Ditemukan 33464 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Bul.Pen. Sistem Kes. (Bulitsiskes), Vol.14, No.1, Jan. 2011, hal: 30-39
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ika Vida Northwadziyah, Soedjajadi Keman
JKL Vol.7, No.2
Surabaya : Departemen KL FKM Unair, 2014
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nia Widiyani Rahayu; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Laila Fitria, Dyah Armi Riana
S-4221
Depok : FKM UI, 2005
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nani Rusdawati Hasan; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Laila Fitria, Didik Supriyono
S-7144
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Imas Qurrata Ayuni; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Purnawan Junadi, Inensa Khairul Harap, Guruh Wicaksono
Abstrak:
Read More
Sektor kesehatan merupakan bidang yang harus selalu beradaptasi untuk mengimbangi ilmu pengetahuan dan kesehatan yang berkembang secara cepat. Organisasi pembelajaran di sektor kesehatan dapat menjadi jawaban bagi permasalahan pada pencapaian pelayanan kesehatan di Indonesia, hal ini karena bentuk organisasi ini berfokus pada sumber daya manusia di dalamnya. Puskesmas sebagai salah satu organisasi pelayanan publik di bidang kesehatan diharuskan untuk selalu berubah dan beradaptasi mengikuti perubahan yang terjadi di lingkungannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sejauh mana penerapan organisasi pembelajaran di puskesmas Kabupaten Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan jenis data kualitatif dengan desain studi kasus pada rentang waktu dari bulan November-Desember 2023. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara Focus Group Discussion terhadap 12 informan dari pegawai puskesmas, wawancara mendalam terhadap 3 informan dari kepala puskesmas, telaah dokumen, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa organisasi pembelajaran sudah diterapkan dengan cukup baik, meskipun masih terdapat hambatan pada penerapannya. Saran penelitian ini kepada puskesmas, yaitu menanamkan pentingnya rasa saling peduli diantara sesama pegawai, mencari informasi sebanyak mungkin terkait pelatihan dan seminar gratis untuk profesi-profesi yang belum memiliki anggaran, memberikan penghargaan kepada pegawai yang berprestasi dan memiliki kinerja yang baik, serta mempertahankan kualitas pelayanan yang baik.
The health sector is a field that must always adapt to keep pace with health sciences that are developing rapidly. Learning organizations in the health sector can be the answer to the problem of achievement of health services in Indonesia, it is because this form of organization focuses on human resources in it. Public health center is required to always change and adapt to follow changes that occur in its work area. This study was aimed to identify the extent of the implementation of learning organizations in the Sidoarjo Regency health center. This research used qualitative data type with case study design in the time span from November-December 2023. The data collection method was carried out by means of Focus Group Discussion on 12 informants from public health center employees, in-depth interviews with 3 informants from the head of the public health center, document review, and observation. The results showed that the learning organization has been implemented quite well, although there are still obstacles to its implementation. This research suggestion to puskesmas, namely instilling the importance of mutual care among fellow employees, seeking as much information as possible related to free training and seminars for professions that do not have a budget, rewarding employees who excel and have good performance, and maintain good service quality
T-6868
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dian Rahayu Pamungkas; Pembimbing: Besral; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Widiawati
S-6925
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Syaiful Mizan; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Prastuti Soewondo, Purnawan Junadi, Nana Mulyana, Hermawan Saputra
Abstrak:
Read More
Stunting adalah kondisi ketidakmampuan pertumbuhan linier yang terjadi akibat masalah gizi, dan memiliki dampak negatif baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Data SSGI menyebutkan prevalensi stunting pada balita di Provinsi Jawa Barat mencapai 24,5% (tahun 2021) dan 20,2% (tahun 2022). Masih jauh dari target RPJMN 2020-2024 yaitu 14% dan minimal standar WHO yaitu 20%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan akses pelayanan kesehatan balita dengan kejadian stunting di Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini berjenis kuantitatif dengan desain cross sectional. Data yang dianalisis bersumber dari SSGI (Studi Stasus Gizi Indonesia) tahun 2021 dengan analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Populasinya sebanyak 4.530 rumah tangga balita, dan sampel sebanyak 4.526 balita di Provinsi Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara usia balita, berat badan lahir, panjang badan lahir, keberagaman konsumsi, klasifikasi wilayah, fasilitas kesehatan jauh, pemberian vitamin A, status imunisasi, kepemilikan buku KIA, dan sumber air minum dengan kejadian stunting. Penelitian ini menyarankan perlunya peningkatan koalisi stunting lintas sektor di tiap tingkatan wilayah. Dan menempatkan tenaga Kesehatan Masyarakat (Kesmas) dalam program Integrasi Layanan Primer (ILP) untuk mendampingi perawat dan bidan di setiap desa/kelurahan.
