Ditemukan 28951 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Pola pertumbuhan anak berat badan lahir rendah (BBLR) sampai berumur 24 bulan di Bogor: seri gizi 20
Suhartato, Iman Sumarno
Seri Gizi 20
Bogor : P3G, 1997
Laporan Penelitian Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sari Laila Wahyuni; Pembimbing: Sabarinah; Penguji: Agustin Kusumayati, Wahyu Septiono, Teti Tejayanti, Trihono
Abstrak:
Read More
Berat badan lahir rendah (BBLR) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia karena berhubungan dengan peningkatan risiko kematian neonatal dan gangguan pertumbuhan anak. Kejadian BBLR juga menunjukkan variasi antarprovinsi yang kemungkinan dipengaruhi oleh faktor individu dan konteks wilayah. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor individu dan faktor tingkat provinsi dengan kejadian BBLR serta menilai variasi kejadian BBLR antarprovinsi di Indonesia tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan data sekunder Survei Status Gizi Indonesia tahun 2024 yang digabungkan dengan data Profil Kesehatan Indonesia tahun 2024 dan publikasi Badan Pusat Statistik tahun 2025. Sampel penelitian terdiri atas 26.483 kelahiran hidup dalam satu tahun terakhir dari 32 provinsi di Indonesia. Analisis dilakukan menggunakan regresi logistik multilevel dengan individu sebagai level pertama dan provinsi sebagai level kedua. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi BBLR sebesar 6,38%. Pada tingkat individu, usia ibu, paritas, jarak kehamilan kurang dari dua tahun, ANC yang tidak sesuai rekomendasi, risiko kekurangan energi kronis, pre-eklampsia, status ekonomi kuintil terbawah, dan konsumsi MMS berhubungan signifikan dengan kejadian BBLR. Pre-eklampsia merupakan faktor yang paling kuat berhubungan dengan kejadian BBLR. Pada tingkat provinsi, kepadatan penduduk, cakupan ANC K6, cakupan TTD, rasio bidan, radius puskesmas, dan wilayah tempat tinggal tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kejadian BBLR. Nilai ICC menurun dari 2,37% pada model awal menjadi 1,92% pada model akhir, yang menunjukkan adanya variasi kejadian BBLR antarprovinsi, meskipun sebagian besar variasi berada pada tingkat individu. Pencegahan BBLR perlu memprioritaskan deteksi dini dan pemantauan ibu hamil berisiko, terutama ibu dengan KEK, pre-eklampsia, jarak kehamilan pendek, usia berisiko, dan kondisi ekonomi rendah, disertai penguatan mutu pelayanan ANC dan intervensi gizi ibu hamil.
Low birth weight (LBW) remains a public health concern in Indonesia because it is associated with an increased risk of neonatal mortality and impaired child growth. The occurrence of LBW also varies across provinces, which may be influenced by individual and contextual factors. This study aimed to analyze the association of individual- and province-level factors with LBW and to assess the variation in LBW occurrence across provinces in Indonesia in 2024. This study used a cross-sectional design with secondary data from the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey, linked with the 2024 Indonesia Health Profile and the 2025 publications of Statistics Indonesia. The study sample consisted of 26,483 live births during the preceding year from 32 provinces in Indonesia. Multilevel logistic regression analysis was conducted, with individuals as the first level and provinces as the second level. The prevalence of LBW was 6.38%. At the individual level, maternal age, parity, interpregnancy interval of less than two years, antenatal care (ANC) not meeting recommendations, risk of chronic energy deficiency, preeclampsia, lowest wealth quintile, and multiple micronutrient supplementation (MMS) were significantly associated with LBW. Preeclampsia was the factor most strongly associated with LBW. At the province level, population density, ANC K6 coverage, iron supplementation coverage, midwife ratio, primary health center radius, and area of residence were not significantly associated with LBW. The intraclass correlation coefficient decreased from 2.37% in the initial model to 1.92% in the final model, indicating variation in LBW occurrence across provinces, although most variation was observed at the individual level. LBW prevention should prioritize early detection and monitoring of high-risk pregnant women, particularly those with chronic energy deficiency, preeclampsia, short interpregnancy intervals, high-risk maternal age, and low economic status, accompanied by strengthened ANC quality and maternal nutrition interventions.
T-7567
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wa Ode Dwi Daningrat; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Sandra Fikawati, Ahmad Syafiq, Doddy Izwardy, Sandjaja
T-4481
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
CDK Vol.36, No.1 (2009)
Jakarta : Kalbe Farma, 2009
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dwi Febriana; Pembimbing: Asri C. Adisasmita
S-3879
Depok : FKM UI, 2004
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Bunga Ch. Rosha, Indri Surya Putri, Nurilah Amaliah
JEK Vol.11, No.2
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 2012
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mochamad Setyo Pramono, Astridya Paramita
BPSK Vol.18, No.1
Surabaya : Balitbangkes Kemenkes RI, 2015
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dwi Sisca Kumala Putri; Promotor: Endang Laksminingsih Achadi; Kopromotor: Hartono Gunardi, Yekti Widodo; Penguji: Ahmad Syafiq, Besral, Kusharisupeni Djokosujono, Abas Basuni Jahari
Abstrak:
Read More
ABSTRAK Pertumbuhan pada masa janin, dengan berat dan panjang badan lahir sebagai titik tertinggi pencapaiannya, dapat mempengaruhi pertumbuhan pada masa baduta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola gagal tumbuh linier, terutama waktu kejadian pertama kali melambatnya pertumbuhan dan besarnya perubahan pencapaian PB (Δ z-score PB/U) pada rentang umur 0-6, 6-12, dan 12-23 bulan berdasarkan status berat dan panjang badan lahir. Selain itu juga bertujuan mengetahui pengaruh status berat dan panjang lahir serta faktor risiko lainnya terhadap kejadian pertama kali melambatnya pertumbuhan dan juga terhadap perubahan pencapaian PB. Penelitian ini merupakan penelitian kohort prospektif dengan sampel sebanyak 408 anak responden Studi Kohor Tumbuh Kembang Anak di Kota Bogor Tahun 2012 – 2019. Variabel dependen pada penelitian ini ialah waktu kejadian pertama kali melambatnya pertumbuhan dan perubahan pencapaian PB (Δ z-score PB/U). Variabel independen utama pada penelitian ini ialah status berat dan panjang badan lahir. Pertumbuhan linier didefinisikan melambat jika linear growth velocity interval 3 bulan selama dua interval berturut-turut berada di bawah persentil ke-25 standar growth velocity WHO. Penelitian ini menunjukkan bahwa separuh anak SGA melambat pertumbuhannya sebelum umur 10 bulan dan separuh anak normal melambat pertumbuhannya sebelum umur 9 bulan. Penurunan z-score (Δ z-score PB/U) terbesar ialah pada rentang umur 0 – 6 bulan, sebesar -0,94 pada anak normal dan -0,4 pada anak SGA. Sedangkan pada rentang 6 – 12 bulan sebesar -0,33 pada anak normal dan -0,23 pada anak SGA. Dan pada umur 12 – 23 bulan sebesar -0,18 pada anak normal dan -0,03 pada anak SGA. Anak SGA memiliki risiko 10 persen lebih rendah untuk mengalami kejadian pertama kali melambatnya pertumbuhan pada masa baduta setelah dikontrol lama pemberian ASI, namun secara statistik tidak bermakna. Anak yang diberi ASI < 12 bulan memiliki risiko 50 persen lebih rendah untuk mengalami perlambatan pertumbuhan pertama kali pada masa baduta. Status SGA berpengaruh positif terhadap Δ z-score PB/U Pada periode umur 0 – 6 bulan dan 6 – 12 bulan, namun berpengaruh negatif pada periode umur 12 – 23 bulan. Lama pemberian ASI < 12 bulan juga berpengaruh positif terhadap Δ z-score PB/U. Sedangkan frekuensi ISPA > 50% bulan pengamatan dan asupan seng < EAR berpengaruh negatif terhadap Δ z-score PB/U. Melambatnya kecepatan pertumbuhan linier pertama kali dan penurunan z-score PB/U terbesar, baik pada anak SGA maupun normal, terjadi pada masa bayi. Oleh karena itu pemantauan pertumbuhan linier harus dilakukan lebih ketat pada masa bayi, terutama sebelum umur 9 atau10 bulan. Anak SGA tidak dapat mengejar pencapaian panjang badan anak normal, meskipun memiliki kecepatan pertumbuhan yang secara signifikan lebih cepat di awal masa bayi. Hal tersebut menunjukkan bahwa program pencegahan anak pendek harus dimulai lebih dini, yaitu sejak masa prenatal untuk mencegah bayi lahir SGA. Kata Kunci: gagal tumbuh linier, berat badan lahir, panjang badan lahir.
ABSTRACT Fetal growth, with birth weight and birth length as its culmination, influences the linear growth during the first two years of life. This study aimed to identify the pattern of linear growth failure, mainly the onset of growth deceleration and the changes in the Length-for-Age Z-score (LAZ). Furthermore, this study investigated the risk of birthweight and length status and other factors to the onset of growth deceleration and the changes in the LAZ. This study is a prospective cohort study. This study analyzed 408 children, the participants of the Cohort Study on Child Growth and Development in Kota Bogor between 2012 – 2019. The dependent variables were the time to onset of the growth deceleration and the changes of LAZ (Δ LAZ) at the age interval of 0-6, 6-12, and 12-23 months. The main independent variable was birthweight and length status. The linear growth was defined decelerate when the two consecutive 3-month length increments fall below the 25th percentile of The WHO Child Growth Standard. This study showed that half of the SGA children experience the growth deceleration onset before 10 months, while half of normal children experience it before 9 month of age. The substantial losses occurred between 0-6 months and the LAZ declined by -0,94 z-score in normal children and -0,4 z-score in SGA children. While between 6-12 months, the decline was -0,33 z-score in normal children and 0,23 z-score in SGA children. And between 12-23 months, the decline was -0,18 z-score in normal children and -0,03 z-score in SGA children. The SGA children had a 10 percent lower risk than normal children to experience the onset of growth deceleration, adjusted by the duration of breastfeeding, but statistically insignificant. The children breastfed less than 12 months had a 50 percent lower risk to experience the onset of growth deceleration than children breastfed more than ≥ 23 months. The SGA status had a positive effect on the Δ LAZ in the age period of 0 – 6 months and 6 – 12 months but had a negative effect in the age period of 12 – 23 months. The duration of breastfeeding < 12 months also had a positive effect on Δ LAZ. While upper respiratory tract infection frequency of more than 50% of the observation month and seng intake less than Estimated Average Requirement, had a negative effect on Δ LAZ. The onset of the deceleration in linear growth and the substantial loss of LAZ, in SGA and normal children, occurred in the early period of infancy. Therefore, the linear growth should be monitored strictly and regularly in the period of infancy, especially before 9 or 10 months. The SGA children could not catch up with the normal children’s attained growth. Therefore, the stunting prevention program should start early, from the prenatal period to reduce the risk of SGA. Keywords: growth failure, birthweight, birth length
D-492
Depok : FKM-UI, 2023
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Minarto; Promotor: Hadi Pratomo; Ko-promotor: Endang L. Achadi, Abas Basuni Jahari; Penguji: Azrul Azwar, Kusharisupeni, Idrus Jus`at, Purnawan Junadi
D-188
Depok : FKM UI, 2006
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Kesmas (Jurkesmasnas), Vol.10, No.1, Agt. 2015, hal. 37-43
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
