Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 6208 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Haryadi Suparto
MPPK Vol.IX, No.2
Jakarta : Balitbangkes Kemenkes RI, 1999
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ni Putu Sri Wahyuni; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Sri Tjahyani Budi Utami, Retno Maharsi
S-8141
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Etisa Adi Murbawani, Darmono SS, Hartanto Wahyu Subagio
MMI-Vol.41/No.2
Semarang : Undip, 2006
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Etisa Adi Murbawani, Darmono SS, Hertanto Wahyu Sugabio
MMI-Vol.41/No.2
Semarang : Undip, 2006
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Warta Demografi, Ke-34, No.1, 2004, hal. 6-16, ( Cat. ada di bendel 2003-2005 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alifiati Fitrikasari, Ismet Yusuf
MMI-Vol.42/No.1
Semarang : Undip, 2007
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Febi Susanti; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Anhari Achadi, Wachyu Sulistiadi, Retno Maharsi, Indra Rachmad Dharmawan
Abstrak: Pemanfaatan pelayanan proram UKGM dipengaruhi oleh perilaku ibu dan pengelolaan program oleh Puskesmas. Karies masih termasuk dalam sepuluh penyakit terbesar dan cakupan pembinaan kesehatan gigi di masyarakat masih rendah yaitu 19,6 %. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemanfaatan program UKGM oleh ibu yang memiliki anak usia 2 sampai 5 tahun di Posyandu Kecamatan Medan Satria Kota Bekasi. Penelitian ini adalah penelitian sekuensial eksplanatori (mixed methods) dengan desain cross sectional dan jumlah sampel 400 responden. Untuk menggali lebih mendalam permasalahan rendahnya pemanfaatan program UKGM, penelitian ini dilengkapi dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam kepada manajemen puskesmas dan diskusi kelompok terarah kepada kader posyandu mengenai permasalahan yang ada. Berdasarkan hasil penelitian kuantitatif, pekerjaan, dukungan keluarga dan kebutuhan perawatan gigi dan mulut anak merupakan variabel yang berhubungan dengan pemanfaatan program UKGM di posyandu. Sedangkan sikap, dukungan keluarga dan kebutuhan perawatan gigi dan mulut anak merupakan variabel paling signifikan dalam pemanfaatan program UKGM di posyandu. Berbeda dengan hasil pendekatan kualitatif yang memperlihatkan bahwa justru fasilitas yang lebih mempengaruhi pemanfaatan program UKGM. Selain itu monitoring dan evaluasi belum dilakukan secara rutin. Rekomendasi pada penelitian ini adalah diharapkan untuk melengkapi fasilitas terutama alat peraga penyuluhan dan alat periksa gigi (diagnostic set), memberikan pelatihan UKGM pada kader posyandu serta melakukan monitoring setiap bulan dan evaluasi setiap tiga bulan sekali
Read More
T-5731
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
R. Hartono, Dwi Rahmawati H.
616.2 HAR i
Yogyakarta : Nuha Medika, 2012
Buku (pinjaman 1 minggu)   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Reny Ayu Damayanti; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Yaslis Ilyas, Nurahmiati, Zakaria
Abstrak:
Kolaborasi interprofesional melibatkan berbagai profesi kesehatan secara bersama-sama berkumpul untuk menyediakan layanan komprehensif dengan bekerja bersama pasien, keluarga mereka, dan masyarakat untuk memberikan perawatan dengan kualitas terbaik. Nusantara Sehat (NS) berbasis tim dikirimkan untuk memberikan penguatan pelayanan kesehatan dasar perlu menerapkan kolaborasi interprofesional. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan faktor riwayat pendidikan interprofesional (IPE), pemahaman peran profesi dan kohesivitas tim dengan kolaborasi interprofesional setelah variabel jenis kelamin, jenis profesi; lama/pengalaman bekerja; dan usia responden dikendalikan. Desain penelitian yang digunakan adalah metode campuran dengan pendekatan sequensial explanatory, jumlah sampel 301 responden diambil dengan menggunakan Total Sampling. Analisis data menggunakan Uji Chi Square dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara peran profesi (p value=0,032) dan kohesivitas tim (p value=0,0001) dengan kolaborasi interprofesional. Setelah dikontrol variabel usia responden yang memiliki kohesivitas tim baik berpeluang 14 kali lebih besar melakukan kolaborasi interprofesional, dan pemahaman peran baik berpeluang 2 kali lebih besar melakukan kolaborasi interprofesional. Rekomendasi dari penelitian ini diperlukan suatu payung hukum yang mengikat terkait penerapan IPC di Indonesia; perlu penguatan pendidikan interprofesional (IPE) di institusi pendidikan; peningkatan efektivitas pelayanan kesehatan dengan mendorong penugasan tenaga kesehatan berupa tim-tim kesehatan yang berkerja secara kolaboratif dan memiliki kohesivitas yang kuat; perlu mendorong terlaksananya koordinasi lintas organisasi profesi, kementerian, lembaga dalam membudayakan kolaborasi interprofesional dalam pelayanan kesehatan di Indonesia.

Nusantara Sehat (NS) team, whom practices interprofessional collaboration, in the future predicted as a solution of retention and deficiency problems of health professional in remote areas. This study aims to determine the perception and relationship of various factors with interprofessional collaboration. Mixed methods research design with explanatory sequential, samples using total sampling. Data were obtained from the Collaborative Practice Assessment Tool (CPAT) questionnaire and through interviews. There were 301 responses that eligible. The CPAT mean score was 264 from maximum value 318. Continued in-depth interviews with 8 informants from various health professions. Data analysis with Chi Square Test and multiple logistic regression, and compiling a matrix. The results showed that there was a relationship between the role of the profession (p value = 0.032) and team cohesiveness (p value = 0.0001) with interprofessional collaboration. The multivariate results, after controlling confounder, respondents who had good cohesiveness were 14 times more likely to do interprofessional collaboration, and roles had 2 times greater chance of doing interprofessional collaboration. Conclusion: regulations about IPC in Indonesia have not been drafted yet, IPE in Indonesia needs strengthening, encouraging the collaborative and cohesive health teams, it’s necessary to encourage coordination across professional organizations, educational institutions and government.

Read More
T-5846
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zainul Bakri, Syahrudji Naseh
MPPK Vol.IV, No.3
Jakarta : Balitbangkes Kemenkes RI, 1994
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive