Ditemukan 31895 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Malnutrition is one of the causes of death in toddlers, around 45% of under-five deaths in the world. Parenting patterns are the attitudes and behavior of parents towards their children, the plan for scheduling feeding and serving it to children is one of the parenting patterns. Poor parenting patterns are an external factor in the occurrence of malnutrition in toddlers. At Kramat Jati Regional Hospital, the percentage of malnutrition among toddlers is 35%. This cross-sectional study aims to see the relationship between parental parenting patterns and malnutrition status in toddlers. Data collection was carried out directly in April-June 2023 on all toddlers who visited the Kramat Jati Regional Hospital polyclinic with a sample size of 374 respondents. The results of statistical tests show that there is a relationship between parenting patterns and malnutrition status. Poor parenting patterns for toddlers who have poor nutrition have a risk of 2.031 times compared to toddlers with normal nutritional status (PR; 2.031; 95% CI: 1.338–3.083; p-value 0.018). The results of the logistic regression analysis of the relationship between parenting patterns and malnutrition status in toddlers after being controlled by covariate variables: mother's age, mother's last education, mother's job, father's job, family income, environmental sanitation, gender, and infectious diseases in toddlers show that those with poor parenting patterns have a 2.080 times risk of experiencing malnutrition compared to toddlers who have normal nutritional status (PR: 2.080; 95% CI: 1.359 – 3.182; p-value: 0.001).
ABSTRAK Latar Belakang : Kurang gizi masih menjadi masalah utama yang dihadapi dunia. Setiap tahunnya sekitar 55.000 orang meninggal karena kurang gizi. Dan dua per tiga dari jumlah yang meninggal ini adalah anak-anak. Di negara-negara berkembang, kontribusi kurang gizi terhadap kematian anak balita yang berhubungan penyakit infeksi meneapai 53%. Anak yang kurang gizi cenderung lebih rentan terhadap penyakit infeksi baik dalam hal jumlah kejadian (misalnya insidens) maupun durasi setiap kejadian penyakit Tahun 2006, jumlah penderita gizi buruk mengalami peningkatan dati tahun sebelumnya. Jumlah balita gizi buruk di Indonesia, menurut laporan UNICEF 2006 meningkat dari 1,8 juta pada tahun 200412005 menjadi 2,3 juta jiwa Peningkatan balita gizi buruk ini tentulah sangat mengkhawatirkan, karena depat menyebabkan "lost Metode : Penelitian ini menggunakan rancangan quasi eksperimen pre-post test dengan jumlah sampel 114 yang terdiri dari 60 balita yang menerimn intervensi PMT-P dan 54 balita yang menerima konseling gizi. Untuk menguji hipotesis digwtukan uji t-test dan anova. Analisa multivariat dengan Analisis Regress!Berganda. Hasil: Hasil uji ststistik menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna antara Zsrore balila gizi buruk sebelum dan sesudah mendapatkan intervensi. Konseling gizi berhasil meningkatkan Zscore belita gizi buruk sebesar 0.2237. Pemberian PMT- berhasil meningkatkan Zscore balita gizi blll1lk sebesar 0.2181. Untuk kelompok konseling, faktor-faktor yang mempengarohi peningkatan Zscore balita gizi blll1lk adalah status gizi {Zscore) balita di awal penelitian. Sedangkan untuk kelompok PMT-P, adalah umur analk, dan umur balita disapih. Kesimpulan : Setelah intervensi, prevalensi gizi buruk turon 38,6%. Darl kelompok konseling, prevalensi balita gizi buruk turun 50,0%, sedangkan prevalensi gizi buruk pada kelompok PMT-P turun 28,3%. Pada kelompok PMT-P juga ditemukan balita yang meningkat statusnya menjadi gizi balk. Faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan Zscore balita gizi buruk adalah status gizi {Zscore) balita di awal penelitiaa (konseling), umur anak, dan umur balita disapih {PMT-P).
Background : Poor nutrition still become prior problem in the world. Every year, about 55.000 people die due to malnutrition. And 2 out of3 death was children. Poor nutrition contributes to 1 out of2 death (53%) associated with infections diseases among children aged under five in developing country. Children with malnutrition more vulnerable to infection, both incidens and duration of diseases. In 2006, the number of malnutrition increased than in 2005. Unicef(2006) reports, the malnutrition children aged under five increased from I ,8 million in 2004/2005 to 2,3 million in 2006. This increasing was very concerned, leads to "lost generation". One of program conduct by government to care of children with malnutrition was nutritional intervention (supplementation). To cure dan care of malnutrition children, was conduct food supplementation breastfeeding for Methods : This research conduct quasi experiment design with pre-post test. The number of sample was 114 children, contain of 60 children in the food supplementation group and 54 children in the counseling group. For testing the hypothesis was conduct t-test dan one-way anova. Multivariat analysis with Multiple Linier Regression Analysis. Result : There is significant differences between Zscore weight for aged of under five chidren with malnutrition at the pre intervention and post intervention. Counseling program increased Zscore weight for aged of underfive chidren about 0,2237 SD. Food supplementation program increased Zscore weight for aged of underfive chidren about 0,2181 SD. In the counseling group, the factors related to the increasing Zscore weight for aged of underfive children malnutrition is the nutrition statue of children at the begining of intervention. In the food supplementation group, the factors is the children's aged and the children's aged while weaning. Summary : After intervention program, malnutrition prevalence decreased 38,6%. In the counseling group, prevalence decreased 50,0%, While in the food supplementation group prevalence decreased 28,3%. In the food supplementation group also found a child with nonnal statue. In the counseling group, the factors related to the increasing Zscore weight for aged of underfive children malnutrition is the nutrition statue of children at the beginning of intervention. In the food supplementation group, the factors is the children's aged and the children's aged while weaning.
Sindroma Syok Dengue (SSD) merupakan salah salu masalah kcschatan utama di Indonesia. Penyakit ini merupakan bagian dari demam berdarah dengue (DBD) dalam bentuk klinis yang berat. Berbagai Penelitian diiakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang mcmpengaruhi terjadinya SSD, namun patogenesis terjadinya SSD hingga saat ini belum diketahui secara pasti. Penclitian ini bcrtujuan untuk mengetahui apakah leucopenia mempunyai pengaruh terhadap terjadinya SSD. Bila hal ini benar, maka para klinisi akan dapat memprediksi dan menangani pcnderita DBD dengan lehih baik, schingga progresiiitas teljadinya SSD dapat dicegah dengan melakukan obscrvasi tanda-tanda SSD sejak dini. Pcnclitian ini menggunakan dcsain kasus kontrol. Sampel diambil dari rekam medis 43 penderita SSD untuk kasus, dan 86 penderita DBD untuk kontrol, berusia < 15 tahun yang dirawat di RS. Penyakit lnfeksi Pro£ Dr. Sulianti Saroso pada bulan Januari 2006 -» April 2008. Semua kasus dengan rekam mcdis lengkap menjadi sampel dan kontrol dipilih dengan simple random sampling. Jumlah sampel ini sesuai perhitungan sampel dengan oL= 0,05 dan B= 0,20 dengan jumlah kasus:kontroI l:2. Pengaruh leukopenia terhadap SSD ditentukan dengan menggunakan analisis multwle logisiic regression menggunakan perangkat STATA 7,0. Dari hasil analisis didapatkan bahwa pcnderita DBD dengan leukopenia mcmpunyai risiko untuk terjadi SSD 2,86 kali lebih besar dibandingkan penderita tanpa Ieukopenia (OR, = 2,86 ; 95%CI = 1,23-6.62). Variabel yang menjadi konfounding adalah peningkatan nilai hematokrit (OR, = 3,99 ; 95%Cl = l,68-9,50) dan perdarahan masif (OR, = 2,12 ; 95%CI = 0,87-6,I9). Variabcl lainnya yang tidak menjadi konfounding adalah status gizi (OR, = ll,l8 ; 95%Cl = 1,88-66,69),jum1ah trombosit (OR, = 2,17 ; 95%CI = l,03~4,57), usia (OR, = 0,57 ; 95%Cl = 0,27-l,20) dan status infeksi (OR, = 0,57 ; 95%Cl = 0,25-1,3 l). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa leukopenia merupakan faktor prognosis terjadinya SSD pada penderita DBD. Oleh karena itu, tanda-tanda adanya syok pada penderita DBD yang mengalami Ieukopenia sebaiknya lebih diperhatikan sejak dini.
Syndroma shock dengue (DSS) is a major health problem in indonesia. This disease is a severe form of dengue haemorrhagic fever (DH F). Many researches be made to know about factors which are infiucnce DSS, but until now the pathogenesis DSS wasn't know exactly. In this research we tried to study about the influence leucopenia to DSS. The purpose of this research were the clinician can predict and manage the DHF patient better and the progressivity DSS can be controlled by early observation DSS signs. This was a case-control study. Samples were medical record from 43 DSS as cases and 86 DHF as controls, less than I5 years old who admitted in Proti Dr. Sulianti Saroso IDH from January 2006 to April 2008. All complete medical record from DSS patient be samples and controls were chosen by simple random sampling. Total samples were counted by ct=0,05, [3=0,20 and the comparison cases and control was l:2. The influence leucopenia to SSD was determined by Multiple logistic regression. Result from the study found there were influence leucopenia to DSS (OR.=2,86 ; 95%CI = 1,23-6,62). Confoundings were the increasing hematocrite (OR, = 3,99 95%CI = 1,68-9,50) and bleeding (OK, = 2,12 ; 95%CI = 0,87-6,l9). Variables nutritional status (0R¢ =1l,l8 ; 95%CI = |,88-66,69), platelets count (ORC = 2,17 ; 95%CI = 1,03-4,S7), age (OR¢ 0,57 ; 95%CI = 0,27-l,20) and dengue infection (OR¢ = 0,57 ; 95%CI = 0,25-l,3l) were not con founding. From this research we can got conclusion that leucopenia was prognostic factor for DSS. DHF patients who have leucopenia should be observed the signs of shock early.
