Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37151 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Zaidina Umar
KJKMN Vol.2, No.6
Depok : FKM UI, 2008
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zaidina Umar; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Yovsyah, Sri Tjahjani Budi Utami, Yullita Evarini Y., Dartini
Abstrak:

Penyakit kecacingan yang ditularkan melalui tanah (Soil Transmitted Helminths) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting, terutama di negara sedang berkembang atau negara miskin di seluruh dunia. Di Indonesia penyakit cacingan tersebar luas baik di pedesaan maupun di p.er!cotaan deligan prevalensi sekitar 60%-80"/o pada murid SD dan 40%-60% untuk semua umur (Ditjen?PPM & PL, 1998). Kecacingan berdampak cukup luas pada masyarakat terutarna pada anak-anak, antara lain malnutrisi, anemia, menurunkan daya tahan tubuh, menghambat perkemhangan fisik, mental, kemunduran intelektual dan produktifitas kelja. Hasil survei kecacingan Depkes RI pada lO propinsi di Indonesia, prevalensi kecacingan di Kab. Pesisir Selatan lebih tinggi di banding kabupaten lain yaitu 85,8% tahun 2003 dan 51,4% tahun 2005 (Depkes RI, 2005). Tingginya angka infeksi kecacingan antara lain tergantung pada kebersihan diri, sanitasi lingkungan dan kebiasaan penduduk yang menujang transmisi. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan perilaku cuci tangan sebelum makan memakai air dan sabun dengan kejadian kecacingan (A.lumbricoides & T.trichiura) pada murid kelas 3 s/d 5 SD 28 & 34 Kec. Bayang dan SD 19 & 22 Kec. IV Jurai Kab. Pesisir Selatan. Penelitian ini merupakan studi epidemiologi dengan desain cross sectional, menggunakan data sekunder yang berasal dari basil survei kecacingan Depkes RI tahun 2005, jumlah sampel sebanyak 257 murid kelas 3 s/d 5 SD 28 & 34 Kec. Bayang dan SD 19 & 22 Kec. IV Jurai Kab. Pesisir Selatan. Diagnosis penyakit kecacingan berdasarkan status laboratoris dengan cara pemeriksaan telur cacing pada tinja menggunakan metode Katto-Katz. Variabel yang diteliti diukur dengan metode wawancara dan observasi menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukan perilaku cuci tangan sebelum makan memakai air dan sabun terbukti mempunyai hubungan bermakna secara statistik dengan kejadian kecacingan (A.lumbricoides & T.trichiura), murid yang tidak cuci tangan sebelum makan memakai air dan sabun berisiko 2,35 kali lebih besar terinfeksi kecacingan dibandingkan dengan murid yang melakukan cuci tangan sebelum makan memakai air dan sabun (OR=2,35, 95% CI=1,40-3,94), variabel lain yang berhubungan bermakna secara statistik dengan kejadian kecacingan adalah perilaku BAB tidak dijamban dengan nilai OR sebesar 2,64 (95% CI=l,46-4,77) dan perilaku jajan tidak di warung sekolah dengan nilai OR sebesar 1,96(95%CI=l,06-3,65). Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan bahwa untuk mengurangi risiko infeksi kecacingan diharapkan kepada murid-murid SD dan masyarakat umumnya dapat membiasakan diri cuci tangan sebelum makan dengan air dan sabun, dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit kecacingan disamping upaya pengobatan perlu melakukan penyuluhan kesehatan tentang PHBS, meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat pada murid dengan melakukan pemeriksaan berkala terhadap perilaku dan kebersihan diri murid di sekolah.


Soil Transmitted Helmiths (STH) infection were still constitute an important public health problem, particularly in poor and development country at worldwide. In Indonesia, helminth infection spread at rural and also at urban community by prevalence about 60% - 80% at elementary school (SD) and about 49%-60"/o for all age (Ditjen PPM&PL, 1998). Helminths impacted enough extensively on society especial!y for children for example malnutrition, anemia, slower physic and mentally growth, degrading intellectual and working productivity. Helmiths survey result by Depkes RI at I0 provinces in Indonesia, Helminths prevalence. at Pesisir Selatan district is higher compared to another district which was 85, 8 % on 2003 and 51,4 on 2005 (Depkes RI, 2005). In height helmints infections number is depend on personal hygiene, environmentally sanitation and resident habitual which are support the transmission. The objective of the result to know relationship between hand washing behaviour before eating uses water and soap with helminths occurrence (A.lumbricoides & T.trichiura) at class 3 until 5 student of SD 28 & 34 Bayang sub-district and SD 19 and 22 IV Jurai sub-district Pesisir Selatan district. This research represent epidemiology study with cross sectional design, utilizing secondary data yielding from helminths survey of Depkes RI on 2005, total sample 257 students class 3 until 5 student of SD 28 & 34 Bayang sub-district and SD 19 and 22 IV Jurai sub-district Pesisir Selatan district. Helminths disease diagnose bases on laboratory state by inspection of helminth eggs 011 human feces utilizes Katto-Katz methods. Checked variable measured with interview method and observed use questioners. Research result showing hand washing behaviour before eating uses water and soap has a meaning statistically with helminths occurrence (A.lumbricoides & T.trichiura), student that doesn't wash hand out before eating uses water and soap has risk are 2,35 times greater to get helminths infected compared with student which has wash hands before eating uses water and soap (OR= 2,35, 95% CI = 1,40-3,94), other variable has statistically meaning related with helminths occurrence is defecation (BAB) behavior not at the toilet with OR value 2,64 (95% CI=1,46-4;77) and eating snacks I small shop at school with OR value 1,96 (95% CI=1,06-3,65). Bases on observationally result therefore suggested to reduce helminths infection risk is expected to elementary school student and society generally can familiarize to hand washing before eating with water and soap, in order prevention and eradication helminths disease beside cure effort needs to do health counseling about PHBS, increasing clean life style and health on student by undertaking check periodically to behaviour and personal hygiene student at school.

Read More
T-2506
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Telly Purnamasari Agus; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Lukman Waris, Agus Handito
T-3101
Depok : FKM-UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hendrawati; Pembimbing: Zulazmi Mamdy; Penguji: Ella Nurlaella Hadi, Noor Edi Widya Sukoco
S-4622
Depok : FKM UI, 2006
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Umar Firdaus
BPK Vol.33, No.3
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 2005
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rina Nurjanah; Pembimbing: Adi Sasongko; Penguji: Ella Nurlaela Hadi, Tien Mutiarsah
S-5914
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rina Nurjanah; Pembimbing: Adi Sasongko; Penguji: Ella Nurlaela Hadi, Tien Mutiarsah
S-5914
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahmi Lisdeni; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Ema Hermawati, Laila Fitria, Yulia Fitria Ningrum, Darwel
Abstrak:
Salah satu fokus program pembangunan kesehatan di Indonesia saat sekarang merupakan stunting. Stunting adalah kegagalan pertumbuhan dan perkembangan karena multifaktor diantaranya sanitasi lingkungan yang buruk, asupan gizi kurang, penyakit infeksi, dll yang ditandai dengan tinggi atau panjang badan tidak sesuai dengan umurnya (TB/U20%). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor risiko kejadian stunting pada balita yang dikaitkan dengan sanitasi lingkungan dan asupan gizi pada Balita 6-59 bulan di Wilayah Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat pada Tahun 2023. Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 189 sampel. Analisis data dilakukan dengan SPSS yaitu analisis univariat Distribusi Frekuensi, Analisis bivariate (Chi-square) dan analisis multivariat (regresi logistik). Terdapat hubungan yang bermakna antara variabel-variabel sanitasi lingkungan dan asupan gizi dengan kejadian stunting pada balita yaitu variabel perilaku BABS, variabel perilaku CTPS, variabel Pengolahan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAM-RT), variabel sarana dan kepemilikan jamban dan variabel asupan zat gizi. Semua variabel sanitasi lingkungan dan asupan gizi yang diteliti merupakan faktor risiko kejadian stunting pada balita karena memiliki OR>1 Sedangkan variabel yang paling besar pengaruhnya yaitu variabel CTPS. Terdapat faktor risiko sanitasi lingkungan dan asupan gizi terhadap kejadian stunting pada balita. Dan disarankan kepada Puskesmas dan Dinas Kesehatan untuk melakukan pemberantasan stunting dengan pemicuan STBM dan peningkatan asupan memberikan edukasi kepada ibu balita serta ibu hamil untuk memakan makanan beragam, bergizi dan seimbang serta meningkatkan pemberian PMT pada balita terutama PMT lokal bernilai gizi yang banyak di wilayah tersebut seperti Ikan. Perlu peningkatan kerjasama lintas sektor untuk memberantas faktor risiko sanitasi lingkungan yang buruk dan asupan gizi yang kurang pemicu stunting. Kata kunci: Stunting, balita 6-59 bulan, sanitasi lingkungan, asupan gizi, Batangkapas .

One of the current focuses of health development programs in Indonesia is stunting. Stunting is failure of growth and development due to multiple factors including the poor environmental sanitation, the inadequate nutritional intake, the infectious diseases, etc. which is characterized by height or body length that is not appropriate for age (TB/U 20%). The goal of the research is ttg=termine the risk factors for stunting in toddlers which are associated with environmental sanitation and nutritional intake in toddlers 6-59 months . The design of this research is cross sectional with a total sample of 189 samples. Data analysis was carried out using SPSS, namely Frequency Distribution univariate analysis, bivariate analysis (Chi-square) and multivariate analysis (logistic regression). There is a significant relationship between environmental sanitation variables and nutritional intake and the incidence of stunting in toddlers, namely the behavioral variable of ODF, the behavioral variable of CTPS, home food and drink processing (PAM-RT) variable, latrine ownership variable and nutrient intake variable. All environmental sanitation and nutritional intake variables studied are risk factors for stunting in toddlers because they have OR> 1. Meanwhile, the variable with the greatest influence is the CTPS variable. There are risk factors for environmental sanitation and nutritional intake in the incidence of stunting among toddlers. And it is recommended that the Community Health Center and Health Service eradicate stunting by triggering STBM and increasing intake. education for mothers of toddlers and pregnant mothers to eat diverse, nutritious and balanced food and increase the provision of PMT to toddlers, especially local PMT with nutritional value which is abundant in the region, such as fish. There is a need to increase cross-sector collaboration to eradicate the risk factors of poor environmental sanitation and inadequate nutritional intake that trigger stunting.
Read More
T-6884
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Akmar Azmi; Pembimbing: Anwar Hasan; Penguji: Tri Krianto, Bahnan
S-4088
Depok : FKM UI, 2005
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive