Ditemukan 30867 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Air merupakan bahan yang begitu vital dalam hidup setiap makhluk hidup, terutama manusia, sehingga keberadaannya perlu dijaga dengan baik. Kepadatan penduduk meningkatkan kebutuhan masyarakat pada air, apabila tidak diikuti dengan sanitasi yang baik maka krisis air tidak dapat dihindari. Pemanfaatan data yang tinggi dan kebuhrhan terhadap analisis yang cepat dan tepat, telah mendorong adanya kebutuhan terhadap pengembangan sistem informasi geografis kesehatan pada Air Minum dan Penyehatan Lingktrngan (AMPL) untuk menunjang proses perencaruran dan pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasikan model sistem informasi analisis spasial faktor resiko penyakit bawaan air yang mampu mendukung pengambilan keputusan dalam proses perencan.urn peningkatan kualitas dan kuantitas sarana air bersih dan sanitasi nasional. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam dan studi dokumen di AMPL Pusat dan Sekretariat STBM Pusat. Sistem ini dikembangkan dengan memasukan indikator faktor risiko diare melalui tiga variabel yaitu: kependudukan, lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat, yang selanjutnya dilakukan identifikasi wilayah berisiko diare di tingkat provinsi dan plotting sebaran pelaku program percepatan akses SABS. Dengan melahrkan proses analisis over laying dan plotting data dalam sistem ini, maka keluaran yang didapatkan berupa data tabulasi, grafik dan peta, yang dipercaya manlrpu melihat kesenjangan masing-masing wilayah. Analisa spasial dilakukan dengan menggunakan software Arc View 3.3 (non open source) sehingga masih dibutuhkannya eksplorasi software yang lebih praktis dalam menjawab kebutuhan pengguna sistem kedepannya.
Water is such a vital comodity in the lfe of every living teature, especially humans, so fts presence should be maintained properly. Population density increases the water needs of the community, thus the water crisis can not be avoided if onlyJbllowed by good sanitation. High data utilization ond the need for rapid and precise analysis, has driven the need for the development of geographic information systems in health Drinking Water and Sanitation (AMPL) to support planning and decision-making process. This study aimed to identify models of information systems spatial analysis of water-borne disease risk factors that can support decision making in the planning process improved the quality and quantity of clean water and sanitation facilities nation wide. Data collection methods used are in-depth interviews and document studies at the Centre AMPL and the Secretariat STBM, Jakarta. The system was developed by including indicators of risk factors of diarchea in three variables: population, erwironment and behavior of clean and healthy, which in turn made the identification of areas at risk of dianhea at the provincial level and plouing the distribution of program participants access acceleration SABS. SABSBy doing the over-laying and plotting dota analysis in this system, then its output is obtained in the form of data tabulation, charts and maps, are believed to be able ta see the gap of each region. Spatial analysis is done using soffi,vare Arc View 3.3 (non open source) so it still needs a more practical exploration software in answering the needs offuture users of the system.
Sistem informasi geografis bidang kesehatan dapat digunakan untuk melihat status kesehatan (outcome) melakukan perencanaan program, perencanaan infrastruktur dan peralatan, untuk melihat kemajuan indikator kesehatan (sebagai sistem evaluasi & monitoring), melihat cakupan pelayanan kesehatan, dan hubungan antar sektor. Pemantauan wilayah setempat (PWS) adalah alat manajemen program KIA untuk memantau cakupan pelayanan KIA di suatu wilayah (Puskesmas/kecamatan) secara terus menerus agar dapat dilakukan tindak lanjut yang cepat dan tepat lerhadap wilayah yang cakupan pelayanan KIA nya masih rendah. Kabupaten Majalengka telah lama melaksanakan program KIA namun masih memiliki permasalahan sistem informasi, diantaranya masih belum baiknya dalam penyediaan informasi yang cepat, tepat, dan akurat. Tujuan dikembangkannya SIG PWS KIA adalah guna menghasilkan informasi yang berkualitas dalam rangka membantu para pengambil kebijakan dalam melakukan evaluasi dan intervensi program kesehatan ibu dan anak secara cepat, tepat dan akurat di Kabupaten Majalengka. Pengembangan SIG PWS KIA ini mengikuti tahapan siklus hidup pengembangan sistem (system developmemf Iife cycles) yang dibatasi sampai pada tahap implementasi sistem (ujicoba prototype). Hasil uji kelayakan (feasibility study) pengembangan SIG PWS KIA di Kabupaten Majalengka dilihat dari aspek kelayakan ekonomis, teknis, operasi maupun organisasi cukup layak untuk dikembangkan. Hasil wawancara menyatakan bahwa sebenamya data yang dihasilkan dari sistem pelaporan PWS KIA yang telah berjalan selama ini sudah cukup memadai. Hanya perlu di tambahkannya beberapa indikator penunjang seperti kualitas pelayanan ANC, dikarenakan saat tidak adanya instrumen rutin dalam laporan yang melihat kualitas pelayanan ANC oleh Bidan. DO Pelayanan ANC yang tidak tersedia dalam Iaporan PWS, Kantong taksiran partus dan kunjungan luar wilayah, distribusi kematian ibu dan bayi berdasarkan penyebab, waktu terjadinya dan penolongnya yang belum tersedia secara rutin pada laporan PWS bulanan. Juga disetujui jika output SIG PWS KIA berupa peta geografis, yang memperlihatkan status kerawanan tertentu di suatu daerah. Sistem Informasi Geografis PWS KIA di Kabupaten Majalengka dapat berjalan dengan baik di seluruh Puskesmas jika ada beberapa prasyarat di antaranya adalah : Semua Bidan di desa I di puskesmas melakukan pengisian kartu ibu, kohor bayi dan format autopsi verbal dengan baik dan benar, tersedianya sarana komputer di Puskesmas dan di Dinas Kesehatan, tenaga pengelola SIG PWS KIA di Puskesrnas maupun di Dinas harus terlatih terlebih dahulu Software SIG PWS KIA.
Pengembangan Sistem Informasi PWS-KIA herbasis SIG ini adalah dihasilkannya Prototipe aplikasi Program KIA Puskesmas untuk Dlnas Kesehatan Kabupaten. Selaln itu dapat pula dilakukan pemetaan untuk melihat cakupan indikator KIA dan melihat wilayah prioritas herdasatkan cakupan indikator KIA, rasio tenaga Bidan terhadap desa binaan, jarak tempuh kecamatan ke ibu kota kabupaten dan persentase desa rawan per keeamatan. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan sistem yang terdiri dari analisis sistem yang dimulai dengan: menetapkan manalah sistem informasi yang ada, informasi peluang pengembangan, indikator dan data yang dibutuhkan. Kemudian membuat perancangan sistem yaitu membuat format input dan output. Selanjutnya dilakukan analisis dengan pemetaan. Diharapkan dengan tersusunnya prototipe PWS-KIA ini, dapat diterapkan dl Dinas Kesehatan dalam mempermudah pelaksanaan Evaluasi Program KIA.
Information system development of PWS-KlA with Geographic Information System (GIS) based produced prototype application KIA program in Public Health Centre for Public Health Office. The prototype can be conducted mapping to see coverage indicator and see priority region with indicator coverage based, personnel ratio of midwife fur building village. traveled distance from district to capital city sub-province and less village percentage by district. The methodology used is system approach that consist of system analysis started with: specify existing information system problem, information of development opportunity, indicator and data required. Then make system design that make input furmat and output. Furthermore is made analysis with mapping. The prototype result has been gotten information about the first priority Public Health Centre for intervention is Public Health Centre- with low coverage indicator KIA. personnel ratio of midwife for building village, less village percentage and traveled distance from district to capital city sub province that far is West Woyla Public Healt Center, East Woyla Public Health Center, Sungai Mas Public Health Center and Meutulang Public Health Center. Expectation from PWS-KIA prototype can help Public Health Office for monitoring and
Jumlah sarana kesehatan di Kota Tangerang Tahun 2006, yaitu Rumah Sakit sebanyak 18 buah, Puskesmas 25 buah, Pustu 7 buah, Posyandu 866 buah, Praktik dokter untuk 652 buab, Praktik dokter gigi 174 buah, Praktik dokter spesialis 275 buah, Balai Pengobatan (BP)/Klinik 120 buah, Rumah Bersalin (RB) 19 buah dan bidan swasta sebanyak 233 buab, namun sebaran sarana pelayanan kesehatan yang ada tersebut belum terlihat khususnya berdasarkan kebutuhan penduduk. Jumlah sarana pelayanan kesehatan swasta meningkat seiring dengan meningkatnya jamlah penduduk dan pencarian pengobatanoleh masyarakat. Sistem informasi registrasi sarana pelayanan kesehatan swasta di Kota Tangerang yang sudah berjalan belum mempunyai sistem basis data yang terintegrasi dan proses registrasi masih dilakukan secara manual. Analisis lebih lanjut perlu dilakukan sehingga dapat dilakukan pengembangan melalui tools yang tepat untuk menganalis kepadatan/rasio sarana pelayanan kesehatan dibandingkan dengan jumlah penduduk. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai advise dalam perencanaan pembangunan dan ususlan penentuan lokasi sarana pelayanan kesehatan swasta dan tenaga kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Pengembangan sistem yang dilakukan berdasarkan metode Decision Support System (DSS) yaitu planning, analysis system, design, prototyping,implementation dengan memadukan konsep Data Base Management System dan data spasial sehingga menjadi kekuatan dalam Sistem fnformasi Evaluasi Registrasl Sarana Pelayanan Kesehatan Swasta dan Tenaga Kesehatan (REKESTA). Hasil analisis sistem dapat mengidentifikasi permasalahan yang ada dalam sistem yang sedang berjalan serta altematif solusi pada level input, proses dan output. REKESTA didesain untuk kemudahan input data dan otomasi proses pcngolahannya menjadi informasi. Output yang dihasilkan berupa laporan, tabulasi indikator tenaga kesehatan dan informasi pemetaan sebaran sarana pelayanan kesehatan swasta dan tenaga kesehatan berdasarkan wilayah administrasi dan lnterpretasi 1ebih lanjut akan didapatkan peta sebaran sarana pelayanan kesehatan dasar berdasarkan sarana dan tenaga yang ada, sehingga akan didapatkan daerah yang kekurangan tenaga dan sarana. Aplikasi REKESTA ini dapat menjadi alat manajemen dalam advise dalam perencanaan pembangunan bukan hanya untuk registrasi izin saja tetapi usulan penentuan lokasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. REKESTA ini diharapkan dapat dijadikao alat bagi pengeloia program dan dimungkinkan dapat dikembangkan di Kabupaten lain.
The number of health facility in Tangerang on 2006, are 18 hospital, 25 local governer,7 pustu, 866 integrate post service (posyandu), 652 public doctor practise, 174 dentist practise, 275 specialized practice, 120 clinics, i9 maternity hospitals and 233 private midwife, however the spreading of those health services was unseen particularly based on the people needs. The number of private health services increase along with the increasing of people and public searching medical treatment. The information system of private health service registration in Tangerang that already exist now still have not with intergrated data base system and the registration process is still in manuaL Further analysis should be conducted inorder to develope with the right tools to analyze the density or ratio of health service facility compared with the number of citizen. Those informations can be used as advise to plan building and give an idea health service building location that needed by people. Developing system that be done based on decision support system (DSS) method, are planning, analysis system, design, prototyping, implementation by integrating the concept of data base management system and spacial data which result with the power in information system of private health facility service registration evaluation and health personnel (REKESTA). The result of this analysis system can identify the exist problem in the running system, it also can be an alternative solution in level input, process and output. REKESTA is designed to easy in data input and automatic processing into information, The output results are reports, indicator tabulation of health personnel, indicator grafic of health personnel and spreading map information of private health serv(ce and health personnel based on administration area. In further more interpretation can be obtained the spreading map of basic health service facility based on the present facility and personnel, so we will know the area that lack of personnel and facility. The REKESTA aplication can be a management tools in making advise to plan building not only for license registration but also to give idea the appropriate location with the people needs. It hoped can he a tool for programme manager and it is possibly to be developed in other regency.
Kesehatan dan gizi merupakan faktor yang penting karena secara langsung berpengaruh terhadap kualitas Sumber Daya Manusia di masyarakat. Status gizi masyarakat sering digambarkan dengan besaran masalah gizi pada kelompok balita. Kegiatan pemantauan balita kurang gizi merupakan kegiatan penting untuk kewaspadaan gizi. Peraturan yang mendukung terhadap kegiatan kewaspadaan gizi adalah Kepmenkes tentang pedoman penyelenggaraan surveilans epidemiologi kesehatan yang salah satunya tentang pelaksanaan kewaspadaan gizi daKepmenkes tentang standar pelayanan minimal yang menetapkan bahwa 80% kecamatan menjadi bebas rawan gizi. Angka balita kurang gizi yang cukup tinggi dan luasnya geografis Kabupaten Bogor mendasari diperlukannya suatu sistem informasi yang dapat dipergunakan untuk membantu para pengambil kebijakan dalam mengevaluasi dan intervensi program perbaikan gizi serta menentukan prioritas wilayah dalam pembinaannya. Penelitian pengembangan sistem informasi pemantauan balita kurang gizi di Kabupaten Bogor ini menggunakan desain penelitian dengan pendekatan sistem untuk menyelesaikan masalah. Dengan metode pendekatan sistem yang digunakan adalah incremental dengan metode prototyping yang meliputi tahapan perencanaan, analisis, perancangan, pengkodean dan uji coba prototype. Hasil analisis sistem dapat ngidentiftkasi permasalahan-permasalahan yang ada dalam sistem yang sedang berjalan serta altematif solusinya pada tingkat input, proses dan output. Sistem informasi pemantaun balita kurang gizi Sistem Informasi Geografts didesain untuk memudahkan input data dan analisis proses pengolahannya menjadi informasi. Output yang dihasilkan bempa laporan tabel, graftk prevalensi KEP, cakupan DIS, NID dan BGMID sebagai indikator pemantauan balita kurang gizi. Interpretasi lebih lanjut akan didapatkan peta sebaran kasus KEP, peta cakupan DIS, cakupan NID dan BGMID , sehingga akan didapatkan daerah yang rawan/potensi terhadap kasus balita kurang gizi. Aplikasi sistem informasi pemantauan balita kurang gizi ini dapat menjadi alat manajemen dalam pengambilan keputusan untuk kegiatan yang berhubungan dengan masalah balita kurang gizi di Kabupaten Bogor. Sistem informasi pemantauan balita kurang gizi berbasis sistem informasi geografi ini diharapkan dapat diman:faatkan bagi pengelola gizi lainnya.
It has already known that health and nutrition are the most important factors that directly influence the quality of human resources in the?society. Public nutritional status is usually described as the wide of the nutrition problems within is under-five group. Therefore, the activities on the monitoring of malnourished under-five children should be prioritized as it can be as a nutrition awareness system. The regulation that support the activities? on a nutrition awareness is stated in the ministry of health decision (MHD) on the Guidelines for the Implementation of Epidemiological Surveillance on the subject of a nutrition awareness, and MHD on the Minimum standard for services, which determine that 80% of sub-districts should be free from malnourishment state. The high rate on under-five malnourished and a broad-range of area geographically of bogor, are use to be the base on why information is needed, in order to assist for policy makers to evaluate and to intervene a nutrition improvement program, and to decide in which part of the area that program will be applied. The study on the development of information system to monitor the malnourished under-five children at the District of Bogor in using a system approach research design that intends to solve the problems. The met on of system approach fur the study is au incremental with a prototyping method .that consist of stages. of planning, analyzing, designing, coding, and prototype testing. The result of system analysis can be applied to identify problems that exist in the ongoing system and its solution alternatives at the level of input; process, and output, The information system to monitor the malnourished under-five children that based on the geographic information system (GIS) is designed for simplifying the data input and process analyzing into producing the information. Output yielded is in then from of Report Tables, Prevalence Graphics of EPD (Energy-protein deficiency), and Coverage of DIS, NID, and BGM/D as the indicators of malnourished under-five monitoring. An advance interpretation can be us to generate the map of tbe distribution of EPD cases, the map of the coverage on DIS, NID, and BGMID, in which identify the area that potentially become a malnourished under-five area. The information system to monitor the malnourished under-five children can be applied for management tools to meet the decision on any activities related to malnourished under-five at the district of Bogor. It is hoped that the information system to monitor the malnourished under-five children based on the GIS can be utilized by other nutrition managers.
Background: Leprosy is chronic disease cause by Mycobacterium Leprae infection and it is a contagious disease that generates very complex problems. At Cirebon district over last three years, until 2003, patient number reach 1.207 (Prevalence Rate 1,69/10.000 population), have not reach leprosy elimination, therefore disease contamination keep going. Leprosy elimination in Cirebon district to acquire and process of data using leprosy surveillances sentinel system, this system operational not yet maximum and yielded output only limited to regular report. Objective: The purpose of this system development is to develop an application of Leprosy System Information Program Based on Geography Information System for leprosy elimination acceleration program in Cirebon District Year 2005 Methods: System development done based on System Development Life Cycle method, by combining Data Base Management System concept and spatial data. Data and information needed were collecting by interview and document observation. Results: SIGEK designed for facilitating data input and automatic of its process mechanism into information. Yielded output is in form of regular report, tabulation, graphic, and area endemic mapping information with urban smallest observation unit. Epidemiologic interpretation leprosy case from this visual map can be identified case transmission diffusion model and health service range (Puskesmas) in leprosy elimination. Conclusion: This SIGEK application can be management application on leprosy elimination program, empowered ability on monitoring activity and surveillance. Yielded output could be made as information for decision making input on leprosy elimination acceleration program. SIGEK was hoped to be a device for program management and possible can be developed on other district. Keywords: Geography Information System, Elimination, Leprosy
Pengembangan Sistem Informasi Perencanaan Obat berdasarkan Metoda Morbiditas dilatarbelakangi adanya masalah berkaitan dengan pengelolaan obat khususnya pada tahap perencanaan obat dimana obat direncanakan hanya berdasarkan pada konsumsi obat tahun sebelumnya dan belum berdasarkan pada pola penyakit yang ada sehingga ketersediaan obat belum optimal, disatu sisi terdapat obat yang ketersediaannya sangat terbatas dan disisi lain terdapat obat yang ketersediaannya berlebihan. Disamping itu keciinya anggaran obat perlu terns ditingkatkan melalui penyediaan data kebutuhan obat yang lebih lengkap dihitung berdasarkan Metoda Konsumsi dan Metoda Morbiditas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan membuat suatu sistem inforrnasi yang mampu mengolah data kasus penyakit dari LB1 menjadi informasi kebutuhan obat sehingga diharapkan bermanfaat untuk menentukan jenis, jumlah, dan biaya kebutuhan obat pada scat membuat perencanaan obat. Dan diharapkan dihasilkannya indikator penggunaan obat sehingga dapat dipantau ketaatan pelaksanaan pengobatan pada standar pengobatan yang ada. Metodologi penelitian dilakukan dengan pendekatan pengembangan sistem, yaitu pendekatan System Development Life Cycle - SDLC meliputi tahap perencanaan sister, analisis sistem, perancangan sistem, uji coba dan koreksi, dan penggunaan sistem. Pengambilan data pada tahap perencanaan sistem dilakukan dengan teknik telaah dokumen dan wawancara guna memperoleh gambaran sistem yang lama dan melakukan identifikasi masalah, peluang dan kelayakan sistem secara operasional dan teknis. Pada tahap analisis sistem dilakukan analisa secara lebih mendalam sehingga diketahui bentuk informasi yang diperlukan, siapa pengguna informasi, waktu keluarnya informasi, dan kriteria sistem informasi yang diharapkan pengguna. Pada tahap perancangan sistem dilakukan perancangan secara terperinci pengenai basis data, masukan, keluaran, alur proses atau algoritma, program aplikasi dan pemilihan konvigurasi perangkat keras yang akan menjalankan sistem. Uji cobs dan koreksi prototipe dilakukan pada laboratorium komputer FKM UI, disamping itu juga dilakukan penilaian kelebihan dan kelemahan sistem. Sebagai hasilnya program aplikasi Sistem Informasi Perencanaan Obat berdasarkan Metoda Morbiditas ini diharapkan dapat dipergunakan di lingkungan Dinas Kesehatan Kota Pontianak. Beberapa simpulan dari penelitian ini antara lain bahwa Pengembangan Sistem Informasi Perencanaan Obat berdasarkan Metoda Morbiditas dapat diterapkan dilingkungan Dinas Kesehatan Kota Pontianak dengan beberapa prakondisi yang memungkinkan sistem berjalan untuk memenuhi keseluruhan kebutuhan informasi yang diharapkan pengguna untuk perencanaan kebutuhan obat dan pemantauan penggunaan obat. Program aplikasi yang sederhana, mudah dalam penggunaan, tingkat pengarnanan data yang baik dan dapat dikembangkan sehingga pengiriman data dari Puskesmas ke Dinas Kesehatan menjadi lebih mudah. Beberapa saran pada tahap lanjutan hendaknya juga dilakukan pengembangan sistem yang terkomputerisasi di Puslofar terhadap penerimaan, penyimpanan, pendistribusian dan pelaporan mutasi obat; adanya penyempumaan pada format form LB 1 dan penyempumaan standar pengobatan sehingga mencakup keseluruhan penyakit yang ada pada LB1.
The background of drug planning information system development base on morbidity method was the problem related to drug management particularly in drug planning step, where drug was planned merely based on drug consumption in a previous year and still not based on existing disease pattern, thus drug availability was still not optimal, in one side there was very limited drug availability and in the other side drug availability was excessive, Additionally, small drug budget need to be increased through more complete data provision of drug requirement calculated based on consumption method and morbidity method. The aim of this study was to identify and build a information system that can process data of disease case of LB 1 to drug requirement information that expected useful to determine type, number and cost of drug requirement when performing drug planning. It is expected to produce drug utility indicator so that treatment implementation adherence on existing treatment standard can be monitored. The study was carried out by system development approach, System Development Life Cycle (SDLC) approach including system planning, system analysis, system design, system testing and revising, and system use steps. In system planning step, document review and interview technique were employed to collect data in order to obtain the description of old system and to identify the problem, the chance and advisability of the system operationally and technically. In system analysis step, analysis is performed more deeply so that information form needed, information user, time of information out, and information system user criteria expected can be identified. In system design step, design is performed in detail on data, input, output, process flow or algorithm, applied program and hardware configuration selection to carry out the system. Prototype testing and correction were conducted in FKM UI computer laboratory, in addition, assessment of system benefit and limitation were performed. As a result, the application of program of drug planning information system base on morbidity method is expected can be used in Pontianak Health District. Some conclusions from this study include drug planning information system development base on morbidity method can be used in Pontianak Health District with some preconditions allowing the system to be carried out to meet all information need that user expected to drug requirement planning and drug utilization monitoring. Simple and easy applicable program, high level of data safety to be developed so that data transferring from health centre to health district is much easier. Some advises for the next step that it is needed to perform computerized system development on drug receiving, maintenance, distribution and drug mutation reporting in Puslofar; it is expected the finishing on LB 1 format and treatment standard, thus cover all of disease LB 1.
Background: There are many problems in the implementation of maternal and neonatal health information system at Banggai Kepulauan District such as too many record form, the type of information was only descriptive matter, using computer on data management was not optimally, lack of timely reporting, and incompleteness of reporting. These problems make the data quality is low and not adequately support the management of maternal and neonatal health program in Banggai Kepulauan District. Objective: The purpose of this system development is to develop an application of Maternal and Neonatal Health Program Management Information System that provided good quality of information to support maternal and neonatal health programs management in Banggai Kepulauan District. Methodes: The method for this research using system development life cycle approach that consist of planning, analysis, design and implementation stages. Data and information needed were collecting by depth interview, focused group disccusion and document observation. The object of research are the office of Banggai Kepulauan Health and Social Prosperity and four selected health centers. Results: This research had been created a prototype of Maternal and Neonatal Health Program Management Information System at District and Health Center that hoped to help on providing good quality of maternal and neonatal health data and information to support maternal and neonatal helath program management in Banggai Kepulauan District. Conclution: Good and continuity of system implementation need the policy and commitment of decision maker, clear regulation of system organization, good motivation of the system operator and continuity of financial support. Keywords: Information system, maternal, neonatal
Penyakit gigi dan mulut sampai saat ini masih merupakan penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat Indonesia pada semua golongan umur. Karies atau gigi berlubang merupakan penyakit yang paling sering ditemukan. Menurut SKRT (2001) prevalensi karies di Indonesia masih sangat tinggi yaitu 60 %, sedangkan kota Tangerang prevalensi karies pada murrid madrasah mencapai 47,3 % path tahun 2005. Gambaran ini menunjukkan bahwa masalah kesehatan gigi dan mulut periu segera mendapat penanganan yang serius, sebaliknya hal ini ternyata tidak diikuti dengan cakupan kunjungan pasien yang berobat gigi ke Puskesmas. Sistem informasi yang dapat menyediakan data yang berkualitas, cepa dan akurat sangat dibutuhkan dalam upaya mendukung manajemen Program Pelayanan Dasar Kesehatan Gigi dan Mulut Puskesmas. Sistem yang lama belum mampu menyediakan informasi seperti yang diharapkan karena kendala dalam proses pengolahan data yang sebagian masih dilakukan dengan cara manual sehingga membutuhkan waktu yang relatif lebih lama dalam menghasilkan informasi yang dibutuhkan. Metodologi yang digunakan adalah berdasarkan siklus hidup pengembangan sistem yang diawali dengan tahap perencanaan, analisis, perancangan dan implementasi. Untuk tahap implementasi hanya sampai pada kegiatan dokumentasi sistem dan pengujian sistem hanya dilakukan di laboratorium menggunakan data laporan buianan Puskesmas tahun 2005. PengumpuIan data dan informasi melalui wa.wancara mendalam, telaah dokumen dan observasi. Unit kerja yang menjadi obyek penelitian adalah Sie Kesehatan Khusus di Dinas Kesehatan Kota Tangerang. Dalam penelitian ini telah dihasilkan suatu otomasi pengolahan data berupa prototype Sistem Informasi Kesehatan Gigi dan Mulut Puskesmas. Prototype ini diharapkan mampu menjadi solusi dalam hal mendapatkan informasi yang cepat, akurat dan relevan mengenai data pelayanan dasar kesehatan gigi dan mulut Puskesmas, sehingga dapat dipergunakan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut pada masyarakat dalam rangka menunmkan angka kesaldtan gigi di Kota Tangerang.
Dental and oral diseases are mostly suffered by Indonesians in all ages. Caries is often found as a disease. According to SICRT (2001) caries prevalence in Indonesia is still very high about 60 %, meanwhile in Tangerang caries prevalence of elementary Islamic student reached 47.3 % in 2005. This illustration shows that dental and oral health problem should be handled seriously soon. On the other hand this matter is not followed by patient visiting to Health Center. An information system that provides qualified data is required in order to support the management of Dental and Oral Health Service Program in Health Office. The system is not able to provide the expected information because the data processing has manual system so that it takes relatively long time to produce the expected information. The method for this research is using system development life cycle approach that is started by planning, analysis, design, and implementation stages. The implementation stage is only tested at laboratory using monthly report data of some Health Centers year 2005. The required data and information were collected by depth interviews, document examinations and observations. The object of this research is Seksi Kesehatan Khusus of Health Office in Tangerang City. The research has created a prototype of automatically data process. This prototype could be a solution in order to gain fast, accurate and relevan information concerning Dental and Oral Health Program in Health Office, so that it could be used to improve Dental and Oral Health Service for people in framework of minimize caries prevalence in Tangerang City.
