Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 1243 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Maj. Kedokteran Indo. (MKI), Vol.47, No.7, Juli 1997, hal. 342-344
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kedokteran Indo. (MKI), Vol.45, No.2, Feb. 1995, hal: 124-127
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hartono Adboerrachman
BIKF (Suppl) Vol.2, No.5
Jakarta : RS Fatmawati, 2000
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kedokteran Indonesia (MKI), Vol.42, No.1, Jan. 1992, hal. 62--64
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adi Rosadi
JTI Vol.6
Jakarta : Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia, 2009
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kedk Indo. (MKI), Vol.44, No.5, Mei. 1994, hal. 304-307
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Machrumnizar; Promotor: Tris Eryando; Kopromotor: Adang Bachtiar, Rina Kurniasri Kusumaratna; Penguji: Anhari Achadi, Dumilah Ayuningtyas, Nastiti Kaswandani, Maxi Rein Rondonuwu, Dedy Sugiarto
Abstrak:
Tuberkulosis (TB) tetap menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia dengan angka kejadian yang tinggi, termasuk pada anak-anak yang berkontribusi sekitar 16,68% dari total kasus TB nasional. Untuk mencapai target eliminasi TB pada tahun 2030, salah satu upaya strategis adalah optimalisasi deteksi dini melalui pemanfaatan teknologi digital dalam proses skrining dan diagnosis. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model skrining TB anak berbasis machine learning dengan sistem skoring otomatis guna meningkatkan cakupan deteksi dan notifikasi kasus secara lebih efisien. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan kohort retrospektif dan dilaksanakan pada April–Agustus 2025 di delapan Puskesmas Kecamatan di wilayah Jakarta Barat. Data penelitian diperoleh dari rekam medis elektronik (RME) puskesmas dan database sistem informasi tuberkulosis (SITB) tahun 2023–2024. Model dikembangkan melalui empat skenario menggunakan lima algoritma, yaitu Logistic Regression, Decision Tree, Random Forest, K-Nearest Neighbor, dan Support Vector Machine. Evaluasi kinerja model dilakukan menggunakan cross-validation k-fold = 5 dengan metrik akurasi, sensitivitas, spesifisitas, dan Area Under the Receiver Operating Characteristic (AUROC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel dengan kontribusi prediktif terbesar meliputi pembesaran kelenjar, malaise ≥ dua minggu, penurunan atau stagnasi berat badan dua bulan terakhir, status gizi, dan riwayat kontak TB. Berdasarkan variabel tersebut, Decision Tree menjadi algoritma dengan performa terbaik karena menghasilkan nilai AUROC > 0,90. Nilai AUROC yang sangat tinggi (mendekati 1) menunjukkan bahwa kedua model memiliki kemampuan yang sangat baik dalam membedakan pasien anak dengan TB positif dan negatif berdasarkan skoring, serta sesuai untuk karakteristik data yang bersifat non-linear dengan interaksi antar gejala. Prototype aplikasi berbasis web yang dikembangkan mampu memberikan estimasi risiko secara cepat dan interaktif, sehingga berpotensi mendukung skrining TB anak di fasilitas layanan primer.

Tuberculosis (TB) remains a major public health challenge in Indonesia, with a high incidence rate, including among children who account for approximately 16.68% of all national TB cases. To achieve the 2030 TB elimination target, optimizing early detection through the use of digital technologies in screening and diagnosis is a key strategic approach. This study aims to develop a machine learning–based pediatric TB screening model equipped with an automated scoring system to enhance the efficiency of case detection and notification. A quantitative approach with a retrospective cohort design was employed, conducted from April to August 2025 across eight sub-district primary health centers (Puskesmas) in West Jakarta. Data were obtained from electronic medical records (RME) and the tuberculosis information database system (SITB) database for the years 2023–2024. The model was developed under four scenarios using five algorithms: Logistic Regression, Decision Tree, Random Forest, K-Nearest Neighbor, and Support Vector Machine. Model performance was evaluated using 5-fold cross-validation with accuracy, sensitivity, specificity, and Area Under the Receiver Operating Characteristic (AUROC) as the evaluation metrics. The findings indicate that the variables with the strongest predictive contributions include lymph node enlargement, malaise lasting ≥ two weeks, weight loss or stagnation over the past two months, nutritional status, and TB contact history. Based on these variables, Decision Tree demonstrated the best performance, achieving AUROC values > 0.90. Such high AUROC values (approaching 1) suggest excellent discriminatory ability in distinguishing TB-positive from TB-negative pediatric patients, particularly given the non-linear patterns and interactions among clinical symptoms. A prototype web-based application was developed and demonstrated the ability to generate rapid and interactive risk estimations. This tool shows strong potential to support pediatric TB screening efforts in primary healthcare settings.
Read More
D-615
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Al Asyary Upe; Promotor: Purnawan Junadi; Kopromotor: Purwantyastuti, Tris Eryando; Penguji: Sudijanto Kamso, Bambang Supriyatno, Sandi Iljanto, Artha Budi Susila Duarsa, Yodi Mahendradharta
D-316
Depok : FKM-UI, 2015
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
H. Nurbaiti Iskandar
CDK No.43 (1987)
Jakarta : Kalbe Farma, 1987
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shakila Aulia; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Atik Nurwahyuni, Tiur Febrina Pohan
Abstrak:
Abstrak 
Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia yang memerlukan pengobatan jangka panjang dan menuntut pasien untuk melakukan kunjungan rutin ke Fasilitas Kesehatan Pertama (FKTP). Namun, kajian yang membahas mengenai faktor sosial demografi, fasilitas kesehatan, dan lingkungan dengan frekuensi kunjungan tuberkulosis di FKTP melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor sosial demografi, fasilitas kesehatan, dan faktor kesehatan lingkungan dengan frekuensi kunjungan peserta JKN akibat tuberkulosis ke FKTP tahun 2024. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif dan unit analisis individu serta provinsi. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas peserta melakukan kunjungan tidak rutin ke FKTP. Pada analisis bivariat, usia, status pernikahan, jenis FKTP, kepemilikan FKTP, kondisi dinding, dan luas rumah per kapita berhubungan dengan frekuensi kunjungan tidak rutin. Pada analisis multivariat, kelompok usia anak, kelas rawat 2, jenis FKTP klinik, dan kondisi dinding yang tidak memenuhi syarat berhubungan secara signifikan, dengan jenis FKTP klinik merupakan faktor yang paling dominan. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan pemantauan pasien tuberkulosis di FKTP, penguatan integrasi antar layanan kesehatan, serta integrasi program pengendalian tuberkulosis dengan intervensi rumah sehat. 
Kata kunci: fasilitas kesehatan, FKTP, frekuensi kunjungan, lingkungan, sosial demografi, tuberkulosis
Abstract 
Tuberculosis remains a major public health problem in Indonesia, requiring long term treatment and regular visits to Primary Health Care Facilities (FKTP). However, studies examining the association between sociodmographic, health facility, and environmental factors with the frequency of tuberculosis-related FKTP visits under the National Health Insurance (JKN) program remain limited. This study aimed to analyze the association between sociodemographic factors, health facility characteristics, and environmental health factors and the frequency of visits among JKN participants with tuberculosis to FKTP in 2024. This study employed cross-sectional design with a quantitative approach, using individuals and provinces as the units of analysis. Data were analyzed using univariate, bivariate, and multivariate methods. The results showed that the majority of participants made irregular visits to FKTP. In the bivariate analysis, age, marital status, type of FKTP, FKTP ownership, wall condition, and housing area per capita were associated with the frequency of irregular visits. In the multivariate analysis, child age group, second-class inpatient care, clinic-type FKTP, and substandard wall conditions were significantly associated with irregular visit frequency, with clinic-type FKTP being the most dominant factor. These findings highlight the importance of strengthening tuberculosis patient monitoring at FKTP, improving integration across health services, and integrating tuberculosis control programs with healthy housing interventions. 
Keywords: environment, frequency of visits, health facilities, primary health care, sociodemographic, tuberculosis    
 
Read More
S-12239
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive