Ditemukan 39700 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Laporan hasil penelitian merupakan produk dari kegiatan penelitian dan pengembangan, yang dapat dipergunakan sebagai alat untuk evaluasi kegiatan dan perencanaan program kegiatan yang akan datang. Untuk mengolah data laporan hasil penelitian beserta sumber daya peneliti agar memberikan manfaat bagi kegiatan program, diperlukan suatu model perangkat lunak sistem informasi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain deskriptif. Dari analisis dokumen, analisis sistem berjalan serta analisis kebutuhan informasi, dikembangkan model perangkat lunak Sistem Informasi Hasil Penelitian yang dapat mengolah data laporan hasil penelitian beserta data sumber daya peneliti sehingga menghasilkan informasi mengenai peta bidang penelitian dan bidang kepakaran, distribusi dukungan dan persentase capaian target program Renstra maupun target institusi, prediksi sumber daya peneliti berdasarkan bidang kepakaran yang akan memasuki masa purna bakti. Informasi ini dapat dipergunakan oleh pihak Perencana Program sebagai dukungan data dalam perencanaan agenda penelitian dan bidang kepakaran peneliti. Selain memberikan manfaat lain dari segi administratif. Kata kunci: sistem informasi, laporan penelitian, perencanaan penelitian, perencanaan sumber daya peneliti.
ABSTRACT
Information Systems of Research Report for Research Agenda and Researchers Resources Planning (Case Studies in Center of Applied Technology for Health and Clinical Epidemiology) Research Report is a product of research and development activities, which can be used as a tool for evaluating activities and planning next program activities. To process the research data report and the researcher resources to provide benefits for program activities, we need a model of information system software. This study is a descriptive qualitative research design. From document analysis, on going system analysis and information needs analysis, was developt software model of Information Systems Research which can process research report data and reasearcher resources data to produce information of the research fields map and expertise, support distribution and the percentage of target achievement program Strategic Plan and the target institutional, resource prediction based on field expertise of researchers who will be retired. This information can be used by program planner as data support in planning research agenda and expertise of researchers. In addition to providing other benefits in terms of administrative Keywords : information system, research report, research agenda
Nyeri pinggang bawah merupakan masalah kesehatan kerja yang paling tua dalam sejarah. Sampai sekarang masih tetap merupakan masalah yang sering dijumpai. Di perusahaan ini nyeri pinggang bawah selama dua tahun terakhir ini menduduki urutan kedua dari sepuluh penyakit terbanyak. Oleh karena itu dilakukan penelitian ini dengan tujuan mengetahui prevalensi serta faktor-faktor apa yang mempengaruhi keluhan nyeri pinggang bawah ini. Metoda penelitian: Berupa studi kros seksional dengan analisis kasus kontrol. Jumlah sampel pada kelompok terpajan (bagian mixing) sebanyak 230 orang dan pada kelompok tidak terpajan (bagian quality control) sebanyak 109 orang. Data penelitian didapat dari medical records, medical check up, kuesioner, observasi, wawancara dan pemeriksaan fisik. Hasil penelitian : Pada kelompok mixing (n=230) didapatkan angka prevalensi untuk keluhan nyeri pinggang sebesar 92,2% dan pada kelompok quality control (n=109) sebesar 21,1%. Dan faktor-faktor yang berpengaruh secara bermakna pada terjadinya keluhan nyeri pinggang dari yang paling kuat pengaruhnya adalah berat beban, merokok, status, umur, masa kerja, pengetahuan cara mengangkat, frekuensi mengangkat dan pendidikan (pada kelompok mixing dan quality control). Untuk kelompok mixing saja faktor yang paling kuat mempengaruhi adalah umur (p=0,0000; 13 ,325). Untuk yang quality control yang besar pengaruhnya adalah pendidikan (p=0,000 ;B=0,412). Diskusi : Dari penelitian ini secara statistik terbukti bahwa faktor berat beban, merokok, status, umur, masa kerja, pengetahuan cara mengangkat, frekuensi mengangkat dan pendidikan (p = < 0,05) bermakna dalam mempengaruhi keluhan nyeri pinggang . Dan faktor lain seperti pelatihan, SOP dan alat pelindung diri yang tidak bisa dibuktikan secara statistik tetapi kenyataannya berpengaruh. Ini terbukti dari penelitian yang dilakukan di Rusia oleh Toroptsova NV (et al). Maka dan itu untuk mencegah dan mengurangi keluhan nyeri pinggang perlu kerjasama yang baik dari pihak manajemen, tenaga kerja dan dokter perusahaan.
Low Back Pain Among the Workers Food Spices Factory in Purwakarta and the Factors that Related Low back pain is the very old occupational and safety problem in history. Until now still as an occupational and safety problem that most happen. In this factory, low back pain became the second top of ten kinds of diseases that often happen after upper respiratory tract infection. That's why, this case study done with goal to know the prevalence and the factors that related with low back pain. Method: A cross sectional study with case control analysis. Sample consisted of mixing group 230 workers and quality control group 109 workers. Data were collected from medical records, medical check up results, questioners, observation, interview and physical examination. Results: The prevalence of low back pain among mixing group is 92,9% and among quality control group is 21,1%. The factors that related significantly with low back pain are: weight of load, smoking, status, age, duration of working, knowledge of the technique for lifting, frequency of lifting and education among mixing group and among quality control group (p=<0,05). For the mixing group the factor that is strongly influents low back pain is age (p ,0000 : B-0,325). And for the quality control group is education (p=0,0000; B= 0,412). Discussion: There were statistically significant relation between weight of load, smoking, status, age, duration of working, knowledge of the technique for lifting, frequency of lifting and education (p<0,05) with low back pain. The other factors like training, SOP (Standard Operation Procedure) and protection equipment that were statistically can not proved but in fact these factors can significantly related with low back pain In Toroptsova NV (et a!) study already proved those factors could cause low back pain. That's why for preventing and reducing this problem needs cooperation between management, workers and occupational and safety doctor in factory.
Angka kejadian preeklampsia dan eklampsia di RSUP Fatmawati mengalami kenaikan setiap tahunnya, yaitu 3,25%, 4,49% dan 7,39% untuk kasus preeklamsia berat pada tahun berturut-turut 2008, 2009 dan 2010. Dan untuk kasus eklamsia sebesar 1,82%, 1,73% dan 2,11% pada tahun 2008, 2009, dan 2010. Pre eklampsia yang tidak ditangani secara tepat dan adekuat dapat berlangsung menjadi eklampsia dan dapat berakhir menjadi kematian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian MgSO4 pada pasien preeklamsia berat di tempat pra rujukkan RSUP Fatmawati terhadap kejadian eklamsia. Desain penelitian ini menggunakan pendekatan kohort retrospektif dengan menggunakan data rekam medik penderita preeklamsia berat tahun 2009 – 2010. Sampel pada penelitian ini adalah 18 penderita preeklamsia berat yang diberikan MgSO4 dan 90 penderita preeklamsia berat yang tidak diberikan MgSO4. Analisis data yang digunakan adalah analisis regresi logistik. Hasil penelitian ini diperoleh 11.1% ibu yang diberikan MgSO4 mengalami eklamsia dan 15,6% ibu yang tidak diberikan MgSO4 juga mengalami eklamsia. Hasil analisis lebih lanjut diperoleh bahwa tidak ada pengaruh pemberian MgSO4 pada pasien preeklamsia berat di tempat pra rujukkan RSUP Fatmawati terhadap kejadian eklamsia. Pemberian MgSO4 pada pasien preeklamsia berat di tempat pra rujukkan wilayah kerja RSUP Fatmawati masih cukup rendah yaitu hanya 15,1%. Tidak adanya pengaruh pemberian MgSO4 pada pasien preeklamsia berat di tempat pra rujukkan RSUP Fatmawati terhadap kejadian eklamsia ini disebabkan kondisi pasien yang memburuk dan dosis pemberian MgSO4 tidak sesuai standar, sehingga tidak memberikan efek pencegahan terhadap kejadian eklamsia. Adanya hasil penelitian ini daiharapkan dapat dijadikan masukkan baik bagi RSUP Fatmawati maupun fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan RS lainnya dalam hal penanganan preeklamsia dan eklamsi yang tepat khususnya pemberian MgSO4, dan semoga dapat menggelitik peneliti lainnya untuk mengkaji lebih dalam tentang tingkat kepatuhan petugas dalam penanganan preeklamsia dan eklamsia khususnya pemberian MgSO4 sebelum dirujuk. Kata kunci : Pemberian MgSO4, tempat pra rujukkan
The incidence of preeclampsia and eclampsia in Fatmawati Hospital has increased each year, namely 3.25%, 4.49% and 7.39% for cases of severe preeclampsia in consecutive years 2008, 2009 and 2010. And for cases of eclampsia at 1.82%, 1.73% and 2.11% in 2008, 2009, and 2010. Pre-eclampsia is not treated appropriately and adequately consequentive to eclampsia and may end up being the death. The purpose of this study was to determine the effect of MgSO4 in patients with severe preeclampsia in the pre-referral Fatmawati Hospital on the incidence of eclampsia. The design of this study using a retrospective cohort approach using medical record data in patients with severe preeclampsia from 2009 to 2010. The sample in this study were 18 patients with severe preeclampsia given MgSO4 and 90 patients with severe preeclampsia who are not given MgSO4. Analysis of the data used is logistic regression analysis. The results of this study was obtained 11.1% mothers administered MgSO4 eclampsia and 15.6% had mothers who had not given MgSO4 also had eclampsia. Further analysis of the results obtained that there was no effect of MgSO4 in patients with severe preeclampsia in the pre-referral Fatmawati Hospital on the incidence of eclampsia. Provision of MgSO4 in patients with severe preeclampsia in the pre-referral work areas Fatmawati Hospital is still quite low at only 15.1%. And the lack of effect of MgSO4 in patients with severe preeclampsia in the pre-referral Fatmawati Hospital on the incidence of eclampsia is due to the deteriorating condition of the patient and the administered dose of MgSO4 is not standardized, so that no preventive effect on the incidence of eclampsia. The existence of these research results are expected to be entered for both the Fatmawati Hospital and primary health care facilities and other hospitals in the handling of pre-eclampsia and eclampsia are appropriate in particular the provision MgSO4, and hopefully be able to tickle other researchers to examine more deeply about the level of compliance officers in the handling of preeclampsia and eclampsia, particularly the provision of MgSO4 before referenced. Key words: Giving MgSO4, where pre-referral
Dinas Kesehatan Lampung Utara dalam penjabaran tujuan pembangunan kesehatan telah menerapkan suatu kebijakan unit swadana di Puskesmas Bukit Kemuning dengan tujuan memberikan keleluasan Puskesmas dalam mengelola pendapatan fungsionalnya untuk meningkatkan mutu pelayanannya. Selanjutnya untuk menentukan kebijakan lebih lanjut Puskesmas unit swadana yang sudah di uji cobakan di Puskesmas Bukit Kemuning selama 3 tahun ini perlu dievaluasi. Berkaitan itu dilakukan penelitian yang bertujuan mendapatkan informasi mengenai pengelolaan sumber daya manusia dan sumber daya keuangan sebelum dan sesudah diterapkannya kebijakan unit swadana di Puskesmas Bukit Kemuning Kabupaten Lampung Utara tahun 2002 dengan pendekatan input ,proses dan out put. Penelitian ini adalah studi kasus dengan disain potong lintang di Puskesmas Bukit Kemuning Kabupaten Lampung Utara. Data diperoleh dari wawancara, dan observasi, dan penelusuran data sekunder. Wawancara mendalam dilakukan pada 12 informan yang terlibat dan memahami proses keswadanaan, tidak melibatkan pengguna Puskesmas. Hasil Penelitian menunjukkan dalam hal pengelolaan sumber daya manusia sesudah swadana dengan adanya kebijakan untuk dapat menggunakan pendapatan fungsional untuk menunjang pengelolaan sumber daya manusia menyebabkan telah diberikannya insentif sebagai sistem reward, dilakukannya kegiatan pendidikan dan ketrampilan secara mandiri serta dilakukannya kegiatan peningkatan kedisiplinan. Hasil kegiatan ini adalah terjadinya peningkatan pendapatan karyawan dari Rp 8.974.523 (tahun 1999) sampai Rp 35.580.745 (tahun 2001), adanya kegiatan peningkatan pengetahuan karyawan yang dilaksanakan secara mandiri sebanyak 6 kali dan adanya peningkatan jumlah hari kerja dari 93,72 % ke 96,05 % dibandingkan sebelum swadana. Permasalahan yang ada adalah masa depan tenaga honorer, belum adanya konsep perhitungan insentif dan standar pelaksanaan pelatihan. Dalam hal pengelolaan keuangan menunjukkan bahwa sesudah swadana dengan adanya sumber dana dari seluruh pendapatan fungsional Puskesmas dan kebijakan mengelola semua pendapatan fungsionalnya sehingga menyebabkan penganggaran keuangan dilakukan terpadu dengan botom up system, penerimaan dari semua pelayanan dengan sistem satu pintu, penggunaan keuangan berdasarkan pedoman yang telah disahkan dan pelaporan keuangan yang dilaksanakan tiap bulan dan akhir tahun yang terdokumentasi lengkap dibandingkan sebelum swadana. Permasalahan yang ada sesudah swadana adalah administrasi yang rinci dengan tidak didukungnya penyelenggara keuangan dengan pendidikan dan pelatihan yang sesuai. Puskesmas swadana membawa manfaat terutama dalam bidang pengelolaan sumber daya manusia dan pengelolaan keuangan untuk meningkatkan pelayanan, sehingga dapat diterapkan pada Puskesmas lain yang telah memenuhi kriteria. Puskesmas swadana juga merupakan salah satu solusi mengurangi beban pemerintah daerah dalam rangka menyediakan kebutuhan dana untuk operasional Puskesmas namun harus disesuaikan dengan kondisi daerah dimana Puskesmas berada.
Financial and Human Resources Management before and after Implementation of Swadana Policy (A Case Study in Bukit Kemuning Health Center, North Lampung District, 2002)To achieve the goal of health development, the District Health Office of North Lampung has decided Bukit Kemuning Health Center to be transformed as an Swadana Health Center. The Health Center has a more flexibility in managing its revenue and uses it to improve the quality of care. Bukit Kemuning Swadana Health Center has been set up as a trial Health Center three years ago and need to be evaluated as lesson learned and further policy making. A study is conducted to obtain the information on the management of financial and human resources before and after implementation swadana policy the input, process and out-put approach. This study is a cross-sectional study. The data were obtained from in-depth interview, observation, and analysis of the secondary data. In-depth interview is conducted, 12 informants that related and understand to the process of swadana policy were interview. The result of study showed that there was improvement on management of human resources after implementation of the policy where they could use their revenue for incentive as part of the reward system. Education and training activities were also undertaken to improve staff skills. There was also improvement in discipline on staff. The employees? income has increased from Rp. 8.974.523 in 1999 to Rp. 35.580.745 in 2001, as well as the knowledge of employee and productive working days increase from 93.72% to 96.05%. However, sustainability for providing honoraria of the staff remains questionable. The employment status has not cleared yet, since there is no concept of incentive formula and standard of training for the employee. After implementation of the policy swadana unit, Bukit Kemuning Health Center managed its revenue from all source of funds. The budget is allocation process is conducted integrated leg using bottom up approach, one door policy. Monthly and annual income statements were documented regularly. However, the financial administration in detail remain a problem, it is not supported by training on financial management. After implementation of swadana Health Center, the management of financial and human resources at Bukit Kemuning Health Center has been improving. The policy might be applied to other Health Centers, as long as is the criteria could be met. District Health office could consider this policy to reduce financial burden without scarifying the community.
Angka harapan hidup di Indonesia meningkat dan tahun-talom sebelumnya akibat meningkatnya akses dan pelayanan kesehatan. Tahun 2004, jumlah tansia telah miencapai 16,5 juta jiwa, 52,6 persen adalah perempuan dan laimnya adalah lakt-laki. Masalah kesehatan yang paling banyak dihadapi oleh lansia perempuan adalah osteoporosis. Insidens osteoporosis pada perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki. Perempuan mempunyai kecenderungan terkena osteoporosis yaitu 1 dari 3 perempuan dan wumumnya pada perempuan pascamenopause dan laki-laki insidensnya lebih kecil, yaitu 1 dari 7 laki-faki. Tujuan penelitian im untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan pada remodeling uatuk meningkatkan densitas mineral tulang 1,5% dan 3% pada tiga Iokasi pengukuran (lumbal, femur, radius) secta faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tulang pada pasien osteoporosis yang memeriksakan tulangnya di kink Makmal Terpadu Imunoendokrinologi FK UT. Penelitian ini merupakan studi /ongitudinal dalam mang lingkup ufi klinik, dengan analisis data sekunder yang memanfaatkan data yang ada pada catatan medik (Medical Record). Sampel berjamlah 52 pasien osteoporosis. Analisis data menggunakan aplikasi analisis survival mengpunakan variabel waktu (time) dan kejadian (event), dengan waktu pengamatan pasien dimulai dari Januari 2004-Desember 2007. Analisis mencakup analisis univartat, bivaniat metoda Kaplan-Meier, dan analisis multivanat dengan regresi cox ganda. Faktor-faktor yang berhubungan dengan waktu remodeling adalah stendar operating prosedur (SOP) pengobatan , dan indeks massa tubuh. Pada SOP pengobatan di klinik Makmal waktm pertumbuhan lebih cepat dan berbeda bermakna dibanding SOP poli lain pada Jeambal (event 1,5% dan 3%), dan femur (event 15%). Begitu juga pada variabel IMT, waktu pertumbuhan tulang lebih cepat pada kelompok IMT 25 pada femur pertumbuhan 1.5%. Namun berbeda pada kelompok kontrasepsi dan usta pasien yang tidak memberikan waktu remodeling yang berbeda pada kelompok tersebut pada ketiga lokasi pengukuran. Faktor penentu pettumbuhan milang adalah SOP pengobatan disampmng IMT pada /umbal dan femur pada event 1,5%. Hazard ratio SOP pada fumial adalah 3,359, artinya pasien yang mendapatkan terapi di Klinik Makmal 3,36 kali berpeluang untuk mencapai pertumbuhan tulang Jubal 1,5%. Dan hazard ratio SOP pengobatan pada femur event 1,5% adalah 2,182 artinya pasien yang mendapatkan SOP pengobatan klintk Makmal akan berpeivang 2,18 kali untuk mencapai pertumbuhan tulang fermr 1,5%. Faktor penentu pertumbuhan tulang radius adalah SOP pengobatan dan konirasepsi pada pertumbuhan 3% sesta SOP dan usia pada pertumbuhan 1,5%. Namun hasil multivariat pada tulang tangan mi tidak bermakna secara statistik.
Life expectancy in Indonesia is increasing every year as impact of access to health services. On 2004, number of elderly people is 16.5 million, 52.6% is female. The most health problem facing by female elderly is osteoporosis that it proved by incidence of osteoporosis among female is higher than male. In fact of that one out of three female tends to have osteoporosis; meanwhile the incidence among male is one out of seven. The objective of this study is to know the length of time for bone development in order to increase the mineral bone denstty up to 1.5 % and 3 percentages in three measurement locations (/umbal, femur, radius). The study has probed as well as the influence factors of bone growth among the osteoporosis patients who were examinated their bone at Klinik Makmal Terpadu Imunoendokrinologi FK UI. This is a longitudinal study with scope in clinical area which include the secondary data analysis form medical record data. The total sample is 52 osteoporosis patients. Analysis survival application is performed for data analysis by using variable time and event form January 2004 to December 2007. The analysis in this study is univariate, bivariate, Kaplan-Meier method, and multivariate with double regresi cox. The factors related with time of remodeling bone are medication standard operating procedure (SOP), and body mass index (BMI). Medication SOP in Klink Makmal has faster time of remodeling bone and significant result comparing with SOP in other clinic; on fwnbal (event 1.5 % and 3%), and femur (event 1.5%). Patiens with BMI < 25 has faster time remodeling bone than patiens with BMI > 25 on femur 1.5%. Contraception group and patient’s age have not enough provided the different time of remodeling bone in those measurement. SOP hazard ratio on /zanbal is 3.359, it means patient who receives therapy in Klinik Makmal has 3.36 times chance to have lumbal remodeling bone up to 1.5%, Meanwhile, medication SOP hazard ratio on femur event is 1.5% is 2.182, means patient who receives medication SOP in Klinik Makmal has chance 2.18 times to have femur bone development 1.5%. Radius bone are medication SOP and contraception on development 3%, and SOP and age on development 1.5%. However, multivariate result does not show statistic significant on radius bone.
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui estimasi lama hari rawat dan total tagihan rawat inap pasien stroke hemoragik di Unit Stroke Rumah Sakit “X” Yogyakarta tahun 2011-2012. Desain penelitian yang digunakan yaitu cross sectional. Sampel dalam penelitian ini yaitu seluruh pasien di unit stroke dengan diagnosis utama stroke hemoragik yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian mendapatkan persamaan regresi untuk estimasi lama hari rawat pada pasien keluar hidup yaitu; Lama Hari Rawat = 7,046 + 0,023 (umur) + 0,935 (jenis kelamin) + 0,118 (diagnosis sekunder) + 8,024 (riwayat ICU) + 1,744 (hari keluar). Persamaan regresi untuk mengestimasi total tagihan rawat inap yaitu; Total Tagihan Rawat Inap = Rp 2.854.882 + Rp 7.810 (umur) + Rp 162.803 (diagnosis sekunder) + Rp 3.738.001 (ICU) + Rp 364.164 (lama hari rawat) – Rp 384.543 (hari masuk) + Rp 854.197 (kelas I) Rp 1.971.282 (VIP). Diharapkan hasil penelitian ini berguna bagi penderita stroke dan keluarga, manajemen rumah sakit, pihak pembayar dan para pembuat kebijakan dalam mengantisipasi dampak ekonomi dari meningkatnya kasus stroke.Beban ekonomi akibat stroke terutama karena biaya perawatan di rumah sakit semakin meningkat seiring meningkatnya kejadian stroke. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui estimasi lama hari rawat dan total tagihan rawat inap pasien stroke hemoragik di Unit Stroke Rumah Sakit “X” Yogyakarta tahun 2011-2012. Desain penelitian yang digunakan yaitu cross sectional. Sampel dalam penelitian ini yaitu seluruh pasien di unit stroke dengan diagnosis utama stroke hemoragik yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian mendapatkan persamaan regresi untuk estimasi lama hari rawat pada pasien keluar hidup yaitu; Lama Hari Rawat = 7,046 + 0,023 (umur) + 0,935 (jenis kelamin) + 0,118 (diagnosis sekunder) + 8,024 (riwayat ICU) + 1,744 (hari keluar). Persamaan regresi untuk mengestimasi total tagihan rawat inap yaitu; Total Tagihan Rawat Inap = Rp 2.854.882 + Rp 7.810 (umur) + Rp 162.803 (diagnosis sekunder) + Rp 3.738.001 (ICU) + Rp 364.164 (lama hari rawat) – Rp 384.543 (hari masuk) + Rp 854.197 (kelas I) Rp 1.971.282 (VIP). Diharapkan hasil penelitian ini berguna bagi penderita stroke dan keluarga, manajemen rumah sakit, pihak pembayar dan para pembuat kebijakan dalam mengantisipasi dampak ekonomi dari meningkatnya kasus stroke.
ABSTRACT The economic burden of stroke due primarily because of the cost of hospital care are increasing with the increasing incidence of stroke. This study aims to determine the estimated length of stay of hospitalization and the total hospitalization billings of hemorrhagic stroke patients in Stroke Unit "X" Hospital, Yogyakarta, 2011-2012. The research design used was cross-sectional. The sample in this study were all patients at the Stroke Unit with a primary diagnosis of hemorrhagic stroke who meet the inclusion criteria. The results got the regression equation for estimating length of stay is; Length of Stay = 7,046 + 0,023 (age) + 0,935 (sex) + 0,118 (secondary diagnose) + 8,024 (history in ICU) + 1,744 (day of discharge). The regression equation for estimating Inpatient Total Billings = Rp 2.854.882 + Rp 7.810 (age) + Rp 162.803 (secondary diagnose) + Rp 3.738.001 (history in ICU) + Rp 364.164 (length of stay) – Rp 384.543 (day of admission) + Rp 854.197 (class I) Rp 1.971.282 (VIP).
