learning and Development, Occupational Health and Safety, dan Kepala Teknik Tambang. Analisis dilakukan menggunakan Paired Samples T-Test dan Moderated Regression Analysis (MRA). Modul pelatihan telah divalidasi oleh ahli dengan nilai Content Validity Index sebesar 1,00. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan CRS Traffic Management efektif meningkatkan pengetahuan operator, ditunjukkan oleh peningkatan nilai rata-rata dari 78,72 menjadi 88,83 (p<0,001). Namun, peningkatan pengetahuan tidak berpengaruh signifikan terhadap perilaku keselamatan operator (p=0,459). Konsistensi pengawasan berpengaruh signifikan terhadap perilaku keselamatan (p=0,019), tetapi tidak memoderasi hubungan antara pembelajaran dan perilaku keselamatan (p=0,544). Hasil wawancara menunjukkan bahwa perubahan perilaku keselamatan dipengaruhi oleh adaptasi operator hasil up-skilling, keterbatasan trainer, dan belum optimalnya evaluasi pasca pelatihan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pelatihan CRS Traffic Management efektif meningkatkan pengetahuan operator, tetapi belum mampu menghasilkan perubahan perilaku keselamatan secara signifikan. Penguatan pengawasan dan evaluasi pasca pelatihan diperlukan untuk meningkatkan efektivitas program keselamatan lalu lintas tambang.

Critical Risk Standard (CRS) Traffic Management Training is one of the control measures implemented to reduce the risk of mine traffic accidents. This study aimed to analyze the effectiveness of CRS Traffic Management training in improving operators’ knowledge and safety behavior at PT X. This study employed a mixedmethods approach involving 94 Articulated Dump Truck (ADT) operators. Quantitative data were collected through pre-test and post-test assessments, questionnaires, and behavioral observations, while qualitative data were obtained through interviews with representatives from the Learning and Development Department, Occupational Health and Safety Department, and the Mine Technical Manager. Data were analyzed using the Paired Samples T-Test and Moderated Regression Analysis (MRA). The training module was validated by experts and achieved a Content Validity Index score of 1.00. The results showed that CRS Traffic Management training was effective in improving operators’ knowledge, as indicated by an increase in the mean score from 78.72 to 88.83 (p<0.001). However, the improvement in knowledge did not have a significant effect on operators’ safety behavior (p=0.459). Supervision consistency had a significant effect on safety behavior (p=0.019), but did not moderate the relationship between learning and safety behavior (p=0.544). Interview findings revealed that changes in safety behavior were influenced by the adaptation process of up-skilled operators, limited trainer availability, and the lack of optimal post-training evaluation. This study concludes that CRS Traffic Management training is effective in improving operators’ knowledge but has not yet resulted in significant changes in safety behavior. Strengthening supervision and post-training evaluation is necessary to enhance the effectiveness of mine traffic safety programs.
Read More
T-7637
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Devy Normalita Putri; Pembimbinig: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Mila Tejamaya, Wildan Ramdan Nurhuda, Aditya Tetra Firdaussyah
Abstrak: International Labour Organization (ILO), setiap tahun ada lebih dari 250 kecelakaan di tempat kerja dan lebih dari 160 juta pekerja menjadi sakit karena bahaya di tempat kerja. dan 1,2 juta pekerja meninggal akibat kecelakaan dan sakit di tempat kerja. Dampaknya pada ekonomi dunia karena hilangnya hari kerja mendekati 4% dari GDP Global. PT. X merupakan perusahaan konsorsium konstruksi migas yang salah satu aktivitas yang memiliki tingkat kecelakaan kerja tinggi di PT. X hal ini dapat dilihat dari data pendahulu kecelakaan kerja yang dimiliki PT. X pada periode Januari 2023 sampai dengan April 2023 dengan total kasus kecelakaan kerja sebanyak 40 kejadian. Dari uraian diatas maka penulis ingin melakukan penelitian mengenai faktor yang mempengaruhi kecelakaan kerja pada perusahaan konstruksi migas di PT. X Tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif analitik dengan rancangan crossectional. Penelitian ini memiliki sampel berjumlah 106, penelitian dilakukan pada bulan Mei 2023 sampai dengan Juni 2023, berusia rata-rata 28 tahun dan di dominasi usia di atas 28 tahun sebanyak 94 pekerja (88,7%), jenis kelamin di dominasi pekerja laki-laki sebanyak 85 pekerja (80,2%), untuk tingkat pendidikan di dominasi pekerja berpendidikan tingkat tinggi sebanyak 85 pekerja (83%), dan masa kerja di dominasi pekerja yang bekerja di bawah 5 tahun sebanyak 91 pekerja (85.8%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada Analisis Bivariat terdapat 4 Faktor yang mempengaruhi kecelakaan kerja yaitu Shift Kerja dengan hasil p value 0,000 < 0,05, Sosialisasi K3 dengan hasil p value 0,008 < 0,05, Pengawasan Manajemen dengan hasil nilai p value 0,032 < 0,05 dan Penggunaan APD dengan hasil p value 0,090 < 0,05. Dengan hasil Analisis Multivariat yang menunjukkan bahwa faktor yang dominan adalah faktor shift kerja. Kesimpulannya adalah faktor yang paling mendominasi dalam terjadinya kecelakaan kerja adalah shift kerja. --- International Labor Organization (ILO), every year there are more than 250 accidents in the workplace and more than 160 million workers become sick due to hazards in the workplace. and 1.2 million workers died as a result of accidents and illness at work. The impact on the world economy due to lost working days is close to 4% of Global GDP. PT. X is an oil and gas construction consortium company which is one of the activities that has a high work incident and or accident rate at PT. X, this can be seen from the work incident and accident predecessor data owned by PT. X in the period January 2023 to April 2023 with a total of 40 occupational incident and accident cases. From the description above, the authors want to conduct research on the factors that influence occupational incident and or accidents at oil and gas construction companies at PT. X Year 2023. This research uses a descriptive analytic research design with a cross-sectional design. This study has a sample of 106, the study was conducted from May 2023 to June 2023, the average age is 28 years and the predominance is over 28 years of age as many as 94 workers (88.7%), gender is dominated by male workers as many as 85 workers (80.2%), for the level of education dominated by highly educated workers as many as 85 workers (83%), and years of service dominated by workers who worked under 5 years as many as 91 workers (85.8%). The results of this study indicate that in Bivariate Analysis there are 4 factors that influence work accidents, namely Shift Work with a p-value of 0.000 <0.05, OSH Socialization with a p-value of 0.008 <0.05, Management Supervision with a p-value of 0.032 <0 .05 and use of PPE with a p value of 0.090 <0.05. With the results of Multivariate Analysis which shows that the dominant factor is the work shift factor. The conclusion is that the most dominating factor in the occurrence of work accidents is shift work.
Read More
T-6748
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Widhati Kurniasari; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Hendra, Laksita Ri Hastiti, Alfajri Ismail, Devie Fitri Octaviani
Abstrak:
Kecelakaan kerja di sektor industri manufaktur masih menjadi tantangan termasuk di PT X yang mencatat insiden dengan berbagai tingkat keparahan pada periode tahun 2023-2025. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat keparahan kecelakaan kerja pada pekerja di PT X. Menggunakan desain studi cross-sectional, sampel penelitian berjumlah 257 kasus kecelakaan diambil dengan teknik total sampling dari master data perusahaan. Variabel yang diteliti meliputi jenis kelamin, usia, masa kerja, karakteristik pekerjaan, shift kerja departemen, dan penyebab langsung. Analisis data dilakukan secara deskriptif, inferensial (chi-square), dan multivariat (regresi logistik). Hasil menunjukkan bahwa mayoritas kecelakaan berada pada tingkat luka ringan dengan total 197 kasus (76,7%), sementara luka berat sejumlah 60 kasus (23,3%). Analisis inferensial membuktikan adanya hubungan signifikan antara jenis kelamin (p-value = 0,001) dengan laki-laki berisiko 2,87 kali mengalami luka berat dibanding perempuan. Ada hubungan karakteristik pekerjaan (p-value=0,000) dengan pekerjaan risiko tinggi berisiko mengalami luka berat 3,26 kali dibanding pekerjaan risiko rendah. Ada hubungan shift kerja (p-value=0,045) dengan shift siang berisiko 3,36 kali mengalami luka berat dibanding shift pagi. Ada hubungan departemen (p-value=0,002) dengan departemen support lebih berisiko 4,5 kali daripada produksi untuk mengalami luka berat. Hasil uji multivariat didapatkan jenis kelamin (p-value=0,006; OR=2,50) dan karakteristik pekerjaan (p-value=0,000; OR=2,97) merupakan faktor paling signifikan. Pekerja laki-laki berisiko 2,5 kali daripada pekerja perempuan dan pekerjaan berisiko tinggi berisiko 2,9 kali dibanding pekerjaan berisiko rendah untuk mengalami luka berat. Hal ini merupakan representasi dari segregasi penempatan kerja (job assignment), di mana pekerja laki-laki lebih banyak ditempatkan pada area berisiko tinggi yang mengoperasikan mesin bertenaga mekanis dan kinetik masif. Penelitian ini mempertegas bahwa eskalasi keparahan cedera di PT X bersifat teknis-mekanis. Manajemen perusahaan disarankan untuk berfokus pada penguatan mitigative barriers guna menahan transmisi energi saat terjadi malfungsi, seperti memprioritaskan pemasangan interlocking guard pada area high-risk, memastikan kecepatan respons darurat medis, serta menegakkan budaya Stop Work Authority (SWA) sebagai penahan energi terakhir bagi para pekerja.

Occupational accidents in the manufacturing sector remain a challenge, including at PT X, which recorded incidents of varying severity during the 2023-2025 period. This study aims to analyze the factors associated with the severity of occupational accidents at PT X. Using a cross-sectional study design, a sample of 257 accident case was selected using total sampling from the company’s master data. The variables studied included gender, age, work tenure, job characteristics, work shift, department, and immediate causes. Data analysis was performed using descriptive, inferential (chi-square), and multivariate (logistic regression) statistics. The results showed that the majority of accidents resulted in minor injuries, totaling 197 cases (76.7%), while major injuries amounted to 60 cases (23.3%). Inferential analysis demonstrated a significant association between gender (p-value = 0.001), where male workers were 2.87 times more at risk of experiencing major injuries compared to females. There was also a significant association with job characteristics (p-value = 0.000), where high-risk jobs were 3.26 times more likely to result in major injuries compared to low-risk jobs. Furthermore, work shift (p-value = 0.045) showed that the afternoon shift had a 3.36 times higher risk of major injuries compared to the morning shift. The department (p-value = 0.002) was also significantly associated, with the support department being 4.5 times more at risk of major injuries than the production department. The multivariate analysis revealed that gender (p-value = 0.006; OR = 2.50) and job characteristics (p-value = 0.000; OR = 2.97) were the most significant factors. Male workers were 2.5 times more at risk, and high-risk jobs were 2.9 times more at risk of experiencing major injuries compared to their counterparts. This represents job assignment segregation, where male workers are more frequently placed in high-risk areas operating machines with massive mechanical and kinetic energy. This study reinforces that the escalation of injury severity at PT X is technical-mechanical in nature. Company management is advised to focus on strengthening mitigative barriers to contain energy transmission during malfunctions, such as prioritizing the installation of interlocking guards in high-risk areas, ensuring rapid emergency medical response, and enforcing a Stop Work Authority (SWA) culture as the ultimate energy barrier for workers.
Read More
T-7606
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Umar Mulkhan Fajar; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Hendra, Putri Ayuni Alayyannur
Abstrak:
Sektor pertanian merupakan salah satu sektor dengan risiko keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tertinggi di dunia, namun implementasi K3 di kalangan petani di Indonesia masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran pengetahuan, sikap, dan praktik pencegahan kecelakaan kerja pada petani aktif di Desa X, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan melibatkan seluruh 54 petani aktif anggota kelompok tani sebagai responden melalui metode total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur yang terdiri atas instrumen pengetahuan (11 item, skala dikotomi), sikap (7 item, skala Likert 4 poin), dan praktik (12 item, skala frekuensi 4 poin) mengenai pencegahan kecelakaan kerja. Analisis data dilakukan secara univariat menggunakan distribusi frekuensi dan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki (83,3%) dengan rata-rata usia 52,5 tahun dan rata-rata masa kerja 21,0 tahun. Sebanyak 57,4% responden belum pernah memperoleh informasi mengenai pencegahan kecelakaan kerja dan 33,3% pernah mengalami kecelakaan kerja. Dari sisi pengetahuan, sebagian besar responden (59,3%) tergolong memiliki pengetahuan yang baik tentang pencegahan kecelakaan kerja (skor ≥8 dari 11) dengan mean 7,52 (SD ± 2,55), meskipun pengetahuan terendah ditemukan pada aspek keselamatan kelistrikan (46,3%) dan membaca petunjuk penggunaan mesin (55,6%). Dari sisi sikap, sebanyak 57,4% responden memiliki sikap positif terhadap pencegahan kecelakaan kerja (mean 21,28; SD ± 3,84) berdasarkan cut-off mean setelah uji normalitas Shapiro-Wilk. Dari sisi praktik, hanya 37,0% responden yang tergolong memiliki praktik pencegahan kecelakaan kerja yang baik (skor ≥36 dari 48) dengan mean 30,39 (SD ± 8,05). Praktik terendah ditemukan pada pencatatan penggunaan pestisida (68,5% tidak pernah) dan perlindungan kelistrikan mesin (50,0% tidak pernah). Terdapat kesenjangan antara pengetahuan dan sikap yang relatif lebih baik dibandingkan dengan praktik pencegahan kecelakaan kerja yang masih rendah. Temuan ini mengindikasikan perlunya intervensi yang tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga pada penguatan faktor pendukung (enabling factors) dan peningkatan akses terhadap alat pelindung diri guna mendukung penerapan pencegahan kecelakaan kerja di kalangan petani.

The agricultural sector is one of the industries with the highest occupational safety and health (OSH) risks worldwide. However, the implementation of occupational safety and health (OSH) among farmers in Indonesia remains suboptimal. This study aimed to describe the knowledge, attitudes, and practices regarding occupational accident prevention among active rice farmers in Village X, Rancaekek District, Bandung Regency. A descriptive study with a quantitative approach was conducted involving all 54 active members of farmer groups using a total sampling method. Data were collected using a structured questionnaire consisting of a knowledge instrument (11 dichotomous items), an attitude instrument (7 items on a 4-point Likert scale), and a practice instrument (12 items on a 4-point frequency scale) related to occupational accident prevention. Data were analyzed using univariate analysis with frequency distributions and descriptive statistics. The results showed that most respondents were male (83.3%), with a mean age of 52.5 years and an average working experience of 21.0 years. A total of 57.4% of respondents had never received information regarding occupational accident prevention, while 33.3% had experienced a work-related accident. Regarding knowledge, most respondents (59.3%) demonstrated good knowledge of occupational accident prevention (score ≥8 out of 11), with a mean score of 7.52 (SD ± 2.55). The lowest levels of knowledge were found in electrical safety (46.3%) and reading machine operating instructions (55.6%). Regarding attitudes, 57.4% of respondents demonstrated positive attitudes toward occupational accident prevention (mean = 21.28, SD ± 3.84), based on the mean cut-off after the Shapiro-Wilk normality test. Regarding practices, only 37.0% of respondents demonstrated good occupational accident prevention practices (score ≥36 out of 48), with a mean score of 30.39 (SD ± 8.05). The poorest practices were related to recording pesticide use (68.5% never performed) and protecting machinery electrical systems (50.0% never performed). A noticeable gap was observed between respondents' relatively good knowledge and attitudes and their poor occupational accident prevention practices. These findings indicate the need for interventions that not only improve knowledge but also strengthen enabling factors and increase access to personal protective equipment to support the implementation of occupational accident prevention among farmers.
Read More
S-12373
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Taufik Ikhsan Derana; Pembimbing: Sjahrul M. Nasri; Penguji: Fatma Lestari, Tata Soemitra, Febry Afrianto Setyawan
T-3240
Depok : FKM UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizqi Avrila Putri; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Puspitasari
Abstrak: Salah satu tujuan utama dari investigasi kecelakaan adalah untuk memberikan rekomendasi perbaikan dan pencegahan agara dapat mencegah kecelakaan yang sama terulang di kemudian hari. Adanya kecelakaan berulang di PT.X mengindikasikan bahwa investigasi kecelakaan yang dilakukan belum efektif. Salah satu yang menjadi faktor penting dalam investigasi kecelakaan adalah kualitas investigator, karena investigator lah yang akan menjalankan seluruh rangkaian proses investigasi kecelakaan kerja. Berdasarkan hasil wawancara awal, pihak investigator menjelaskan bahwa para investigator belum pernah mendapatkan pelatihan khusus mengenai investigasi kecelakaan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menilai kualitas investigator kecelakaan kerja di PT.X . Kualitas investigator dilihat dari tiga variabel yaitu kompetensi, konsistensi, dan open minded. Metode yang digunakan adalah kualitatif bersifat deskriptif melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen. ku Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas investigator di PT.X masih kurang baik. Dimana, aspek kompetensi masih kurang baik, aspek konsitensi berada pada tingkatan yang baik dan open minded berada pada tingkatan cukup baik. Kata Kunci: Investigator, Kecelakaan Kerja, Kompetensi, Konsistensi, Open Minded
One of the main purpose of accident investigation is to create recommendations for corrective actions in order to prevent the recurrent accident in the future. Some reccurent accidents at PT.X indicating that the previous accident investigations have not done effectively. One of the main factors in accident investigation is the quality of investigators, because investigators conduct the whole steps of accident investigation. Based on an early interview with some of the investigators, they said that they‟ve never been trained about accident investigation. Thus, this qualitative study aims to assess the quality of accident investigators at PT.X. The aspects of quality that will be assessed in this study are competency, consistency, and the ability of investigators to be open minded. The method used in this study is descriptive qualitative with in-depth interviews, observations, and secondary data. The result showed that the overall quality of accident investigators at PT.X is categorized not good, in which the competency aspect is poor, consistency aspect is good, and the ability of investigators to be open minded aspect is good enough. Key Words: Investigator, Workplace Accident, Competency, Consistency, Open Minded
Read More
S-8915
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive