Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 29724 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sri Soewasti Soesanto
MPPK Vol.IX, No.2
Jakarta : Balitbangkes Kemenkes RI, 1999
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rika Raniya; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Budi Haryanto, Windi
Abstrak: Polutan utama dari kegiatan pembakaran batubara salah satunya SO2. Sulfur dioksidia menyebabkan iritasi, batuk refleks, menyebabkan penyakit pernafasan dan gangguan daya tahan paru-paru. Penelitian ini bertujuan menganalisis pajanan SO2 di lingkungan sekitar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Suralaya yaitu pada desa Lebak Gede, Cipala Dua, Brigil, Gunung Gede, Salira Indah, dan Sumuranja dan risiko gangguan pernafasannya pada masyarakat sekitar. Penelitian ini bersifat deskriptif, dengan pendekatan cross sectional. Sampel responden diambil secara purposive sampling berdasarkan titik pengukuran udara pada setiap desa yaitu 35 orang di setiap desa. Penelitian ini dilakukan dengan metode Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) yang menggunakan nilai Rfc SO2 (0,026 mg/kg/hari), dan selanjutnya dihubungkan secara cross sectional untuk menghubungkan tingkat risiko dengan kejadian gangguan pernafasan di sekitar PLTU. Hasil ARKL menunjukkan bahwa tingkat risiko di lingkungan sekitar PLTU Suralaya yaitu pada desa Lebak Gede, Cipala Dua, Brigil, Gunung Gede, Salira Indah, dan Sumuranja masih tergolong aman karena memiliki nilai RQ dibawah 1 dalam kurun waktu lebih dari 30 tahun. Hasil analisis cross sectional menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat risiko kesehatan akibat pajanan SO2 dengan kejadian gangguan saluran pernafasan pada masyarakat di sekitar PLTU karena memiliki nilai-p yang lebih besar dari alfa.
Read More
S-10191
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Medika, No.5, Mei 1993, hal. 15-16
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kasianto; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Hendra, Asep Zaenal Muttaqien, Sari Tua Roy Nababan
Abstrak:
Proses konstruksi pembangkit listrik yang kompleks dengan banyak tenaga kerja, mesin serta material yang mudah terbakar, dan pekerjaan yang dilakukan memiliki risiko tinggi seperti pengangkatan, bekerja diketinggian, pekerjaan panas seperti pengelasan, penggerindaan, pemotongan, dan aktivitas lainnya yang memiliki risiko tinggi. Dalam pembangunannya konstruksi pembangkit Listrik PLTU X mencatat adanya kecelakaan. Data kecelakaan kerja dari awal pembangunan tahun 2021 hingga tahun 2023 yaitu tercatat 24 kejadian kecelakaan First Aid dan 15 Property Damage, dan salah satu penyebabnya adalah tindakan tidak aman. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran Iklim Keselamatan Kerja di PLTU X secara keseluruhan dan gambaran Iklim Keselamatan pada level Pekerjaan dan Personal. Desain penelitian ini adalah metode semi kuantitatif, kuesioner 58 pertanyaan kerangka Iklim Keselamatan Zou & Sunindijo dalam penelitian Fatma Lestari, et.al. 2020. Jumlah sampel dalam penelitian dihitung berdasarkan rumus Lameshow, didapatkan minimum 340 sample, responden yang mengisi questioner berjumlah 354 responden. Gambaran Iklim Keselamatan Kerja PLTU X dari 6 Dimensi Keselamatan adalah, Komitmen Manajemen mean 3,92, Komunikasi mean 3,91, Pelatihan mean 3,89, Akuntabilitas Personal mean 3,87, Peraturan dan Prosedur Keselamatan mean 3,92, Lingkungan Kerja Suportif mean 3,90. Gambaran Iklim Keselamatan level pekerjaan dan personal adalah baik, dengan nilai dari semua dimensi lebih dari >3.30. Terdapat 3 pernyataan yang mendapat jawaban “Tidak Setuju” dari beberapa responden, yaitu: Saya melaporkan orang-orang yang mengabaikan prosedur keselamatan, 23 responden. Tanggung jawab saya adalah bekerja dengan aman, termasuk melaporkan rekan kerja yang tidak bekerja denga naman, 5 responden. Ada hukuman jika berperilaku tidak aman, 14 responden. Dimensi Iklim Keselamatan dengan nilai tertinggi adalah Komitmen Manajemen, dan Peraturan & Prosedur Keselamatan. Uji Korelasi work attribute Pekerjaan menunjukkan ada korelasi/ hubungan antara Posisi dan Departemen terhadap Dimensi Komitmen Manajemen, Komunikasi, Peraturan & Prosedur Keselamatan dan Lingkungan Kerja Supportif. Sedangkan Uji korelasi/ hubungan work attribute Personal tidak ada hubungan, kecuali antara Pendidikan dan Peraturan & Prosedur Keselamatan

Power plant construction process is complex with a lot of labour, machines and flammable materials, and the work carried out has high risk such as lifting, working at height, hot work such as welding, grinding, cutting and other activities that have a high risk. During the construction of Power Plant CFSPP X record the accident occurred. Accidents data since beginning of construction to 2023 recorded 24 First Aid and 15 Property Damage accidents, and one of the causes was unsafe action. The objective of the research is to find out the overall picture of Work Safety Climate at CFSPP X and picture of Safety Climate at the Work and Personal level. The design of this research is semi quantitative method, 58 questions by Zou & Sunindijo's Safety Climate framework in research of Fatma Lestari, et, al. 2020. The number of samples in this study was calculated based on Lameshow formula, minimum of 340 samples, the number of respondents who filled out the questionnaire was 354 respondents. The description of the working Safety Climate of CFSPP X from 6 Dimension of Safety Climate are, Management Commitment mean is 3.92, Communication mean is 3,91, Training mean is 3,89, Personal Accountability mean is 3,87, Rule and Safety Procedure mean is 3,92, Supportive Environment mean is 3,90. The description of the Safety Climate at work and personal levels is good, with scores for all dimensions more than >3.30. There were 3 statements that received disagree answer from several respondents, which are: I report people who ignore safety procedures, 23 respondents, my responsibility is to work safely, including reporting colleagues who are not working safely, 5 respondents. There are punishments for unsafe behavior, 14 respondents. The Safety Climate dimension with the highest score is Management Commitment and Roles & Safety Procedure. Correlation test for work attributes Task shows that there is a correlation between position and department on the dimension Management Commitment, Rule and Procedure Safety and Supportive Environment. Meanwhile, correlation test for work attributes Personal, no correlation, except between Education and Rule and Procedure Safety.
Read More
T-7089
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alfiansah Rahadian; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Hendra, Avep Disasmita, Wahyudin Syakir
Abstrak:
Berdasarkan tinjauan literatur, terdapat hubungan antara distress kerja dengan iklim keselamatan, yang berpengaruh terhadap terjadinya kecelakaan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dimensi distress kerja terhadap iklim keselamatan. Studi cross-sectional yang dilakukan pada 152 karyawan perusahaan pembangkit listrik tenaga gas di site Prabumulih, Palembang, dan dua site Batam, pada departemen operation dan maintenance yang dipilih secara acak sebagai responden penelitian. Responden mengisi kuesioner iklim keselamatan Nordik (NOSACQ-50) dan kuesioner distress kerja NIOSH Generic Job Stress secara daring. Data dianalisis menggunakan uji statistik korelasi bivariat dan regresi linier. Gambaran iklim keselamatan perusahaaan menunjukkan hasil rata-rata 2,73 atau pada tingkatan cukup, sehingga memerlukan perbaikan pada komitmen tenaga kerja pada keselamatan dan prioritas keselamatan. Berdasarkan tingkat distress kerja, terdapat 10,53% karyawan yang memiliki tingkat distress rendah, 77,63% karyawan yang memiliki tingkat distress sedang, dan 11,84% karyawan yang memiliki tingkat distress tinggi. Analisis bivariat menunjukkan variabel distress kerja pada penilaian diri, masa depan karyawan, dan dukungan sosial, menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dengan iklim keselamatan. Analisis multivariat menunjukkan variabel distress kerja pada konflik dan ketidakjelasan peran menjadi variabel paling dominan berhubungan dengan iklim keselamatan. Untuk meningkatkan iklim keselamatan, perusahaan harus berusaha untuk mengurangi distress di tempat kerja melalui pengendalian faktor konflik dan ketidakjelasan peran.

Based on the literature review, there is a relationship between work distress and safety climate, which affects to work accidents. This study aims to determine the relationship of the dimensions of work distress to the safety climate. A cross-sectional study was conducted on 152 employees of a gas-fired power plant company at the Prabumulih site, Palembang, and two Batam sites, in the operation and maintenance department who were randomly selected as research respondents. Respondents filled out the Nordic safety climate (NOSACQ-50) and NIOSH Generic Job Stress online questionnaire. Data were analyzed using bivariate correlation statistical tests and linear regression. Company's safety climate showed an average result of 2.73 or at a sufficient level, required improvement in the commitment of the workforce to safety and safety priorities. There were 10.53% of employees who have low levels of distress, 77.63% of employees who have moderate levels of distress, and 11.84% of employees who have high levels of distress. Bivariate analysis showed that the variables of work distress on self-assessment, future work, and social support, showed a significant relationship with safety climate. Multivariate analysis showed that the variables of work distress in conflict and role ambiguity were the most dominant variables related to the safety climate. To improve safety climate, Company should strive to reduce workplace distress through controlling conflict factors and role ambiguity.
Read More
T-6454
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Duliman; Pembimbing: Zulkifli Junaidi; Penguji: Baiduri, Bambang Sulistio
Abstrak: Fatigue merupakan salah satu masalah yang sering dihadapi perusahaan terkait keselamatan dan kesehatan kerja pada perusahaan yang menerapkan sistem kerja shift. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran dan hubungan faktor-faktor penyebab fatigue dengan kejadian fatigue pada operator. Penellitian ini menggunakan desain cross sectional (potong lintang), pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner IFRC, observasi lapangan dan pengukuran langsung. Ada banyak faktor-faktor yang menyebabkan fatigue. Pada penelitian ini, ada 11 variabel independen yang diteliti. Variabel independen pada penelitian ini adalah umur, indeks massa tubuh, kejenuhan, kondisi fisik/kesehatan, jam kerja, waktu tidur, shift kerja, beban kerja dan lingkungan kerja fisik (pencahayaan, lingkungan kerja panas dan kebisingan).
Hasil penelitian didapatkan prevalensi operator yang mengalami fatigue ringan 80,4% dan fatigue sedang sebanyak 19,6%. Variabel lama jam kerja, kondisi fisik/kesehatan, waktu tidur dan shift kerja merupakan variabel yang berhubungan dengan kejadian fatigue pada analisis bivariat sedangkan variabel yang paling berpengaruh pada kejadian fatigue adalah variabel shift kerja dimana shift kerja merupakan satu-satunya variabel yang berhubungan dengan fatigue pada analisis multivariat. Responden yang bekerja shift malam mempunyai peluang 11,046 kali dibandingkan dengan responden yang bekerja shift siang.
Kata kunci : fatigue, shift kerja, kondisi fisik/kesehatan, jam kerja, waktu tidur

Fatigue is the one problem faced by company related to occupational health and safety issues, mainly in company which applies shift work system. The porpuse of the research is to figure out of fatigue prevalence in geothermal power plant operator and risk factors related to fatigue that make its occurence. The design of this study uses cross sectional method, where the datas collect by using questionnarie of international fatigue research committee (IFRC), field observation, operational data and direct measurement. There are many factors which are associated with fatigue. But in this study, there are 11 variables that is taken. They are: age, body mass index, monotonous, working hours, sleep hours, physical/health condition, shift work, work load, lighthing, temperature and noise.
The result of study shows the prevalence of operator that is light fatigue 80,4% and medium fatigue 19,6%. The variable independent which is related to fatigue are working hours, physical/health condition, sleep hours and shift work (the result from analysis bivariate). In multivariate analysis the variable that is significant influencing of fatigue occurence is shift work with the odd ratio 11,04. It means the workers who work on night shift has opportunity to being fatigue 11,045 times compare to workers who work on day shift.
Key Word : fatigue, shift work, working hours, physical/health condition, sleep hours.
Read More
T-5053
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andhika Yudiaji; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Dadan Erwandi, Yuni Kusminanti
S-6214
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhyidin; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Mila Tejamaya, Hendra, Elsye As Safira, Tomi Wahyu Hadi
Abstrak: Tesis ini membahas analisis kebisingan kerja di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi dan hubungannya dengan tekanan darah dan risiko hipertensi pada pekerja. Desain penelitian dengan metode cross-sectional menggunakan data primer (usia, jenis kelamin, masa kerja, kebiasaan merokok, penggunaan APT, dan stres) menggunakan kuesioner dan data sekunder (intensitas kebisingan, indeks massa tubuh, diabetes, kolesterol total, LDL / low density lipoprotein, dan tekanan darah pekerja) yang diperoleh dari PT XYZ. Sebanyak 101 pekerja berpartisipasi dalam penelitian ini dengan purposive sampling sesuai similar exposure group (SEG). Uji analisis Mann-Whitney dan Chi Square digunakan untuk melihat hubungan antara variabel dependen dan variabel independen. Intensitas kebisingan diukur menggunakan noise dosimeter selama 8 jam kerja.

Hasil penelitian menunjukkan pekerja yang terpajan kebisingan >80 dBA memiliki tekanan darah dan prevalensi hipertensi yang lebih tinggi dibandingkan pekerja yang terpajan kebisingan ≤80 dBA. Pekerja yang terpajan kebisingan >80 dBA memiliki tingkat risiko terkena hipertensi lebih tinggi dengan OR = 3,19 dibandingkan dengan pekerja yang terpajan kebisingan ≤80 dBA. Tidak ada hubungan antara intensitas kebisingan dengan tekanan darah dan hipertensi. Akan tetapi terdapat kecenderungan dosis-respon antara intensitas kebisingan dengan tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik dan hipertensi
Read More
T-6326
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
305.3 WID u
[s.l.] : Depok: UI-Press, 2009, s.a.]
Kumpulan Daftar Isi Buku   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Warta Kesehatan Kerja, vol.5, No.2, Mei, 2008, hal. 8-10
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive