Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 28646 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dapartemen Keuangan
R 658.151 IND b
Jakarta : Departemen Keuangan RI, 1978
Referensi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Departemen Keuangan
R 658.151 IND b
Jakarta : Departemen Keuangan RI, 1978
Referensi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
R 344.0321 IND u
Jakarta : Sinar Grafika, 1992
Referensi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Departemen Keuangan
R 658.151 IND b
Jakarta : Departemen Keuangan RI, 1978
Referensi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jarman Diar: Pembimbing; Hafizurrahman; Penguji; Evi Martha, Adang Bachtiar Kantaatmaja, Usman Sutopo, Amirsyah
Abstrak:

Barang Milik Kekayaan Negara, adalah bagian dari kekayaan negara yang harus dikelola dengan baik, pengelolaan ini dilaksanakan secara transparan, bersih dan bebas dari penyalahgunaan kekuasaan. Pengelolaan BMKN adalah dengan melakukan penatausahaan, yakni pencatatan, pendaftaran, pembukuan dan pelaporan secara baik sesuai dengan peraturan-peraturan yang telah ada. Menurut pengamatan, penatausahaan BMKN pada Kantor Wilayah Depkes Propinsi Sumatera Barat belum berjalan seperti yang diharapkan, ini terbukti tidak dijumpai dokumen-dokumen barang pada tiap Bidang dan Bagian dilingkungan Kantor Wilayah dan belum melaksananya penomoran atas barang-barang inventaris, serta belum dilakukan pelaporan secara berkala. Adapun tujuan penelitian ini untuk memperoleh informasi penyebab tidak terlaksananva ketatausahaan BMKN ini dengan semestinya yang dilihat dari pendekaan sistem, yang terdiri dari komponen masukan, proses dan keluaran. Sebagai komponen masukan adalah Tenaga pengelola/pengurus barang yang dilihat dari pengetahuan, lama bekerja, beban kerja dan sikap. Proses pengadaan barang dan ketersediaan dokumen dan peraturan. Komponen proses dilihat dari gambaran perencanaan dan penentuan kebutuhan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan, sedangkan dari proses keluaran adalah terlaksananya tertib penatausahaan barang. Penelitian ini dilakukan dengan memakai metoda kualitatif, dimana pengumpulan data dilakukan dengan melaksanakan wawancara mendalam (WM) dengan Kepala Kantor Wilayah Koordinator Administrasi, Kepala Bidang dan Bagian, Pengurus / pengelola barang dan Pemimpin royek dilingkungan Kantor Wilayah Depkes Propinsi Sumatera Barat. Dari hasil penelitian ini terlihat tingkat pengetahuan tenaga pengurus / pengelola barang di tangan, tentang penatausahaan barang dirasakan sangat rendah, serta lama bekerja sangat bervariasi dan semua tenaga pengelola barang mempunyai beban kerja yang rangkap dan sikap yang kurang serius. Dokumen-dokumen barang belum tersedia diruangan-ruangan Bagian dan bidang. Untuk terlaksananya tertib penatausahaan BMKN ini perlu dilakukan peningkatan profesionalisme pengurus / pengelola barang tentang penatausahaan barang, tidak memangku tugas rangkap dan disarankan supaya tenaga pengurus/ pengelola barang diangkat sebagai tenaga fungsional yang mendapat tunjangan fungsional, serta meningkatkan pembinaan dan pengawasan dari atasan langsung. Dari pihak penanggung jawab barang pada Kantor Wilayah diharapkan dapat selalu memberikan pembinaan dan umpan balik yang terjadwal.


 

System Analysis of State Property Administration in Regional Office of West Sumatra Province Year 2000 State property is part of the state assets that must be managed properly, and this management is done in transparent way, clean and free from abuse of power. Management of state property is done by administration, namely recording, listing, filing and reporting property according to the prevailing regulations. According to observation, administration of state property in Regional Office of Health Department of West Sumatra Province has not been done as expected. This is because the lack of documents of the property in each department and section within the Regional Office and the absence of numbering of inventories, and the absence of periodic report. While the purpose of this research is to obtain the information regarding the cause why the state property administration is not implemented properly that can be seen in terms of system approach consists of input,? process and output components. The input components is the administrative personnel for the inventories in terms of knowledge, tenure, workload and attitude, inventories purchase process and availability of documents and regulation, The process component can be seen from the planning and need, organization, motivation and supervision while output process is the good implementation of inventories administration, this research is done by using qualitative method. in which the data collection is done by conducting in-depth interview with the Regional Office. Administration Coordinator, Department and Section Head, Management and Project Officer within the Regional Office of Health Department of West Sumatra. From this research it can be seen in the level of knowledge of the management. Administration knowledge regarding inventories is low, and tenure is varied and all management personnel have double task and not serious. The inventories documents are not available in Department and Section rooms. For good implementation of state property administration the professionalism of the management personnel needs to be improved. They must not have double tasks and it is suggested that the management personnel appointed as functional personnel that receive functional bonus, and direction and supervision from immediate supervisor. It is expected that the personnel in charge for inventories in Regional Office always provide periodic direction and feed back.

Read More
T-986
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Departemen Kesehatan
658.78 IND b
Jakarta : Departemen Kesehatan RI, 1996
Buku (pinjaman 1 minggu)   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggitaningtyas Dzaky Salsabila; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Asnawi Abdullah, Adang Bachtiar
Abstrak:
Pengesahan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan memicu transformasi fundamental dalam tata kelola (governance) pembinaan dan pengawasan tenaga kesehatan di Indonesia. Regulasi ini menandai pergeseran paradigma dari model self-regulation yang didominasi oleh otonomi profesi menuju state regulatory governance yang terpusat pada otoritas negara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan tata kelola kewenangan regulatif, rekonfigurasi relasi kelembagaan antara Kementerian Kesehatan RI, Konsil Kesehatan Indonesia (KKI), Kolegium, dan Organisasi Profesi (IDI, IBI, dan PPNI), serta implikasinya terhadap kepastian hukum, akuntabilitas negara, dan perlindungan publik. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan sosio-legal yang memadukan analisis normatif (law in books) dan empiris (law in action). Pengumpulan data dilakukan melalui triangulasi studi dokumen dan wawancara mendalam dengan informan kunci di tingkat pusat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa negara telah mengatribusi kembali kewenangan strategis, mengintegrasikan Kolegium ke dalam struktur KKI, serta menghapus instrumen rekomendasi Organisasi Profesi (OP) dalam pengurusan izin praktik. Reformasi ini terbukti berhasil menyederhanakan birokrasi perizinan dan mempertegas kepastian hukum secara administratif. Namun pada tataran operasional, sentralisasi ini memicu beban kapasitas (overload capacity) di tingkat pusat dan melahirkan "area abu-abu" (governance grey areas) berupa dualisme Kolegium sebagai bentuk resistensi pasif. Direduksinya peran OP di tingkat daerah melumpuhkan sistem peringatan dini (early warning system) melalui pengawasan antarsejawat (micro-surveillance), yang berisiko menciptakan perlindungan yang kurang efektif (pseudo-protection) bagi masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa model state regulatory governance yang terlampau sentralistis kurang adaptif dalam menyangga kompleksitas ekosistem kesehatan. Oleh karena itu, direkomendasikan transisi lanjutan menuju Collaborative Regulated Governance, yakni tata kelola yang menyinergikan ketegasan otoritas hukum negara dalam administrasi publik dengan pendelegasian wewenang pengawasan teknis lapangan kepada Organisasi Profesi guna menjamin keselamatan pasien yang optimal.

The enactment of Law Number 17 of 2023 concerning Health has triggered a fundamental transformation in the governance of the development and supervision of health workers in Indonesia. This regulation marks a paradigm shift from a self-regulation model dominated by professional autonomy towards a state regulatory governance model centralized under state authority. This study aims to analyze the changes in regulatory authority governance, the institutional reconfiguration among the Ministry of Health, the Indonesian Health Council (KKI), Collegiums, and Professional Organizations (IDI, IBI, and PPNI), as well as their implications for legal certainty, state accountability, and public protection. This qualitative research employs a socio-legal approach combining normative (law in books) and empirical (law in action) analyses. Data collection was conducted through document studies and in-depth interviews with key informants at the central level. The results indicate that the state has reclaimed strategic authority, integrated Collegiums into the KKI structure, and eliminated the recommendatory instrument of Professional Organizations (OP) in processing practice licenses. This reform has proven successful in simplifying administrative bureaucracy and affirming formal legal certainty. However, at the operational level, this centralization has triggered overload capacity at the center and created governance grey areas, such as the dualism of Collegiums as a form of passive resistance. The reduction of OP's role at the regional level disables the early warning system via peer monitoring (micro-surveillance), which risks creating pseudo-protection for the public. This study concludes that an overly centralized state regulatory governance model is less adaptive in sustaining the complexity of the health ecosystem. Therefore, a further transition towards Collaborative Regulated Governance is recommended a model that synergizes the assertive authority of state law in public administration with the delegation of field technical supervision to Professional Organizations to ensure optimal patient safety.
Read More
T-7712
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kementerian Kesehatan
R 344.0321 IND u
Bandung : Citra Umbara, 2012
Referensi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive