Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40214 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ahmad Hidayat; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Nunig MK Masjukri, Tri Yunis Miko, Marti Kusumaningsih, Adhi Sambodo
T-3246
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adny Bendru; Pembimbing: Yovsyah; Krisnawati Bantas; Penguji, Kiptiyah, Nuning Maria; Lukman Hakim, Agus Sugiarto
T-2284
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
H. Supriadi; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono, Syahrizal Syarif; Penguji: Sholah Imari, Adhi Sambodo
Abstrak:

Malaria merupakan masalah kesehatan dunia termasuk Indonesia. Kasus baru malaria tahun 2009/2010 di seluruh indonesia berdasar Riskesdas 2010 masih tinggi, yaitu 22,9 permil. Beberapa penelitian sebelumnya telah menemukan adanya hubungan antara perilaku dalam mencegah gigitan nyamuk dengan kejadian malaria, tetapi dalam wilayah yang sebatas lokasi penelitian di tingkat kabupaten atau suatu provinsi. Sehingga peneliti merasa tertarik untuk melakukan analisa pada sampel rumah tangga yang ada pada seluruh provinsi di indonesia menggunakan data sekunder Riskesdas 2010. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara penggunaan obat anti nyamuk dan hubungan antara penggunaan kelambu sewaktu tidur dengan kejadian malaria di indonesia tahun 2010. Desain penelitian ini adalah cross-sectional, dengan mencari hubungan dua vaiabel utama (Penggunaan obat anti nyamuk dan penggunaan kelambu sewaktu tidur) terhadap terjadinya penyakit malaria. Sumber data adalah data sekunder Riskesdas 2010 dengan total sampel adalah 251.833 responden. Hasil penelitian mendapatkan proporsi responden yang menderita malaria sebesar 2,6 % dan yang tidak menderita malaria 97,4%. Dapat dikatakan bahwa prevalensi malaria di Indonesia tahun 2010 sebesar 26‰. Analisis bivariat menunjukan adanya hubungan bermakna obat anti nyamuk dengan kejadian malaria (p=0,000) dan mendapatkan nilai odds ratio 1,34 (95% Cl: 1,26 – 1,42). Sedangkan hubungan penggunaan kelambu dengan kejadian malaria diperoleh nilai odds ratio (OR)= 0,471 dan 95% Cl: 0,448-0,495 (p= 0,000). Kemudian dilakukan analisis multivariat guna melihat hubungan variabel utama dengan outcome setelah mengontrol pengaruh dari variabel confounder. Didapat hasil, variabel obat anti nyamuk memiliki OR=1,515 (95% CI = 1,25 – 1,84) dengan nilai p = 0,000, setelah dikontol variabel kelambu, variabel endemisitas, dan dikontrol juga dengan adanya variabel interaksi obat anti nyamuk oleh kelambu. Sedangan variabel penggunaan kelambu, dari hasil analisis memiliki OR=0,750 (95% CI = 0,604 - 0,931) dengan nilai p = 0,009, setelah dikontol variabel penggunaan obat anti nyamuk, varibel endemisitas, dan dikontrol juga dengan adanya variabel interaksi kelambu oleh obat anti nyamuk. Kata kunci : Malaria, Obat anti nyamuk, Kelambu, Riskesdas 2010.


 

Malaria is a major health problem globaly including Indonesia. Based on Riskesdas 2010 data, incidence of malaria 2009/2010, is high, 22.9‰. Previous studies found an association of behavior in preventing mosquito bites with the incidence of malaria, but in a limited area like in the district or a province. So the researcher was interested to analize the households sample in all provinces in Indonesia using Riskesdas 2010 data. The objective of this study was to determine the relationship between the use of anti-mosquito repellent/insecticide and mosquito bed net with the incidence of malaria in Indonesia by the year of 2010. Study design is cross-sectional, to find the relationship of two main variabels (the use of anti-mosquito repellent/insecticide and the use of mosquito bed net) to the occurence of malaria. Data sources are Riskesdas 2010 data, with a total sample of respondents are 251,833. The results obtain proportion of respondents who infected by malaria of 2.6% and 97.4% did not infected by malaria. It could be argued that the prevalence of malaria in Indonesia in 2010 are 26‰. Bivariate analysis showed a significant relationship of anti-mosquito with malaria incidence (p = 0.000) and obtain the value of odds ratios 1.34 (95% Cl: 1.26 to 1.42). While the relationship with the incidence of malaria bed net use values obtained odds ratio (OR) = 0.471 and 95% Cl: 0.448 to 0.495 (p = 0.000). Then performed multivariate analysis to see the relationship with the primary outcome variables after controlling for the influence of confounder variables. The result, anti-mosquito variable has odds ratio = 1.515 (95% CI = 1.25 to 1.84) with p-value = 0.000, adjusted by net variable, endemicity, and controlled also by the presence of interactions anti-mosquito by bed nets . As a Bed nets variabel, the results of the analysis has odds ratio 0.750 (95% CI = 0.604 to 0.931) with a pvalue = 0.009, adjusted by the use of anti-mosquito, endemicity, and also controlled by an interaction anti-mosquito by bed nets . Key words: Malaria, Anti-mosquito, Mosquito bed net, Riskesdas 2010.

Read More
T-3372
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hendri Kadafi; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Ema Hermawati, Yovsyah, Suwito
T-4474
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eka Randiana; Pembimbing: Nuning M.K Masykuri; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Mondastri Korib Sudaryo, Budi Pramono, Enny Wahyu Lestari
Abstrak:

Indonesia sebagai salah satu negara yang masih tinggi angka kesakitan malaria tahun 2007 sekitar 311 libu kasus, dan ditargetkan turun hingga 5 per 1000 penduduk pada tahun 2010. Berbagai faktor dapat mempengaruhi keberhasilan program pembelantasan malaria, termasuk penggunaan kelambu yang ditempat lain terbukti dapat menurunkan resiko malaria. Sampai dengan tahun 2007 angka kesakitan malaria di Kabupaten Aceh Jaya masih tinggi. Untuk itu perlu dilihat melihat bagaimana hubungan penggunaan kelambu dengan kejadian malaria dan faktor-faktor lain yang mempengaruhinya. Penelitian ini adalah penelitian observasional kasus kontrol yang dilakukan dengan cara wawancara tersuuktur. Responden adalah penduduk dad desa yang terpilih dalam kegiatan mass blood survey. Penduduk dengan hasil pemeriksaan posififdimasukkan sebagai kelompok kasus (97 orang), sedangkan penduduk dengan hasil pemeriksaan negatif dipilih secara random dan dimasukkan kedalam kelompok kontrol (194 orang). Analisis dilakukan secara multivaliat dengan menggunakan analisis regresi logistik. Hasil penelitian mencmukan bahwa risiko malaria jika tidak menggunakan kclambu sebesar 2,11 (95% CI 0,91 - 4,93), OR kelambu dan anti nyamuk 11,9 (95% CI 2,29 - 62,0). Artinya mereka yang tidak menggunakan kclambu bcrisiko malaria sebesar 2,1 kali dibandingkan dengan mereka yang menggunakan kelambu, dan risiko malaria tersebut meningkat menjadi 11,9 kali jika tidak menggunakan anti nyamuk. Diketahui dari kelompok kasus 81,4% tidak menggunakan kelambu dan pada kelompok kontrol 38,I% tidak menggunakan kelambu. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak yang tidak menggunakan kelambu meskipun telah mendapatkan pembagian kelambu. oleh karena im Perlu meningkatkan penyuiuhan dan pcnyebaran infommasi kepada masyarakat tentang pentingnya penggunaan kelambu dan juga anti nyamuk baik itu anti nyamuk bakar, oles maupun semprot, dengan rnelibatkan secara aktif para tokoh masyarakat dan kader untuk menyampaikan informasi tenaang penyakit malaria secara benar dan dapat memberikan contoh yang baik sehingga tidak lagi menganggap remeh terhadap penyakit malaria.


Indonesia is one of the countries with high malaria incidence rate. In 2007, the incidence rate was 311000 cases and it is targetted to be decreased to 5 per 1000 resident in 2010. Many factors that influenced the success of malaria elimination program, including mosquiuto net utilization which has been proved to decrease malaria risk. Until 2007, the malaria morbidity rate in Aceh Jaya District was still high. Therefor, it is needed to examine the relationship of mosquito net utilization with incidence of malaria and factors contributed to it. This was case control observational research conducted by sructured interview. Respondent were residents from selected villages in Mass Blood Survey. Residents with positive test result were included in case group (97 respondents) whereas those with negative test result were included in control group (194 respondents). The results revealed that when mosquito net was not used, the risk of malaria was 2.11 (95% CI 0.91 - 493), OR of mosquito net and mosquito repellent was 11.9 (95% CI 2.29-620), meaning that those who did not use mosquito net had a risk to have malaria as 2.2 times compare to those who used mosquito net, and the risk was increased to 16.6 times when mosquito repellent was not used. The result showed that 81.4% of case group did not use the mosquito net whereas those in control group was 38.1% This suggested that many residents still.

Read More
T-2974
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cendrawirda; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Nuning Maria Kiptiyah, Renti Mahkota, Cicilia Windiyaningsih, Winarno
Abstrak:

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular yang sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia karena penyebaran yang cepat dan dapat menyebabkan kematian. Penyakit DBD ini sampai saat ini masih banyak menyerang anak-anak. Sejak tahun 2003 - 2006 di Kota Tembilahan dari 359 totai kasus 341 kasus adalah anak-anak (95 %). Untuk mengetahui apa penyebabnya penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan faktor individu anak dan faktor lingkungan dengan kejadian DBD pada anak di Kota Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir Propinsi Riau. Jenis Pcnelitian ini disain Case Comrol dan menggunakan data primer meialui wawancara., pengukuran dan observasi lingkungan. Populasi penelitian adalah seluruh anak-anak berusia dibawah 12 tahun yang tinggal dan menetap di Kota Tembilahan. Sampel adalah anak berusia dibawah 12 tahun yang menderita DBD yang dirawat di RSUD Puri Husada Tembilahan dan dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kab. Indragiri Hilir sebagai kasus dan kontrol adalah anak bemsia dibawah I2 tahun yang bebas dari semua gejala DBD dan tinggal dalarn radius 100 meter dari rumah kasus. JumlaI1 sampel dalam penelitian ini 99 kasus dan 99 kontrol. Entri data dengan program Epi ~ info versi 6.0, pengolahan dan analisis data dengan menggunakan SPSS versi 13.0. Variahel yang berhubungan dengan kejadian DBD pada anak yaitu: kebersihan Iingkungan (OR = 31.11, 95 % CI 10.09 - 95.95), upaya mencegah gigitan nyamuk (OR = 16.33, 95 % CI 5.69 - 46.88), kepadatan hunian (OR = 14.48, 95 % CI 4.82 - 43.49), upaya mencegah berkembang biaknya nyamuk (OR = 8.45, 95 % Cl 2.33 ~ 3058) dan keberadaan jentik (OR = 3.55, 95 % CI 1.04 - l2.l4) Variabel yang tidak berhubungan dengan kejadian DBD pada anak: umur anak, jenis kekamin anak, persepsi status gizi anak, spend time anal: dan riwayat keluar kota dalam masa inkubasi yang diiakukan anak, umur ayah, pendidikan ayah, pekerjaan ayah, umur ibu, pendidikan ibu, pekeljaan ibu dan pengeluaran/sosial ekonomi keluarga, jenis kontainer. Dari temuan pada penelitian ini disamnkan: untuk keluarga dan masyarakat: menycdiakan tempat sampah di alias rumah masing-masing, mengubur barang-barang bekas yang tidak bisa masuk ke dalam tempat, pemasangan kawat kassa pada setiap ventilasi mmah, menutup dinding rumah, tidak menggantung pakaian di dalam rumah, aktiiitas siang hari di dalam rumah selalu: memakai obat nyamuk bakar/pakai repellenr, tidur pakai kelambu, menutup rapat tempat penampungan air, menaburkan bubuk abate minimal 3 bulan sekali, perbaikan konstruksi rumah/ luas rumah, upayakan satu rumah satu keluarga. Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hilir melakukan kegiatan pemantauanjentik dan pemberantasanjentik, dan pcnyuluhan kesehatan masyarakat.


Dengue Haemomghic Fever is one of the infectious diseases which are still until now become problem of Indonesian community health because of its rapid spread which can cause death, Generally disease under the age of 15 usual be major population whose infected to disease. This study is made to know the children individual factor and Dengue Haemoraghic Fever suffered by the children in Tembilahan city, indragiri Hilir District, Riau Province. This study used design case control study is analytical study which used. The study population is all children under the age of I2 living in Tembilahan. The samples are the children under the age of I2 years who diagnosed as Dengue haemoraghic Fever case cure hospitalized in Regional Hospital of Puri Husada Tembilahan. All the cases reported to Distric Health Oftice of Indragiri Hilir. All the case considered as the case and of the study the control will be randomly selected for their neighbor. As sample in this study is 99 (ninety nine) case and 99 (ninety nine) control. The study found the following variable of study have significantly related to the occurred of the depend are the environmcnt sanitation (OR = 31,3l, 95 % CI 10.09 - 95,95), effort to prevent the mosquito bite (OR = l6,33, 95 % CI 5,69 - 4638), the household crowding index (OR = l4,48, 95 % Cl 4,82 ~ 43.49), effort to prevent the mosquito reproduction (OR = 8,45, 95 % CI = 2,33 - $50.58) and larvae availability in the container (OR = 3,55, 95 % CI = 1,04 - l2.l4). Based on this study result, it is recommended that for household and community to clean cnvironment, to all the time prevent the mosquito bites especially on the day, and community should cultivate in their daily life the 3 M activities (to bury, to close and to flush) of the water reservoir at least once a week For dense population area, it is recommended not make travel to the endemic area in the secondary infection in the household. It is recommended that the Health Office oflndragiri Hilir District and Public Health Center in Tembilahan to improve the health extension program through the clean Friday movement, mosquito nest combat.

Read More
T-2774
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sulistyo; Pembimbing: Nuning Maria Kiptiyah; Penguji: Nasrin kodim, Ella Nurlaela Hadi, Tri Yunis Miko Wahyono, Sabar Paulus
Abstrak:
Malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di berbagai negara termasuk Indonesia. Angka kesakitan malaria di Indonesia sejak empat tahun terakhir menunjukkan peningkatan. Sampai saat ini penyakit malaria masih merupakan penyakit endemis di Propinsi Sulawesi Tengah. Kasus malaria dari tahun ke tahun belum menunjukkan adanya penurunan. Kecamatan Kulawi merupakan salah satu daerah endemis malaria di Kabupaten Donggala. Berbagai upaya dilakukan untuk menanggulangi malaria antara lain dengan pemberantasan vektor. Pada saat ini telah dikembangkan penggunaan kelambu poles insektisida sebagai suatu Cara dalam penanggulangan vektor malaria, selain berperan sebagai sawar, kelambu poles sekaligus dapat membunuh atau menghalau nyamuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penggunaan kelambu poles dengan kejadian malaria di Kecamatan Kulawi Kabupaten Donggala Tahun 2001. Rancangan penelitian adalah kasus kontrol berpadanan. Kasus adalah pengunjung puskesrnas dan talon kontrol yang positif malaria berdasarkan pemeriksaan laboratorium Puskesmas. Sedangkan kontrol adalah tetangga kasus yang berobat Ice puskesmas antara Milan 3uli sampai dengan September 2001 dan negatif malaria berdasarkan pemeriksaan laboratorium. Jumlah kasus dan kontrol masing-masing sebanyak 120 responden (perbandingan 1:1). Variabel yang diteliti adalah penggunaan kelambu poles, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, sikap, kebiasaan di luar rumah pada malam hari, penggunnaan anti nyamuk, rumah terlindung Ban nyamuk, konstruksi rumah, tempat perindukan, adanya ternak dan bekerja di hutan. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan kelambu poles mempunyai hubungan yang be ma na dengan kejadian malaria. Responden yang selanna tidur tidak menggunakan kelambu mempunyai risiko terkena malaria 2,91 kali dibandingkan dengan yang selama tidur menggunakan kelambu (p = 0,000, 95% Cl : 1,664;5,136). Sedangkan faktor lain yang berhubungan dengan kejadian malaria adalah kebiasaan di luar rumah pada malam hari dan rumah terlindung dari nyamuk. Faktor yang mernpengaruhi hubungan antara penggunaan kelambu dengan kejadian malaria adalah rumah terlindung dari nyamuk dan kebiasaan di luar rumah pada malam hari. Dari hasil penelitian ini dsarankan 1) Meningkatkan penggunaan kelambu poles di daerah endemis yang sulit terjangkau oleh program penyemprotan rumah dan meningkatkan keteraturan pemakaian kelambu poles selama tidur untuk mencegah kontak antara penduduk dengan nyamuk malaria 2) Mengurangi kebiasaan masyarakat berada di luar rumah pada malam hari atau menggunakan penutup tubuh (baju lengan panjang, celana panjang atau sarung) untuk mencegah terjadinya kontak dengan nyamuk 3) Meningkatkan penggunaan kawat kasa baik pada ventilasi maupun jendela rumah dan membiasakan menutup rumah waktu sore hari.

The Association between the Use of Impregnated Bed Nets and Incidence, in Sub-District of Kulawi, Regency of DonggalaMalaria is still an important public health problem in various countries, including Indonesia. Malaria incidence in Indonesia has been increasing since last four years. Up to now, to disease has become endemic in the province of Central Sulawesi Year-by-year, the malaria cases have not decrease yet The sub-district {kecamatan) Kulawi is part of endemic areas in the regency of (kabupaten) Donggala. Various efforts had been done to control the disease including vector control. A bed nets impregnated with insecticide has currently been developed as means to control the vector. In addition to barrier, this impregnated net might function as killer or remover of mosquito. The aim of this matched case-control study was to know association between the use of impregnated bed-nets and malaria incidence in sub-district Kulawi, regency of Donggala, in year 2001. A case was defined as a person visiting a community health center (Puskesmas) and positively diagnosed as a malaria patient through Puskesmas laboratory examination. A control was a neighbor of the case who also visited Puskesmas (between July and September 2001) and did not have malaria. The number of cases as well as control was 120 (ratio cases to control 1:1) Independent variables investigated were use of impregnated bed-nets, ages, gender, education, occupation, knowledge, attitude, the habit of staying outside at night, the use anti mosquito substance, having a protected house (from mosquito), house construction, breeding places, cattle grazing, and working in the forest. Our study result showed that the use of impregnated bed-nets was significantly associated with the incidence of malaria. Respondents sleeping without the impregnated bed nets were 2,91 times more likely to develop malaria, as compared to tole sleeping with the nets (p x,000, 95% CI : 1,66-5,14). Other factors statistically associated with malaria incidence were the habits oh staying outside at night and having a protected house from mosquito. These two factors confounded the association beetwen the use of the nets and malaria incidence. Based on our findings, we firstly recomanded to increase the use impregnated bed-nets in endemic areas uncovered by fogging program and improve the regularity of using nets. Secondly, it is suggested to minimize the habit of being outside at night or to use covering clothes (to avoid being bitten by mosquito). Finally, it is recommended to use a wire net for windows ang air ventilation, and to close the doors and windows at night.
Read More
T-1375
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sutarto; pembimbing: Nasrin Kodim; penguji: Tri Yunis Miko, Ririn Arminsih, Budi Pramono, Diah Wati
T-3051
Depok : FKM UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bakhrizal; Pembimbing: Kiptiyah, Nuning Maria; Penguji: Yovsyah, Dian Ayubi, I Nengah Darna, Chairiyah Anwar
Abstrak:

Filariasis masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia karena tingginya angka Mikrofilaria Rate (MFR) yaitu 3,1%, sementara WHO menetapkan angka MFR yang dapat memutus mata rantai penularan filariasis adalah <1%. Di Nagari Tiku V Jorong Kecamatan Tanjung Mutiara Kabupaten Agam angka MFR nya 9,8%. Filariasis dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor risiko salah satunya adalah kebiasaan berada di luar rumah pada malam hari. Oleh karena itu peneliti ingin mencari hubungan kebiasaan berada di luar rumah pada malam hari dengan kejadian filariasis. Desain penelitian adalah kasus kontrol dimana kasus adalah penduduk yang berumur lebih dari 6 tahun yang telah diperiksa darah jarinya dengan hasil mikrofilaria positif dan ditambah dengan penderita filariasis kronis, sedangkan kontrol adalah penduduk yang berumur lebih dari 6 tahun yang telah diperiksa darah jarinya dengan hasil mikrofilaria negatif dan tidak dijumpai gejala klinis filariasis. Kasus berjumlah 33 orang sementara kontrol 111 orang. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan observasi lansung kelapangan. Hasil akhir penelitian ini mendapatkan model interaksi antara variabel keluar rumah pada malam hari dengan variabel pengetahuan, dimana keluar rumah pada malam hari mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian filariasis. Nilai p = 0,000 dan nilai OR nya 45,50 (95% CI 11,85-174,66) pada responden yang berpengetahuan tinggi dan OR 0,76 (95% CI 0,71-8,12) pada responden yang berpengetahuan rendah serta tidak ditemukan variabel yang merupakan konfonding terhadap variabel utama. Simpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan bermakna antara keluar rumah pada malam hari dengan kejadian filariasis dimana responden yang berpengetahuan tinggi mempunyai risiko berada di luar rumah pada malam hari terhadap kejadian filariasis sebesar 45,5 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak keluar rumah malam hari, sementara itu responden yang berpengetahuan rendah berisiko berada diluar rumah pada malam hari terhadap kejadian filariasis hanya sebesar 0,76 kali dibanding orang yang tidak keluar rumah pada malam hari. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada Penduduk Nagari Tiku Lima Jorong Kecamatan Tanjung Mutiara diharapkan untuk dapat mengurangi aktivitas diluar rumah pada malam hari terutama saat larut malam tanpa menggunakan pelindung diri dari gigitan nyamuk, dan kepada Pemerintahan Daerah Kabupaten Agam melaluai Dinas Kesehatan agar melakukan penyuluhan tentang bahaya keluar rumah pada malam hari terhadap kejadian filariasis.


 

Filariasis is still a health problem in Indonesia, because the rate of Microfilaria Rate (MFR) is high, i.e. 3.1%, while WHO acknowledged that in order to disconnect the filariasis transmission chain, the rate of MFR should lower than 1%. The MFR on Nagari Tiku V Jorong of Tanjung Mutiara sub-district at the district of Again is 9.8%, a very high feature. One of risk factors for the occurrence of filariasis is that the habit of being outside of the house during the night. Therefore, it's important to find out how the correlation between the customs on being outside the house during the night and the occurrence of filariasis. The design of the study is case-control. The case is people with age more than six years old that have filariasis positive upon her/his blood finger lab examination, and people having chronic filariasis. The control is people with age more than six years that have filariasis negative result on the examination of blood finger and have no clinical symptom on filariasis. The number cases found are 33 people, and controls are 111 people. Data gathered through structured interview and direct observation in the field. The result of the study is producing an interaction model of the variable on being outside of the house during the night and variable of knowledge, which the first variable mention is being have significant relationship with the occurrence of filariasis. P value at 0.000 and the OR at 45.50 (95% CI 11.85 - 174.66) for respondents with high level of knowledge and the OR at 0.76 (95% CI 0.71 - 8.12) for respondents with low level of knowledge, and there are no variables to be confounding towards main variable. The conclusion of the study: there is a significant correlation between being outside the house at night and filariasis occurrence. Respondents with high level of knowledge who prefer to be outside of the house at night has a risk 45.5 times more to get filariasis than those who not to be outside of the house at night. While respondents with low level of knowledge who prefer to be outside of the house at night has only risk 0.76 times more to get filariasis than those who not to be outside of the house at night. Refer to the study results, it is suggested to the community of Nagari Tiku Lima Jorong of Tanjung Mutiara sub-district for reducing the outside of the house activities during the night, particularly without any protection from being bitten by the mosquitoes. To the district authority of Again through its health authority office (Dinkel), it is suggested to carry out mass education (penyuluhan) about the risk of being outside the house in the night towards the occurrence of filariasis.

Read More
T-2314
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive