Ditemukan 36278 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Penyakit kecacingan yang ditularkan melalui tanah (Soil Transmitted Helminths) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting, terutama di negara sedang berkembang atau negara miskin di seluruh dunia. Di Indonesia penyakit cacingan tersebar luas baik di pedesaan maupun di p.er!cotaan deligan prevalensi sekitar 60%-80"/o pada murid SD dan 40%-60% untuk semua umur (Ditjen?PPM & PL, 1998). Kecacingan berdampak cukup luas pada masyarakat terutarna pada anak-anak, antara lain malnutrisi, anemia, menurunkan daya tahan tubuh, menghambat perkemhangan fisik, mental, kemunduran intelektual dan produktifitas kelja. Hasil survei kecacingan Depkes RI pada lO propinsi di Indonesia, prevalensi kecacingan di Kab. Pesisir Selatan lebih tinggi di banding kabupaten lain yaitu 85,8% tahun 2003 dan 51,4% tahun 2005 (Depkes RI, 2005). Tingginya angka infeksi kecacingan antara lain tergantung pada kebersihan diri, sanitasi lingkungan dan kebiasaan penduduk yang menujang transmisi. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan perilaku cuci tangan sebelum makan memakai air dan sabun dengan kejadian kecacingan (A.lumbricoides & T.trichiura) pada murid kelas 3 s/d 5 SD 28 & 34 Kec. Bayang dan SD 19 & 22 Kec. IV Jurai Kab. Pesisir Selatan. Penelitian ini merupakan studi epidemiologi dengan desain cross sectional, menggunakan data sekunder yang berasal dari basil survei kecacingan Depkes RI tahun 2005, jumlah sampel sebanyak 257 murid kelas 3 s/d 5 SD 28 & 34 Kec. Bayang dan SD 19 & 22 Kec. IV Jurai Kab. Pesisir Selatan. Diagnosis penyakit kecacingan berdasarkan status laboratoris dengan cara pemeriksaan telur cacing pada tinja menggunakan metode Katto-Katz. Variabel yang diteliti diukur dengan metode wawancara dan observasi menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukan perilaku cuci tangan sebelum makan memakai air dan sabun terbukti mempunyai hubungan bermakna secara statistik dengan kejadian kecacingan (A.lumbricoides & T.trichiura), murid yang tidak cuci tangan sebelum makan memakai air dan sabun berisiko 2,35 kali lebih besar terinfeksi kecacingan dibandingkan dengan murid yang melakukan cuci tangan sebelum makan memakai air dan sabun (OR=2,35, 95% CI=1,40-3,94), variabel lain yang berhubungan bermakna secara statistik dengan kejadian kecacingan adalah perilaku BAB tidak dijamban dengan nilai OR sebesar 2,64 (95% CI=l,46-4,77) dan perilaku jajan tidak di warung sekolah dengan nilai OR sebesar 1,96(95%CI=l,06-3,65). Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan bahwa untuk mengurangi risiko infeksi kecacingan diharapkan kepada murid-murid SD dan masyarakat umumnya dapat membiasakan diri cuci tangan sebelum makan dengan air dan sabun, dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit kecacingan disamping upaya pengobatan perlu melakukan penyuluhan kesehatan tentang PHBS, meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat pada murid dengan melakukan pemeriksaan berkala terhadap perilaku dan kebersihan diri murid di sekolah.
Soil Transmitted Helmiths (STH) infection were still constitute an important public health problem, particularly in poor and development country at worldwide. In Indonesia, helminth infection spread at rural and also at urban community by prevalence about 60% - 80% at elementary school (SD) and about 49%-60"/o for all age (Ditjen PPM&PL, 1998). Helminths impacted enough extensively on society especial!y for children for example malnutrition, anemia, slower physic and mentally growth, degrading intellectual and working productivity. Helmiths survey result by Depkes RI at I0 provinces in Indonesia, Helminths prevalence. at Pesisir Selatan district is higher compared to another district which was 85, 8 % on 2003 and 51,4 on 2005 (Depkes RI, 2005). In height helmints infections number is depend on personal hygiene, environmentally sanitation and resident habitual which are support the transmission. The objective of the result to know relationship between hand washing behaviour before eating uses water and soap with helminths occurrence (A.lumbricoides & T.trichiura) at class 3 until 5 student of SD 28 & 34 Bayang sub-district and SD 19 and 22 IV Jurai sub-district Pesisir Selatan district. This research represent epidemiology study with cross sectional design, utilizing secondary data yielding from helminths survey of Depkes RI on 2005, total sample 257 students class 3 until 5 student of SD 28 & 34 Bayang sub-district and SD 19 and 22 IV Jurai sub-district Pesisir Selatan district. Helminths disease diagnose bases on laboratory state by inspection of helminth eggs 011 human feces utilizes Katto-Katz methods. Checked variable measured with interview method and observed use questioners. Research result showing hand washing behaviour before eating uses water and soap has a meaning statistically with helminths occurrence (A.lumbricoides & T.trichiura), student that doesn't wash hand out before eating uses water and soap has risk are 2,35 times greater to get helminths infected compared with student which has wash hands before eating uses water and soap (OR= 2,35, 95% CI = 1,40-3,94), other variable has statistically meaning related with helminths occurrence is defecation (BAB) behavior not at the toilet with OR value 2,64 (95% CI=1,46-4;77) and eating snacks I small shop at school with OR value 1,96 (95% CI=1,06-3,65). Bases on observationally result therefore suggested to reduce helminths infection risk is expected to elementary school student and society generally can familiarize to hand washing before eating with water and soap, in order prevention and eradication helminths disease beside cure effort needs to do health counseling about PHBS, increasing clean life style and health on student by undertaking check periodically to behaviour and personal hygiene student at school.
Hepatitis akut klinis merupakan penyakit yang diakibatkan oleh adanya peradangan yang bersifat akut pada hepatosit karena adanya agen yang masuk ke dalam sel hepar tersebut. Secara klinis umumnya ditandai dengan Panas, mual/muntah, rasa penuh di perut dan ikterik.Yang tersering di antara hepatitis akut klinis ini antara lain adalah hepatitis virus A. Di tinjau dari teori HL Blum ada beberapa faktor yang berperan dalam penyebaran hepatitis virus A ini yaitu lingkungan, perilaku, genetika dan fasilitas kesehatan. Hepatitis A seringkali menyebabkan masalah diberbagi penjuru dunia , baik dalam bentuk epidemi, wabah , kasus luar biasa ( KLB ) maupun outbreak. Akhir-akhir ini terjadi KLB hepatitis akut yang berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium dari tempat pasien di rawat dideteksi sebagai hepatitis A. Berdasarkan kepustakaan penularan hepatitis virus A merupakan jenis oral fecal transmission . Sehingga penularan penyakit ini erat hubungannya dengan perilaku higiene perseorangan. Praktek cuci tangan merupakan variabel penting dalam perilaku kebersihan dini, mengingat di daerah tersebut umumnya penduduk makan pakai tangan (tanpa sendok), yang dilakukan 3-4 kali sehari dan kebanyakan dari mereka tidak cuci tangan sebelum makan. Oleh karena itu praktek cuci tangan sebelum makan penduduk di daerah KLB tersebut perlu mendapat perhatian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara prektek cuci tangan sebelum makan yang merupakan komponen penting dari faktor perilaku dengan kejadian hepatitis akut klinis di daerah KLB hepatitis A tersebut. Desain dari penelitian ini adalah kasus kontrol dengan menganalisa data sekunder hasil investigasi wabah yang telah dilakukan pada bulan Nopember 2001 sampai Januari 2002 . Sehingga populasi didasarkan atas data sekunder tersebut, yaitu masyarakat yang tinggal di perumahan Calincing desa Cogreg kecamatan Parung kabupaten Bogor kelompok umur 15-55 tahun. Jumlah kasus yang dianalisa adalah 60 orang dan kontrol 120 orang. Hasil dari penelitian adalah terdapat hubungan yang bermakna ( p = 0.000 ) antara praktek cuci tangan sebelum makan dengan kejadian sakit hepatitis Akut klinis. Nilai OR = 3.442 (95% CI ; 1.638 - 7.235). Diketemukan adanya konfounding, Sebagai konfonder adalah variabel Pendidikan, sehingga hubungan antara variabel praktek cuci tangan sebelum makan dengan kejadian sakit hepatitis akut dipengaruhi oleh variabel pendidikan.
Clinical acute hepatitis is disease because acute inflammatory in hepatocyte caused by some agents which infecting hepar cells. Clinical symptoms of hepatitis are body temperature increasing, nausea, vomiting, abdominal discomfort, icterus or yellow skin. The most cases of clinical acute hepatitis is hepatitis A virus (HAV). According to H. L Blum theory, there are some factors related to spreading of the disease (HAV) such as environment, behaviour, genetic, and health service facilities. Hepatitis A virus often becomes serious problem in any area as epidemic or outbreak. Recently, an outbreak of hepatitis -has known as hepatitis A based on laboratory test of patients. This hepatitis A (clinical acut hepatitis) spreading from faecal-oral transmission when individuals do not wash their hand after using the toilet and then the handle the food, so this behaviour in this disease.In area of the outbreak , washing hand before handling food is very importan variable, becauese most of the people do not wash their hand before breakfast, lunch and dinner and without spoon. This study is to find out relation between washing hand before handling food with clinical acut hepatitis cases in the area of outbreak of Hepatitis A. This study using case control design, analysing secondary data of epidemic investigation from November 2001 to January 2002. The population is community which living in Calincing housing in Cogreg County, Parung sub district of Bogor, aged from 15 to 55 years old. 60 cases and 120 controls have analysed. Result of this study has find that is a significant relation (p-0.000) between washing hand before handling food with clinical acute hepatitis case, OR=3.442 (95% Cl : 1.638 - 7.235). Education is a confounding variable to this relation.
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular yang sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia karena penyebaran yang cepat dan dapat menyebabkan kematian. Penyakit DBD ini sampai saat ini masih banyak menyerang anak-anak. Sejak tahun 2003 - 2006 di Kota Tembilahan dari 359 totai kasus 341 kasus adalah anak-anak (95 %). Untuk mengetahui apa penyebabnya penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan faktor individu anak dan faktor lingkungan dengan kejadian DBD pada anak di Kota Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir Propinsi Riau. Jenis Pcnelitian ini disain Case Comrol dan menggunakan data primer meialui wawancara., pengukuran dan observasi lingkungan. Populasi penelitian adalah seluruh anak-anak berusia dibawah 12 tahun yang tinggal dan menetap di Kota Tembilahan. Sampel adalah anak berusia dibawah 12 tahun yang menderita DBD yang dirawat di RSUD Puri Husada Tembilahan dan dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kab. Indragiri Hilir sebagai kasus dan kontrol adalah anak bemsia dibawah I2 tahun yang bebas dari semua gejala DBD dan tinggal dalarn radius 100 meter dari rumah kasus. JumlaI1 sampel dalam penelitian ini 99 kasus dan 99 kontrol. Entri data dengan program Epi ~ info versi 6.0, pengolahan dan analisis data dengan menggunakan SPSS versi 13.0. Variahel yang berhubungan dengan kejadian DBD pada anak yaitu: kebersihan Iingkungan (OR = 31.11, 95 % CI 10.09 - 95.95), upaya mencegah gigitan nyamuk (OR = 16.33, 95 % CI 5.69 - 46.88), kepadatan hunian (OR = 14.48, 95 % CI 4.82 - 43.49), upaya mencegah berkembang biaknya nyamuk (OR = 8.45, 95 % Cl 2.33 ~ 3058) dan keberadaan jentik (OR = 3.55, 95 % CI 1.04 - l2.l4) Variabel yang tidak berhubungan dengan kejadian DBD pada anak: umur anak, jenis kekamin anak, persepsi status gizi anak, spend time anal: dan riwayat keluar kota dalam masa inkubasi yang diiakukan anak, umur ayah, pendidikan ayah, pekerjaan ayah, umur ibu, pendidikan ibu, pekeljaan ibu dan pengeluaran/sosial ekonomi keluarga, jenis kontainer. Dari temuan pada penelitian ini disamnkan: untuk keluarga dan masyarakat: menycdiakan tempat sampah di alias rumah masing-masing, mengubur barang-barang bekas yang tidak bisa masuk ke dalam tempat, pemasangan kawat kassa pada setiap ventilasi mmah, menutup dinding rumah, tidak menggantung pakaian di dalam rumah, aktiiitas siang hari di dalam rumah selalu: memakai obat nyamuk bakar/pakai repellenr, tidur pakai kelambu, menutup rapat tempat penampungan air, menaburkan bubuk abate minimal 3 bulan sekali, perbaikan konstruksi rumah/ luas rumah, upayakan satu rumah satu keluarga. Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hilir melakukan kegiatan pemantauanjentik dan pemberantasanjentik, dan pcnyuluhan kesehatan masyarakat.
Dengue Haemomghic Fever is one of the infectious diseases which are still until now become problem of Indonesian community health because of its rapid spread which can cause death, Generally disease under the age of 15 usual be major population whose infected to disease. This study is made to know the children individual factor and Dengue Haemoraghic Fever suffered by the children in Tembilahan city, indragiri Hilir District, Riau Province. This study used design case control study is analytical study which used. The study population is all children under the age of I2 living in Tembilahan. The samples are the children under the age of I2 years who diagnosed as Dengue haemoraghic Fever case cure hospitalized in Regional Hospital of Puri Husada Tembilahan. All the cases reported to Distric Health Oftice of Indragiri Hilir. All the case considered as the case and of the study the control will be randomly selected for their neighbor. As sample in this study is 99 (ninety nine) case and 99 (ninety nine) control. The study found the following variable of study have significantly related to the occurred of the depend are the environmcnt sanitation (OR = 31,3l, 95 % CI 10.09 - 95,95), effort to prevent the mosquito bite (OR = l6,33, 95 % CI 5,69 - 4638), the household crowding index (OR = l4,48, 95 % Cl 4,82 ~ 43.49), effort to prevent the mosquito reproduction (OR = 8,45, 95 % CI = 2,33 - $50.58) and larvae availability in the container (OR = 3,55, 95 % CI = 1,04 - l2.l4). Based on this study result, it is recommended that for household and community to clean cnvironment, to all the time prevent the mosquito bites especially on the day, and community should cultivate in their daily life the 3 M activities (to bury, to close and to flush) of the water reservoir at least once a week For dense population area, it is recommended not make travel to the endemic area in the secondary infection in the household. It is recommended that the Health Office oflndragiri Hilir District and Public Health Center in Tembilahan to improve the health extension program through the clean Friday movement, mosquito nest combat.
Keterpajanan timbal di udara ambien pada anak-anak yang berasal dari pembakaran bahan bakar kenderaan bermotor, dapat tezjadi jika terhimp senyawa timbal tersebut selama dipeljalanan dari rumah ke sekolah, Emisi tersebut merupakan basil samping pembakaran yang teljadi dalam mesin-mesin kendaraan, yang berasal dari senyawa zerramelkvl-lead dan ietraetlzyl-lead yang selalu ditambabkan dalam bahan bakar kendaraan bermotor tersebut. Dimana iimbal yang dibuang ke udara melalui asap buang kendaraan bermotor iersebut menjadi sangar tinggi, apabila terhirup dalam sistem pemafasan akan dapat meningkalkan kadariimbal dalam darah anak-anak.. Tujuan dari penelitian ini ingin rncngetahui hubungan keterpajanan timbal di udara ambien dengan kadar timbal dalam darah siswa sekolah dasar kelas empat, lima dan enam di kecamatan Cikarang. Penelitian ini mempnmyai keraugka konsep bahwa keterpajanan tirnbal di udara ambien yang diukur dengan lama dijalan sebagai variabel independen akan mempengamhi kejadian kadartimbal dalam daxah siswa sebagai variabcl dcpenden. Juga diteliti fakbor bebas lain, yang dapat mempalgaruhi variabel dependen seperti status gizi, pendidikan ayah, pendidikan ibu, pekeljaan ayah, pekeljaan ibn, riwayat batuk kronis, riwayat minurn obat casing, konsumsi susu, kebiasaan merokok dan pengeluaran orang fua. Penelitian ini menggnmakan disain Cross Sectional, dengan jumlah populasi 160 orang siswa sekolah dasar kelas empat, lima dan enam di kecamatan Cikarang. Data dalam peneiitian ini diperoleh dengan melakukan wawancara pengisian kuesioner, untuk mengetahui lama dijalan dari rumah kesekolah (ekwosnre/Sfariabel independen) dan kadar timba! dalam darah diukur dengan menggunakan AAS (outcome/variabel dependen). Hasil penelitian memmjukkan bahwa 62,4% siswa yang terpajan' lebih mernpunyai kadar timbal tinggi dalam damh pada siswa sekolah dasar kelas empat, lima dan enam di kecarnatan Cikarang. Kesimpulan pcnclitian ini adalah bahwa siswa yang telpajan lebih mempnmyai resiko 9 kali utuk mempunyai kadar timbal tinggi didalam darah dengan can of point median (S.72pg/dl) setelah dikontrol dengan pendidikan ayah dan kebiasaan merokok.
Lead exposure in children is sourced automotive combustion, while inhaled lead for trams road to go to school. Emission is e.Hected combustion vehicle machines, content tetramethyl lead and tetraethyl lead always added vehicle gasoline. Lead depletion is throwaway air automotive combustion, is very high. Metal lead, if inhaled in breathing system is etfect to up blood lead level children. Purpose of the research is knowing correlation lead exposure ambient with blood Icad level elementary. school tbrth, fifth, sixth at Cikarang. This research has concept that exposure lead in ambient that’s measure time at the road as variable indepaident is effecting blood lead level schoolchild as variable dependent. Thus researcher has researched mother factor which influence variable dependent as nutrition status, ihthefs education, mother’s education, thtliefs work, mother’s work, cough chroniw, helmint’s drug milk consumption, smoking habit and parcnt’s consumption. This research use cross sectional design, with 160 population schoolchild elementary school forth, iitih, sixth at Cikarang This data is taken lbr measurement time of the road fiom the house until to school (exposurefvariable independent) and blood lead level measurement AAS (outcome/variable dependent). The summaly showed that 62,4% child more exposure has high blood lead level at schoolchild elementary school Ruth, iiiih, sixth at Cikarang. Schoolchild’s more exposure has 9 time risk ibr has blood lead level, with cut of point median (5,72 pg/dl ) aher is controlled by father’s education and smoking habit.
