Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38080 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Anny Fadmawaty; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Vetty Yulianty Permanasari, Ace Yati Hayati, Dedi Hermawan
Abstrak:

Formulasi Kebijakan merupakan tahapan penting yang mempengaruhi Implementasi Kebijakan. Dalam proses  Formulasi ditetapkan tujuan, strategi pencapaian, pertimbangan sumberdaya dan antisipasi konsekuensi dan resiko kebijakan yang ditetapkan. Penelitian ini membahas proses formulasi kebijakan Registrasi Tenaga Kesehatan di luar dokter, dokter gigi dan tenaga kefarmasian dengan melihat konteks, konten dan aktor kebijakan dimana kebijakan akan diimplementasikan.  Metoda penelitian adalah kualitatif. Penelitian menunjukkan bahwa dalam proses formulasi kebijakan Registrasi Tenaga pertimbangan sumberdaya manusia, sarana dan prasarana serta metoda pelaksanaan uji kompetensi belum optimal sehingga pelaksanaan kebijakan terhambat. Kata kunci : Formulasi dan Kebijakan Registrasi, Tenaga Kesehatan di luar dokter, dokter gigi


Policy Formulation is the important phase  that influences the  policy implementation. Policy Formulation process  defined objective, strategies,achievements, resources consideration and anticipation of consequences and risk of policy . This research looks at the process of policy formulation by and for government with looking at  the context, content and actors in which a policy is implemented. The method of this research is qualitative approach. Result of this research showed that there is insufficientcy of  human resources, infrastructure and method considerations which will lead to constrain in the implementation. Keywords: Formulation Process, Registration Policy, health Care Workforce beside Physician, dentist, Pharmacy Personnel.

Read More
T-3552
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lintang Dian Saraswati; Ratna Djuwita Hatma, Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Suhartono, Praba Ginandjar
Abstrak:

Latar belakang: Tenaga kesehatan berpotensi untuk terkena Human Immunodeficiency Virus (HIV). Virus HepatitIs C, dan Virus Hepatitis B yang penularannya lewat darah. Tertusuk jarum suntik dapat membahayakan tenaga kesehatan di rumah sakit. Tujuan: Diketahuinya riwayat tertusuk jarum suntik yang berhubungan dengan terjadinya kejadian Hepatitis B atau C pada tenaga kesehatan di RS Dr.Kariadi Semarang Tahun 2008. Metode: Desain cross sectional dengan melakukan wawancara dan pengambilan darah pada 225 kelompok terpapar (kelompok riwayat tertusuk jarum suntik >2 kali) dan 225 kelompok riwayat tertusuk jarum suntik < 2 kali). Analisis data univariat, bivariat dan multivariat dengan interaksi dan confounding. Hasil dan diskusi: Riwayat tertusuk jarum suntik >2 kali berisiko 48,99 kali untuk mengalami Hepatitis B atau C dibandingkan dengan riwayat tertusuk jarum suntik < 2 kali dengan POR sebesar 48,99 95%CI (9,494-252,85) P value 0,000 dan terdapat satu variabel confounding yaitu frekuensi menyuntik yang dapat mendistorsi efek riwayat tertusuk jarum suntik dengan kejadian Hepatitis B atau C. Kesimpulan dan saran: Tenaga kesehatan yang riwayat tertusuk jarum suntik >2 kali dalam 6 bulan memperbesar risiko mengalami kejadian Hepatitis B atau C bila dibandingkan dengan tenaga kesehatan yang riwayat tertusuk jarum suntik < 2 kali dalam 6 bulan, setelah dikendalikan oleh Riwayat Medis, Paparan Pekerjaan Modis, Unit kerja, Lama Kerja, Jenis Kelamin, Frekuensi Menyuntik, dan Kewaspadaan Universal di RS Dr. Katiadi Tabun 2008. Di anjurkan supaya tenaga kesehatan di RS Dr. Kariadi tidak sampai tertusuk lebih dari satu kali agar tidak terkena Hepatitis B atau C dengan cara meningkatkan praktek pencegahan infeksi, melakukan general check up dimana pemeriksaan Hepatitis B atau C termasuk didalamnya dan dilakukan setahun sekali, bagi tenaga kesehatan yang tertusuk jarum suntik lebih dan sekali sebaiknya segera memeriksakan diri secepatnya untuk mengetahui lebih dini apakah mengalami Hepatitis B atau C, dan sebaiknya tenaga kesehatan dalam sebulan menyuntik tidak lebih dari 8 kali agar tidak mengalami hepetitis B atau C.


Background: Healthcare workers (HCWs) are potentially at risk for human immunodefiCiency virus (HIV), Hepatitis B virus (HBV) and Hepatitis C virus (HeV) infection through occupational exposures to blood and bloody body fluids. Needle stick injuries put healthcare workers at risk of life-threatening infections such as Hepatitis C and Hepatitis B. Aims: A study was designed to determine the risk of needle stick injuries of Hepatitis B Virus (HBV) or Hepatitis C virus (HCV) infections among health care workers in Dr. Kariadi Hospital 2008. Method: Designed cross sectional by interview and blood examination on 225 exposed group (had needle stick injuries more than once in. 6 month ago) and on 225 unexposed group (had needle stick injuries less than twice in 6 month ago). Analysis of data univariate, bivariate and multivariate with interaction and confounding. Results: Needle stick injuries more than once related to Hepatitis B or C with POR 48,99 95%CI (9,494-252,85) P value 0,000 and frequencies of suturing is a confounder. Conclusion: Needle stick injuries more than once related to Hepatitis B or C after controlled by medical history, duration of working, exposure on medical occupation, workplace, sex, universal precautions. and frequencies of suturing. Suggested to health care workers in Dr. Kariadi Hospital do not get needle stick injuries more than once in order to prevent Hepatitis B or C by increasing universal precautions, do general check up including Hepatitis B and C, health care workers who had needle stick injuries more than once are supposed to immediately check up for early diagnostic Hepatitis B or C, and suggested to saturing not more than eight times in a month.

Read More
T-2899
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Septiana Lazasniti; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Soedarto Ronoatmodjo, Muhamad Yusuf
Abstrak: Persentase persalinan bedah sesar di Indonesia mengalami peningkatan pada tahun 2012-2017 dari 12% menjadi 17%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tren jumlah fasilitas pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan, dan persalinan bedah sesar di Indonesia tahun 2007-2017 serta faktor yang memengaruhi persalinan bedah sesar di Indonesia tahun 2017. Penelitian dilakukan dengan desain cross sectional menggunakan data sekunder Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) dan Profil Kesehatan Indonesia tahun 2007, 2012, dan 2017. Analisis data yang digunakan adalah univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan uji Chi-Square dan Regresi Logistik Sederhana. Hasil penelitian menunjukkan tren jumlah fasilitas pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan, dan persalinan bedah sesar di Indonesia pada tahun 2007-2017 mengalami peningkatan. Hasil analisis didapatkan faktor confounding yaitu paritas dan jarak kelahiran. Kekuatan hubungan faktor yang memengaruhi persalinan bedah sesar di Indonesia pada tahun 2017 yaitu penolong persalinan adalah tenaga kesehatan spesialis (OR= 8,54), kehamilan kembar (OR= 2,48), kunjungan ANC ≥4 kali (OR= 1,51), indeks kepemilikan tinggi atau kuintil 4 dan 5 (OR= 1,20), tempat tinggal di perkotaan (OR= 1,13), indeks kepemilikan rendah atau kuintil 1 dan 2 (OR= 0,80), tempat persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan swasta (OR= 0,79), dan pemeriksa ANC oleh bukan tenaga kesehatan (OR= 0,37). Pilihan persalinan melalui bedah sesar perlu dipertimbangkan lagi berdasarkan faktor risikonya.
Read More
S-9950
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khadijah Qurrata Ayun; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Nurhayati Adnan, Antony Azarsyah
Abstrak:
Gangguan kesehatan gigi dan mulut memiliki angka yang cukup tinggi di Indonesia menjadi faktor risiko penyakit tidak menular sehingga dapat meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas di Indonesia. Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk usia produktif yang tinggi sehingga gangguan kesehatan gigi dan mulut yang dapat mempengaruhi produktivitas perlu untuk ditangani. Penelitian ini bertujuan mengetahui proporsi dan determinan yang mempengaruhi kejadian gangguan kesehatan gigi dan mulut pada masyarakat usia produktif di Indonesia berdasarkan hasil SKI 2023. Penelitian ini berdesain studi cross-sectional menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia 2018. Sebanyak 486.994 subjek memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil analisis multivariat model prediksi dengan regresi cox menunjukkan bahwa usia, jenis kelamin laki-laki, pendidikan rendah, sering konsumsi makanan manis, sering konsumsi minuman manis, merokok, konsumsi minuman beralkohol, dan frekuensi sikat gigi <2x/hari merupakan prediktor gangguan kesehatan gigi dan mulut. Modifikasi gaya hidup dan menerapkan perilaku kebersihan gigi sejak dini dapat dilakukan untuk mencegah tingkat keparahan. Perlunya peran pemerintah dalam memperkuat regulasi dengan koordinasi lintas sektor untuk menurunkan angka gangguan kesehatan gigi dan mulut yang dimulai pada tahap promotif dan preventif.


Dental and oral health disorders have a fairly high rate in Indonesia, becoming a risk factor for non-communicable diseases that can increase morbidity and mortality rates in Indonesia. Indonesia is one of the countries with an abundant productive age population, so dental and oral health disorders that can affect productivity need to be addressed. This study aims to determine the proportion and determinants that influence the incidence of dental and oral health disorders in productive age people in Indonesia based on the results of the 2023 SKI. This study was a cross-sectional study design using data from the 2018 Indonesian Health Survey. A total of 486,994 subjects met the inclusion and exclusion criteria. The results of the multivariate analysis of the prediction model with cox regression showed that age, male gender, low education, frequent consumption of sweet foods, frequent consumption of sweet drinks, smoking, consumption of alcoholic beverages, and frequency of toothbrushing
Read More
T-7427
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Isnaeni Martianingsih; Pembimbing: Lukman Hakim Tarigan
S-3491
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahmat Saputra; Pembimbing: Nurhayati Adnan Prihartono; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Retno Henderiawati
Abstrak: Salah satu upaya untuk menghentikan pandemi COVID-19 adalah dengan vaksinasi. Pelaksanaan vaksinasi di DKI Jakarta tahap pertama diberikan pada tanggal 14 Januari 2021 dan tahap kedua pada tanggal 01 Maret 202. Hingga 28 Maret 2021, teracatat sudah 120.490 tenaga kesehatan yang mendapatkan vaksinasi lengkap hingga tahap 2. Meski demikian, jumlah tenaga kesehatan yang terinfeksi pasca vaksinasi hingga 06 Juni 2021 sebanyak 724 orang. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor apa saja yang berisiko terhadap terjadinya infeksi Covid-19 pada tenaga kesehatan pasca vaksinasi di DKI Jakarta. Studi Cross-Sectional dilakukan untuk melihat faktor risiko infeksi COVID-19 pada tenaga kesehatan (nakes) pasca vaksinasi COVID-19 dosis lengkap (2 dosis) dengan memanfaatkan data sekunder (laporan tenaga kesehatan DKI Jakarta yang telah mendapatkan vaksinasi dosis lengkap dari bulan Maret - Mei 2021) dan data primer (kuesioner yang disebar keseluruh tenaga kesehatan yang telah mendapatkan vaksinasi dosis lengkap). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 6 variabel yang berhubungan dengan kejadian infeksi COVID-19 pada tenaga kesehatan pasca vaksinasi di DKI Jakarta yaitu: usia (PR 0,63; p=0,002), hipertensi (PR 1,52; p=0,009), berhadapan langsung dengan pasien (PR: 2,02; p=<0,0001) dengan faktor risiko paling dominan adalah riwayat infeksi COVID-19 (PR: 2,16; p=0,001). Tenaga kesehatan yang berusia >37 tahun, memiliki riwayat diabetes melitus, Riwayat hipertensi, riwayat infeksi COVID-19, berhadapan langsung dengan pasien serta menggunakan APD level 1 dalam keseharian bekerja diprioritaskan untuk mendapatkan vaksinasi booster
One of the efforts to stop the COVID-19 pandemic is by vaccination. The first dose vaccination in DKI Jakarta has been done on January 14, 2021 and the second dose on March 1st, 2021. Health care workers that have been vaccinated with complete dose until the 28 of March were 120.490 people. However, the number of health care workers infected post vaccinated until June 6, 2021 is 724 people. A cross-sectional study has been done to observe the risk factors of Covid-19 infection on health care workers post vaccinated using secondary data (reports of DKI Jakarta health care workers who have received complete doses of vaccination from March-May 2021) and primary data (a questionnaire distributed to all health care workers who have received a complete doses of vaccination from March-May 2021). The result of this study shows us that there are 6 variables related to the incidence of COVID-19 infection in post-vaccination health care workers in DKI Jakarta, consist of: age (PR 0,63; p=0,002), hypertension (PR 1,52; p=0,009), face to face with patients (PR: 2,02; p=<0,0001), with the most dominant risk factor is a history of COVID-19 infection (PR: 2,16; p=0,001). Health care workers who are >37 years old, have a history of diabetes mellitus, a history of hypertension, a history of COVID-19 infection, face to face with patients, and using PPE level 1 in their daily work are prioritized to get a booster vaccinations
Read More
T-6228
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andi Rispah Sulistianingsih; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Putri Bungsu, Siti Kulsum, Mugia Bayu Raharja
Abstrak: Dari 14.646 WUS, 3,9% memeriksakan kehamilan pada dukun, 30,7% pada dokter ahli kandungan dan 65,7% oleh bidan/dokterumum/perawat. Hasil analisis multivariat menunjukkan adanya interaksi antara tenaga pemeriksa kehamilan dengan komplikasi persalinan. Jika dibandingkan dengan wanita yang memeriksakan kehamilan pada bidan/dokter umum/perawat dan tidak mengalami komplikasi persalinan maka, Wanita yang memeriksakan kehamilan pada dokter ahli kandungan dan mengalami komplikasi persalinan berpeluang 0,73 kali untuk menggunakan metode sesar. Wanita yang memeriksakan kehamilan pada dokter ahli kandungan dan tidak mengalami komplikasi persalinan berpeluang 2,95 kali untuk menggunakan metode sesar. Wanita yang memeriksakan kehamilan pada dukun dan mengalami komplikasi persalinan berpeluang 1,84 kali untuk menggunakan metode sesar. Wanita yang memeriksakan kehamilan pada dukun dan tidak mengalami komplikasi persalinan berpeluang 0,58 kali untuk menggunakan metode sesar. Wanita yang memeriksakan kehamilan pada bidan/dokter umum/perawat dan mengalami komplikasi persalinan berpeluang 1,48 kali untuk menggunakan metode sesar
Read More
T-5640
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Firda Mawaddah Aulia; Pembimbing: Syahrizal; Penguji: Yovsyah, Melyana
Abstrak: Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan kejadian Diabetes Melitus Tipe 2 pada penduduk pralansia di DKI Jakarta berdasarkan data Riskesdas 2018. Metode: Sampel penelitian ini penduduk usia 45-59 tahun sebanyak 2.958 orang. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan analisis univariat dan bivariat. Hasil: Hasil analisis univariat menunjukkan prevalensi Diabetes Melitus Tipe 2 pada pralansia di DKI Jakarta sebesar 8,0%. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan signfikan antara status merokok (OR=1,760 95%CI 1,241-2,496; p=0,002), obesitas sentral (OR=1,912 95%CI 1,432-2,554; p<0,001), dan hipertensi (OR=1,338 95%CI 1,025-1,747; p=0,038) dengan DM Tipe 2.
Read More
S-10683
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ernes Dariansyah; Pembimbing: Nurhayati A. Prihartono; Penguji: Renti Mahkota, Hariamat Hendrawan
S-8137
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Danastri Widoningtyas; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Ratna Djuwita, Rofingatul Mubasyiroh
S-10407
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive