Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 29270 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Wellya Hartati; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Suprijanto Rijadi, Hendrik Johanenes, Iing Irat Setiamasa
B-1316
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mila Fitriana; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Ede Surya Darmawan, Masyitoh Bashabih, Ida Bagus Sila Wiweka, Chairulsjah Sjahruddin
Abstrak:
Latar Belakang: Rumah Sakit (RS) harus menyelenggarakan perlindungan pasien dari risiko Healthcare-Associated Infections (HAIs). Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi harus diselenggarakan dengan baik untuk menurunkan risiko HAIs, termasuk kepatuhan hand hygiene pada seluruh staf RS. Rendahnya kepatuhan diantara petugas kesehatan menjadi masalah di fasilitas pelayanan kesehatan. World Health Organization (WHO) mengeluarkan Multimodal Hand Hygiene Improvement Strategy sebagai salah satu strategi untuk mengatasi permasalahan kepatuhan hand hygiene. Rumah Sakit Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo (RSPG) Cisarua Bogor telah memiliki regulasi hand hygiene yang mengacu pada kebijakan yang berlaku, namun kepatuhan hand hygiene tidak mencapai target selama tiga tahun. Analisis kepatuhan implementasi kebijakan, dalam hal ini regulasi, perlu dilakukan untuk memetakan faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi. Oleh karena itu penelitian ini ingin menganalisis lebih lanjut bagaimana kepatuhan implementasi regulasi hand hygiene di RSPG Cisarua Bogor berdasarkan WHO Multimodal Hand Hygiene Improvement Strategy. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif analitik dengan metode studi kasus. Peneliti melakukan analisis kepatuhan implementasi regulasi hand hygiene dengan mengembangkan teori George Edward III yang dikolaborasikan dengan WHO Multimodal Hand Hygiene Improvement Strategy. Penilaian WHO Multimodal Hand Hygiene Improvement Strategy dilakukan dengan skoring Hand Hygiene Self-Assessment Framework (HHSAF). Lokasi penelitian di Rumah Sakit Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo (RSPG) Cisarua Bogor yang merupakan Rumah Sakit Khusus Pusat Tipe III. Hasil: Berdasarkan analisis terhadap variabel komunikasi, masih perlu peningkatan konsistensi komunikasi. Persentase perolehan skor HHSAF pada variabel komunikasi 80,4%. Berdasarkan analisis terhadap variabel sumber daya, diperoleh persentase skor 73,9%. Pada SDM peneliti mendapatkan temuan selain kuantitas dan kualitas SDM, yaitu isu keaktifan dan perilaku. Berdasarkan analisis terhadap variabel disposisi didapatkan pada pengangkatan birokrasi masih kurangnya bentuk komitmen yang jelas dari kepala keperawatan. Bentuk apresiasi non materi dianggap akan lebih berdampak positif, dan masih kurangnya komitmen implementor. Persentase perolehan skor HHSAF pada variabel disposisi adalah 65%. Berdasarkan analisis terhadap variabel struktur birokrasi, diketahui perlu perbaikan pada SPO keperawatan mengenai momen cuci tangan sesuai SPO dan panduan PPI. Pada fragmentasi diketahui koordinasi penyebaran tanggung jawab untuk implementasi regulasi hand hygiene masih kurang baik, namun tidak terjadi bureaucratic fragmentation. Persentase perolehan skor HHSAF pada variabel struktur birokrasi adalah 23%. RSPG berada pada hand hygiene level Intermediate dengan skor total 312,5. Kesimpulan: Diantara keempat variabel, persentase perolehan skor HHSAF terendah adalah pada variabel struktur birokrasi, namun hal ini bukan menjadi variabel yang paling berpengaruh pada implementasi regulasi hand hygiene di RSPG. Variabel yang paling berpengaruh terhadap implementasi regulasi hand hygiene di RSPG adalah variabel sumber daya, yaitu sumber daya manusia, terkait isu keaktifan dan perilaku.
Background: Hospitals must organize patient safety from the risk of Healthcare-Associated Infections (HAIs). Infection Prevention and Control programs must be well organized to reduce the risk of HAIs, including hand hygiene compliance among all hospital staff. Low compliance among healthcare workers is a problem in healthcare facilities. WHO issued the Multimodal Hand Hygiene Improvement Strategy as one of the strategies to overcome the problem of hand hygiene compliance. Dr. M. Goenawan Partowidigdo Pulmonary Hospital (RSPG) Cisarua Bogor has hand hygiene regulations that refer to applicable policies, but hand hygiene compliance has not reached the target for three years. Compliance analysis of policy implementation, in this case regulation, needs to be done to map the factors that influence implementation. Therefore, this study aims to further analyze how the implementation compliance of hand hygiene regulation in RSPG Cisarua Bogor is based on WHO Multimodal Hand Hygiene Improvement Strategy. Methods: This study used a qualitative analytic descriptive research approach, with a case study method. Researcher analyzed the implementation compliance of hand hygiene regulations by developing the George Edward III theory collaborated with the WHO Multimodal Hand Hygiene Improvement Strategy. The WHO Multimodal Hand Hygiene Improvement Strategy assessment was carried out by scoring the Hand Hygiene Self-Assessment Framework (HHSAF). The research location was at the Dr. M. Goenawan Partowidigdo Pulmonary Hospital (RSPG) Cisarua Bogor which is a Type III Central Specialty Hospital. Results: Based on the analysis of communication variables, there is still a need to improve communication consistency. The percentage of HHSAF scores on communication variables is 80.4%. Based on the analysis of the resource variable, a percentage score of 73.9% was obtained. In human resources, researchers found findings other than the quantity and quality of human resources, namely the issue of activeness and behavior. Based on the analysis of the disposition variable, it was found that the bureaucratic appointment still lacked a clear form of commitment from the head of nursing. Non-material forms of appreciation are considered to have a more positive impact, and there is still a lack of implementor commitment. The percentage of the HHSAF score on the disposition variable is 65%. Based on the analysis of bureaucratic structure variables, it is known that improvements need to be made to the nursing SPO regarding hand washing moments according to SPO and PPI guidelines. In fragmentation, it is known that the coordination of the distribution of responsibilities for implementing hand hygiene regulations is still not good, but there is no bureaucratic fragmentation. The percentage of the HHSAF score on the bureaucratic structure variable was 23%. RSPG is at the Intermediate level of hand hygiene with a total score of 312.5. Conclusion: Among the four variables, the lowest percentage of the HHSAF score was on the bureaucratic structure variable, but this was not the most influential variable on the implementation of hand hygiene regulations in RSPG. The variable that has the most influence on the implementation of hand hygiene regulations in RSPG is the resource variable, namely human resources, related to the issue of activeness and behavior.
Read More
B-2337
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ulfia Mutiara Supatmanto; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Helen Andriani, Purnawan Junadi, Wellya Hartati, Endang Adriyani
Abstrak:
Proses bisnis yang penting dalam organisasi rumah sakit salah satunya adalah manajemen pengelolaan perbekalan farmasi. Manajemen pengelolaan perbekalan farmasi di RSPG Cisarua Bogor melibatkan tim dimulai dari tahapan perencanaan, pengadaan, penyimpanan dan distribusi. Hambatan internal dalam proses perencanaan dan pengadaan perbekalan farmasi merupakan hambatan yang bisa dikendalikan dengan intervensi secara internal dalam proses bisnis di dalam rumah sakit. Penelitian ini fokus pada usulan perubahan sistem manajemen pengelolaan perbekalan farmasi khususnya perencanaan dan pengadaan di internal RSPG Cisarua Bogor. Intervensi dalam proses pengadaan menggunakan lean six sigma sebagai alat bantu evaluasi untuk menentukan titik-titik lemah dalam penelitian ini hanya sampai pada tahap improve. Pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dengan informan yang terkait proses perencanaan dan pengadaan perbekalan farmasi, observasi dan penelusuran dokumen kemudian diakhiri dengan diskusi kelompok untuk menentukan kesepakatan bersama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiadaan prosedur tetap dalam proses pengadaan perbekalan farmasi membuat lamanya prosedur berjalan dan tidak ada tolak ukur efisiensi dalam sistem. Alat bantu dalam proses pengadaan perbekalan farmasi juga tidak ada sehingga komunikasi internal antar bagian walaupun dalam satu tim yang sama menjadi rendah. Pada tahapan improve dari lean six sigma menghasilkan usulan perubahan standar operasional prosedur untuk proses pengadaan perbekalan farmasi rutin, penggunaan indikator efisiensi pengadaan dan pemanfaatan ABC VEN sebagai alat bantu dalam proses pengadaan perbekalan farmasi. Usulan perbaikan penggunaan ABC VEN dan indikator efisiensi perencanaan untuk mengatasi waste over production yang teridentifikasi selama proses perencanaan perbekalan farmasi. Usulan penetapan standar operasional prosedur baru yang memuat timeline, alat bantu pengelompokan perbekalan farmasi berdasarkan ABC VEN dan indikator efisiensi pengadaan untuk mengatasi waste waiting dalam proses pengadaan perbekalan farmasi.
One of the important business processes in hospital organizations is the management of pharmaceutical supplies. The management of pharmaceutical supplies management at RSPG Cisarua Bogor involves teams starting from the stages of planning, procurement, storage and distribution. Internal obstacles in the process of planning and procuring pharmaceutical supplies are obstacles that can be controlled by internal intervention in business processes within the hospital. This research focuses on proposed changes in the management system of pharmaceutical supply management, especially planning and procurement within RSPG Cisarua Bogor. Intervention in the procurement process using lean six sigma as an evaluation tool to determine weak points in this study only reached the improvement stage. Data collection used in-depth interviews with informants related to the process of planning and procuring pharmaceutical supplies, observation and document tracing then ended with group discussions to determine mutual agreement. The results showed that the absence of fixed procedures in the process of procuring pharmaceutical supplies made the procedure run longer and there was no benchmark of efficiency in the system. Tools in the process of procuring pharmaceutical supplies are also absent so that internal communication between departments even in the same team is low. At the improve stage of lean six sigma produced proposals for changes to standard operating procedures for routine pharmaceutical supply procurement processes, the use of procurement efficiency indicators and the use of ABC VEN as a tool in the pharmaceutical supply procurement process. Proposed improvements in the use of ABC VEN and planning efficiency indicators to address waste over production identified during the pharmaceutical supply planning process. Proposed establishment of new standard operating procedures containing timelines, tools for grouping pharmaceutical supplies based on ABC VEN and procurement efficiency indicators to overcome waste waiting in the pharmaceutical supply procurement process.
Read More
B-2339
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zubaedah; Pembimbing: Hasbullah Thabrany; Penguji: Atik Nurwahyuni, Amal C. Sjaaf, Poppy Mariani Yuliati
B-1248
Depok : FKM UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kartika Malahayati; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Atik Nurwahyuni, Vetty Yulianty Permanasari, Muhamad Nur Ihwan, Purwa Kurnia Sucahya
Abstrak:
Casemix, casemix index dan hospital baserate merupakan indikator penting untuk melihat kinerja rumah sakit di bawah sistem pembayaran INA-CBGs. Indikator tersebut merupakan penyusun besaran tarif INA-CBGs, instrumen penilaian kinerja rumah sakit mitra BPJS Kesehatan dan instrumen penyusun pembayaran klaim mixed method INA-CBGs dan global budget yang mulai diujicobakan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis capaian dan determinan indikator casemix, casemix index dan hospital baserate RSPG Cisarua Bogor selama tahun 2017 – 2022. Penelitian akan dilakukan selama bulan Mei – Juni 2023 oleh peneliti langsung di RSPG Cisarua Bogor. Analisis capaian indikator casemix, casemix index dan hospital baserate rumah sakit menggunakan data sekunder yang didapatkan dari rekapitulasi data pada elektronik klaim (e-klaim) Kementerian Kesehatan. Determinan yang berpengaruh terhadap ketiga indikator yang dihitung dalam penelitian ini akan dianalisis secara crossectional melalui pendekatan analitik kuantitatif dari data sekunder berupa e-klaim dan laporan rumah sakit. Uji statistik berupa uji korelasi dan regresi linier sederhana digunakan untuk melihat determinan yang berkaitan dengan indikator casemix, casemix index dan hospital baserate. Hasil penelitian menunjukkan tren casemix rawat jalan dan rawat inap tahunan RSPG mengalami penurunan dari 2017 hingga 2021 seiring dengan penurunan jumlah kasus. Penurunan pada tahun 2020 dan 2021 diakibatkan adanya penurunan jumlah kasus yang signifikan selama pandemi Covid-19. Nilai casemix di tahun 2022 kembali naik seiring membaiknya kondisi pandemi di Indonesia. Capaian casemix index rawat jalan dan rawat inap RSPG Cisarua lebih rendah bila dibandingkan dengan rata-rata capaian casemix index RS Pemerintah Kelas A di regional I. Terjadi kenaikan casemix index saat pandemi Covid-19 dikarenakan masyarakat berobat dalam keadaan lebih parah di saat pandemi. Hospital baserate rawat jalan RSPG tahun 2017 dan 2021 masih berada di bawah tarif nasional, sedangkan tahun 2018, 2019, 2020, dan 2022 hospital baserate lebih tinggi dibandingkan tarif nasional. Hospital baserate rawat inap RSPG secara konasisten lebih tinggi dibandingkan tarif nasional. Artinya biaya yang dikeluarkan rumah sakit lebih tinggi dibandingkan tarif yang dibayarkan oleh BPJS dalam menangani kasus dengan nilai cost weight=1. Terdapat 5 variabel yang bernilai signifikan dengan p<0,05 terhadap casemix rawat jalan, yakni jumlah kasus, jumlah klinik rawat jalan, jumlah dokter spesialis, proporsi beban pegawai, dan proporsi beban penyusutan. Variabel yang berkorelasi secara statistik terhadap casemix rawat inap adalah jumlah kasus, severity level II dan III, lama hari perawatan, jumlah dokter spesialis, proporsi beban pegawai, dan proporsi beban penyusutan. Jumlah klinik rawat jalan dan proporsi beban pegawai memiliki hubungan dengan capaian casemix index rawat jalan. Jumlah kasus, severity level I dan III, lama hari perawatan, serta jumlah dokter spesialis yang praktek di rumah sakit secara statistik berpengaruh terhadap capaian casemix index rawat inap. Hospital baserate di rumah sakit dihitung dengan membagi total biaya dengan casemix. Jumlah klinik rawat jalan, jumlah dokter spesialis, dan proporsi beban pegawai memiliki hubungan (p<0,05) terhadap hospital baserate rawat jalan. Jumlah kasus, severity level I dan III, lama hari perawatan, dan proporsi beban pegawai merupakan determinan yang teridentifikasi terhadap hospital baserate rawat inap.

Casemix, casemix index and hospital baserate are important indicators to evaluate hospital performance under the INA-CBGs payment system. These indicators are the basis for the INA-CBGs tariff rates, the instrument for assessing the performance of BPJS Kesehatan partner hospitals and the constructing instrument of mixed method global budget claim payments for INA-CBGs which has begun to be trialled. This research was conducted to analyze the achievements and determinants of casemix, casemix index and hospital baserate RSPG Cisarua Bogor from 2017 to 2022. The research conducted on May - June 2023 at RSPG Cisarua Bogor. Analysis of the achievement indicators for casemix, casemix index and hospital base rate uses secondary data obtained from Ministry of Health's electronic claims (e-claims). The determinants that affect the indicators will be analyzed cross-sectionally through a quantitative analytical approach from secondary data form e-claims and hospital reports. Correlation and simple linear regression were used to see whether the determinants related to the casemix, casemix index and hospital baserate indicators. The results showed that the casemix trend for outpatient and inpatient at RSPG had decreased from 2017 to 2021 along with the number of visits. The decline in 2020 and 2021 was due to a significant decrease in the number of visits during the Covid-19 pandemic. The casemix in 2022 increased as the pandemic conditions improved in Indonesia. The casemix index for outpatient and inpatient care at RSPG Cisarua were lower than the average casemix index for Class A Government Hospitals in regional I. RSPG outpatient hospital baserate in 2017 and 2021 is still below the national rate, while the other years are higher. RSPG's hospital base rate of inpatient care is consistently higher than the national rate. This means that the costs incurred by the hospital are higher than the rates paid by BPJS in handling cases with cost weight = 1. There are 5 variables that have significant value with p
Read More
B-2348
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tommy Aritono; Pembimbing: Hafizurrachman, H.M.; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Wachyu Sulistiadi, S. Wirdah
B-875
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Susanti Tungka; Pembimbing: Suprijanto Rijadi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Adang Bachtiar, Endang Adriyani
Abstrak:

Akreditasi RS di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1995 oleh Depkes dengan membentuk Komisi Gabungan Akreditasi Rumah Sakit, dan sekarang disebut Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS). Akreditasi rumah sakit merupakan pengakuan yang diberikan kepada manajemen rumah sakit yang telah memenuhi standar. RSKB sebagai satu-satunya rumah sakit terakreditasi 12 pelayanan di Kota Bogor yang telah diakui oleh Pemerintah dan warga Kota Bogor dan sekitarnya Akreditasi RSKB tahap awal pertama kali dilakukan pada tahun 2001 dengan 5 pelayanan dasar, kemudian berlanjut ke tahap selanjutnya pada tahun 2004. Instalasi Farmasi RSKB merupakan sam dari 12 unit pelayanan yang terakreditasi pada tahap kedua. Akreditasi RSKB tahap ke-dua dilakukan pada bulan Juni 2004, IFRS Karya Bhakti masuk di dalamnya. Hasil akreditasi IFRSKB bila dibandingkan dengan sebelas jenis pelayanan lainnya mendapatkan nilai tertinggi yaitu 94 %. Nilai ini mempakan nilai yang sangat baik yang diperoleh. Walaupun IFRSKB memperoleh nilai akreditasi yang sangat tinggi, namun tidak demikian dengan pelayanan di farmasi. Pasca Akrcditasi IFRSKB belum pernah dilakukan monitoring dan evaluasi oleh instansi yang berwenang yaitu Dinas Kesehatan Propinsi setempat, padahal berdasarkan buku pedoman akreditasi yang dikeluarkan oleh Depkes Pusat, dijelaskan bahwa 12 bulan Titik Awal, Dinas Kesehatan Propinsi harus melakukan Pembinaan Pasca Akreditasi yang difokuskan pada monitoring manajemen rumah sakit, apakah sudah melaksanakan rekomendasi yang dibuat oleh surveyor. Berdasarkan hal tersebut di atas, peneliti merasa tertarik untuk rnelakukan evaluasi nilai pasca akreditasi IFRSKB, peneliti juga ingin mengetahui seberapa jauh nilai tersebut tetap konsisten terhadap hasil penilaian pada saat akreditasi setelah satu tahun pasca akreditasi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran Hasil Evaluasi Nilai Pasca Akreditasi IFRSKB Di Bogor tahun 2006. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, informasi yang didapat berupa data primer melalui observasi dan wawancara mendalam dengan informan adalah Kepala IFRSKB, Kepala Gudang IFRSKB, Kepala Depo, Staf IFRSKB, Kepala Bagian RT, Kepala Bidang Medik, dan Kepala Bagian Keuangan. Dan data menggunakan data sekunder melalui telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan nilai pasca akreditasi mengalami sebesar 1,25 %. Penurunan nilai terjadi pada standar 2 parameter 1 dan parameter 2, dan standar 7 parameter 2, sedangkan peningkatan nilai terjadi pada standar 5 parameter 2 dan standar 7 parameter 3. Manajemen logistik farmasi mengalami sedikit perubahan antara masa pra dan pasca akreditasi. Perubahan yang terjadi terutama pada fungsi perencanaan dan penganggaran di IFRSKB. Kesimpulan walaupun nilai total pasca akreditasi RSKB terjadi penurunan, namun secara umum akreditasi RSKB memperoleh nilai yang sangat memuaskan. Saran kepada RSKB adalah meningkatkan status akreditasinya menjadi akreditasi istimewa, mengimplementasikan TQM dan mengoptimalkan Program Menjaga Mutu, serta melakukan perbaikan secara berkesinambungan.


 

Hospital accreditation in Indonesia has been applied since 1995 by Ministry of Health and Joint Commission of Hospital Accreditation (Komisi Gabungan Akreditasi Rumah Sakit), presently known as Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS). Hospital accreditation is acknowledgement for hospitals which have met standards required. Rumah Sakit Karya Bhakti (RSKB) as the only 12 service accredited hospital in Bogor has been acknowledged by municipality and citizens of Bogor. First phase of accreditation in RSKB was carried out in 2001 regarding 5 basic services, continuing to the next phase in 2004. Pharmacy department of RSKB is one of 12 services unit accredited in second phase. Accreditation score 94 % of pharmacy department of RSKB is the highest among other 11 service units. Even though the accreditation score is the highest, the service is not as high as its accreditation score. After accreditation, there is no monitoring and evaluation of the authorized institution namely District Health Office (Dinkel Propinsi). In fact Ministry of Health reguired that monitoring and evaluation be done 12 months after the accreditation point, focusing on hospital management monitoring and ascertaining whether the surveyors recommendation has been carried out. Due to this situation, it is necessary to evaluate the post accreditation score of pharmacy department of RSKB. It is also necessary to evaluate the consistency of the score at accreditation point and one year later. This study is aimed to evaluate the post accreditation score of pharmacy department of RSKB at Bogor in the year 2006. This is a qualitative study, collective primary data by observation and in-depth interview. The informants are head of pharmacy department, head of storage of RSKB, head of pharmacy depo, staff of pharmacy department RSKB, head of housekeeping, head of medical department, and head of finance department. Secondary date was carried out by document review. The study shows that there is a 1,25 % decrease in post accreditation score. The decrease occurs at standard 2 parameter 1 and parameter 2, and standard 7 parameter 2. However there is on increase in standard 5 parameter 2 and standard 7 parameter 3, There is a slight charge in logistic management of pharmacy department after accreditation point. The change occurs in planning and budgeting function. It is concluded that there is a decrease in post accreditation score; however, in general RSKB gets satisfactory result in accreditation. It is recommended that RSKB improve its accreditation status to "excellent" accreditation, implementation of TQM, optimize its Quality Assurance Program, and carry out continuous improvement.

Read More
B-937
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muthia Ayu Aztari; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Helen Andriani, Masyitoh, Farhannudin, Fiena Fithriah
Abstrak:
Instalasi Farmasi Rumah Sakit RSUD ciapyung menghadapi paradoks logistik berupa stock out dan kedaluwarsa terjadi bersamaan, mencerminkan disfungsi sistemik pada pengelolaan persediaan farmasi. Penelitian bertujuan menganalisis implementasi manajemen logistik menggunakan kerangka 5 M, serta merumuskan rekomendasi berbasis bukti. Desain non eksperimental mixed method dilaksanakan Januari – Mei 2026 menggunakan data operasional 2025, melalui wawancara mendalam (6 informan), observasi, checklist, serta analisis kuantitatif ABC-VEN, ITR, fill rate, dan stock out time tracer. Dari 12 indikator kinerja, hanya 3 yang tercapai, dan 3 outcome krusial justru tidak mencapai target; fill rate obat 79,9%, stock-out time tracer 101,8 hari, dan expire rate 7,08% (Rp 64,9 juta/42 item). Terdapat dua akar masalah yang teridentifikasi; SDM terbatas → inakurasi SIMRS → ketidakakuratan RKO → stock out; dan over procurement antidiabetik (+Rp 141 juta) → kegagalan FIFO/FEFO → kedaluwarsa. Kegagalan tersebut bersifat struktural sehingga perbaikan prosedural saja tidak cukup. Rekomendasi prioritas dengan optimalisasi SIMRS (ROP otomatis, alarm kedaluwarsa bertingkat), penerapan MMSL untuk 43 item Katergori Prioritas, pembaruan formularium melalui penguatan KFT, redistribusi tugas SDM, dan penggantian infrastruktur penyimpanan cold chain.

The Pharmacy Installation of RSUD Cipayung faces a logistics paradox in which stock out and medicine expiry occur simultaneously, reflecting systemic dysfunction in pharmaceutical inventory management. This study aimed to analyze the implementation of logistics management using the 5M framework and to formulate evidence-based recommendations. A non-experimental mixed methods design was conducted from January to May 2026 using 2025 operational data, through in-depth interviews (6 informants), observation, checklists, and quantitative analyses of ABC-VEN, ITR, fill rate, and stock out time tracer. Of 12 performance indicators, only 3 were met, while 3 critical outcome indicators failed to reach their targets: fill rate 79.9%, stock-out time tracer 101.8 days, and expire rate 7.08% (Rp 64.9 million/42 items). Two root causes were identified: limited human resources → SIMRS inaccuracy → inaccurate RKO → stock-out; and anti-diabetic over-procurement (+Rp 141 million) → FIFO/FEFO failure → expiry. These failures are structural, making procedural fixes alone insufficient. Priority recommendations include SIMRS optimization (automated ROP, tiered expiry alerts), MMSL implementation for 43 Priority Category items, formulary renewal through strengthened KFT, internal task redistribution, and replacement of cold chain storage infrastructure.
Read More
B-2597
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hadri Pramono; Pembimbing: Pujiyanto
B-758
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hadi Rahmatsyah; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Amal C. Sjaaf, Vetty Yulianty Permanasari, Dedi Rohendi, Suwenda
Abstrak:

Hadi Rahmatsyah Analisis Pengembangan Sistem Informasi Manajemen Logistik Farmasi Terkomputerisasi di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Indramayu Tahun 2013 164 Halaman, 21 Gambar, 21 Tabel Tesis ini menganalisis pengembangan Sistem Informasi Manajemen (SIM) Logistik Farmasi Terkomputerisasi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Indramayu Tahun 2013. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengembangan SIM Logistik Farmasi Terkomputerisasi di RSUD Kabupaten Indramayu Tahun 2013 tidak dilakukan sesuai rencana tahapan pengembangan Sistem Informasi menurut teori System Development Life Cycle dan sebagian besar fungsi-fungsi yang dibutuhkan oleh Instalasi Farmasi belum terpenuhi oleh Pengembang Sistem Informasi. Faktor keterbatasan waktu, ketidaksepahaman antara Instalasi Farmasi dan Pengembang Sistem Informasi terkait alur proses perbekalan farmasi dan keterbatasan sumber daya manusia dalam mengoperasikan, mengelola dan memelihara sistem aplikasi mempengaruhi keberhasilan pengembangan SIM Logistik Farmasi Terkomputerisasi di RSUD Kabupaten Indramayu Tahun 2013. Kata kunci : pengembangan sistem informasi manajemen terkomputerisasi, logistik, farmasi, pelayanan kefarmasian, System Development Life Cycle. Daftar Bacaan : 22 (1992 – 2013)


POSTGRADUATE PROGRAMME HOSPITAL ADMINISTRATION STUDY PROGRAMME PUBLIC HEALTH FACULTY UNIVERSITY OF INDONESIA Thesis, Juni 2013 Hadi Rahmatsyah The analysis of the development of computerized pharmacy logistic management information system at Indramayu District General Hospital in 2013 164 Pages, 21 Figures, 21 Tables This study analyzed the development of computerized pharmacy logistic Management Information System (MIS) at Indramayu District General Hospital (DGH) in 2013. This study is qualitative descriptive study. This study could be concluded that the development of computerized pharmacy logistic MIS at Indramayu DGH in 2013 was not carried out as planned phases of development of information system as System Development Life Cycle theory and most of the function as Pharmacy Department needed has not fulfilled by Information System Developer. The factor of time limitation, disagreements between Pharmacy Department and Information System Developer of pharmacy logistic and pharmacy services process flow, and human resources limitation of maintaining, managing and operating the application system contributed to succeessed of the development of computerized pharmacy logistic MIS at Indramayu DGH in 2013. Key words : development of computerized management information system, pharmacy, logistic, pharmacy service, System Development Life Cycle. References : 22 (1992 – 2013)

Read More
B-1518
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive