Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 29372 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ketut Anom Ratmaya; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Amal C. Sjaaf, Purnawan, Juandi, Yuli Prapancha Satar
Abstrak:

Penelitian bertujuan untuk mendapatkan pembiayaan kamar operasi dan tingkat pemulihan biaya dari hasil kamar operasi untuk tiap jenis operasi di Rumah Sakit Umum Puri Raharja berdasarkan activity based costing. Studi ini bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan kualitatif dan kwantitatif. Hasil perhitungan dengan menggunakan ABC system terhadap 54 jenis pembedahan di Rumah Saakit Umum Puri Raharja diperoleh nilai perhitungan tertinggi pada jenis operasi Extended Pyelolithomy dengan nilai Rp 581,190.- sedangkan nilai perhitungan terendah pada jenis tindakan EKEK+IOL sebesar Rp 298,726.- dan nilai rata-rata penghitungan berdasrkan jenis operasi adalah sebesar Rp 456,018.-.Hasil perhitungan Activity Based Costing dibandingkan dengan hasil pendapatan didapatkan tingkat pemulihan biaya perjenis tindakan rata rata 286,4% atau hasil pendapatan yang didapatkan dari kamar operasi sudah dapat munutupi biaya opersional kamar operasi berdasarkan jenis operasi. Disarakan agar dilakukan perhitungan kembali pada beban untuk tenaga kerja, pembaharuan peralatan, dan evaluasi pada beberapa tindakan yang memiliki nilai CRR dibawah 100%, untuk menghasilkan profit untuk pengembangan rumah sakit ke depan.


 This research was carried out on the operating room cost and cost recovery level of operating room resulted for each kind of operation at Puri Raharja General Hospital based on activity based costing. This study is in analytic descriptive with qualitative and quantitative approaches. The research result for 54 kind of surgery based on activity based costing shows highest calculated values obtained on the Extended Pyelolithomy operation with a value of Rp 581.190, while the lowest value calculated on the EKEK+IOL is Rp 298.726. - and the average value calculation based on type of operation is Rp 456.018. -. The result of cost calculation with Activity Based Costing compared with the average revenue is in average 286.4% or the revenue which is gained from operating room can cover the operational cost of operating room based on the kind of the operation. It is suggested to do the recounting on the burden of the workers, renewal the equipments and evaluation on some activities, which have CRR value fewer than 100%, so that the operating room can function properly and can be revenue centre which results profit to the development of the hospital in the future.

Read More
B-1425
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nelly Noviyanti; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Pujiyanto, Kurnia Sari, Tri Prabowo, Mohamad Hendriyanto
Abstrak: Sistem pembayaran INA-CBGs merupakan pembayaran berdasarkan tarif pengelompokkan diagnosis yang mempunyai kedekatan secara klinis dan homogenitas sumber daya yang dipergunakan. Rumah sakit akan mendapat pembayaran berdasarkan rata-rata biaya yang dihabiskan oleh suatu kelompok diagnosis. Sistem ini telah diterapkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penghitungan tarif pelayanan hemodialisis dengan mentode Activity Based Costing. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada layanan tindakan hemodialisis terdapat selisih antara rata-rata biaya satuan dengan Menggunakan metode Activity Based Costing pada mesin Nipro maupun mesin Fresenius. Biaya dengan metode tersebut diketahui lebih rendah bila dibandingkan dengan tarif HD BPJS maupun tarif RS. Hal itu menunjukkan dengan Menggunakan metode Activity Based Costing memberikan keuntungan bagi rumah sakit
The INA-CBG payment system is a paymend basd on the rate of grouping diagnoses that have clinical closeness and homogeneity of the resources used. Hospitals will be paid based on the average cost spent by a diagnostic group. This system has been implemented by the Ministry of Health of the Republic of Indonesia in order to improve service quality. This study aims to determine the description of the calculation of hemodialysis service rates using the Activity Based Costing method. The research is a quantitative research with a descriptive design. The results of this study indicate that in the hemodialysis service there is a difference between the average unit cost using the Activity Based Costing method on the Nipro machine and the Fresenius machine. Costs with this methods are known to be lower when compared to HD BPJS rates and hospital rates. This shows that using the Activity Based Costing method provides a advantage for the hospital.
Read More
B-2201
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Virna Wita; Pembimbing: Hendrik M. Taurany; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Wahyu Sulistiadi, Budi Hartono
Abstrak:

Dalam era globalisasi tumbuhnya rumah sakit menyebabkan terjadinya kompetisi antar rumah sakit yang makin keras untuk dapat merebut pasar yang semakin terbuka lebar. Hal ini mendorong pihak rumah rumah sakit maupun stakeholder untuk menghitung secara riil berapa biaya pelayanan yang dibutuhkan sehingga dapat menjadi alat dalam pembiayaan pelayanan kesehatan tanpa mengurangi mutu pelayanan yang diberikan, yaitu dengan melakukan analisis perhitungan biaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besaran biaya satuan tindakan appendiktomi akut di kamar operasi rumah sakit X dengan menghitung biaya langsung dan tidak langsung yang terjadi. Penelitian ini merupakan penelitian operational research dan bersifat deskriptif analisis dengan menggunakan data sekunder rumah sakit tahun 2010 di RS X Jakarta. Metode perhitungan biaya menggunakan metode ABC (Activity Based Costing) dan distribusi sederhana. Metode ABC untuk mengalokasikan biaya langsung dengan menghitung biaya dari kegiatan yang terjadi menggunakan cost driver berdasarkan waktu kegiatan. Metode distribusi sederhana untuk mengalokasikan biaya tidak langsung yang secara tidak langsung terlibat dalam pelayanan appendiktomi dengan melakukan pendistribusian biaya dari unit penunjang ke unit produksi (kamar operasi). Biaya satuan aktual appendiktomi sebesar Rp. 5.344.551,48,- dan biaya satuan normatif sebesar Rp. 5.312.912,-. Biaya operasional jasa medis dan paramedis merupakan biaya yang terbesar.


 In an era of growing globalization of the hospital which led to competition among hospitals is increasingly more difficult to capture the wide open market. This prompted the hospital as well as the stakeholders to quantify how much the real cost of services is needed, and could be a reference tool in health care financing without reducing the quality of service provided by analyzing the cost calculation. The objective of this study is to determine the amount of unit cost in acute appendectomy surgery at operating room of hospital X by calculating the direct costs and indirect costs. This research type is operational research and descriptive analysis by using secondary data from hospital X Jakarta for the year 2010. Methods of cost calculation are ABC (Activity Based Costing) and simple distribution. ABC method is used for allocating direct costs by calculating the cost of activities that occur using time-based cost driver activity. Simple distribution method is used for allocating indirect costs that are not directly involved in appendectomy service by distribution of unit costs which supports the production unit (operating room). Actual unit cost of appendectomy surgery is Rp. 5.344.551,48, - and normative unit cost is Rp. 5.312.912, -. Operational costs of medical and paramedical consumable materials become the largest consumption.

Read More
B-1399
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Reynaldi Fattah Zakaria; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Atik Nurwahyuni, Muhammad Helmi; Purwa Kurnia Sucahya
Abstrak:
Semasa Pandemi COVID-19, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkan RSKD Duren Sawit menjadi rumah sakit rujukan untuk merawat pasien COVID-19. Dan pada tahun 2022, RSKD Duren Sawit telah resmi mengadakan layanan kamar operasi. Akibat urgensi permintaan layanan kamar operasi yang lebih lengkap, penentuan tarif kamar operasi dilakukan dengan mengadaptasi tarif RSUD lain dan Peratuan Gubernur DKI Jakarta. Terdapat selisih biaya yang sangat besar antara tarif rumah sakit dan tarif klaim INA-CBGs, khususnya pada tindakan debridemen bedah yang dilakukan di kamar operasi. Salah satu faktor yang menyebabkan selisih biaya adalah belum ditetapkannya tarif tindakan debridemen berdasarkan komponen biaya satuan (unit cost). Mengetahui unit-cost debridemen di kamar operasi sesuai dengan biaya per-aktivitas. Desain penelitian ini adalah cohort retrospective. Aktivitas tindakan debridemen dikumpulkan melalui pengamatan langsung dan laporan operasi pasien. Kemudian melakukan perhitungan unit cost berdasarkan activity-based costing. Unit cost tindakan debridemen dengan anastesi TIVA adalah Rp. 3.189.185, dengan anastesi spinal adalah Rp. 3.169.460, dan dengan anastesi blok perifer adalah Rp. 3.305.072. Hasil perhitungan unit cost lebih rendah dibandingkan tarif rumah sakit untuk tindakan debridemen leher dan mediastinitis. Namun untuk tindakan debridemen oleh bedah umum dan bedah mulut, unit cost lebih tinggi.

During the COVID-19 Pandemic, The Government of DKI Jakarta established the Duren Sawit RSKD as a referral hospital to treat COVID-19 patients. And in 2022, RSKD Duren Sawit has officially held operating room services. Due to the urgency demand for more complete operating room services, the determination of operating room rates is carried out by adapting the other hospitals and The Governor Regulation of DKI Jakarta. There is a huge difference in costs between the hospital rates and the INA-CBGs claim rates, especially for surgical debridement performed in the operating room. One of the factors causing the difference is the undetermined cost for debridement based on the unit cost component. Knowing the unit-cost debridement in the operating room according to the cost per activity. The study design was a retrospective cohort. Debridement action activities were collected through direct observation and patient operation reports. Then perform unit cost calculations based on activity-based costing. The unit cost of debridement with TIVA anesthesia is Rp. 3.189.185, with spinal anesthesia is Rp. 3.169.460, and with peripheral block anesthesia is Rp. 3.305.072. The unit cost calculation results are lower than hospital rates for neck debridement and mediastinitis. However, for debridement by general surgery and oral surgery, the unit cost is higher.
Read More
B-2342
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Betsy Sarah Raphaela; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Muhamad Nur Ihwan, Purnawan Junadi
S-9629
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ardiansyah; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Kurnia Sari, Pujiyanto, Dovy Djanas, Pribadi Wiranda Busro
Abstrak:
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain penelitian kualitatif dan kuantitatif dengan tujuan melakukan analisis perhitungan biaya satuan tindakan bedah jantung Coronary Artery Bypass Graft (CABG) dalam satu episode rawatan dengan metode Activity Based Costing (ABC) di RSUP DR. M. Djamil Padang. Penelitian dilakukan di RSUP Dr M. Djamil Padang, Waktu penelitian November-Desember 2023. Terdapat 23 sampel pada penelitian ini. Semua sampel yang ada dibuatkan simulasi aktivitasnya berdasarkan telaah berkas klaim, wawancara, serta observasi langsung untuk mendapatkan gambaran terkait komponen biaya yang memengaruhi pelayanan pasien operasi bedah jantung CABG dalam satu episode rawatan. Berdasarkan hasil analisis biaya didapatkan bahwa biaya satuan pasien operasi bedah jantung CABG di RSUP M. Djamil Padang dalam satu episode rawatan didapatkan total unit cost sebesar Rp. 141.143.737,56. Total biaya langsung Rp. 124.767.235,56 dan biaya tidak langsung adalah sebesar Rp. 16.376.502,00. Kedisiplinan dalam menjalankan clinical pathway menjadi kunci utama bagi rumah sakit untuk melakukan efektivitas pembiayaan. Jumlah operasi memiliki potensi besar untuk ditingkatkan mengingat antrian bedah jantung terbuka di RSUP M. Djamil Padang sudah mencapai enam bulan lebih. Semakin banyak operasi yang dilakukan akan berdampak positif terhadap efektivitas biaya. Beberapa BMHP, alat-alat kesehatan, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan radiologi dan pemberian obat-obatan bisa lebih diefektifkan yang berdasarkan analisis penelitian ini mampu mengefektifkan biaya sampai dengan 25-30%.

This is a descriptive study with a qualitative and quantitative design with the aim to analyze the unit cost of Coronary Artery Bypass Graft (CABG) heart surgery in one hospitalization episode using the Activity Based Costing (ABC) method at RSUP DR. M. Djamil Padang. The research was conducted at Dr M. Djamil Hospital Padang on November-December 2023 with 23 samples. All existing samples were simulated activities based on a review of claims files, interviews, and direct observation to get an idea of the cost components that influence the CABG heart surgery patients in one episode of hospitalization. Based on the cost analysis results, it was found that the unit cost for CABG heart surgery patients at M. Djamil General Hospital in Padang in one hospitalization period was Rp. 141,143,737.56. Total direct costs are Rp. 124,767,235.56 and indirect costs are Rp. 16,376,502.00. Discipline in implementing clinical pathways is the main key for hospitals to make financing effective. The number of operations has great potential to be increased considering that the queue for open heart surgery at M. Djamil Hospital in Padang has reached more than six months. The more operations performed will have a positive impact on cost effectiveness. Several disposable medical materials, medical devices, laboratory examinations, radiological examinations and administration of medicines can be made more effective, which based on the analysis of this analysis can reduce the costs until 25-30%.
Read More
B-2413
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Isma Sari Chumairah; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Kurnia Sari, Vetty Yulianty Permanasari, Anis Mardiyah, Iing Ichsan Hanafi
Abstrak:
Kamar operasi merupakan unit pelayanan strategis yang berperan penting terhadap mutu layanan dan indikator kinerja rumah sakit, namun pencapaian volume tindakan operasi tidak selalu mencerminkan pemanfaatan waktu kamar operasi yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan utilisasi kamar operasi di RS Hermina Depok serta merumuskan strategi optimalisasi yang dapat meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan kualitas pelayanan bedah tanpa mengurangi mutu layanan rumah sakit maupun keselamatan pasien. Penelitian dilakukan dengan metode kuantitatif dengan desain crossectional, yang menggunakan seluruh tindakan operasi yang dilaksanakan di tujuh kamar operasi selama bulan Oktober 2025 sebagai sampel penelitian. Utilisasi kamar operasi dihitung berdasarkan pemanfaatan waktu operasional dan dikategorikan menjadi utilisasi optimal dan rendah. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Chi-square dan regresi logistik sederhana, sedangkan analisis multivariat menggunakan regresi logistik berganda. Selama periode penelitian, tercatat 1.021 tindakan operasi, melampaui target manajemen, yaitu 900 tindakan, namun sebagian besar hari operasional berada pada kategori utilisasi rendah (<70%), dengan 64,2% tindakan berlangsung pada hari dengan utilisasi rendah dan tidak ditemukan kejadian over-utilization. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa usia pasien 45–59 tahun (Adjusted OR 1,720; 95% CI 1,032–2,866) dan ≥60 tahun (Adjusted OR 1,983; 95% CI 1,147–3,430) berhubungan dengan peningkatan peluang utilisasi kamar operasi berada pada kategori rendah dibandingkan kelompok usia anak. Faktor rumah sakit yang paling konsisten berhubungan dengan utilisasi rendah adalah status penjadwalan yang tidak tercatat (Adjusted OR 2,061; 95% CI 1,043–4,074), sementara faktor lain seperti status ASA, persiapan pasien, kehadiran dan persetujuan tindakan, jenis pembiayaan, ketersediaan dan ketepatan waktu kedatangan SDM, waktu turnover, jenis prosedur, dan spesialisasi tindakan tidak menunjukkan hubungan signifikan setelah dikontrol dalam model. Temuan ini menunjukkan bahwa utilisasi kamar operasi di RS Hermina Depok belum optimal meskipun target volume tindakan tercapai, dan rendahnya utilisasi lebih dipengaruhi oleh aspek pengelolaan waktu dan pencatatan penjadwalan operasi. Oleh karena itu, strategi optimalisasi perlu diarahkan pada penguatan sistem penjadwalan terintegrasi berbasis waktu serta pengembangan persiapan praoperatif yang lebih komprehensif bagi pasien usia lanjut (geriatrik), guna mengantisipasi kompleksitas klinis dan kebutuhan khusus kelompok usia tersebut, sehingga pemanfaatan kamar operasi dapat ditingkatkan secara berkelanjutan tanpa mengorbankan mutu layanan dan keselamatan pasien. Kata kunci: Kamar Operasi, Utilisasi, Faktor Pasien, Faktor Rumah Sakit, Efisiensi

The operating room is a strategic service unit that plays a critical role in healthcare quality and hospital performance indicators; however, achieving surgical volume targets does not necessarily reflect optimal utilization of operating room time. This study aimed to analyze factors influencing operating room utilization at Hermina Depok Hospital and to formulate optimization strategies that enhance efficiency, effectiveness, and surgical service quality without compromising patient safety or care standards. A quantitative study with a cross-sectional design was conducted, including all surgical procedures performed in seven operating rooms during October 2025. Operating room utilization was calculated based on actual operating time and categorized into optimal and low utilization. Bivariate analysis was performed using Chi-square tests and simple logistic regression, while multivariate analysis employed multiple logistic regression. During the study period, 1,021 surgical procedures were recorded, exceeding the management target of 900 procedures; however, most operating days fell into the low utilization category (<70%), with 64.2% of procedures occurring on low-utilization days and no instances of over-utilization observed. Multivariate analysis showed that patient age was the only patient-related factor associated with operating room utilization, with patients aged 45–59 years (Adjusted OR 1.720; 95% CI 1.032–2.866) and ≥60 years (Adjusted OR 1.983; 95% CI 1.147–3.430) having a higher likelihood of low operating room utilization compared to pediatric patients. The most consistent hospital-related factor associated with low utilization was undocumented scheduling status (Adjusted OR 2.061; 95% CI 1.043–4.074), while other factors—including ASA status, preoperative preparation, patient attendance and consent, payment method, staff availability and punctuality, turnover time, procedure type, and surgical specialty—were not significantly associated after adjustment. These findings indicate that operating room utilization at Hermina Depok Hospital remains suboptimal despite achieving surgical volume targets and is primarily influenced by time management and scheduling documentation. Therefore, optimization strategies should focus on strengthening time-based integrated scheduling systems and developing more comprehensive preoperative preparation for geriatric patients to address clinical complexity and special care needs, thereby improving sustainable operating room utilization without compromising service quality or patient safety.
Read More
B-2569
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farida Israny; Pembimbing: Mardiati Nadjib
B-437
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sophia; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Mardiati Nadjib, Kurnia Sari, Hevi Widi Hastuti, Svetlana S. Paruntu
Abstrak: ABSTRAK Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sesuai peta jalan (roadmap) menuju jaminan kesehatan semesta / Universal Health Coverage (UHC) di tahun 2019, seluruh penduduk menjadi peserta Jaminan Kesehatan. Untuk itu Rumkital Dr. Mintohardjo harus selalu memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu karena jumlah pasien BPJS Kesehatan yang di rawat inap semakin meningkat setiap tahunnya. Analisis biaya merupakan tindakan strategis yang sangat perlu dilakukan karena saat ini rumah sakit telah menjadi suatu lembaga sosial-ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya satuan tindakan bedah appendiktomi di kamar operasi Rumkital Dr. Mintohardjo tahun 2017 dengan menghitung biaya langsung dan tidak langsung. Penelitian ini merupakan operational research yang bersifat deskriptif, melakukan analisis biaya satuan tindakan appendiktomi di kamar operasi tahun 2017. Metode analisis yang digunakan adalah metode distribusi sederhana. Hasil penelitian yaitu biaya investasi tindakan appendiktomi sebesar Rp 26.280.456,- atau 5,2% dari biaya total tindakan appendiktomi. Biaya operasional merupakan biaya yang paling besar dibandingkan dengan biaya investasi dan biaya pemeliharaan yaitu sebesar Rp 420.142.348,- atau 83,7% dari biaya total tindakan appendiktomi dan biaya pemeliharaan sebesar Rp 1.992.830,- atau 0,4%, Alokasi biaya unit penunjang untuk tindakan appendiktomi sebesar Rp 52.313.904,- atau 10,4% dan alokasi biaya tidak langsung lainnya sebesar Rp 1.430.090,- atau 0,3%. Total biaya tindakan appendiktomi sebesar Rp 502.159.628,- Biaya satuan aktual tindakan appendiktomi sebesar Rp 3.025.058,-. Cost Recovery Rate (CRR) sebesar 109,07%. Perhitungan biaya satuan merupakan strategi awal dari setiap perhitungan tarif pelayanan. Kata Kunci : Biaya satuan, tindakan bedah appendiktomi. metode distribusi sederhana ABSTRACT National Health Insurance (JKN) participation in accordance with the roadmap to universal health insurance / Universal Health Coverage (UHC) in 2019, all residents become participants of Health Insurance. For that Rumkital Dr. Mintohardjo must always provide quality health services because the number of BPJS Health patients hospitalized increases every year. Cost analysis is a strategic action that is very necessary because at this time the hospital has become a socio-economic institution. This study aims to analyze the unit cost of appendectomy surgery in operating room Dr. Mintohardjo Navy Hospital in 2017 by calculating direct and indirect costs. This research is a descriptive operational research, analyzes the unit cost of appendectomy in the operating room in 2017. The analytical method used is a simple distribution method. The results of the study are the investment costs of appendectomy is Rp. 26,280,456, or 5.2% of the total cost of appendectomy. Operational costs are the biggest costs compared to investment costs and maintenance costs, which amounted to Rp 420,142,348, or 83.7% of the total cost of appendectomy and maintenance costs is Rp 1,992,830, - or 0.4%, cost allocation supporting units for appendectomy is Rp. 52,313,904, - or 10.4% and allocation of other indirect costs amounting to Rp 1,430,090, - or 0.3%. The total cost of appendectomy is Rp. 502,159,628, - the actual unit cost of appendectomy is Rp. 3,025,058. Cost Recovery Rate (CRR) which amount to 109,07%. Unit cost calculation is the initial strategy of each service tariff calculation. Keywords : Unit cost, appendectomy surgery, simple distribution method
Read More
B-2055
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Patresia Dian Sulistyas; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Masyitoh, Jaslis Ilyas, Iing Ichsan Hanafi, Lies Nugrohowati
Abstrak:

ABSTRAK
Latar belakang : Kamar Operasi merupakan unit yang komplek dari suatu rumah sakit, karena tidak bisa lepas dari unit lainnya, Dalam tiga tahun terakhir kinerja belum tercapai. Pencapaiannya sangat berpengaruh terhadap pencapaian kinerja keuangan rumah sakit. Instalasi kamar operasi diharapkan menunjang semua pelayanan prioritas dan unggulan, namun pada pelaksanaannya belum tercapai target. Tujuan penelitian : Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja kamar operasi Rumah Sakit Hermina Depok yang diukur dari utilisasi kamar operasi. Metodologi Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan cara pengumpulan data secara cross sectional dengan pendekatan kuantitatif deskriptif dan kualitatif dengan cara indepth interview dan FGD. Hasil Penelitian : Instalasi Kamar Operasi sangat dipengaruhi oleh unit lain sebagai pengirim pasien, ketersediaan dokter baik jumlah, spesialisasi dan status kepegawaian, ketersediaan alat medis yang dibutuhkan, ketersediaan ruangan paska tindakan serta pembiayaan dan penjaminan. Target yang diberikan untuk tindakan di kamar operasi masih sangat visible karena jika idealnya lebih dari target dengan melihat jumlah kamar operasi yang tersedia dan modalitas yang dimiliki. Kesimpulan : Evaluasi untuk melakukan optimalisasi pasien internal, penjadwalan dengan baik melalui pengaturan alur rujukan internal dan eksternal secara bijak, penambahan dokter-dokter fulltime, melakukan discharge planning dari awal sehingga LOS tidak panjang sehingga kebutuhan ruangan paska tindakan tidak menjadi masalah, untuk pembiayaan membuat paket yang disesuaikan


ABSTRACT  Background: The Operating Room is a complex unit of a hospital, because it cannot be separated from other units. In the last three years, performance has not been achieved. Its achievement greatly affects the achievement of the hospital's financial performance. The installation of the operating room is expected to support all priority and superior services, but in its implementation the target has not been achieved.  Research objectives: This study was conducted to determine the description of factors related to the performance of the operating room at Hermina Depok Hospital as measured by operating room utilization.  Research Methodology: This research is a non-experimental research with a cross-sectional data collection method with a descriptive quantitative approach and qualitative with in-depth interviews and FGD.Research Results: Operating Room Installation is greatly influenced by other units as patient senders, availability of doctors in terms of number, specialization and employment status, availability of required medical equipment, availability of post-action rooms and financing and guarantees. The target given for actions in the operating room is still very visible because if ideally it is more than the target by looking at the number of operating rooms available and the modalities owned. Conclusion: Evaluation to optimize internal patients, good scheduling through wise internal and external referral flow management, adding full-time doctors, conducting discharge planning from the start so that LOS is not long so that the need for a post-action room is not a problem, for financing creating customized packages.

Read More
B-2519
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive