Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35967 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ida Hariyanti, Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Renti Mahkota, Diah Riana, Nining Hernawati
Abstrak: Pneumonia adalah pembunuh utama Balita di dunia, lebih banyak dibandingkan penyakit lain seperti AIDS, Malaria dan Campak. Survei kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1992, 1995, 2001 menunjukkan bahwa Pneumonia adalah penyumbang terbesar pada kematian bayi dan balita. Berdasarkan laporan Riskesdas 2007, menyebutkan prevalensi Pneumonia di DKI berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan rtesponden sebesar 1,67%.
 
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan imunisasi campak dengan kejadian pneumonia pada balita usia 12-59 bulan setelah dikontrol covariat (umur, jenis kelamin, Berat badan lahir, ASI exclusive, pendidikan, pemberian vitamin A, kepadatan hunian, ventilasi, dan adanya perokok didalam rumah).
 
Penelitian ini dilakukan dari bulan Mei sampai dengan Juli di Rumah Sakit Islam Pondok Kopi Jakarta tahun 2010. Penelitian ini menggunakan desain kasus kontrol. Kasus adalah balita usia 12-59 bulan yang menderita pneumonia. kontrol adalah balita usia 12-59 bulan yang tidak menderita pneumonia. Dalam penelitian ini sampel sebanyak 220 (kasus 110 dan control 110). Data dianalisis dengan analisis univariat, bivariat, dan multivariate dengan uji regresi logistic ganda.
 
Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara imunisasi campak dengan pneumonia pada balita. Anak yang tidak diimunisasi campak berisiko 2,06 kali untuk menderita pneumonia dibandingkan anak yang mendapatkan imunisasi saat bayi. Setelah dikontrol pendidikan dan ASI exclusive. Pada pengukuran dampak dihasilkan bahwa anak yang diimunisasi campak dapat mencegah pneumonia sebesar 51,456%. Selanjutnya upaya untuk melindungi anak dari penyakit pneumonia adalah dengan memberikan imunisasi campak saat usia 9 bulan dan anak diberikan ASI exclusive.
 

Pneumonia is the leading killer of babies in the world, more than other diseases such as AIDS, malaria and measles. Household Health Survey (SKRT) 1992, 1995, 2001 showed that pneumonia is the biggest contributor to the death of infants and toddlers. Based Riskesdas 2007 report, citing the prevalence of pneumonia in the Municipality based on the diagnosis of health workers and complaints rtesponden 1.67%.
 
The purpose of this study was to find out the relationship with the incidence of pneumonia, measles immunization in infants aged 12-59 months after covariat controlled (age, sex, birth weight, exclusive breast feeding, education, provision of vitamin A, the density of occupancy, ventilation, and the presence of smokers in home).
 
This research was conducted from May to July at Pondok Kopi Islamic Hospital in Jakarta 2010. This study uses the case control design. The cases were infants aged 12-59 months who suffered from pneumonia. controls were toddlers aged 12-59 months who are not suffering from pneumonia. In this study, 220 samples (110 cases and 110 controls). Data were analyzed by univariate analysis, bivariate, and multivariate multiple logistic regression.
 
The results showed a relationship between measles immunization with pneumonia in infants. Children who are not immunized against measles 2.06 times the risk for pneumonia than children who get immunized when infants. After controlled education and exclusive breastfeeding. In measuring the impact produced that children who are immunized measles can prevent pneumonia by 51,456%. Further efforts to protect children from pneumococcal disease is to provide measles immunization at the age of 9 months and children are given breast milk exclusively.
Read More
T-3164
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eka Desi Purwanti; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Ratna Djuwita, Soewarta Kosen, Woro Riyadina
Abstrak: Stunting merupakan bentuk malnutrisi yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dan menyebabkan berbagai dampak buruk bagi kesehatan anak. Selain disebabkan karena kurangnya asupan gizi secara kronis, stunting juga dapat disebabkan oleh penyakit infeksi berulang. Upaya pencegahan penyakit infeksi seperti imunisasi akan turut berperan dalam meningkatkan pertumbuhan anak khususnya di negara berkembang. Tujuan penelitian ini untuk melihat hubungan antara status imunisasi dasar dengan kejadian stunting pada balita di Indonesia. Penelitian ini menggunakan disain studi cross sectional dan menggunakan data sekunder SSGI Tahun 2021. Kriteria inklusi penelitian ini adalah balita berusia 12-59 bulan saat pengumpulan data, diukur tinggi badannya, tidak sedang mengalami sakit berat/kronis, dan memiliki data variabel yang lengkap. Sebanyak 70.267 balita memenuhi kriteria inklusi dan seluruhnya diambil sebagai sampel penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan uji cox regression untuk mendapatkan besar asosiasi prevalence ratio (PR) dengan interval kepercayaan 95%. Penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi stunting balita usia 12-59 bulan di Indonesia adalah 23,1% dan proporsi balita yang mempunyai status imunisasi dasar lengkap adalah 74,92%. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa status imunisasi dasar berhubungan signifikan secara statistik dengan kejadian stunting. Balita dengan status imunisasi dasar yang tidak lengkap berisiko 1,19 kali lebih tinggi untuk mengalami stunting dibandingkan balita dengan status imunisasi dasar lengkap [adjusted PR 1,19 (95% CI 1,15 – 1,23)]. Balita yang tidak imunisasi sama sekali mempunyai risiko yang lebih tinggi lagi yaitu 1,27 kali untuk mengalami stunting dibandingkan balita dengan status imunisasi dasar lengkap [adjusted PR 1,27 (95% CI 1,15 – 1,39)], setelah mengontrol variabel pendidikan ibu, status ekonomi dan berat lahir anak. Diperlukan upaya untuk melengkapi status imunisasi anak sesuai jadwal dan peningkatan pengetahuan ibu mengenai pemanfaatan pelayanan kesehatan, pemenuhan gizi balita dan stimulasi tumbuh kembang anak.
Stunting is a malnutrition that is still a public health problem in Indonesia and causes various adverse effects on children's health. Besides caused by a chronic lack of nutrition, stunting can also be caused by recurrent of infectious diseases. Efforts to prevent infectious diseases, such as immunization, will play a role in increasing child growth, especially in developing countries. The purpose of this study was to examine the association between basic immunization status and the incidence of stunting in toddlers in Indonesia. This study used a cross-sectional study design using secondary data from SSGI 2021. The inclusion criteria for this study were that toddlers were aged 12–59 months at the time of data collection, their height was measured, were not experiencing severe or chronic illness, and had complete variable data. A total of 70,267 toddlers met the inclusion criteria, and all were taken as research samples. Data analysis was performed using the Cox regression to obtain a prevalence ratio (PR) with 95% of confidence interval. This study shows that the prevalence of stunting among children aged 12–59 months in Indonesia is 23.1%, and the proportion of children under five who have complete basic immunization status is 74.92%. The results of the multivariate analysis showed that basic immunization status had a statistically significant association with the incidence of stunting. Toddlers with incomplete basic immunization status are at risk 1.19 times higher for stunting compared to toddlers with complete basic immunization status [adjusted PR 1.19 (95% CI 1.15–1.23)]. Toddlers who are not immunized at all have an even higher risk of experiencing stunting, which is 1.27 times higher compared to toddlers with complete basic immunization status [adjusted PR 1.27 (95% CI 1.15–1.39)], after controlling for variables such as the mother's education, economic status, and the child's birth weight. Efforts are needed to complete the child's immunization status on time according to schedule and increase the mother's knowledge regarding the use of health services, the fulfillment of toddler nutrition, and the stimulation of child growth and development.
Read More
T-6625
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lina Anggraeni Mariyati; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Trisari Anggondowati, Dian Meutia Sari, Arum Ambarsari
Abstrak:
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi salah satu penyebab utama morbiditas pada anak balita, terutama di negara berkembang. Status imunisasi dasar dan riwayat berat lahir rendah (BBLR) merupakan faktor yang secara teoritis berhubungan dengan kejadian ISPA pada anak, namun belum adanya penelitian yang secara khusus mengevaluasi efek gabungan antara status imunisasi dasar dan riwayat berat lahir terhadap kejadian ISPA pada balita. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kedua faktor tersebut dengan kejadian ISPA pada anak usia 12–59 bulan di DKI Jakarta baik secara terpisah (independent), maupun kombinasi (gabungan) berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 dengan menggunakan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 711 anak usia 12–59 bulan di DKI Jakarta yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu memiliki data lengkap pada setiap variabel yang diteliti. Variabel dependen adalah kejadian ISPA, yaitu anak yang tercatat dalam 1 bulan terakhir didiagnosis ISPA oleh tenaga kesehatan dan atau memiliki gejala demam disertai batuk/pilek/nyeri tenggorok, sedangkan variabel independen utama meliputi status imunisasi dasar, riwayat berat lahir, dan variabel gabungan status imunisasi dasar dan riwayat berat lahir. Variabel kovariat terdiri atas usia anak, status gizi, ASI eksklusif, paparan asap rokok dalam rumah, usia ibu, pendidikan ibu, status pekerjaan ibu, dan status ekonomi. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat dan multivariat menggunakan regresi generalized linear model dengan pendekatan backward elimination. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi ISPA pada anak usia 12–59 bulan sebesar 37,6%. Setelah mengotrol faktor perancu, anak dengan imunisasi dasar tidak lengkap memiliki prevalensi ISPA 13% lebih tinggi dibandingkan anak dengan imunisasi lengkap (aPR=1,13; 95%CI: 0,93–1,39), namun tidak bermakna secara statistik. Anak dengan riwayat BBLR juga memiliki prevalensi ISPA 33% lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang tidak BBLR (aPR=1,33; 95%CI: 0,95–1,88). Pada analisis variabel gabungan, kelompok anak dengan imunisasi lengkap dan riwayat BBLR memiliki prevalensi ISPA tertinggi (aPR=1,62; 95%CI: 0,93–2,83) dibandingkan degan kelompok imunisasi lengkap dan tidak BBLR. Penelitian ini menyimpulkan bahwa status imunisasi dasar dan riwayat BBLR menunjukkan kecenderungan peningkatan risiko ISPA meskipun tidak bermakna secara statistik. Upaya pencegahan ISPA tetap perlu difokuskan pada peningkatan cakupan imunisasi dasar dan pemantauan kelompok anak dengan riwayat BBLR.

Acute Respiratory Infection (ARI) remains one of the leading causes of morbidity among children under five, particularly in developing countries. Basic immunization status and a history of low birth weight (LBW) are theoretically associated with the incidence of ARI in children; however, limited research has specifically evaluated the combined effect of these two factors on ARI among under-five children. Therefore, this study aimed to analyze the association between basic immunization status and birth weight history with the incidence of ARI among children aged 12–59 months in DKI Jakarta using data from the 2023 Indonesian Health Survey through a cross-sectional design. The study sample consisted of 711 children aged 12–59 months in DKI Jakarta who met the inclusion criteria and had complete data for all study variables. The dependent variable was the incidence of ARI, defined as a child who, within the previous month, had been diagnosed with ARI by a healthcare professional and/or experienced symptoms of fever accompanied by cough, runny nose, or sore throat. The main independent variables included basic immunization status, birth weight history, and a combined variable of basic immunization status and birth weight history. Covariates consisted of child age, nutritional status, exclusive breastfeeding, exposure to cigarette smoke inside the house, maternal age, maternal education, maternal employment status, and socioeconomic status. Data were analyzed using univariate, bivariate, stratified, and multivariate analyses with generalized linear model regression and a backward elimination approach. The results showed that the prevalence of ARI among children aged 12–59 months was 37.6%. After adjusting for potential confounders, children with incomplete basic immunization had a 13% higher prevalence of ARI compared with fully immunized children (aPR = 1.13; 95% CI: 0.93–1.39), although the association was not statistically significant. Children with a history of LBW had a 33% higher prevalence of ARI compared with those without LBW (aPR = 1.33; 95% CI: 0.95–1.88). In the combined-variable analysis, children with complete immunization and a history of LBW had the highest prevalence of ARI (aPR = 1.62; 95% CI: 0.93–2.83) compared with children who had complete immunization and no history of LBW. This study concludes that incomplete basic immunization status and a history of LBW tend to increase the risk of ARI, although the associations were not statistically significant. Efforts to prevent ARI should continue to focus on improving basic immunization coverage and monitoring children with a history of LBW.
Read More
T-7550
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vito Christian; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Renti Mahkota, Inggariwati
Abstrak:
Pada tahun 2025, di Provinsi DKI Jakarta terjadi peningkatan kasus suspek campak pada anak umur 1-4 tahun dibandingkan tahun 2024, serta cakupan imunisasi MR anak umur 0-59 bulan belum mencapai target 95%. Anak-anak memiliki sistem kekebalan tubuh yang masih dalam tahap perkembangan sehingga risiko terkena campak dan mengalami komplikasi serius meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian campak pada anak umur 12-59 bulan di DKI Jakarta tahun 2025. Penelitian menggunakan desain penelitian cross-sectional dan data sekunder dari Form MR02 Campak/Rubella DKI Jakarta tahun 2025 dari Dinkes Provinsi DKI Jakarta. Sampel penelitian ini berjumlah 1.572 anak suspek campak dan dianalisis dari analisis univariat hingga bivariat dengan uji chi-square. Khusus untuk analisis faktor status gizi, jumlah sampel adalah 380 anak yang memiliki data tinggi badan dan berat badan secara lengkap. Didapatkan prevalensi anak umur 12-59 bulan yang positif campak adalah sebesar 43,45%. Faktor-faktor yang berhubungan signifikan dengan kejadian campak pada anak umur 12-59 bulan adalah umur 24-59 bulan (PR: 1,301; 95% CI: 1,153–1,468), status imunisasi campak tidak lengkap (PR: 2,350; 95% CI: 2,000–2,761), dan status gizi buruk/kurang (PR: 1,281; 95% CI: 1,049–1,565). Sementara itu, faktor jenis kelamin, riwayat bepergian satu bulan terakhir, serta status gizi lebih/obesitas tidak memiliki hubungan signifikan terhadap kejadian campak pada anak umur 12-59 bulan. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi masukan bagi program pencegahandan pengendalian campak, khususnya program peningkatan cakupan imunisasi campak dan mendorong kesadaran orang tua dalam upaya pencegahan campak pada anak.

In 2025, DKI Jakarta Province experienced an increase in suspected measles cases among children aged 1-4 years compared to 2024, and the MR immunization coverage for children aged 0-59 months had not reached the 95% target. Children possess developing immune systems, which increases their risk of contracting measles and experiencing serious complications. This study aimed to determine the factors associated with measles occurrence among children aged 12-59 months in Jakarta in 2025. This study utilized a cross-sectional design and secondary data from the 2025 Jakarta Measles/Rubella MR02 Form, obtained from the DKI Jakarta Provincial Health Office. The total sample consisted of 1.572 children with suspected measles, analyzed using univariate and bivariate analysis with the chi-square test. Specifically for the nutritional status factor analysis, the sample size was 380 children who had complete height and weight data. The results showed that the prevalence of laboratory-confirmed positive measles among children aged 12-59 months was 43,45%. Factors significantly associated with measles occurrence in children aged 12-59 months were age 24-59 months (PR: 1,301; 95% CI: 1,153–1,468), incomplete measles immunization status (PR: 2,350; 95% CI: 2,000–2,761), and severely wasted/wasted status (PR: 1,281; 95% CI: 1,049–1,565). Meanwhile, gender, travel history within the past month, and overweight/obese status had no significant association with measles occurrence in children aged 12-59 months. This study is expected to provide valuable insights for measles prevention and control programs, particularly for programs aimed at increasing measles immunization coverage and encouraging parental awareness in childhood measles prevention efforts.
Read More
S-12283
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Samsurian; Pembimbing: Nurhayati A. Prihartono, Yovsyah; Penguji: Helda, Nuri Indrastuti
Abstrak:

Pendahuluan. Indonesia masih menempati urutan ketiga sebagai negara yang memiliki jumlah kasus TB Paru terbesar setelah India dan China sampai akhir peride tahun 2007. Default merupakan salah satu penyebab terjadinya kegagalan pengobatan yang berpotensi meningkatkan kemungkinan terjadinya resistensi terhadap obat anti TBC. Efek samping obat anti tuberkulosis (OAT) diketahui merupakan salah satu fakor risiko terjadinya default.  Meskipun pada beberapa penelitian efek samping OAT telah terbukti meningkatkan risiko terjadinya default, namun masih perlu dilakukan penelitian lain pada populasi yang berbeda, yaitu populasi perkotaan (rural) disalah satu rumah sakit swasta (RS Islam Pondok Kopi) di Jakarta Timur. Tujuan Penelitian. Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya seberapa besar pengaruh efek samping Obat Anti Tuberkulosis (OAT) terhadap kejadian default setelah dilakukan pengontrolan terhadap faktor jenis kelamin, umur, pendidikan, pekerjaan, status pernikahan, riwayat pengobatan sebelumnya, penyakit penyerta, jenis obat, cara ambil obat, keberadaan PMO, jenis PMO, pendidikan PMO, pembiayaan kesehatan, jarak ke pelayanan kesehatan, penyuluhan kesehatan dan jumlah penyuluhan di Rumah Sakit Islam Pondok Kopi Jakarta Timur periode Januari 2008 – Mei 2010. Metode Penelitian. Desain penelitian yang digunakan adalah kasus kontrol dengan penggunaan data rekam medik. Populasi sumber penelitian ini adalah semua penderita TB Paru dewasa (umur > 15th) yang telah selesai menjalani pengobatan TB Paru dari tanggal 01 Januari 2008 sampai 31 Mei 2010 di poliklinik paru RS Islam Pondok Kopi Jakarta Timur. Sampel penelitian adalah sejumlah penderita TB Paru dewasa (umur > 15th) yang telah selesai menjalani pengobatan TB Paru kategori-1 atau kategori-2 dari tanggal 01 Januari 2008 sampai 31 Mei 2010 di poliklinik paru RS Islam Pondok Kopi Jakarta Timur. Kasus didefinisikan sebagai penderita TB Paru yang tidak datang berobat dua bulan atau lebih, sedangkan kontrol adalah penderita TB Paru yang rutin berobat. Jumlah sampel adalah 168 orang, terdiri dari 84 kasus dan 84 kontrol. Metode analisis yang digunakan adalah regresi logistik. Hasil Penelitian. Pada akhir analisis multivariat diketahui bahwa pasien yang mempunyai keluhan efek samping OAT berisiko sebesar 4,07 kali untuk default dibandingkan pasien yang tidak mempunyai keluhan OAT (OR =4,07, 95% CI: 1,64 – 10,07). Diketahui juga terdapat beberapa faktor risiko lain yang berpengaruh sebagai konfounder terhadap hubungan antara efek samping OAT dengan terjadinya default  tersebut yaitu penyakit penyerta, jenis obat dan cara bayar. Kesimpulan. Efek samping OAT berpengaruh terhadap kerjadian default di RS Islam Pondok Kopi Jakarta Timur selama periode Januari 2008 – Mei 2010. Kata kunci: efek samping OAT, default.


Introduction. In 2007 Indonesia has the largest number of pulmonary tuberculosis cases in the wolrd after India and China. Default was noted as one of the risk factors that related to treatment failure. The side effect of anti tuberculosis has defined as a reason of occurance of default. Some previous studies with the same topic found that the side effect of anti tuberculosis increase the risk of default, somehow  research with difference population is still required, such as this study implemented in an urban population by using hospital based at a private hospital located in Jakarta Timur named Pondok Kopi Islamic Hospital. Objective. To investigate the risk of default caused by the side effect of anti tuberculosis after controlling for sex, age, education, occupation, marital status, history of previous treatment, compilcations, kind of medicines, the way to get medicines, availbility of supervisor treatment, type of supervisor treatment, education of supervisor treatment, health financing, distance to the health center,health education recived, frequency of health education recieved at Pondok Kopi Islamic Hospital period January 2008 – May 2010. Methodology. This research is an observational study with design case control using data from medical record at Pondok Kopi Islamic Hospital. The population was defined as all adult pulmonary tuberculosis patient age > 15 years old who has completed the treatment during period 01 January 2008 until  31 May 2010 at Pondok Kopi Islamic Hospital. Sample were a number of adult pulmonary tuberculosis patient age > 15 years old who has completed the treatment category 1 or category 2 during period 01 January 2008 until  31 May 2010 at Pondok Kopi Islamic Hospital. Cases (default) were defined as the pulmonary tuberculosis patients who didn’t take their anti tuberculosis for 2 month or more at DOTS center Pondok Kopi Islamic Hospital period 01 January 2008 until 31 May 2010 while controls (non default) were defined as the pulmonary tuberculosis patients who take their anti tuberculosis regularly at DOTS center Pondok Kopi Islamic Hospital period 01 January 2008 until 31 May 2010. The total sample was 168 patients consist of 84 cases and 84 controls. Data was analyzed by using logistic regression method. Result. on Multivariate analysis was showed that the patient who has side effect of anti tuberculosis risk default 4,07 higher than patient who has not side effect of anti tuberculosis (OR=4,07, 95% CI: 1,64-10,07) after controlling for diseases complication, kind of medicines, the payment method. Conclusion. The side effect of anti tuberculosis was associated with increasing the risk of default pulmonary tuberculosis treatment at Pondok Kopi Islamic Hospital period January 2008-May 2010. Key words: side effect anti tuberculosis, default.

Read More
T-3277
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hasan Al Faruk; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Lukman Hakim Tarigan, Nasrin Kodim, C. Yekti Praptiningsih, Yusuf Rifa'i Romli
Abstrak: Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Definisi pneumonia yang diperkenalkan oleh WHO pada tahun 1989 dan dipakai oleh Depkes RI dalam program penanggulangan ISPA/pneumonia secara nasional adalah suatu penyakit dengan gejala batuk pilek yang disertai napas sesak atau napas cepat.
 
Penyakit yang disebabkan oleh gangguan saluran pernapasan di Kota Tasikmalaya terdapat pada urutan pertama dari 10 besar penyakit terbanyak yang melaksanakan rawat jalan ke puskesmas yaitu 18,10%. Sedangkan khusus yang disebabkan oleh pneumonia terdapat di urutan keenam yaitu 5,15%. Hal tersebut dapat disebabkan karena masih rendahnya cakupan ASI eksklusif yang hanya sebesar 31,2%, rendahnya cakupan vit A dosis tinggi yang hanya sebesar 43,77% dan kelihatannya tidak terpengaruh oleh tingginya cakupan imunisasi sebesar 92,32%; disamping juga masih dapat dipengaruhi oleh variabel-variabel lainnya.
 
Program ISPA/pneumonia di Kota Tasikmalaya telah dilaksanakan mulai sekitar tahun 1991, namun sampai saat ini penderita pneumonia masih tetap tinggi dan masih menjadi permasalahan, baik di masyarakat luas maupun di Dinas Kesehatan Kota sebagai pengelola program penanggulangan. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan tujuan ingin mengetahui hubungan ketiga variable independen di atas terhadap kejadian pneumonia pada balita usia 12-59 bulan yang dilayani puskesmas di Kota Tasikmalaya Tahun 2002.
 
Rancangan penelitian memakai studi kasus kontrol tidak berpadanan dengan populasi seluruh anak balita usia 12-59 bulan yang berkunjung dan berobat ke puskesmas di Kota Tasikmalaya dari bulan April-Mai 2002 serta dicatat pada register rawat jalan puskesmas yang bersangkutan. Sampel minimal yang dibutuhkan sebanyak 100 balita kasus dan 100 balita kontrol dengan perbandingan 1:1. Selanjutnya data diolah dan dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat dengan bantuan perangkat computer.
 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara ketiga variabel independen utama yang diteliti yaitu ASI eksklusif, vit A dosis tinggi dan imunisasi campak terhadap kejadian pneumonia pada balita yang disertai adanya variabel interaksi yaitu antara ASI dengan vit A. Rincian singkat hasil penelitian dapat dilihat seperti berikut ini:
 
1. Pada saat interaksi = 0; hubungan ASI terhadap kejadian pneumonia bermakna dengan nilai OR=9,018 (95% CI : 3,258-24,956), p = 0,000 dan hubungan vit A terhadap kejadian pneumonia bermakna dengan nilai OR=19,717 (95% CI : 4,958-78,414), p = 0,000.
 
2. Pada saat interaksi = 1; hubungan ASI atau vit A terhadap kejadian pneumonia bermakna dengan nilai OR = 0,083 (95% CI : 0,017-0,391), p = 0,002.
 
3. Hubungan pemberian imunisasi campak terhadap kejadian pneumonia bermakna dengan nilai OR=2,879 (95% CI : 1,418-5,844), p = 0,003.
 
Penanggulangan pneumonia dapat dilakukan melalui beberapa kegiatan seperti peningkatan pemberian ASI eksklusif, pemberian Vit A dosis tinggi dan program kesehatan dan pemberian imuniasi campak kepada balita dengan cara:
 
1. Penyuluhan yang intensif melalui berbagai media terhadap ibu balita.
 
2. Pelatihan dan pengawasan terhadap petugas pengelola program gizi, KIA dan program imunisasi.
 
3. Koordinasi lintas program dan lintas sektoral dengan memberdayakan kader kesehatan yang terlatih.
 

 
The Connection between Exclusive Breast Feeding Given, High Dosage Vitamin A, and Measles Immunization to Pneumonia Cases at 12-59 Months Old Children, Which Serves by Public Health Center in Tasikmalaya Town, West Java in 2002Pneumonia is an acute infection process that attacks lung's tissues (alveoli). The pneumonias definition that WHO given in 1989 and been using by Ministry of Health of Indonesia Republic at acute respiratory infection/pneumonia's decreasing program is cold cough symptom or quick breathing.
 
The diseases that caused by lung's problems in Tasikmalaya Town take the first place from the big 10 diseases, which public health center served home ward, which is 18,10%. Where as, the pneumonia cases took the sixth (5,15%). This cases could be caused by the low exclusive breast feeding coverage (31,2%), the low- usage high dosage vitamin A (43,77%) and immunization (92,32%) that's not running so effective and influenced; in other side there's many variables that could influence this case.
 
Acute respiratory infection/pneumonia's program in Tasikmalaya Town has been conducted since 1991, but the pneumonia's cases still high and still become problems, even is society and Public Health Council as the tackle conductor program. Because of that, the writer has interest to do research to fine out the connection between those three independent variables to the pneumonia's cases to 12-59 months old children that served by public health center in Tasikmalaya in 2001.
 
The research's design is using the case control that not connected to the number or quantity of 12-59 months olds children that visited and having care in public health center in April-May 2002 that been record in public health center home ward registration. The minimum samples needed was 100 toddler's case and 100 control toddlers with ratio 1 : L Then, the date have been processed and analyzed by univariant, bi-variant and multi-variant with computers help.
 
The research found that there's a real connection that statistically showed between those independent variables; the exclusive breast feeding, high dosage vitamin A, and measles immunization, to the toddler's pneumonia cases, also sown the interaction variables between breast feeding with vitamin A usage. The short details of the research's result shown below:
 
1. Exclusive breast feeding given: at 0 interaction; OR= 9,018 (95% CI=3,258-24,956), p=0,000 and at 1 interaction; OR 3,083 (95% CI=0, 017-0,391), p=0,002.
 
2. Vitamin A usage: at 0 interaction; OR = 19,717 (95% CI=4,958-78,414), p=0,000 and at 1 interaction; OR=0,083 (95% CI= 0,017-0,391), p=0,002.
 
3. Measles immunization: OR = 2,879(95% CI = 1,418-5,844), p=0, 003.
 
Developing some actions such as, exclusive breast feeding given, high dosage vitamin A given by public health program, and toddler's measles immunization could do the pneumonia tackle, for examples:
 
1. Intensive health education promotion trough medias about infant's mothers.
 
2. Training and controlling to nutrient program's conductor officers, infant's mothers program, and immunization programs.
 
3. Cross-programs and cross-sector coordination with empowered the well-trained public health cadres.
Read More
T-1449
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nugrahani Meika Narvianti; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Krisnawati Bantas, Eko Prihastono
Abstrak: Stunting merupakan masalah gizi kronis yang diukur berdasarkan TB/U. Di Indonesia, prevalensi stunting pada balita umur (0-59 bulan) mengalami peningkatan dari tahun 2007, 2010, hingga tahun 2013. Prevalensi stunting pada balita umur (0-59 bulan) di Pulau Sulawesi mengalami peningkatan hingga 41,05 persen pada tahun 2013. Angka tersebut menggambarkan masalah kesehatan masyarakat yang serius.
 
Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat hubungan faktor risiko dengan kejadian stunting pada balita umur (12-59 bulan) di Pulau Sulawesi tahun 2013. Penelitian ini menggunakan data sekunder Riskesdas 2013, dengan desain cross sectional. Sampel penelitian ini adalah 7462 balita umur (12-59 bulan) di Pulau Sulawesi yang memiliki data lengkap, dan tidak mempunyai data z-score TB/U < -6SD dan > +6SD.
 
Hasil penelitian menunjukkan, kejadian stunting pada balita umur (12-59 bulan) di Pulau Sulawesi tahun 2013 sebesar 43,3 persen. Hasil analisis bivariat menunjukkan hubungan yang bermakna (nilai p ≤ 0,05) antara umur, jenis kelamin, status imunisasi dasar, berat badan lahir, pendidikan ibu, tinggi badan ibu, wilayah tempat tinggal, status ekonomi keluarga, dan fasilitas sanitasi dengan kejadian stunting pada balita umur (12-59 bulan) di Pulau Sulawesi tahun 2013. Oleh karena itu perlu dilakukan pencegahan terhadap faktor risiko, utamanya pencegahan primer, serta melakukan deteksi dini dengan pengukuran TB/U secara teratur.
 

 
Stunting is a chronic malnutrition measured using height-for-age indicator. In Indonesia, prevalence of stunting on under-five-children (0-59 months) increases from 2007, 2010, to 2013. Prevalence of stunting on under-five-children (0-59 months) in Sulawesi Island increases by 41,05 percent in 2013. This number indicates a serious public health problem in Sulawesi Island.
 
This study aims to determine the relationship between risk factors with stunting on under-five-children (12-59 months) in Sulawesi Island in 2013. This study uses secondary data from the Riskesdas 2013, with a cross-sectional study. The sample amounts to 7462 under-five-children (12-59 months) in Sulawesi Island, who have complete data, and don’t have z-score data H/A < -6SD and > +6SD.
 
The results of this study indicate that the occurrence of stunting on under-five-children (12-59 months) in Sulawesi Island in 2013 is 43,3 percent. The bivariate analysis indicates significant association (p ≤ 0,05) between age, gender, status of primary immunization, birth weight, maternal education, maternal height, region of residence, family economic status, and sanitation facilities with stunting on under-five-children (12-59 months) in Sulawesi Island in 2013. Therefore, it’s necessary to implement prevention of risk factors especially primary prevention, and early detection using height-for-age measurement frequently.
Read More
S-8850
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Oki Zulkifli Duski; Pembimbing: Krisnawati Bantas
T-993
Depok : FKM UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diany Litasari; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Helda; Penguji: Hakimi, Muammar Muislih
Abstrak: Penelitian ini merupakan studi ekologi dengan desain potong lintang (crosssectional) pada 514 kabupaten/kota di Indonesia pada tahun 2017-2018 yang bertujuan mengetahui hubungan antara kejadian campak di Indonesia Tahun 2018 dengan cakupan imunisasi campak rutin (dosis pertama pada bayi dan dosis kedua pada anak baduta). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kabupaten/kota yang berada di luar Pulau Jawa berisiko 1,019 kali untuk mendapatkan kejadian campak tinggi jika cakupan imunisasi campak rutin dosis pertama pada bayi dan cakupan vitamin A tahun 2017 rendah, setelah dikontrol oleh cakupan imunisasi campak tambahan masal pada Kampanye Imunisasi MR, kepadatan penduduk, persentasi status gizi kurang dan cakupan vitamin A tahun 2018. Sementara itu, kabupaten/kota yang berada di Pulau Jawa berisiko 1,456 kali untuk mendapatkan kejadian campak tinggi, jika cakupan imunisasi campak rutin dosis pertama pada bayi dan cakupan vitamin A tahun 2017 rendah. Kabupaten/kota yang memiliki cakupan imunisasi campak rutin dosis kedua pada baduta rendah memiliki risiko 1,486 (95% CI : 0,882-2,502, p-value 0,136) lebih besar untuk mendapatkan kejadian campak tinggi. Pembuatan kebijakan utnuk pemberian imunisasi campak dosis pertama pada anak yang berusia > 1 tahun dan dosis kedua pada anak yang berusia > 2 tahun dalam kegiatan imunisasi rutin perlu dilakukan agar setiap anak mendapatkan imunisasi campak secara lengkap, sehingga meningkatkan herd immunity. Diperlukan juga sistem pencatatan dan pelaporan yang terintegrasi antara imunisasi dan surveilans PD3I, khususnya campak. Melakukan imunisasi campak tambahan masal setiap 3-4 tahun sekali berdasarkan kajian epidemiologi, baik nasional/subnasional, dan penyediaan anggaran untuk promosi dan sosialisasi pemberian imunisasi campak (MR) khususnya dosis kedua pada baduta dan tentang penyakit campak.

This study is a cross-sectional design in 514 districts in Indonesia, 2017-2018 which aims to determine the relationship between the incidence of measles in Indonesia in 2018 with coverage of measles routine immunization (in infants and toddler). The results that districts outside of Java had 1,019 times risk higher to have high measles incidence if the coverage of measles routine immunization for the first dose of infants and vitamin A coverage in 2017 was low, after being controlled by coverage of MR Immunization Campaign, population density, percentage of nutritional status and vitamin A coverage in 2018. Districts in Java had risk 1,456 times higher to get high measles incidence, if the coverage of measles routine immunization first dose in infants and vitamin A coverage in 2017 was low. Districts had measles routine immunization coverage of the second dose was low, had risk 1,486 times higher to have high measles incidence. A policy which state the first dose of measles immunization to children aged >1 year and second dose to children aged >2 year in routine immunization activities needs to be done to increas herd immunity. An integrated recording and reporting system is needed between immunization and PD3I surveillance, especially measles. Implementation of Suplementary Immunization Activity (SIA) every 3-4 years based on epidemiological studies, both national/subnational, and the provision of budget for the promotion and socialization of measles immunization (MR) especially in the second dose for toddler and about measles disease.
Read More
T-5924
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive