Ditemukan 839 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Tiara
MJKI No.9
Jakarta : Grafiti Medika Pers, 2008
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Tiara
MJKI No.10
Jakarta : Grafiti Medika Pers, 2008
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Tiara
MJKI No.11
Jakarta : Grafiti Medika Pers, 2008
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hidayati
MJKI No.4
Jakarta : Grafiti Medika Pers, 2011
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nurul Rakhmawati; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Anhari Achadi, Puput Oktamianti, Mursyid Bustami, Andi Basuki Prima Birawa
Abstrak:
Clinical Pathway (CP) merupakan perangkat alat multidisiplin ilmu yang digunakan untuk perawatan kesehatan berbasis bukti (evidence based). CP memiliki fungsi menyeragamkan terapi sehingga mampu meminimalkan komplikasi dan kesalahan pengobatan. Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON) merupakan rumah sakit rujukan otak dan persarafan nasional. Stroke perdarahan menjadi penyakit kedua tertinggi di RS.PON. Keberagaman keputusan dilakukannya operasi atau tidak, meskipun sudah masuk indikasi, menjadi poin penting untuk menganalisis implementasi pelaksanaan Clinical Pathway ini.
Tujuan penelitian: menilai implementasi CP stroke perdarahan yang telah dijalankan sehingga diharapkan mampu menjadi dasar penentu kebijakan rumah sakit jejaring maupun rumah sakit seluruh Indonesia. Menilai hubungan antara variabel-variabel dalam clinical pathway terhadap Length of Stay (LOS), morbiditas dan mortalitas
Metode: Penelitian ini menggunakan metode mixed method, dengan pendekatan retrospektif. Dalam penelitian kuantitatif dilakukan analisis univariat dan multivariat, dimana menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien stroke perdarahan yang dirawat di RS PON pada januari 2020 - Desember 2021. Dari total populasi 1254 pasien setelah dilakukan kriteria inklusi dan inklusi didapatkan 1001 pasien. Penelitian kuantitatif, dilakukan dengan menganalisis pengaruh implementasi CP terhadap lama hari rawat, morbiditas (nilai NIHSS) dan mortalitas. Faktor risiko dan efek atau penyakit yang terjadi di masa lampau diukur melalui catatan historis. Sementara pengumpulan data secara kualitatif menggunakan kuisioner dan wawancara secara mendalam kepada Kepala Bidang Pelayanan Medis, Kepala Komite Medis, Kepala Komite Keperawatan, Kepala Divisi Vaskular, Dokter Spesialis Neurologi, Dokter Spesialis Bedah Saraf, Dokter IGD, Perawat, Fisioterapi, Terapi wicara, Gizi dan Farmasi untuk mengetahui tahapan proses Clinical Pathway di RS PON. Total responden 129 orang. Penelitian kualitatif menilai pengetahuan tenaga medis dan paramedis terkait CP, implementasi, supervisi, monitoring dan evaluasi.
Hasil: penelitian kuantitatif menemukan adanya hubungan antara beberapa variabel yang berada dalam CP, seperti pemeriksaan penunjang, terapi sesuai indikasi dan penyakit komorbid terhadap LOS, morbiditas dan mortalitas. Sementara pada penelitian kualitatif menilai implementasi CP di RS PON memerlukan perbaikan dari segi sosialisasi, implementasi, monitoring dan evaluasi.
Kesimpulan: Implementasi CP berhubungan dengan outcome klinis pasien stroke perdarahan.
Read More
Tujuan penelitian: menilai implementasi CP stroke perdarahan yang telah dijalankan sehingga diharapkan mampu menjadi dasar penentu kebijakan rumah sakit jejaring maupun rumah sakit seluruh Indonesia. Menilai hubungan antara variabel-variabel dalam clinical pathway terhadap Length of Stay (LOS), morbiditas dan mortalitas
Metode: Penelitian ini menggunakan metode mixed method, dengan pendekatan retrospektif. Dalam penelitian kuantitatif dilakukan analisis univariat dan multivariat, dimana menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien stroke perdarahan yang dirawat di RS PON pada januari 2020 - Desember 2021. Dari total populasi 1254 pasien setelah dilakukan kriteria inklusi dan inklusi didapatkan 1001 pasien. Penelitian kuantitatif, dilakukan dengan menganalisis pengaruh implementasi CP terhadap lama hari rawat, morbiditas (nilai NIHSS) dan mortalitas. Faktor risiko dan efek atau penyakit yang terjadi di masa lampau diukur melalui catatan historis. Sementara pengumpulan data secara kualitatif menggunakan kuisioner dan wawancara secara mendalam kepada Kepala Bidang Pelayanan Medis, Kepala Komite Medis, Kepala Komite Keperawatan, Kepala Divisi Vaskular, Dokter Spesialis Neurologi, Dokter Spesialis Bedah Saraf, Dokter IGD, Perawat, Fisioterapi, Terapi wicara, Gizi dan Farmasi untuk mengetahui tahapan proses Clinical Pathway di RS PON. Total responden 129 orang. Penelitian kualitatif menilai pengetahuan tenaga medis dan paramedis terkait CP, implementasi, supervisi, monitoring dan evaluasi.
Hasil: penelitian kuantitatif menemukan adanya hubungan antara beberapa variabel yang berada dalam CP, seperti pemeriksaan penunjang, terapi sesuai indikasi dan penyakit komorbid terhadap LOS, morbiditas dan mortalitas. Sementara pada penelitian kualitatif menilai implementasi CP di RS PON memerlukan perbaikan dari segi sosialisasi, implementasi, monitoring dan evaluasi.
Kesimpulan: Implementasi CP berhubungan dengan outcome klinis pasien stroke perdarahan.
B-2268
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Umi Kulsum; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Ede Surya Darmawan, Adang Bachtiar, Andi Basuki Prima B., Ari Purwohandoyo
Abstrak:
Konsep green hospital merupakan manajemen perubahan yang menjadi kebutuhan di rumah sakit yang dapat mengurangi konsumsi energi secara signifikan, meningkatkan kenyamanan dan produktivitas dan menjaga kelestarian sumber daya alam berkelanjutan Dalam memberikan pelayanan kesehatan, Rumah sakit menggunakan sejumlah energi baik listrik, air, bahan bakar, makanan pasien dan bahan bangunan. Selain itu, rumah sakit juga memproduksi limbah medis dan non medis. Hal tersebut dapat menjadi kontribusi terhadap perubahan iklim apabila tidak dikelola dengan baik. Penelitian ini menilai kesiapan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta yang mengacu pada standar nasional Greenship Green Building Council Indonesia (GBCI). Penelitian ini adalah sebuah studi kasus dengan menggunakan pendekatan metoda penelitian kualitatif dengan melakukan observasi untuk mengamati dan menelaah berbagai objek dalam penelitian, melakukan pengukuran dan mengisi ceklis pada instrumen/tools. Dari hasil penelitian diketahui bahwa RSPON baru dapat memenuhi total nilai nilai 58 atau 49,57% dari maksimal 117 nilai dari total kriteria yang dipersyaratkan dalam Greenship. Berdasarkan perolehan nilai tersebut maka sesuai dengan peringkat Greenship GBCI, gedung RSPON mendapatkan peringkat Silver (Perak). Untuk memperbaiki peringkat, masih dapat dengan cara menyediakan parkir sepeda, menambah luasan ruang terbuka hijau (RTH), recommissioning, pemasangan sistem pemantauan energi, melakukan daur ulang sampah organic, melakukan daur ulang air olahan IPAL melakukan konservasi air bersih, mencoba menggunakan teknologi panel surya (solar cell) serta mengintegrasikan efisiensi energi ke dalam program pemeliharaan
The green hospital concept is a change management that is a necessity in hospitals that can significantly reduce energy consumption, increase comfort and productivity and preserve sustainable natural resources. In providing health services, hospitals use a number of energy, including electricity, water, fuel, patients food and building materials. In addition, hospitals also produce medical and non-medical waste. This can be a contribution to climate change if it is not managed properly. This study assesses the readiness of Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono National Brain Center Hospital Jakarta which refers to the national standard of Greenship Green Building Council Indonesia (GBCI). This research is a case study using a qualitative research method approach by making observations to observe and examine various objects in the study, take measurements and fill out checklists on the instruments/tools. From the research results, it is known that the new RSPON can meet the total value of 58 or 49,54% of the maximum 117 values of the total criteria required in Greenship. Based on the acquisition of these values, in accordance with the GBCI Greenship rating, the RSPON building received a Silver rating. To improve the ranking, it can still be done by providing bicycle parking, increasing the area of green open space (RTH), recommissioning, installing energy monitoring systems, recycling organic waste, recycling treated water from WWTPs, conserving clean water, trying to use solar panel technology. and integrating energy efficiency into maintenance programs
Read More
The green hospital concept is a change management that is a necessity in hospitals that can significantly reduce energy consumption, increase comfort and productivity and preserve sustainable natural resources. In providing health services, hospitals use a number of energy, including electricity, water, fuel, patients food and building materials. In addition, hospitals also produce medical and non-medical waste. This can be a contribution to climate change if it is not managed properly. This study assesses the readiness of Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono National Brain Center Hospital Jakarta which refers to the national standard of Greenship Green Building Council Indonesia (GBCI). This research is a case study using a qualitative research method approach by making observations to observe and examine various objects in the study, take measurements and fill out checklists on the instruments/tools. From the research results, it is known that the new RSPON can meet the total value of 58 or 49,54% of the maximum 117 values of the total criteria required in Greenship. Based on the acquisition of these values, in accordance with the GBCI Greenship rating, the RSPON building received a Silver rating. To improve the ranking, it can still be done by providing bicycle parking, increasing the area of green open space (RTH), recommissioning, installing energy monitoring systems, recycling organic waste, recycling treated water from WWTPs, conserving clean water, trying to use solar panel technology. and integrating energy efficiency into maintenance programs
B-2220
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nadya Adina Zuhdi; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Jaslis Ilyas, Puput Oktamianti, Enny Mulyatsih, Sandry Tri Sumarni
Abstrak:
Read More
Penyakit saraf adalah gangguan pada sistem saraf yang dapat menurunkan fungsi tubuh. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (2023), salah satu penyakit dengan prevalensi tertinggi adalah penyakit saraf, yaitu stroke yang memiliki biaya pengobatan tertinggi ketiga setelah penyakit jantung dan kanker. Akupunktur memiliki dampak yang signifikan pada pengobatan berbagai penyakit saraf. Rumah Sakit Pusat Otak Nasional menangani kasus neurologi (kesehatan otak dan saraf) yang semakin meningkat dan kompleks. Akupunktur medik menjadi salah satu layanan perawatan penunjang di RS PON yang sudah tersedia sejak tahun 2021. Berdasarkan laporan capaian layanan 3 tahun terakhir, tren jumlah pasien tahun 2021-2023 berturut-turut adalah sebagai berikut: 496 pasien, 727 pasien, dan penurunan pada tahun 2023 dengan jumlah 575 pasien. Penurunan angka kunjugan ini berbanding terbalik dengan jumlah kunjungan pasien secara total di RS PON pada periode 2020-2024 yang mengalami peningkatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keinginan pasien rawat jalan di RS PON terhadap layanan akupunktur medik. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan uraian hasil penelitian deskriptif. Jenis penelitian yang dipilih, yaitu penelitian cross sectional (potong lintang) yang dilakukan dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen pengumpulan data. Teori yang digunakan sebagai kerangka konsep pada penelitian ini adalah teori Capability, Opportunity, Motivation – Behavior (COM-B). Berdasarkan hasil analisis data pada penelitian ini, sejumlah 130 responden (58% dari total responden) memiliki keinginan terhadap layanan akupunktur medik, sisanya, taitu sejumlah 94 responden (42%) tidak memiliki keinginan terhadap layanan akupuntur medik. Persepsi layanan menjadi faktor yang paling mempengaruhi keinginan terhadap layanan akupunktur medik.
Neurological diseases are disorders of the nervous system that can reduce body function. Based on data from the Indonesian Health Survey (2023), one of the diseases with the highest prevalence is neurological disease, namely stroke which has the third highest medical cost after heart disease and cancer. Acupuncture has a significant impact on the treatment of various neurological diseases. The National Brain Center Hospital handles increasingly complex neurology (brain and nerve health) cases. Medical acupuncture is one of the supporting care services at the PON Hospital which has been available since 2021. Based on the service achievement report for the last 3 years, the trend in the number of patients in 2021-2023 is as follows: 496 patients, 727 patients, and a decrease in 2023 with a total of 575 patients. This decrease in the number of visits is inversely proportional to the total number of patient visits at the PON Hospital in the 2020-2024 period which has increased. The purpose of this study was to determine the factors related to the desires of outpatients at the PON Hospital for medical acupuncture services. This study is an observational study with a description of the results of descriptive research. The type of research chosen is cross-sectional research conducted using a questionnaire as a data collection instrument. The theory used as a conceptual framework in this study is the Capability, Opportunity, Motivation – Behavior (COM-B) theory. Based on the results of data analysis in this study, a number of 130 respondents (58% of total respondents) have a desire for medical acupuncture services, the rest, namely 94 respondents (42%) do not have a desire for medical acupuncture services. Perception of service is the factor that most influences the desire for medical acupuncture services.
Neurological diseases are disorders of the nervous system that can reduce body function. Based on data from the Indonesian Health Survey (2023), one of the diseases with the highest prevalence is neurological disease, namely stroke which has the third highest medical cost after heart disease and cancer. Acupuncture has a significant impact on the treatment of various neurological diseases. The National Brain Center Hospital handles increasingly complex neurology (brain and nerve health) cases. Medical acupuncture is one of the supporting care services at the PON Hospital which has been available since 2021. Based on the service achievement report for the last 3 years, the trend in the number of patients in 2021-2023 is as follows: 496 patients, 727 patients, and a decrease in 2023 with a total of 575 patients. This decrease in the number of visits is inversely proportional to the total number of patient visits at the PON Hospital in the 2020-2024 period which has increased. The purpose of this study was to determine the factors related to the desires of outpatients at the PON Hospital for medical acupuncture services. This study is an observational study with a description of the results of descriptive research. The type of research chosen is cross-sectional research conducted using a questionnaire as a data collection instrument. The theory used as a conceptual framework in this study is the Capability, Opportunity, Motivation – Behavior (COM-B) theory. Based on the results of data analysis in this study, a number of 130 respondents (58% of total respondents) have a desire for medical acupuncture services, the rest, namely 94 respondents (42%) do not have a desire for medical acupuncture services. Perception of service is the factor that most influences the desire for medical acupuncture services.
B-2550
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dewi Gemilang Sari; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Rita Damayanti, Syahrizal, Beny Rilianto
Abstrak:
Read More
Di Indonesia stroke penyebab kematian dan kecacatan nomor satu. Stroke berisiko tinggi berulang. Stroke berulang menyebabkan risiko kematian dan kecacatan lebih besar. Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta (RSPON) merupakan rumah sakit pusat rujukan penyakit otak dan saraf. Data tahun 2018 hingga 2024 trimester 1 menunjukkan sebagian besar pasien RSPON adalah pasien stroke. Sebagian besar pasien stroke RSPON merupakan kasus stroke berulang. Stroke berisiko berulang. Pasien stroke harus menerapkan perilaku pencegahan stroke berulang agar tidak terjadi stroke berulang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan perilaku pencegahan stroke berulang di RSPON. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional study pada 190 pasien stroke pertama yang dipilih dengan convenience sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner online. Data penelitian dianalisis menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian diperoleh rata-rata nilai perilaku pencegahan stroke berulang di RSPON sudah baik yaitu 71,4 (skala 100). Sebanyak 63% pasien stroke di RSPON memiliki perilaku pencegahan stroke berulang baik. Hasil akhir analisis multivariat menunjukkan pendidikan terakhir, kontrol perilaku, dan norma subjektif memiliki hubungan signifikan dengan perilaku pencegahan stroke berulang di RSPON. Norma subjektif merupakan variabel paling dominan dan paling signifikan yang mempengaruhi perilaku pencegahan stroke berulang (p-value = 0,001 ≤ 0,05) dengan OR sebesar 16,838 (95% CI: 4,673 – 60,659). Dukungan keluarga, tenaga kesehatan, dan komunitas stroke sangat dibutuhkan untuk meningkatkan perilaku pencegahan stroke berulang.
In Indonesia stroke is the number one cause of death and disability. Stroke is at high risk of recurrence. Recurrent stroke causes a greater risk of death and disability. The National Brain Centre Hospital Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta (RSPON) is a referral centre for brain and neurological diseases. Data from 2018 to 2024 trimester 1 shows that the majority of RSPON patients are stroke patients. Most of RSPON stroke patients are recurrent stroke cases. Stroke is at risk of recurrence. Stroke patients must implement recurrent stroke prevention behaviour to prevent recurrent stroke. This study aims to analyse the determinants of recurrent stroke prevention behaviour in RSPON. The study used quantitative methods with a cross sectional study design on 190 first stroke patients selected by convenience sampling. Data collection was conducted by interview using an online questionnaire. The data were analysed using multiple logistic regression. The results showed that the average value of recurrent stroke prevention behaviour in RSPON was good, namely 71,4 (scale 100). A total of 63% of stroke patients in RSPON have good recurrent stroke prevention behaviour. The final results of multivariate analysis showed that the latest education, behavioural control, and subjective norms had a significant relationship with recurrent stroke prevention behaviour in RSPON. Subjective norms were the most dominant and most significant variable influencing recurrent stroke prevention behaviour (p-value = 0,001 ≤ 0,05) with an OR of 16,838 (95% CI: 4,673 – 60,659). Support from family, health professionals, and the stroke community is needed to improve recurrent stroke prevention behaviour.
T-6950
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dorys DS; Pembimbing: Wahyu Sulistiadi
S-2207
Depok : FKM UI, 2001
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Endang Indriasih; Pembimbing: Indang Trihandini
S-1550
Depok : FKM UI, 1999
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