Stunting is a condition of linear growth inability that occurs due to nutritional problems, and has negative impacts in both the short and long term. SSGI data states that the prevalence of stunting among toddlers in West Java Province reached 24.5% (in 2021) and 20.2% (in 2022). It is still far from the 2020-2024 RPJMN target of 14% and the minimum WHO standard of 20%. The aim of this research is to determine the relationship between access to health services for toddlers and the incidence of stunting in West Java Province. This research is quantitative with a cross sectional design. The data analyzed comes from the 2021 SSGI (Indonesian Nutritional Status Study) with univariate, bivariate and multivariate analysis. The population was 4,530 households under five, and the sample was 4,526 toddlers in West Java Province. The results of the research show that there is a relationship between toddler age, birth weight, birth length, diversity of consumption, regional classification, distant health facilities, vitamin A administration, immunization status, ownership of KIA books, and drinking water sources with the incidence of stunting. This research suggests the need to increase cross-sector stunting coalitions at each regional level. And placing Community Health (Kesmas) workers in the Primary Service Integration (ILP) program to accompany nurses and midwives in every village/sub-district.
T-6917
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ratih Ariningrum, Sisi Sundari, Woro Riyadina
BPSK Vol.12, No.2
Surabaya : Balitbangkes Kemenkes RI, 2009
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Raras Anasi; Pembimbing: Wahyu Septiono; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Martya Rahmaniati Makful, Nurul Puspa Sari , Melyana Lumbantoruan
Abstrak:
Read More
ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas balita di Indonesia, dengan prevalensi sebesar 36,9% pada tahun 2024 dan menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, prevalensi ISPA pada balita tertinggi terdapat di Pulau Jawa (38,4%-49,1%). Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi wilayah hotspot dan coldspot ISPA di Pulau Jawa serta menganalisis determinannya menggunakan data SSGI 2024. Hotspot didefinisikan sebagai wilayah dengan kejadian tinggi yang dikelilingi wilayah berkejadian tinggi, sedangkan coldspot merupakan kondisi sebaliknya. Analisis pola spasial dilakukan menggunakan Moran's I dan Getis-Ord Gi*, sementara hubungan antarvariabel dianalisis dengan regresi logistik multilevel tiga level (individu, rumah tangga, dan kabupaten/kota). Hasil analisis, diketahui adanya autokorelasi spasial (Moran's I=0,220; p=0,001) dengan 15 kabupaten/kota sebagai hotspot yang sebagian besar berada di Jawa Barat dan Banten, serta 7 kabupaten/kota sebagai coldspot yang berada di Jawa Timur bagian timur dan sebagian Jawa Tengah. Wilayah hotspot meningkatkan risiko ISPA (OR=1,725; 95%CI:1,05-2,52) dan coldspot bersifat protektif (OR=0,58; 95%CI: 0,33-1,04). Faktor risiko signifikan lainnya meliputi jenis kelamin laki-laki (OR=1,05; 95%CI: 1,00-1,10), usia (OR=1,03; 95%CI: 1,00-1,04), wasting (OR=1,15; 95%CI: 1,03-1,29), underweight (OR=1,31; 95%CI: 1,19-1,43), overweight (OR=0,75; 95%CI: 0,63-0,89), pendidikan ibu rendah (OR=1,11; 95%CI: 1,05-1,18), ibu bekerja (OR=0,94; 95%CI: 0,89-0,99), sosial ekonomi kuintil terbawah (OR=1,16; 95%CI: 1,04-1,28), kepadatan hunian tidak memenuhi syarat (OR = 1,17; 95%CI: 1,07-1,29), dan kepadatan penduduk (OR = 1,04; 95%CI: 1,00-1,08). Nilai ICC rumah tangga 0,589 dan kabupaten/kota 0,064 pada full model mengindikasikan adanya variasi antar klaster dan membenarkan penggunaan model multilevel. Distribusi ISPA di Pulau Jawa menunjukkan pola spasial yang bermakna dengan perbedaan risiko yang signifikan antara wilayah hotspot dan coldspot berdasarkan faktor individu, keluarga, dan wilayah. Temuan ini menegaskan perlunya intervensi kesehatan berbasis wilayah dengan prioritas pada kabupaten/kota hotspot.
Acute Respiratory Infections (ARI) represent one of the leading causes of morbidity among children under five in Indonesia, with a prevalence of 36.9% in 2024, representing an increase from the preceding year. Based on data from the Ministry of Health, the highest prevalence of ARI among children under five is found in Java Island (38.4%–49.1%). This study aimed to identify hotspot and coldspot areas of ARI in Java Island and to analyze their determinants using data from the 2024 SSGI. Hotspots are defined as high-incidence areas surrounded by neighboring areas of similarly elevated incidence, whereas coldspots represent the opposite condition. Spatial pattern analysis was conducted using Moran's I and Getis-Ord Gi*, while associations between variables were examined using three-level multilevel logistic regression at the individual, household, and district/city levels. The results revealed the presence of spatial autocorrelation (Moran's I = 0.220; p = 0.001), with 15 districts and cities identified as hotspots, predominantly located in West Java and Banten, and 7 districts and cities identified as coldspots, situated in eastern East Java and parts of Central Java. Hotspot classification was associated with a significantly increased risk of ARI (OR = 1.725; 95% CI: 1.05–2.52), while coldspot classification was found to be protective (OR = 0.58; 95% CI: 0.33–1.04). Other significant risk factors included male sex (OR = 1.05; 95% CI: 1.00–1.10), age (OR = 1.03; 95% CI: 1.00–1.04), wasting (OR = 1.15; 95% CI: 1.03–1.29), underweight (OR = 1.31; 95% CI: 1.19–1.43), overweight (OR = 0.75; 95% CI: 0.63–0.89), low maternal education (OR = 1.11; 95% CI: 1.05–1.18), maternal employment (OR = 0.94; 95% CI: 0.89–0.99), lowest socioeconomic quintile (OR = 1.16; 95% CI: 1.04–1.28), household overcrowding not meeting standard requirements (OR = 1.17; 95% CI: 1.07–1.29), and population density (OR = 1.04; 95% CI: 1.00–1.08). The intraclass correlation coefficients (ICC) at the household level (0.589) and district/city level (0.064) in the full model indicated the presence of between-cluster variation, thereby justifying the use of a multilevel modeling approach. The distribution of ARI in Java Island demonstrated a significant spatial pattern, with meaningful risk differences between hotspot and coldspot areas attributable to individual, household, and regional factors. These findings underscore the need for area-based health interventions, with priority given to districts and cities identified as hotspots.
T-7624
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Annabel Serafina; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Dion Zein Nuridzin
Abstrak:
Read More
Latar Belakang: Pneumonia menyebabkan banyak kematian pada anak-anak di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Pneumonia menyebabkan sebanyak 15,3% kematian pada anak usia 29 hari–11 bulan dan 12,5% kematian pada anak balita usia 12–59 bulan di Indonesia pada tahun 2022. Di Provinsi Jawa Timur, prevalensi pneumonia balita mencapai 3,32%, lebih tinggi dari prevalensi nasional sebesar 1,56%. Hal ini menjadikan Provinsi Jawa Timur sebagai provinsi dengan prevalensi pneumonia balita tertinggi ketiga di Indonesia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mendapatkan pola sebaran kasus pneumonia dan faktor risikonya pada balita di Provinsi Jawa Timur pada tahun 2022. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan analisis autokorelasi spasial global dan lokal menggunakan Moran’s I. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya autokorelasi spasial imunisasi dasar lengkap dengan kasus pneumonia pada balita. Kasus pneumonia pada balita membentuk pola mengelompok dengan variabel kepadatan penduduk, ASI eksklusif, suplementasi vitamin A, penggunaan bahan bakar utama untuk memasak yang berisiko, dan keberadaan puskesmas. Sementara itu, kasus pneumonia pada balita membentuk pola menyebar dengan variabel penduduk miskin, berat badan lahir rendah, dan gizi buruk. Kesimpulan dan Saran: Kasus pneumonia pada balita dan faktor-faktor risikonya membentuk pola yang berbeda-beda. Pencegahan dan pengendalian pneumonia pada balita dapat disesuaikan dengan karakteristik dari masing-masing kabupaten/kota.
Background: Pneumonia causes many deaths in children throughout the world, including in Indonesia. Pneumonia causes 15.3% of deaths in children aged 29 days–11 months and 12.5% of deaths in children aged 12–59 months in Indonesia in 2022. In East Java Province, the prevalence of pneumonia in under-five children reached 3.32%, higher than the national prevalence of 1.56%. This makes East Java Province the province with the third highest prevalence of under-five children pneumonia in Indonesia. Objective: This study aims to obtain patterns of pneumonia cases and risk factors among under-five children in East Java Province in 2022. Methods: This study uses an ecological study design with global and local spatial autocorrelation analysis using Moran's I. Results: The results show spatial autocorrelation in complete basic immunization in cases of pneumonia in under-five children. Pneumonia cases in under-five children form a pattern that clusters with population density, exclusive breastfeeding, vitamin A supplementation, risky use of primary fuel for cooking, and the presence of community health centers. Meanwhile, cases of pneumonia in under-five children form a widespread pattern with variables such as poverty, low birth weight, and poor nutrition. Conclusions and Recommendations: Pneumonia cases in under-five children and their risk factors form different patterns. Prevention and control of pneumonia in under-five children can be adjusted to the characteristics of each regency/city.
S-11666
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
