Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31895 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Kusuma Scorpia Lestari; Pembimbing: Rachmadi Purwana; Penguji: Dewi Susanna, Ratna Djuwita, Julitasari Sundoro, Sukanda
Abstrak:

Kasus difteri yang meningkat setiap tahunnya di Kabupaten Sidoarjo merupakan masalah kesehatan yang serius. Difteri merupakan salah satu penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi namun dalam kurun tiga tahun tidak ada penurunan jumlah kasus. Hanya sedikit rumah sehat di Kabupaten Sidoarjo tahun 2010. Penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian difteri di Kabupaten Sidoarjo dengan desain case control. Dilaksanakan pada bulan April - Juni 2012 dengan menggunakan kuesioner, wawancara, observasi, dan pengukuran. Jumlah sampel sebanyak 124 responden dengan jumlah kasus sebanyak 31 dan jumlah kontrol sebanyak 93. Variabel yang diteliti adalah umur, jenis kelamin, pencahayaan alami, luas ventilasi rumah, kepadatan hunian, dinding rumah, lantai rumah, status imunisasi, status gizi, sumber penularan, mobilitas, pengetahuan, dan sikap ibu. Status gizi dan sikap ibu berhubungan dengan kejadian difteri. Variabel yang paling berpengaruh adalah sikap ibu (p value = 0,062 ; OR = 2,304). Variabel umur, jenis kelamin, pencahayaan alami, luas ventilasi rumah, dinding rumah, lantai rumah, status imunisasi, mobilitas tidak berhubungan dengan kejadian difteri. Disarankan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo untuk tetap meningkatkan cakupan imunisasi dasar, memberikan informasi kepada masyarakat untuk meningkatkan asupan gizi dan meningkatkan pengetahuan tentang difteri.


  The diphtheria cases raised up in Sidoarjo District is a serious health problem. Diphtheria is a preventable disease through immunization, but in the past three years there was no decreasing number of cases. A few healthy home in Sidoarjo District in 2010. This study was to identify the related factors to diphtheria with case control design. It conducted in April - June 2012 by using questionnaire, interviews, observation, and measurement. Total sample was 124 respondents which number of case 31 respondents and number of control 93 respondents. Variables in this study were age, sex, natural lighting, ventilation wide, density residential, house wall, house floor, immunity status, nutritional status, transmission source, mobility, mother`s knowledge, and mother`s attitude. Nutritional status and mother`s attitude had related to diphtheria. The most influential variable was mother`s attitude (p value = 0,062 ; OR = 2,304). Variables age, sex, natural lighting, ventilation wide, house wall, house floor, immunity status, mobility had not relationship to diphtheria. It is suggested that Sidoarjo Health Office to increase basic immunization coverage, to inform the society to improve nutritional intake and to improve knowledge about diphtheria.

Read More
T-3595
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dinda Diah Karasita; Pembimbing: Suyud Warno Utomo; Penguji: Laila Fitria, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita usia 0-59 bulan di Kabupaten Mamuju pada tahun 2018. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dan data sekunder Riskesdas 2018. Sampel penelitian ini adalah seluruh balita usia 0-59 bulan di Kabupaten Mamuju yang terpilih sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunting pada balita usia 0-59 bulan sebesar 43,4%. Analisis bivariat menunjukkan tidak ada hubungan yangbermakna antara variabel independen dan dependen.
Read More
S-10550
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hetty Fiddiani; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Zakianis, Didik Supriyono
S-6484
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Basuki Kartono; Pembimbing: Rachmadi Purwana, I Made Djaja; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Hendri Hendriyan
Abstrak:

Dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2006 telah terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri di Kabupaten Tasikmalaya pada kelompok umur 1 ? 15 tahun sebanyak 55 anak (15 kasus meninggal, AR = 0,45% dan CFR = 31,91%). Pada Januari 2007 juga telah terjadi KLB difteri di Kabupaten Garut pada kelompok umur kasus 2 ? 14 tahun sebanyak 17 anak (2 kasus meningal, CFR = 11,76%, AR = 1,5%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lingkungan rumah dengan kejadian difteri pada Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri tersebut. Penelitian menggunakan desain kasus kontrol. Kasus berasal dari 15 desa lokasi KLB difteri sebanyak 72 anak dan kontrol berasal dari 1 desa terpilih secara random yang bukan dari kecamatan lokasi KLB difteri sebanyak 72 anak. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara dengan ibu anak pada kelompok kasus maupun kelompok kontrol menggunakan kuesioner untuk mendapatkan data lingkungan rumah, sumber penularan, status imunisasi dan pengetahuan ibu. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan bermakna dengan kejadian difteri adalah kepadatan hunian ruang tidur, kelembaban dalam rumah, jenis lantai rumah, sumber penularan, status imunisasi dan pengetahuan ibu. Disimpulkan bahwa lingkungan rumah, pengetahuan ibu dan sumber penularan bukanlah faktor utama yang mempengaruhi terjadinya difteri, sedangkan yang paling dominan dalam mempengaruhi kejadian difteri adalah status imunisasi, yaitu risiko terjadinya difteri pada anak dengan status imunisasi DPT/DT yang tidak lengkap 46,403 kali lebih besar dibandingkan dengan anak dengan status imunisasi yang lengkap. Untuk itu cakupan program imunisasi hendaknya makin ditingkatkan sehingga semua anak terlindungi oleh imunisasi difteri.


 

Since 2005 up to 2006 diphtheria out break had occur in Tasimalaya District among 1 ? 15 year old children. Total cases are 55 children with cases died with the Case Fatality Rate (CFR) 31.91%. Further on, January 2007 the same out break occur in Garut District, with 17 cases and 2 cases died (CFR 11.76%). Research objective is to identify the correlation of housing environmental condition with the diphtheria out break. Design study was case control study. The amount of 72 cases had taken from the 15 villages on the out break areas and the same amount (72) non cases taken from the village out of the out break areas. Data were collected through interviewed with structure questioner with the mother as the respondent. Data collected were housing environment, the source of infection, immunization status, and mother knowledge concerning the diphtheria. Research conclude that factors involved in diphtheria out break are housing member room density, housing humidity, quality of the floor, the source of the infection, immunization status of the children, and mother knowledge about the disease. The importance factors for the diphtheria out break are immunization status, with the OR of 46.403 greater of non immunization children compare with those had immunization. Therefore immunization program should be further intensified in order to give fully diphtheria protection for the hole children population in those areas.

Read More
T-2606
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ajat Jatnika; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Laila Fitria, Agus Mahmudin
S-5144
Depok : FKM UI, 2007
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eli Winardi; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari, Dewi Susanna
T-1914
Depok : FKM UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
F.X. Agus Budiyono; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari, Adang Bachtiar
T-1660
Depok : FKM UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erdinal; Pembimbing: Dewi Susanna, Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Sri Thahjani Utami, Sri Iriani, Dartini
Abstrak:

Kecamatan Kampar Kiri Tengah merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Kampar yang mempunyai angka penderita malaria klinis yang tertinggi (AMI = 79,19) dari 18 (delapan belas) kecamatan yang berada di Kabupaten Kampar. Penyakit malaria disebabkan oleh Plasmodium dan ditularkan oleh nyamuk anopheles, sp sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan dan salah satu dari sepuluh besar penyakit penyebab kematian di Indonesia, serta dapat menimbulkan kerugian di bidang sosial ekonomi. Penelitian ini menggunakan desain kasus kontrol yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria di Kecamatan Kampar Kiri Tengah Kabupaten Kampar. Sebagai kasus adalah pasien yang berkunjung ke puskesmas dengan gejala klinis dan hasil pemeriksaan darah malaria positif, sedangkan kontrol adalah pasien yang berkunjung tanpa gejala malaria klinis, dan hasil pemeriksaan darah negatif. Jumlah kasus dan kontrol masing-masing sebanyak 69 kasus. Faktor-faktor yang diteliti adalah tempat perkembangbiakan nyamuk, pemeliharaan ternak besar, pemakaian kelambu, pemakaian obat anti nyamuk, pemakaian kawat kasa, dan pemakaian bahan penolak nyamuk (repelen). Dari hasil penelitian ini diketahui ada lima variabel yang berhubungan dengan kejadiaan malaria, yaitu tempat perkembangbiakan nyamuk dengan nilai p = 0,006 (OR 2,8 ; 95 CI 1,381 ? 5,512), pemeliharaan ternak besar nilai p = 0,001 (OR 3,2 ; 95 CI 1,650 ? 6,693), pemakaian kelambu nilai p = 0,017 (OR 2,4 ; 95 % CI 1,226 ? 4,845), penggunaan obat anti nyamuk nilai p = 0,026 (OR 2,3; 95% CI 1,158 ? 4,564), dan penggunaan kawat kasa nyamuk nilai p = 0,027 (OR 2,3 ; 95% CI 1,153 ? 4,513). Dari hasil analisis multivariat didapatkan faktor yang paling dominan adalah pemeliharaan ternak besar, dan diikuti oleh tempat perkembangbiakan nyamuk, dan pemakaian obat anti nyamuk.


Factors related to malaria prevalence in Kampar Kiri Tengah Sub District, Kampar District, Riau Province in 2005 ? 2006. Kampar Kiri Tengah Sub-District has the highest number of malaria patients (AMI: 79,19) out of 18 sub-district in Kampar district. Malaria is caused by Plasmodium and transmitted out by anopheles sp mosquitoes. Until now, malaria is a major health problem in Indonesia and is one of the top ten high fatality diseases in Indonesia, and detrimental to socio-economic field. This study utilizes a case control research design and the objective was to find out the factors related to the occurrence of malaria disease in Kampar Kiri Tengah Sub-District, Kampar District. The case group consists of patients who visited health centre and showed clinical symptoms of malaria and whose blood examination result was positive. The control group consisted of patients who do not have clinical symptoms of malaria and the blood examination is negative. The number of case group and control group is 69 patients, respectively. Factors studied are mosquito breeding sites, living next to large cattle barns, the use of bed net, anti-mosquito chemical, wire netting, and repellent. The result of the study suggested that there are five variables related to occurrence of malaria, namely mosquito breeding sites with p value = 0,006 (OR 2,8 ; 95% CI 1,381-5,512), living next to large cattle with p value = 0,001 (OR 3,2 ; 95% CI 1,650-6,693), the use of bed net with p value = 0,017 (OR 2,4 ; 95% CI 1,226 ? 4,845), the use of anti-mosquito chemicals with p value = 0,026 (OR 2,3; 95% CI 1,158 ? 4,564) and the use of wire netting with p value = 0,027 (OR 2,3 ; 95% CI 1,153 ? 4,513). Multivariate analysis showed that most dominant factors is living next to large cattle, followed by mosquito breeding sites and the use of anti-mosquito chemical.

Read More
T-2220
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hilma Mayasari; Pembimbing: I Made Djaja; Penguji: Zakianis, Elin Herlina
S-6420
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Puteri Inandin Nabiha; Pembimbing: Ririn Arminsih; Penguji: Ema Hermawati, Budi Hartono, Didik Supriyono, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak: Kelainan kongenital didefinisikan sebagai kelainan struktural atau fungsional termasuk kelainan metabolisme yang muncul sebelum atau saat kelahiran dan mengakibatkan kecacatan pada anak bahkan kematian. Kelainan ini dipengaruhi faktor seperti genetik, sosioekonomi demografi dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan faktor yang berhubungan dengan kejadian kelainan kongenital pada anak di Kecamatan Tembalang Kota Semarang. Studi kasus kontrol dengan pendekatan retrospektif dilakukan terhadap wanita yang memiliki anak dengan kelainan kongenital dan yang tidak, yang telah tinggal di Kecamatan Tembalang selama minimal 5 tahun serta mengonsumsi air tanah setempat. Hasil penelitian memperoleh 22 kasus dan 48 kontrol. Cerebral palsy merupakan kelainan yang paling banyak ditemukan (36%) diikuti autisme (18%), sisanya buta sejak lahir, tuli kongenital, sindrom Down, hidrosefalus dan glukoma kongenital (46%). Riwayat konsanguinitas, riawayat kelainan genetik keluarga, konsumsi obat selama kehamilan, dan infeksi TORCH berhubungan signifikan dengan kelainan kongenital anak, dengan OR 95% CI masing-masing 10,44 (1,0999,86); 4,04 (1,38-11,84); 4,17 (1,34-12,91); 3,67 (2,47-5,44). Tidak ada hubungan faktor sosioekonomi-demografi seperti umur ibu ketika hamil, pendidikan, status ekonomi dan kadar timbal air tanah dengan kelainan kongenital pada anak. Riwayat konsanguinitas adalah yang paling dominan terhadap kejadian kelainan kngenital anak di Kecamatan Tembalang, Kota Semarang
Congenital abnormalities are defined as structural or functional disorders including metabolic disorders that appear prior or during birth and resulted in disability in children, or death. This known risk factors are genetic, socioeconomic-demographic and environmental factor. This study aims to find factors related to the prevalence of congenital abnormalities in children in Tembalang District, Semarang City. A retrospective case control study was conducted to women who have children with congenital abnormalities and those with normal children, who have lived in Tembalang for at least 5 years and consuming local groundwater. The results obtained in 22 cases and 48 controls. Cerebral palsy is the most common disorder (36%) followed by autism (18%), the rest were congenital blindness, congenital deafness, Down syndrome, hydrocephalus and congenital glaucoma (46%). Consanguinity, family history of genetic abnormalities, drug consumption during pregnancy, and TORCH infection were significantly associated with congenital abnormalities, with OR of 95% CI were 10.44 (1.09-99.86); 4.04 (1.38-11.84); 4.17 (1.34-12.91); 3.67 (2.47-5.44) respectively. There is no correlation between socioeconomic-demographic for maternal pregnancy age, maternal education, economy statuss and ground water lead levels with congenital abnormalities in children. In conclusion, consanguinity is the most dominant factors for the prevalence of congenital abnormalities in children in Tembalang District, Semarang City.
Read More
T-5998
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive