Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33262 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Theovani; Pembimbing; Nurhayati A. Prihartono; Penguji; Yovsyah, Dedih Nazmudin
S-6777
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Titis Puspitarini Dwi Lestari; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Fatum Basalama
S-6769
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mawary Edy; Pembimbing: Lukman Hakim Tarigan; Penguji: Yovsyah, Tri Yunis Miko, Azimal, Eka Muhiriyah
T-3037
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Prima Kartika Esti; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji : Ratna Djuwita, Mondastri Korib Sudaryo, Helen Dewi Prameswari
Abstrak:

ABSTRAK

Latar belakang: Epidemi HIV secara global masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius. Pada tahun 2011 terdapat 2.5 juta (2.2 – 2.8 juta) kasus baru infeksi HIV di seluruh dunia, dengan kamatian karena AIDS mencapai 1.7 juta jiwa. Penularan infeksi HIV di Indonesia saat ini terutama melalui hubungan seks heteroseksual terutama terjadi dari WPS kepada pelanggan seks komersial, yaitu kelompok lelaki berperilaku risiko tinggi. Populasi ini merupakan jembatan penularan infeksi HIV (bridging population) dari populasi risiko tinggi ke populasi umum. Data menunjukkan jumlah laki-laki di Indonesia yang menjadi klien WPS lebih banyak dibandingkan pengguna napza suntik dan kelompok MSM (men who have sex with men). Prevalensi HIV pada kelompok LBT meningkat 7 kali lipat dari 0.1% (STBP 2007) menjadi 0.7% (STBP 2011). Keberadaan IMS meningkatkan kemudahan seseorang terkena infeksi HIV. Sebagian besar IMS akan menimbulkan peradangan dan kerusakan jaringan kulit/selaput lendir genital yang memudahkan masuknya HIV. Infeksi menular seksual dengan gejala ulkus genital, misalnya sifilis, menyebabkan kemudahan terkena infeksi HIV meningkat 4 – 6 kali. Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh faktor perilaku seks yang berhubungan dengan infeksi HIV dengan mempertimbangkan penyakit sifilis sebagai efek modifikasi, pada populasi LBT 12 kabupaten/kota di Indonesia.

Metode: cross sectional, analisis data hasil STBP 2011.

Hasil: Prevalensi HIV pada LBT sebesar 0.7%, LBT dengan perilaku seks berisiko rendah sebesar 91.5%. Perilaku seks risiko tinggi terdapat pada 6.6% LBT dan 1.9% di antaranya berperilaku seks risiko sedang. Prevalensi LBT yang mengaku setia pada pasangan sebesar 49.8%. Kejadian infeksi HIV berhubungan secara signifikan dengan riwayat hubungan seks dengan WPS, setia pada pasangan, jumlah WPS dalam 1 tahun terakhir, penggunaan napza suntik, serta keluhan IMS. Keberadaan sifilis tidak memodifikasi efek perilaku seks terhadap infeksi HIV, karena kejadiannya kecil. Pada analisis multivariat didapat perilaku seks yang berisiko untuk tertular HIV adalah pernah berhubungan dengan WPS memiliki risiko tertular HIV dengan OR 2.113(0.883-5.052) dan pernah berhubungan dengan casual partner memiliki OR sebesar 1.347(0.506-3.589) setelah dikontrol dengan variabel penggunaan napza suntik dan keluhan IMS.


ABSTRACT

Background: Global HIV epidemic still reveal serious public health issue. In 2011 there was 2.5 million (2.2 – 2.8 million) HIV new cases worldwide with mortality reach 1.7 million people. Heterosexual transmission of HIV in Indonesia mainly occurs from FSW to their clients, which is identifying as high risk men (HRM). HRM population is HIV transmission bridging population from high to low risk population. Data shows FSW’s clients amounted much more than the IDUs or MSM. HIV prevalence in HRM had been increased 7 times from 0.1% (IBBS 2007) to 0.7% (IBBS 2011). The presence of STD increases risk of HIV infection, so that STD is believed as HIV infection cofactor. Most STD caused inflammation and genital mucosa/skin damage which make HIV infection easier. Genital ulcer disease, such as syphilis, raised HIV infection 4-6 times. This study aims to see sexual behavior effect on HIV infection with regard of syphilis as modification effect on HRM population in 12 districts in Indonesia.

Method: Cross sectional. The IBBS 2011 data analyses.

Result: HIV prevalence among HRM amounted 0.7%. Of 91.5% HRM have low risk of sexual behavior, 1.9% medium risk, and 6.6% experience high risk sexual behavior. 49.8% HRM was faithful. There was significant association between HIV infection and having sex with FSW, faithfulness, the amount of FSW in 1 year, injecting drug user, and the presence of STI symptoms. The presence of syphilis has not modified the association between sexual behavior and HIV infection, statistically. Multivariate analyses founded that having sex with FSW and/or casual partner were risky sexual behavior with OR of being infected by HIV were 2.113(0.883-5.052) and 1.347(0.506-3.589) respectively, after being controlled with variables injecting drug user and the presence of STI symptoms.

Read More
T-4011
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rossa Nanda Lestari; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Yovsyah, Ario Baskoro
S-6703
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayu Herawati; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Yovsyah, Endang Sri Wahyuni
S-10423
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kesmas (Jurkesmasnas), Vol.1, No.5, April 2007, hal: 209-231, ( Cat ada di bendel 2006-2007 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Rizky Ramadhani; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Ratna Djuwita, Eva Sulistiowati, Robert M. Saragih
Abstrak: Prediabetes adalah masalah kesehatan global. Prevalensi prediabetesmeningkat signifikan di seluruh dunia dan pada umumnya tinggi di masyarakatserta merupakan keadaan risiko tinggi untuk terjadinya DM. Obesitas memilikiperanan penting dalam patofisiologi prediabetes. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui apakah obesitas umum dan obesitas abdominal secara bersama-samaberhubungan terhadap kejadian prediabetes pada kelompok usia 20-65 tahun diKecamatan Bogor Tengah berdasarkan faktor riwayat DM keluarga, jeniskelamin, umur, merokok, hipertensi, aktifitas fisik dan stress. Desain studi yangdigunakan adalah potong lintang dengan Cox Regression untuk analisismultivariable. Data analisis merupakan data baseline dari studi kohort faktorrisiko penyakit tidak menular tahun 2012. Ada 3244 responden dari kecamatanbogor tengah yang dipilih dengan teknik sampel acak. Hasil analisis menunjukkanbahwa obesitas terhadap kejadian prediabetes setelah mengendalikan faktor umuradalah obesitas umum PR 1,58 (95% CI: 1,17-2,15), obesitas abdominal PR 1,45(95% CI; 1,19-1,87) dan obesitas umum dan obesitas abdominal secara bersama-sama PR 1,92 (95% CI; 1,62-2,28). Untuk itu, obesitas umum dan obesitasabdominal secara bersama-sama berkontribusi paling besar terhadap peningkatanprevalensi prediabetes. Peningkatan kesadaran dan skrining prediabetes padakelompok risiko tinggi berdasarkan pengukuran IMT bersama dengan lingkarpinggang penting untuk dipertimbangkan sebagai bagian dari upaya untukmengurangi epidemi prediabetes di masyarakat.Kata Kunci : obesitas umum, obesitas abdominal, prediabetes
Prediabetes is a global public health issue. Prevalence of prediabetes isincreasing worldwide. Generally, it is high among adults and as a high risk statefor DM. Obesity has essential role in pathophysiology of prediabetes. This studyaimed to explore whether both of general obesity and abdominal obesity related toprediabetes on age group 20-65 years in Bogor tengah sub-district by familyhistory of DM, sex, age, smoking, hypertension, physical activity and stress. Thisstudy used the cross sectional design study with Cox Regression to multivariableanalysis. Data for this analysis were collected during the baseline stage of cohortstudy of risk factors of non-communicable disease in 2011-2012. There were3244 respondents from Bogor tengah were taken by random sample technique..The result indicated that obesity to prediabetes adjusted by age; general obesityalone PR 1,58 (95% CI: 1,17-2,15), abdominal obesity alone PR 1,45 (95% CI;1,19-1,87), general obesity and abdominal obesity jointly PR 1,92 (95% CI;1,62-2,28). Therefore, general obesity and abdominal obesity jointly contributedmost to the increase prevalence of prediabetes. Awareness raising and screeningof prediabetes of those at high risk group by assessing obesity by BMI and waistcircumference joinlty are essential to be considered as part of efforts for haltingthe epidemic of prediabetes in community.Keyword : general obesity, abdominal obesity, prediabetes.
Read More
T-4776
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Taruli Tua Pane; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Dwi Gayatri, Julianty Pradono
Abstrak: Stroke merupakan penyakit nomor 3 terbesar dan paling sering menyebabkan kematian di Indonesia. Prevalensi kejadian stroke di Indonesia menurut riskesdas 2007 adalah sebesar 8,3 per 1000 penduduk. Di Jakarta sendiri prevalensi kejadian stroke masih berada di atas prevalensi nasional yaitu 12,5 per 1000 penduduk dan menimbulkan banyak problem baik dari sisi sosial maupun ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan faktor risiko kejadian stroke iskemik dan stroke hemoragik pada pasien stroke di RS Harapan Kita Tahun 2012. Penelitian dilakukan dengan menganalisis data sekunder berupa status rekam medis pasien menggunakan desain studi cross sectional. Hasil menunjukkan terdapat pasien penderita stroke iskemik (10,4%) dan hemoragik (89,6%) dengan karakteristik umur ≥62 tahun (51,5%), berjenis kelamin laki-laki (62%), pendidikan rendah (17,8%), memiliki perilaku merokok (37,4%), mengidap hipertensi (81,6%) dan DM (50,3%). Berdasarkan analisis bivariat tidak ditemukan adanya perbedaan yang secara statistik bermakna antara faktor risiko dengan kejadian stroke, namun perbedaan proporsi faktor risiko pada stroke iskemik selalu lebih besar dibandingkan stroke hemoragik.
 

Stroke is the third disease which often cause death in Indonesia. Prevalence of stroke in Indonesia from Riskesdas 2007 is 8,3 per 1000 person. Prevalence of stroke in Jakarta is still higher then national prevalence that is 12,5 per 1000 person and cause a lot of problems both in terms of social and economic. This research aims to identify different risk factors of ischemic and hemorragic stroke in inpatient of stroke at National Cardiovascular Center Harapan Kita 2012. The study was conducted by analyzing secondary data from patient medical record by using cross sectional study. Results showed that there were patients with ischemic stroke (10,4%) and hemorrhagic (89,6) with a characteristic age ≥62 years (51,5%), male (62%), low education (17,8%), smoking behaviour (37,4%), hypertension (81,6%) and diabetes (50,3%). Based on bivariate analysis, result shows that there is no statistical difference between risk factors and incidence of stroke, but the difference proportion of risk factors in ischemic stroke always greater than hemorrhagic stroke.
Read More
S-7850
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Reno Mardina; Pembimbing: Tri Yunis Miko; Penguji: Yovysah, Lindawati
S-7445
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive