Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 41993 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Widyaningsih; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Tri Krianto, Luknis Sabri, John Alubwaman, Prastowo Nugroho
Abstrak:
Angka tertinggi kejadian IMS pada LSL adalah di Jakarta, 32,2 % LSL, sementara perilaku pencegahan serta pengobatan IMS pada LSL masih tergolong rendah. Ini menunjukkan bahwa buruknya perilaku pencegahan IMS pada LSL. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku pcnccgahan IMS pada LSL baik yang didampingi maupun belum didampingi oleh Yayasan “X” di Jakarta Pusat, tahun 2009. Penelitizm ini mcnggunakan pendekatan kualitatif dan pcngumpulan datan dengan wawancara mendalam dan observasi. Hasilnya ditemukan adanya perbedaan bahwa pengetahuan IMSnya baik, tapi pcrilaku penccgahan IMS masih rendah. LSL dampingan Iebih mudah untuk mengakses informasi dan pelayanan kesehatan. Dari penelitian ini disarankzm perlunya peningkatan penjangkauan LSL yang masih tertutup.

The highest rate of STI on MSM found in Jakarta, namely, 32.2% of MSM, while preventive and treatment behavior for STI on MSM is still at low rate. This research aims to discover the STI preventing action on MSM, both of those have been assisted or not assist yet "X" Foundation in Central Jakarta, 2009. This research utilizes qualitative approach while data collecting conducted through in-depth interview and observation. The result indicates that there is a difference between one's good awareness/knowledge on STI but the preventive behaviour still low. Assisted in MSM are found that easier to access information and health service. Based upon the finding, this research suggested to enhance the efforts to outreach other introvext MSM.
Read More
T-3097
Depok : FKM UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yari Arfila Manurung; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Agustin Kusumayati, Sahiyatun Nawiyah
S-9007
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rachma Pratiwi; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Tiara Amelia, Noor Aliyah
Abstrak: Penularan HIV menunjukkan adanya peningkatan terutama pada kelompokrisiko tinggi yaitu Laki-Laki yang melakukan hubungan Seks dengan Laki- Laki (LSL).Perilaku seks tidak aman menjadi salah satu faktor yang menyebabkan hal ini.Penggunaan kondom konsisten menjadi salah satu upaya pencegahan penularan HIVpaling efektif pada kelompok ini. Program seperti kondom gratis oleh pemerintah telahdilakukan, namun jumlah LSL yang terdeteksi HIV positif kian meningkat, hal tersebutmelatar belakangi penelitian kualitatif ini. Penelitian bertujuan untuk mengetahuiinformasi mendalam mengenai gambaran perilaku penggunaan kondom pada LSL diwilayah kerja Puskesmas Bogor Timur tahun 2019. Pengambilan data dilakukan sejakJuli hingga Agustus 2019 dengan mewawancarai secara mendalam dua belas informanLSL dan dua orang informan petugas.Pada penelitian ini, sebagian besar informan telah memiliki penge tahuanHIV/AIDS yang baik, sikap terhadap kondom yang positif, kondom sangat mudahdidapatkan (aksesibilitas baik), peran pasangan, peran teman sesama LSL dan perandari petugas Puskesmas Bogor Timur dan petugas lapangan juga sebagian besarinforman menyatakan faktor tersebut mendukung mereka dalam penggunaan kondomkonsisten. Meskipun begitu, masih ada informan yang tidak mempraktikkanpenggunaan kondom secara konsisten, baik karena kurangnya pengetahuan hinggaperan pasangan yang tidak mendukung penggunaan kondom selama seks tersebut.Sehingga, perilaku penggunaan kondom pada LSL di wilayah kerja Puskesmas BogorTimur dipengaruhi oleh pengetahuan HIV/AIDS dan manfaat kondom, sikap terhadappenggunaan kondom, aksesibilitas untuk mendapatkan kondom, peran pasangan, peranpetugas dan juga peran teman sesama LSL.Kata kunci : Laki-laki Seks dengan Laki-Laki (LSL), penggunaan kondom, penularanHIV
HIV transmission shows a significant increase in the high risk group of Menwho have Sex with Men (MSM). Unsafe sex behavior is one of the factors that causesthis. Consistent use of condoms has been one of the most effective HIV preventionefforts in this group. Programs such as free condoms by the government have beenconducted, but the number of HIV-positive MSMs has increased, following thisqualitative study. The study aimed to find out in-depth information on the depiction ofcondom use behavior in MSM in the Puskesmas Bogor Timur in 2019. Data collectionwas conducted from July to August 2019 by in-depth interviewing twelve MSMinformants and two staff informant .In this study, most informants had good knowledge of HIV / AIDS, positiveattitude toward condoms, very accessible condoms (good accessibility), role of partner,role of fellow MSM and role of health workers and field personnel many informantssay these factors support them in using condoms consistently. However, there are stillinformants who do not practice condom use consistently, either because of their lackof knowledge to the role of sex partner who do not support condom use during sex.Thus, the behavior of condom use in LSL in the Puskesmas of Bogor Timur areinfluenced by HIV / AIDS knowledge and condom benefits, attitudes toward condomuse, accessibility to condom use, partner roles, attendant roles and the role of fellowMSM.Key words : Condom use, Men who have Sex with Men (MSM), HIV transmition.
Read More
S-10200
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Luh Putu Ari Dewiyanti; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dadan Erwandi, Yoslien Sopamena, Suhesti Dumbela, Irfani Nugraha
Abstrak:
Intervensi pre-exposure prophylaxis (PrEP) di Indonesia telah diimplementasikan sejak tahun 2021, namun cakupan penggunaannya masih rendah. Di DKI Jakarta sebagai provinsi dengan capaian PrEP tertinggi secara nasional, masih terdapat kesenjangan antarwilayah, di mana Jakarta Selatan telah melampaui target capaian (131%), sementara Jakarta Timur masih berada di bawah target (61%). Penelitian ini bertujuan memahami perilaku pengambilan keputusan penggunaan PrEP pada kelompok laki-laki seks dengan laki-laki (LSL) di Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi dan analisis tematik. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi pada LSL pengguna dan non-pengguna PrEP, serta tenaga kesehatan dan petugas lapangan sebagai informan pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengambilan keputusan penggunaan PrEP merupakan proses yang dinamis dan tidak linear, dipengaruhi oleh interaksi antara informasi, persepsi kerentanan, persepsi hambatan, sikap, norma subjektif, motivasi, dan keterampilan perilaku. Pengguna dan non-pengguna PrEP sama-sama memiliki kesadaran terhadap HIV dan sikap positif terhadap PrEP, namun berbeda dalam memaknai risiko, kebutuhan penggunaan, dan kemampuan mengintegrasikan PrEP dalam kehidupan sehari-hari. Pengguna PrEP menunjukkan pemahaman risiko yang lebih reflektif serta keterampilan perilaku yang mendukung navigasi layanan, kepatuhan, dan adaptasi terhadap hambatan penggunaan. Sebaliknya, non-pengguna cenderung merasionalisasi risiko melalui rasa aman subjektif dan strategi pencegahan lain sehingga PrEP belum dipandang sebagai kebutuhan yang relevan. Temuan juga menunjukkan bahwa perbedaan capaian penggunaan PrEP antarwilayah berkaitan dengan pengalaman layanan, fleksibilitas program, dan dukungan komunitas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan PrEP pada kelompok LSL tidak hanya dipengaruhi akses informasi dan kesadaran risiko HIV, tetapi juga proses pemaknaan risiko, dukungan sosial, pengalaman layanan, dan keterampilan perilaku. Oleh karena itu, peningkatan penggunaan PrEP perlu dilakukan melalui pendekatan berbasis tahapan pengambilan keputusan, komunikasi risiko yang lebih kontekstual, serta penguatan kualitas layanan dan pendampingan berbasis komunitas.

Pre-exposure prophylaxis (PrEP) has been implemented in Indonesia since 2021, however, its uptake remains low. In DKI Jakarta, which has the highest national PrEP coverage, disparities persist across regions, with South Jakarta exceeding its target coverage (131%) while East Jakarta remains below target (61%). This study aimed to explore the decision-making behavior related to PrEP use among men who have sex with men (MSM) in East and South Jakarta. This study employed a qualitative approach with a phenomenological design and thematic analysis. Data were collected through in-depth interviews and observations involving MSM PrEP users and non-users, supported by healthcare workers and outreach officers as key informants. The findings showed that decision-making regarding PrEP use is a dynamic and non-linear process influenced by the interaction of information, perceived susceptibility, perceived barriers, attitudes, subjective norms, motivation, and behavioral skills. Both PrEP users and non-users demonstrated awareness of HIV and positive attitudes toward PrEP; however, they differed in how they interpreted risk, perceived the need for PrEP, and integrated PrEP into their daily lives. PrEP users showed more reflective risk perceptions and stronger behavioral skills related to service navigation, adherence, and adaptation to barriers. In contrast, non-users tended to rationalize risk through subjective feelings of safety and reliance on alternative prevention strategies, leading PrEP to be perceived as less relevant to their needs. The findings also indicated that disparities in PrEP uptake across regions were associated with differences in service experience, program flexibility, and community support. This study concludes that PrEP use among MSM is influenced not only by access to information and HIV risk awareness, but also by risk interpretation, social support, service experience, and behavioral skills. Therefore, efforts to increase PrEP uptake should incorporate decision-making stage-based approaches, more contextualized risk communication, and strengthened service quality and community-based support
Read More
T-7539
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Astrid Farmawati Sianipar; Pembimnbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Ahmad Syafiq, Rinni Yudhi Pratiwi
S-6441
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Widyastuti; Pembimbing: Toha Muhaimin, Adi Sasongko; Penguji: Farida Mutiarawati Tri Agustina, Sigit Priohutomo, Dien Emawati
T-2429
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ina Usrikasetiawati; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Agustin Kusumayati
S-5960
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yustikawati; Pembimbing: Toha Muhaimin, Adi Sasongko
T-2056
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erlian Rista Aditya; Pembimbing: Rina Artining Anggorodi; Penguji: Pandu Riono, Yvonne Magdalena Indrawani, Octavery Kamil, Ciptasari Prabawanti
Abstrak:

Prevalensi HIV pada LSL terus meningkat dari tahun ke tahun, 8% pada 2007 menjadi 17% pada 2011. Tingginya prevalensi HIV pada populasi ini disebabkan oleh pratek perilaku seks aman berupa penggunaan kondom secara konsisten yang masih rendah, 32% pada 2007 dan 24% pada 2011. Tujuan penelitian: Diperolehnya informasi yang mendalam tentang faktor-faktor pendukung dan penghambat perilaku penggunaan kondom secara konsisten pada pekerja seks laki-laki panti pijat serta situasi dan pola penggunaan kondomnya. Desain penelitian: Kualitatif menggunakan rapid assessment procedures. Sebanyak 30 informan dipilih melalui ?stratified? purposive sampling dari 15 panti pijat laki-laki, diwawancarai secara mendalam menggunakan structured open-ended question, ditranskrip dan matriks dibuat untuk memilah data sesuai tema-tema yang muncul. Observasi situasi di panti pijat dan analisis dokumen dilakukan untuk melengkapi wawancara mendalam. Analisis-interpretasi data dilakukan berdasarkan 5 level Socio Ecological Model. Hasil: Sebagian besar faktor-faktor pada level individual (pengetahuan, motivasi dan kesiapan menggunakan kondom, niat, keputusan menggunakan kondom, keterampilan, dan selfefficacy) dalam situasi yang memadai dan menjadi faktor pendukung penggunaan kondom secara konsisten. Namun pengaruh faktor-faktor ini tidak langsung dan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor interpersonal terutama klien, atasan/manajer panti pijat, teman dan pasangan tetap serta oleh faktor-faktor situasi organisasi panti pijat seperti aturan organisasi, mekanisme rantai suplai distribusi dan promosi kondom, struktur dan budaya organisasi. Faktor-faktor pada level komunitas tidak mendukung tetapi juga tidak menghambat secara langsung karena jejaring, kapasitas, kepemimpinan, partisipasi dan sumber daya komunitas masih embrional dan belum kuat. Faktor-faktor pada level kebijakan publik mendukung perilaku penggunaan kondom informan karena memungkinkan ketersediaan dan distribusi kondom serta program HIV berjalan di panti pijat. Namun karena adanya kontradiksi antara beberapa kebijakan publik, pengaruhnya menjadi terbatas. Ditemukan juga ada 3 pola umum penggunaan kondom pada informan yang merupakan model sederhana dari stage of change model, health believe model, precaution adoption process model dan social cognitive theory. Kesimpulan/rekomendasi: semua informan telah menggunakan kondom tetapi hanya sebagian kecil informan, sekitar 30%, yang penggunaan kondomnya konsisten. Faktor pada level interpersonal dan organisasional adalah faktor yang paling mempengaruhi penggunaan kondom informan dibandingkan faktor-faktor pada level individual, komunitas dan kebijakan publik. Disarankan agar intervensi pencegahan HIV menyasar lebih dalam faktor-faktor pada kedua level tersebut.


 Background: HIV prevalence among MSM increase time to time, 8% in 2007 to 17% in 2011. High HIV prevalence among this population caused by low unsafe sex practices in form of consistent condom use, 32% in 2007 and 24% in 2011. Study purpose: to acquired insight of consistent condom use suporting and inhibiting factors among massage parlor-based male sex workers as well as situation and patterns of condom use behavior. Study design: qualitative approach using rapid assessment procedure method. Thirty informans were select through ?stratified? purposive sampling from 15 massage parlors, interviewed using structured open-ended questions, trancripted and matrix developed for data sorting to captured any emerged themes. Documents and secondary data analysis and observation carried out to suplement indepth interview. Data analysis and interpretation done based on 5 levesl of Socio Ecological Model. Results: Most of factors at individual level (knowledge, motivation and readiness to use condom, behavioral intention, deicion about acting, condom use skill, self-efficacy) were adequate and as supporting factors for consistent condom use practices. However influences of these factors was indirect and greathly influenced by interpersonal factors particularly by clients, massage parlor managers, peers and steady partners as well as by organizational factors such as massage parlor work regulation, condom supply chain management and promotion, organizational culture and structure. Factors at community level were neither support nor inhibit directly to consitent condom use practices. These are mainly caused by inadequate and embryonic stage of community networking, capacity, leadership, participation, and resources. Factors at public policy level support informant?s consistent condom use practices since these factors enabled condom availability and distribution and presence of HIV prevention program inside the massage parlors as well. However due to contradiction among those existing public policy, the influences were narrow. This study found 3 general patterns of informant?s condom use practices which are served as simple model of social cognitive theory, stages of change model, health believe model and precaution adoption process model. Conslusion/recommendation: All informants had used condom but only few of them, about 30%, had used it consistently. Factors at interpersonal and organizational level were the most influencing factors for consistent condom use practices among informants compared to factors at individual, community and public policy level. It is recommended to have deeper and more intensive intervention at those two levels.

Read More
T-3731
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sumarwati; Pembimbing: Toha Muhaimin; Penguji: Ella Nurlaella Hadi, Husein Habsyi
Abstrak: Penelitian ini membahas tentang perilaku seksual pranikah pada anak jalanan usia remaja serta faktor yang berhubungan dengannya. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan menggunakan desain cross sectional, jumlah sampel sebanyak 110 orang, dilakukan di wilayah binaan Yayasan Himmata periode Desember 2013. Analisa hubungan dengan menggunakan uji chi square dan regresi logistik model prediksi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 33.6% anak jalanan yang berperilaku seksual pranikah berisiko. Hasil uji statistik bivariat menunjukkan ada hubungan bermakna pada variabel jenis kelamin, umur, pendidikan, tempat tinggal, status pekerjaan, pubertas, dan keterpaparan media pornografi. Hasil uji statistik multivariat menunjukkan bahwa pubertas dan pengetahuan kesehatan reproduksi merupakan variabel yang paling dominan berhubungan dengan perilaku seksual pranikah pada anak jalanan. Hasil analisis didapatkan OR yang paling besar adalah pubertas, OR = 8.6 yang artinya pubertas berpengaruh sebesar8.6 kali terhadap perilaku seksual pranikah pada anak jalanan. Dari hasilpenelitian ini diketahui adanya keterkaitan antara sepuluh variabel dengan perilaku seksual pranikah pada anak jalanan usia remaja. Kata Kunci:Remaja, perilaku seksual pranikah, anak jalanan, yayasan himmata
This study investigated pre-marital sexual behavior and its associated factorsamong adolescent street children in Himmata Foundation with period ofDecember 2013. A quantitative research using cross-sectional design wasemployed in this study. The participants were 110 adolescent street children livingin Himmata Foundation. The chi square test and logistic regression predictionmodel was used for analyzing the data. Data analysis revealed that there were 33.6% of street children suffered from pre-marital sexual behavior. Factors associatedwith pre-marital sexual debut were assessed using bivariate and multivariatestatistical test. The results of bivariate statistical test showed significantcorrelation between gender, age, educational background, place of residence,employment status, puberty, and media exposure to pornography exposure amongchildren. The results of multivariate statistical tests described that the onset ofpuberty and reproductive health knowledge were the most dominant variableassociated with pre-marital sexual behavior among the children. The largest OR ofdata analysis was puberty 8.6 which means the puberty was affected by 8.6 timesagainst pre-marital sexual behavior among the respondents. From this research weknow the relation between the ten variables with premarital sexual behavior ofadolescence street children. Keywords : Adolescents, pre-marital sexual behavior, street children, himmata foundation
Read More
S-8130
Depok : FKMUI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive