Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 10857 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rachmat Hargono
LP 613.943 HAR s
Surabaya : FK Unair, 1985
Laporan Penelitian   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
A. Latief Tjokke
LP 613.943 TJO s
Ujung Pandang : FKM Unhas, 1985
Laporan Penelitian   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Djoto Ginting
LP 613.943 GIN s
Medan : USU, 1985
Laporan Penelitian   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wynda Puspa Azalea; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: R. Sutiawan, Toha Muhaimin, Omas Bulan Rajagukguk
T-3198
Depok : FKM UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nani Muliyani; Pembimbing: Toha Muhaimin
S-3471
Depok : FKM UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kurniawati; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Fitra Yelda, Rahmadewi
Abstrak: Prevalensi pengguna kontrasepsi modern penting ditingkatkan dalam upayamenurunkan Angka Fertilitas Total. Akan tetapi, angka nasional prevalensipengguna kontrasepsi modern belum mencapai target dengan disparitas yangtinggi antar provinsi. Dalam upaya menurunkan disparitas tersebut, dibutuhkaninformasi berbasis wilayah sesuai dengan faktor-faktor penentunya untukmendapatkan kebijakan spesifik. Faktor-faktor tersebut digambarkan dari sisipengguna dan penyelenggara program KB. Penelitian deskriptif ini menggunakandesain studi crosssectional dengan data sekunder agregat tingkat provinsi darilaporan rutin BKKBN dan BPS serta SDKI 2012. Hasil segmentasi didapatkan 4segmen optimal dan segmen 4 dipilih sebagai segmen prioritas dalam upayamenurunkan disparitas prevalensi pengguna kontrasepsi modern.
Kata Kunci:segmentasi, prevalensi pengguna kontrasepsi modern, disparitas
The prevalence of modern contraceptive users is important to be increased inorder to reduce the Total Fertility Rate. However, the national prevalence rate ofmodern contraceptive users has not reached the target with a high disparity interprovince. In an effort to decrease the disparity, region based information isrequired in accordance with influencing factors that described in terms of demandand supply of family planning program to get specific policies. This descriptivestudy used a cross-setional study design and secondary data aggregate atprovincial level from BKKBN and BPS routine reports and IDHS 2012. Theprovincial segmentation results in 4 segments as the number of optimal segmentand segment 4 as the priority in effort to decrease the disparity.
Key Words:Segmentation, Contraceptive Prevalence Users, Disparity
Read More
S-8216
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Berita Epidemiologi, Juni 1993, hal. 1-9. ( ket. ada di bendel 1993 - 1994 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amran Julianto Tanesib; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Sutanto Priyo Hastono, Dakhlan Choeron, Intje Picauly
Abstrak:
Stunting merupakan masalah gizi kronis yang determinannya dapat bervariasi antarwilayah. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan determinan stunting pada wilayah dengan prevalensi stunting tinggi dan rendah di Indonesia menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Penelitian ini menggunankan desain cross-sectional. Analisis data dilakukan menggunakan regresi logistik multivariat yang dipisahkan berdasarkan kategori prevalensi wilayah, dengan pelaporan adjusted odds ratio (AOR) dan interval kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berat lahir rendah (<2500 gram) merupakan determinan yang konsisten pada kedua wilayah. Pada wilayah prevalensi tinggi, kejadian stunting berhubungan signifikan dengan jenis kelamin laki-laki (AOR = 1,36; 95% CI: 1,07-1,72), usia anak 12-23 bulan (AOR = 2,34; 95% CI: 2,25-2,46), berat lahir rendah (AOR = 2,30; 95% CI: 1,52-3,50), konsumsi tablet tambah darah (TTD) <90 tablet selama kehamilan (AOR = 1,51; 95% CI: 1,18-1,94), serta status sosial ekonomi terbawah (AOR = 2,83; 95% CI: 1,84-4,37). Pada wilayah prevalensi rendah, stunting dikaitkan dengan berat lahir rendah (AOR = 3,61; 95% CI: 1,07-12,17) dan pendidikan ibu tingkat SMP (AOR = 4,22; 95% CI: 1,60-11,17). Penelitian ini menunjukkan bahwa determinan stunting bersifat kontekstual sesuai tingkat prevalensi wilayah. Pada wilayah prevalensi tinggi, stunting dipengaruhi oleh kombinasi faktor biologis anak, kondisi sosial ekonomi, dan gizi ibu selama kehamilan, sedangkan pada wilayah prevalensi rendah stunting lebih bersifat selektif.

Stunting is a chronic nutritional problem whose determinants may vary across regions. This study aimed to analyze differences in the determinants of stunting between areas with high and low stunting prevalence in Indonesia using data from the 2023 Indonesia Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia/SKI). A cross-sectional study design was employed. The analysis was conducted using multivariable logistic regression stratified by regional prevalence category, with results reported as adjusted odds ratios (AOR) and 95% confidence intervals (CI). The results showed that low birth weight (<2500 grams) was a consistent determinant in both regions. In high-prevalence areas, stunting was significantly associated with male sex (AOR = 1.36; 95% CI: 1.07-1.72), child age 12-23 months (AOR = 2.34; 95% CI: 2.25-2.46), low birth weight (AOR = 2.30; 95% CI: 1.52-3.50), consumption of fewer than 90 iron tablets during pregnancy (AOR = 1.51; 95% CI: 1.18-1.94), and the lowest socioeconomic status (AOR = 2.83; 95% CI: 1.84-4.37). In low-prevalence areas, stunting was associated with low birth weight (AOR = 3.61; 95% CI: 1.07–12.17) and maternal education at the junior secondary school level (AOR = 4.22; 95% CI: 1.60-11.17). The findings indicate that the determinants of stunting are contextual and vary according to regional prevalence levels. In high-prevalence areas, stunting is influenced by a combination of child biological factors, socioeconomic conditions, and maternal nutritional status during pregnancy, whereas in low-prevalence areas, stunting appears to be more selective in nature.
Read More
T-7505
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eska Riyanti Kariman; Pembimbing: Budi Utomo, Besral; Penguji: Sabarinah B Prasetyo, Murtiningsih, Indra Supradewi
Abstrak:

Tingkat pemakaian kontrasepsi pil di kalangan wanita PUS cukup tinggi, hal itu terlihat dari data pemakaian kontrasepsi pil hasil SDKI 2002103 sebesar 13,2 % . Tingginya prevalensi pemakaian kontrasepsi pil tersebut tidak dibarengi dengan tingginya tingkat kelangsungan pemakaian, hasil SDKI 1997 tercatat 34 % pemakai pit tidak menggunakan lagi setelah sate tahun_ Angka putus pakai (drop out) pil ini merupakan yang kedua tertinggi setelah kondom. Tingkat kelangsungan pemakaian kontrasepsi pil arnat dipengaruhi oleh kedisiplinan dan kepatuhan akseptor dalam memakainya. Hal tersebut dimungkinkan bila akseptor memiliki pengetahuan dan informasi yang cukup yang dapat diperoleh melalui konseling yang dilakukan oleh petugas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konseling kontrasepsi dengan tingkat kelangsungan pemakaian kontrasepsi pil. Data yang digunakan adalah data sekunder SDKI 2002103. Disain penelitian adalah crossectional dengan kajian statistik analisis survival. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tingkat kelangsungan pemakaian kontrasepsi pil adalah 31 bulan dengan median survivalnya 37 bulan. Probabilitas kelangsungan pemakaian kontrasepsi pil setelah bulan ke-12 adalah 62 % dan probabilitas kelangsungan setelah bulan ke-60 adalah 31 %. Probabilitas kelangsungan pernakaian kontrasepsi pil setelah bulan ke-12 pads kelompok yang mendapat konseling kontrasepsi adalah 66%, sedangkan pada kelompok yang tidak mendapatkan konseling kontrasepsi 56 %. Risiko untuk putus pada akseptor pil yang tidak mendapatkan konseling adalah 1.6 kali bila bertempat tinggal dikota dan 1.5 kali bila tinggal didesa. Risiko untuk putus pada akseptor pil yang tidak konseling adalah 1.6 kali bila tidak ada efek camping dan menjadi 2 kali bila ada efek samping. Tingginya risiko putus pemakaian kontrasepsi pil di wilayah perkotaan perlu mendapatkan perhatian dari pengelola program Keluarga Berencana. Dugaan sementara hal ini dijumpai didaerah kota pinggiran atau daerah kumuh, untuk itu kegiatan konseling kontrasepsi yang lebih intensif terkait dengan akseptor di daerah tersebut hares ditingkatkan misalnya melalui kunjungan petugas yang lebih sering ke rumah diharapkan dapat menurunkan risiko putus pakai. Kegiatan konseling pada prinsipnya dilakukan untuk mengurangi kekhawatiran akseptor akan efek sarnping yang ditimbulkan kontrasepsi selama pemakaiannya.


Prevalence of pill contraception used among reproductive woman are high, it can seen at SDKI 2002/03 which is about 13,2 %. This height prevalence is not followed with the-continuity rate, only 34 % of women still used pill contraception within 12th month recorded in SDKI 1997. This rate as highest secondly after condom. The pill contraception continuity rate is influenced by discipline and compliance of acceptor in using it.That things is possible when acceptor have enough knowledge and information about contraception usage which they can get it from councelling by family planning officer. This study is aimed to gain information on relationship of contraception counselling with the period of time pills uses. This study uses secondary data SDKI 2002/03. Study design used is crossectional with statistical survival analysis. The result study shows that mean of pill contraception continuity rate are 31 month with median survival are 37 month. The Probabilities of pills continuity rate after 12th month are 62 percent and probabilities of pills continuity rate after 60th month are 31 percents. Probabilities of pills continuity rate after 12'h month in whom that receive counsellings are 66 percents, men while the group whom that not receive counselling only 56 percent. The risk of drop out among the pills acceptbr whom that not receive counsellings are 1,6 times if they lives at the city and 1,5 times if they lives at the village. The risk of drop out pills among acceptor whom that not receive counsellings are 1,6 times if they not have side effect and it can be 2 times if they have side effects. The height risk of drop out pills among acceptors in urban region need to get more attentions from the organizer of family planning program. Momentary, assumption whereas this matter is met in marginal town area or slum region, for that more intensive program of counselling contraception related to acceptor in the are, for example more regular follow up to the acceptors whom lives at this area and had side effect. The principle of counseling is to lessen the worried feeling of the acceptor with the side effects generated by contraception during its usage.

Read More
T-2280
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Isfandari ... [et al.]
Bulitkes Vol.44, No.1
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 2016
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive