Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36386 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
CB: Q 2007
[s.l.] : Jakarta: LIPI, 1998, s.a.]
Hibah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
CB: Q 2017
[s.l.] : Jakarta: PPT-LIPI, 1998, s.a.]
Hibah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
editor, Yulfita Raharjo, Friedhelm Betke, Mita Noveria, Titik Handayani
330 DAM
Jakarta : LIPI, 1998
Buku (pinjaman 1 minggu)   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Latifah Alifiana Rahmawati; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Kurnia Sari, Prastuti Soewondo, Siti Masruroh dan Nanang Wahyu Santoso
Abstrak:
Penyakit infeksi masih menjadi salah satu beban masalah kesehatan di dunia. Pada tahun 2021, terdapat 5 juta kematian anak balita akibat infeksi. Terdapat berbagai faktor yang dapat menyebabkan penyakit infeksi pada anak balita, salah satunya yaitu berat badan lahir kurang dari 2.500 gram atau berat badan lahir rendah (BBLR). Tujuan: Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan berat badan lahir terhadap jumlah kunjungan rawat jalan dan rawat inap, durasi lama rawat inap, dan akumulasi biaya klaim BPJS akibat penyakit ISPA dan diare pada anak usia 0-59 bulan di FKRTL. Metode: Studi ini menggunakan desain kohort retrospektif menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan dari 2017-2022, yang digabungkan dengan Indeks Kualitas Air dan Indeks Kualitas Udara dari Laporan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Jumlah kasus rawat jalan diestimasi menggunakan Regresi Binomial Negatif, jumlah kunjungan rawat inap dan jumlah hari rawat inap dianalisis dengan Zero-Inflated Negative Binomial, serta akumulasi biaya dianalisis menggunakan Regresi Gamma. Hasil: Subjek dalam penelitian ini adalah 3.175 anak yang lahir pada tahun 2017 dengan kode INACBGs P-8-02 hingga P-8-17. Terdapat, 493 (15,53%) adalah anak dengan berat lahir rendah. Total pemanfaatan rawat jalan di antara anak-anak di bawah lima tahun karena diare dan ISPA 1.708 kunjungan (rata-rata: 0,56), dan pemanfaatan rawat inap adalah 1.174 (rata-rata: 0,38). Rata-rata lama menginap adalah 3,54 hari, dengan total 4.160 hari. Akumulasi biaya untuk rawat jalan adalah Rp353.548.900 (rata-rata: Rp111.354), dan untuk rawat inap adalah Rp3.737.613.820 (rata-rata: Rp1.177.201). Terdapat hubungan yang signifikan antara berat badan lahir dengan jumlah kematian pada anak balita, rata-rata jumlah kematian pada anak dengan riwayat BBLR lebih tinggi dibanding anak dengan berat badan lahir normal. Meskipun berat badan lahir tidak berhubungan secara signifikan terhadap jumlah kunjungan rawat jalan, namun jumlah kunjungan anak dengan BBLR lebih banyak dibandingkan anak dangan BBLN. Jumlah kunjungan rawat inap dan jumlah hari rawat inap di FKRTL selama 5 tahun lebih banyak secara signifikan pada anak dengan riwayat BBLR. Meskipun tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada akumulasi biaya perawatan namun jumlah kunjungan yang lebih banyak pada anak dengan BBLR dapat mempengaruhi peningkatan jumlah biaya pasien langsung seperti transportasi dan caregiver serta biaya pasien tidak langsung yakni income loss dari orang tua/caregiver

Infectious diseases are still one of the burdens of health problems in the world. In 2021, there will be 5 million deaths of children under five due to infections. Infectious diseases are still one of the burdens of health problems in the world. In 2021, there will be 5 million deaths of children under five due to infections. There are various factors that can cause infectious diseases in children under five, one of which is birth weight less than 2,500 grams or low birth weight (LBW). Objective: This study aims to determine the relationship between the number of outpatient and inpatient visits, the duration of hospitalization, and the accumulation of BPJS claim costs due to ARI and diarrhea based on birth weight category in children aged 0-59 months at FKRTL. Methods: This study used a retrospective cohort design using BPJS Health Sample Data from 2017-2022, which was combined with the Water Quality Index and Air Quality Index from the Ministry of Environment and Forestry Report. The number of outpatient cases was estimated using Negative Binomial Regression, the number of inpatient visits and the number of inpatient days were analyzed with Zero-Inflated Negative Binomial, and the accumulated costs were analyzed using Gamma Regression. Results: The subjects in this study were 3,175 children born in 2017 with INACBGs codes P-8-02 to P-8-17. There were 493 (15.53%) low birth weight children. Total outpatient utilization among children under five years of age due to diarrhea and ARI was 1,708 visits (mean: 0.56), and inpatient utilization was 1,174 (mean: 0.38). The average length of stay was 3.54 days, totaling 4,160 days. The accumulated cost for outpatient care was IDR353,548,900 (mean: IDR111,354), and for inpatient care was IDR3,737,613,820 (mean: IDR1,177,201). There was a significant association between birth weight and the number of deaths in children under five, with the average number of deaths in children with a history of LBW being higher than children with normal birth weight. Although birth weight was not significantly associated with the number of outpatient visits, children with LBW had more visits than children with normal birth weight. The number of inpatient visits and the number of days of hospitalization in FKRTL over 5 years were significantly higher in children with a history of LBW. Although there is no significant difference in the accumulated cost of care, the greater number of visits in children with LBW can affect the increase in the number of direct patient costs such as transportation and caregiver and indirect patient costs, namely income loss from parents/caregivers.
Read More
T-6985
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurbaati; Pembimbing: Prastuti Chusnun Soewondo, Mahlil Rubi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Iswandi Mourbas, Hendrianto
T-2407
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lies Kastika; Pemb. Mardiati Nadjib; Penguji: Harijatni Sri Oetami, Amila Megraini, Pantja Lihestiningsih
T-2702
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andhy Syahrial; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Kurnia Sari, Mardiati Nadjib, Rizki Ekananda, Suparmi
Abstrak:
Dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) merupakan instrumen fiskal utama pemerintah untuk mendukung layanan kesehatan primer, termasuk intervensi spesifik percepatan penurunan stunting. Namun, evaluasi Dana BOK masih lebih sering berfokus pada penyerapan anggaran atau dampak jangka panjang, sementara penilaian terhadap kesesuaian desain alokasi dengan capaian output layanan kesehatan masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menilai ketepatan desain alokasi Dana BOK stunting tahun 2024 terhadap capaian output layanan intervensi spesifik penurunan stunting yang diukur melalui Indeks Komposit Output BOK (ICO-BOK), serta menganalisis peran faktor kontekstual daerah dalam hubungan tersebut. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan unit analisis 484 kabupaten/kota di Indonesia. Variabel dependen utama adalah skor ICO-BOK (0–100) yang disusun dari indikator capaian intervensi spesifik bidang kesehatan. Variabel independen utama adalah alokasi Dana BOK stunting per balita. Analisis dilakukan menggunakan regresi linier robust, dilengkapi analisis heterogenitas berdasarkan beban stunting awal, status daerah tertinggal (3T), dan kapasitas fiskal daerah, serta uji sensitivitas melalui pendekatan PCA dan transformasi logaritma alokasi anggaran. Hasil analisis menunjukkan hubungan negatif yang signifikan antara alokasi Dana BOK stunting per balita dan skor ICO-BOK pada tingkat nasional. Pola serupa juga ditemukan pada sebagian besar subkelompok wilayah. Hasil uji sensitivitas menunjukkan bahwa arah dan signifikansi hubungan tetap konsisten pada berbagai spesifikasi model. Hubungan negatif yang ditemukan tidak menunjukkan ketidakefektifan Dana BOK, melainkan mencerminkan karakteristik desain alokasi yang bersifat afirmatif dan berbasis kebutuhan. Evaluasi Dana BOK perlu menekankan ketepatan desain alokasi dengan mempertimbangkan kondisi awal dan kapasitas daerah, serta menggunakan indikator output layanan sebagai ukuran kinerja yang proporsional.

The Health Operational Assistance Fund (BOK) is a key fiscal instrument supporting primary health care services in Indonesia, including health-sector specific interventions for stunting reduction. However, evaluations of BOK funding have largely focused on budget absorption or long-term outcomes, while limited attention has been given to assessing whether allocation design aligns with service delivery outputs. This study aimed to assess the alignment of the 2024 BOK stunting allocation design with service delivery outputs, measured using the Composite Output Index of BOK (ICO-BOK), and to examine the role of regional contextual factors in this relationship. A cross-sectional study was conducted using district-level data from 484 districts/cities in Indonesia. The primary dependent variable was the ICO-BOK score (0–100), constructed from indicators of health-sector specific intervention coverage. The main independent variable was BOK stunting allocation per child under five. Robust linear regression was applied, complemented by heterogeneity analyses based on baseline stunting burden, disadvantaged area status (3T), and fiscal capacity, as well as sensitivity analyses using PCA-based indices and logarithmic transformation of allocations. The analysis demonstrated a significant negative association between BOK stunting allocation per child and ICO-BOK scores at the national level. Similar patterns were observed across most regional subgroups. Sensitivity analyses confirmed that the direction and significance of the association remained consistent across alternative model specifications. The negative association observed should not be interpreted as evidence of BOK ineffectiveness. Instead, it reflects the affirmative and needs-based nature of BOK allocation, whereby areas with greater challenges receive higher funding. Evaluation of BOK funding should therefore emphasize allocation design appropriateness within regional contexts and prioritize service delivery outputs as proportional performance measures in cross-sectional analyses.
Read More
T-7476
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irma Fitriyana Herman; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Pujiyanto, Puput Oktamianti, Amroussy
Abstrak:

Abstrak

Maldistribusi tenaga kesehatan terutama di Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK) menjadi perhatian dunia karena keengganan tenaga kesehatan untuk tinggal dan bekerja di DTPK. World Health Organization (WHO) merekomendasikan retensi tenaga kesehatan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan ketersediaan tenaga kesehatan di DTPK. Di dalam manajemen sumber daya manusia, retensi merupakan output pemeliharan sumber daya manusia (SDM), artinya bagaimana mempertahankan SDM yang kompeten untuk tetap bekerja dalam periode waktu yang maksimum. Salah satu cara yang dipakai untuk meretensi SDM adalah dengan pemberian insentif, baik berupa material maupun non material.

Penelitian ini dilakukan pada program penugasan khusus tenaga kesehatan di DTPK yang dilaksanakan pada bulan September 2011 di Kabupaten Keerom, Kabupaten Sarmi dan Kota Jayapura Provinsi Papua. Dalam penelitian ini data yang digunakan terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan melakukan wawancara mendalam terhadap berbagai informan yang kompeten yaitu dari Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten dan Pusat Perencanaan dan Pendayagunaan SDM Kesehatan Kementerian Kesehatan. Data sekunder menggunakan data hasil pemetaan tenaga kesehatan yang dilakukan oleh Pusat Perencanaan dan Pendayagunaan SDM Kesehatan, Kementerian Kesehatan tahun 2010.

Hasil penelitian menunjukan bahwa insentif bukan merupakan faktor utama yang mempengaruhi retensi tenaga kesehatan penugasan khusus di DTPK. Faktor kebijakan pemerintah lebih menentukan retensi tenaga kesehatan di DTPK. Pemerintah belum memiliki kebijakan khusus tentang retensi tenaga kesehatan. Untuk memenuhi ketersediaan tenaga kesehatan khususnya di DTPK, pemerintah menggunakan strategi mutasi dan rotasi serta menyelenggarakan program-program yang sifatnya temporarly dan tidak sustainable seperti pengadaan tenaga kesehatan Pegawai Tidak Tetap (PTT), Penugasan Khusus, dan tenaga kesehatan kontrak atau honorer. Oleh karena itu pemerintah perlu melakukan kajian-kajian tentang kebijakan retensi tenaga kesehatan.


Maldistribusi of health workers especially in the Rural, Border and Islands area (DTPK) became the world's attention due to the reluctance of health workers to live and work in DTPK. World Health Organization (WHO) recommends retention of health workers as part of efforts to increase the availability of health workers in DTPK. In the human resource management, retention is the output of human resources (HR) maintenance, which is how to maintain competent human resources to keep working within a maximum period of time. One way used to retaining HR is by providing incentives, either material or non material.

The research was conducted on a special assignment program of health workers in DTPK held on September 2011 in Keerom District, Sarmi District and Jayapura city, province of Papua. In this study the data used consists of primary data and secondary data. Primary data obtained by conducting interviews conducted with a range of competent informants of the Provincial Health Office, District Health Office and Center for Health Human Resources Planning and Utilization of Ministry of Health. Secondary data using mapping data from health workers conducted by the Center for Health Human Resource Planning and Utilization, Ministry of Health in 2010 Republic of Indonesia.

The results showed that the incentive is not a major factor influencing the retention of health workers on special assignment in DTPK. Factors determining government policy over retention of health workers in DTPK. Governments do not yet have specific policies regarding the retention of health personnel. To meet the availability of health workers especially in DTPK, the government uses mutation and rotation strategies and organizing programs that are temporarly and not sustainable as the procurement of non-permanent employee health workers (PTT), Special Assignment, and health workers or temporary contracts.Therefore, governments need to do studies of health personnel retention policies.

Read More
T-3503
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Edy Sunarko; Pembimbing: Habullah Thabrany; Penguji: Pujiyanto
T-1985
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Euis Herna Marlyna; Pemb. Wahyu Sulistiadi; Penguji: Pujiyanto, Budiarti Setianingsih, Ade Saprudin
T-3940
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive