Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33853 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Maj. Kedk Indo. (MKI), Vol.44, No.8, agustus. 1994, hal. 512-517
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sari Pediatri, Vol.10, No.5, Febr. 2009, hal. 285-291, ( Cat. ada di bendel 2008 - 2009 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dimas Nugroho, Irfan Wahyudi, Arry Rodjani
JInMA-Vol.62/No.2
Jakarta : IDI, 2012
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mega Lisna;Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Baji Subagyo
S-7236
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sari Pediatri, Vol.10, No.2, Agustus 2008, hal. 83-88
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Daniel Happy Putra; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: R. Sutiawan, Kemal Nazaruddin Siregar, Indri Oktaria Sukmaputri, Dwinanto Widyaistiono Wibowo
Abstrak: ABSTRAK HIV/AIDS merupakan salah satu penyakit yang menjadi permasalahan kesehatan secara global. Seluruh dunia menjadikan HIV/AIDS sebagai salah satu indikator untuk mencapai pembangunan kesehatan yang berkesinambungan. Post Exposure Prophylaxis (PEP) merupakan metode terapi untuk mencegah proses penularan HIV pada pasien yang mengalami kontak dengan virus HIV. Pada dasarnya terapi PEP adalah metode pencegahan penyakit HIV pada pasien yang melakukan kontak dengan sumber penularan HIV dengan memberikan obat ARV sebelum 72 jam masa kontak antara pasien dengan sumber pajanan. Pengelolaan data di rumah sakit merupakan salah satu komponen penting dalam mewujudkan terselenggaranya pelayanan kesehatan di rumah sakit secara baik. Berdasarkan laporan dari WHO, sebanyak 20-40% dana kesehatan dapat menjadi tidak dapat digunakan dengan baik dikarenakan tidak efisiennya suatu sistem yang dimiliki rumah sakit. Pengembangan sistem dalam penelitian ini menggunakan metodologi prototipe yang Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode telaah dokumen, wawancara dan observasi. Dalam melakukan pengembangan sistem, rancangan prototipe ini menggunakan bahasa pemrograman PHP, MySQL, css, bootstrap, Javascript dan jschart. Pengembangan sistem informasi dilakukan dengan melibatkan pengguna sehingga sesuai dengan kebutuhan pengguna. Input sistem dilakukan oleh tenaga kesehatan di rumah sakit. Penyajian data informasi berupa tabel dan grafik serta notifikasi terhadap masing-masing petugas kesehatan melalui sistem yang digunakan untuk mengingatkan petugas kesehatan mengenai program terapi dari masing-masing pasien. Sistem ini dirancang dengan menggunakan basis web sebagai wadah utama pengguna untuk mengakses sistem. Kata kunci: sistem informasi, prototipe, post exposure prophylaxis, HIV/AIDS HIV/AIDS is one of the disease that become a global health problem. This can be seen since the whole world make HIV/AIDS as one of the indicator to achieve their target of sustainable health development. Post exposure Pryophylaxis (PEP) is one of method of therapy that prevent the process of HIV transmission to the patient who have beesn exposed to the virus. Data management in the hospital is one of the important aspect to achieve a good implementation of health services. Based on the report by WHO 20‐40% of health funds can become unusable due to the innefciency of hospital health information system. System development in this research use a prototype methodology. Data collection method in this research use a combination of document review, interview and observation. The prototype of this system development use combination of PHP, MySQL, css, bootstrap, Javascript and jschart as a programming language. The development of this system is done by involving users (health workers) to better suits the needs of users. Health worker/personnel performed the input of system. The output of this system designed in the form of tables, graphs and notification for every health workers. This system is designed using web based interface to suits the needs of users. This system is expected to improve the quality of PEP therapy in RSCM. Key Words: health information, PEP, protoype, HIV/AIDS
Read More
T-5376
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Dokter keluarga, Vol.5, No.12 Des. 1986, hal. 715-716
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rachel Monique; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Gandi Agusniadi
Abstrak: Berdasarkan laporan WHO 2013, kasus TB ekstra paru di Indonesia mengalami peningkatan dari 14.054 tahun 2012 menjadi 15.697 tahun 2013. Salah satu rumah sakit yang mencatat adanya peningkatan kasus TB ekstra paru adalah RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta sehingga, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan TB ekstra paru pada pasien rawat inap TB di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta tahun 2011-2013.
 
Penelitian ini menggunakan rekam medis dengan desain studi kasus kontrol. Sampel penelitian ini meliputi kasus yaitu, pasien rawat inap TB ekstra paru tahun 2011-2013 serta kontrol yaitu, pasien rawat inap TB paru tahun 2011-2013 dengan rekam medis yang tercatat lengkap.
 
Hasil penelitian menunjukkan proporsi kasus TB ekstra paru tertinggi berdasarkan organ terjangkit adalah TB tulang dan sendi sebesar 60%. Setelah TB ekstra paru dihubungan dengan beberapa variabel, umur < 25 tahun (OR: 19,36; 95% CI: 4,90-76,44) dan 25-50 tahun (OR: 4,40; 95% CI: 1,42-13,62), riwayat DM (OR: 0,08; 95% CI: 0,02-0,37) dan riwayat hipertensi (OR: 0,17; 95% CI: 0,03-0,81) secara statistik memiliki hubungan bermakna dengan TB ekstra paru, tetapi riwayat DM dan riwayat hipertensi menjadi faktor proteksi terhadap TB ekstra paru.
 
Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lanjutan terkait faktor-faktor yang berperan terhadap TB ekstra paru, memberikan perhatian khusus kepada pasien yang lebih berisiko dalam diagnosis, serta promosi kesehatan kepada masyarakat agar lebih menyadari bahwa TB dapat menyerang organ lain selain paru-paru yang akan berdampak serius jika tidak ditangani segera, khususnya mereka yang termasuk kelompok berisiko.
 

Based on the WHO report 2013, extra-pulmonary TB cases in Indonesia have increased from 14.054 in 2012 to 15.697 in 2013. One of hospitals which get an increase of extra-pulmonary TB cases is National Center General Hospital Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, so, this study ultimately aims to identify risk factors that associated with extra-pulmonary TB to TB hospitalized patients in National Center General Hospital Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta 2011-2013.
 
This study is using medical records with the design of case-control study. Samples of this study include the case is extra-pulmonary TB hospitalized patients 2011-2013 while control is pulmonary TB hospitalized patients in 2011-2013. Both case and control must have complete medical records.
 
The results showed that the highest proportion of extrapulmonary TB cases by an affected organ is tuberculosis of bones and joints by 60%. After connecting extra-pulmonary TB with several variables, age < 25 years (OR: 19,36; 95% CI: 4,90-76,44) and 25-50 years (OR: 4,40; 95% CI: 1,42-13,62), history of diabetes (OR: 0,08; 95% CI: 0,02-0,37) and history of hypertension (OR: 0,17; 95% CI: 0,03-0,81), they statistically had significant association with extra-pulmonary TB, but a history of diabetes mellitus and a history of hypertension be protective factors against extra-pulmonary TB.
 
Therefore, it is advisable to do further research related to the factors that contribute to extra-pulmonary TB, giving special attention to patients who are more at risk in making the diagnosis, and doing health promotion to the public to be more aware that TB can affect other organs beside the lungs that would have a serious impact if it is not treated promptly, especially for the risky ones
Read More
S-8319
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rocelly Nainggolan; Pemb. Amal Chalik Sjaaf
A-332
Jakarta : FKM UI, 1980
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Radi Muharris Mulyana; Pembimbing: Ascobat Gani; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Jaslis Ilyas, M. Arza Putra, Winarto
Abstrak:

Instalasi Gawat Darurat (IGD) memegang peranan penting dalam penanganan awal trauma berat untuk mencegah kematian maupun kecacatan. IGD Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) telah menerapkan sistem “Cipto Code Trauma” sejak 2019 untuk menjamin waktu tanggap trauma berat < 5 menit, meski capaiannya belum memenuhi target. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan faktor-faktor yang menjadi determinan waktu tanggap trauma berat di IGD RSCM, yang diharapkan dapat bermanfaat untuk perbaikan sistem. Penelitian dilakukan secara retrospektif terhadap pasien trauma berat yang berkunjung ke IGD RSCM tahun 2023-2024. Analisis dilakukan terhadap faktor pasien, struktur, dan proses layanan. Dari 124 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, karakteristik pasien terbanyak yaitu usia dewasa, laki-laki, dengan mekanisme kecelakaan lalu lintas, dan memiliki lebih dari 1 jenis cedera. Pasien umumnya datang tanpa Ambulans dan tanpa komunikasi pra-RS. Tanda vital saat datang sebagian besar normal. Pasien terbanyak datang pada malam hari, saat kondisi IGD padat, dengan jumlah tenaga di IGD mencukupi. Hanya 51,6 % pasien menggunakan jaminan. Rerata waktu tanggap trauma berat yaitu 12 menit 42 detik. Didapatkan bahwa faktor usia pasien, transportasi menggunakan Ambulans, frekuensi nadi saat pasien datang, waktu shift pelayanan di IGD, dan jumlah tim yang bertugas berhubungan dengan waktu tanggap pasien trauma berat di IGD RSCM. Waktu tanggap trauma berat tidak berhubungan dengan luaran pasien yaitu kebutuhan perawatan intensif maupun kematian.


 

Emergency Room (ER) plays a significant role in the initial management of severe trauma to prevent morbidity or mortality. Since 2019, ER of Cipto Mangunkusumo Hospital (CMH) have established “Cipto Code Trauma” system to ensure the response time of < 5 minutes, although the target has not yet been achieved. This study is performed to determine factors associated with response time for severe trauma in ER CMH, which could be beneficial for system improvement. This is a retrospective study on severe trauma patients admitted to ER CMH from 2023-2024. Analysis performed towards patient, structure, and process factors. Among the 124 samples fulfilling the inclusion and exclusion criteria, most patients are adults, men, due to traffic injury, and had more than 1 injury. Patients generally came without Ambulance nor prehospital communication. Vital signs were mostly normal. Patients mostly came on the night shift, during a crowded ER, and received by an adequate number of ER staff. Only 51,6 % of patients were covered with insurance. Mean response time was 12 minutes and 42 seconds. Patients’ age, Ambulance transportation, initial heart rate, time of service by shift, and number of personnel are associated with response time for severe trauma in ER CMH. Response time for severe trauma is not associated with the outcome of critical care requirement or mortality.

Read More
B-2523
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive