Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35321 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Demsa Simbolon
KJKMN Vol.1, No.1
Depok : FKM UI, 2006
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Demsa Simbolon; Pembimbing: Kemal Nazaruddin Siregar, Sabarinah B Prasetyo; Penguji: Kusharisupeni, Edward Firdaus Sembiring, Itje A. Ranida
Abstrak: Latar Belakang: Kelangsungan hidup bayi di Indonesia masih rendah, hal ini dapat dilihat dari tingginya AKB di Indonesia. AKB di Indonesia lebih tinggi dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya dan tetap berada pada keadaan intermediate rock, juga sangat bervariasi antar wilayah, dimana AKB di pedesaan jauh lebih tinggi dibandingkan di perkotaan. Dari penelitian-penelitian yang pernah dilakukan lebih menitikberatkan perhatian pada faktor-faktor yang berhubungan dengan kematian bayi, sangat sedikit yang menganalisis umur kelangsungan hidup bayi, dan tidak membandingkan kelangsungan hidup bayi di perkotaan dan pedesaan. Tujuan: Penelitian bertujuan menggambarkan probabilitas kelangsungan hidup bayi serta menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kelangsungan hidup bayi di Indonesia dan menurut wilayah perkotaan dan pedesaan. Metoda: Penelitian ini menggunakan data SDKI 2002-2003, dengan rancangan cross sectional. Data dapat dianalisis dengan analisis survival karena tersedia informasi waktu (time) dan kejadian (event), dengan waktu pengamatan mulai bayi lahir sampai usia sebelum satu tahun. SDKI tahun 2002–2003, sampel berjumlah 11.588 bayi, terdiri dari 4769 bayi di perkotaan dan 6819 bayi di pedesaan. Bayi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi akan dianalisis dengan mengaplikasikan analisis survival. Analisis mencakup analisis univariabel, analisis bivariabel dengan metode life table dan regresi cox sederhana, dan analisis multivariabel dengan regresi cox ganda. Hasil: Probabilitas kelangsungan hidup bayi di perkotaan (98,59%) lebih tinggi dibandingkan bayi di pedesaan (97,54%). Proporsi kematian bayi di pedesaan dua kali lebih banyak dibandingkan bayi di perkotaan. Kurva kelangsungan hidup bayi menurun tajam pada umur bulan pertama (masa neonatal), untuk umur berikutnya penurunan probabilitas kelangsungan hidup bayi lebih landai. Menurut wilayah, penurunan probabilitas kelangsungan hidup bayi di perkotaan lebih landai dibandingkan di pedesaan. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kelangsungan hidup bayi di perkotaan adalah adalah berat badan lahir, waktu pemberian ASI, penolong persalinan dan interaksi antara penolong persalinan dengan berat badan lahir setelah dikontrol faktor frekuensi kunjungan pelayanan antenatal, tempat persalinan, dan nomor urut lahir, sedangkan di pedesaan adalah frekuensi kunjungan pelayanan antenatal, berat badan lahir, penolong persalinan, nomor urut lahir, waktu pemberian ASI, tempat persalinan, interaksi penolong persalinan dengan waktu pemberian ASI setelah dikontrol faktor jarak kelahiran dan jenis kelamin. Kesimpulan: Terdapat perbedaan faktor-faktor yang berhubungan dengan kelangsungan hidup bayi di perkotaan dan pedesaan. Faktor keadaan saat bayi lahir merupakan faktor penting yang berhubungan signifikan dengan kelangsungan hidup bayi, faktor waktu pemberian ASI pertama kali merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan kelangsungan hidup bayi. Kata Kunci : Bayi, Kelangsungan Hidup Bayi, Perkotaan dan Pedesaan, Analisis Kesintasan, Proportional Hazard Model.
Background: Infant’s survival is still low on Indonesia, it based on high IMR level on Indonesia. IMR on Indonesia is higher compared to other ASEAN country and still on intermediate rock condition and multiplicity among the area, which are 32 per 1000 birth on urban and 52 per 1000 birth on rural. From previous researches which more concentrate on factors relate to infant mortality, and few analyze on infant’s survival age, and not comparing infant’s survival on urban and rural. Objektive: This research’s aim is to describe infant’s survival probability also analyzing faktors relate to infant’s survival on Indonesia and based on the urban and rural area. Methods: This research is using SDKI 2002-2003 data. Cross sectional data on SDKI 2002-2003 can be analyze by survival analyses because it contain time and event information, with survey period from infant’s birth until less than one year age. Sample’s amount 11.588 infant, consist of 4.769 infant on urban and 6.819 infant on rural. Data analysis using survival analysis application with life table and Cox regression also time independent covariate if variabel doesn’t meet proportional hazard ratio assumption. Result: Probability infant’s survival on urban (98,59%) higher than on rural (97,54%). On rural infant’s mortality proportion is twice higher than on urban. Infant’s survival time probability decline on first month age (neonatal mortality), for higher age infant’s survival time probability is still low, but not as low as the first month age. According to the area, on urban infant’s survival time probability is even lower than on rural. Faktors related to infant’s survival time probability on urban are birth weight, breast feeding period, birth assistance and interaction between birth assistance with birth weight after controlled by antenatal service visit frequency faktor, birth weight, birth assistance, birth queue number, breast feeding period, bearing place, birth assistance interaction with breast feeding period after controlled by birth distant faktor and gender. Conclusion: Infant’s survival determinant faktor is infant condition when the baby born, besides the antenatal service visit frequency. As a dominant faktor is breast feeding period. Midwife or birth assistance is a precondition faktors of infant’s weight effect and breast feeding on infant effect to infant survival time. Appropriate intervention is needed for problem that found on each city and rural area. Main intervention effort is increasing early breast feeding as soon as the infant born which also an advantage for lessening birth interval, beside it also improves birth assistance ability on BBLR infant process, and helps mother on breast feeding as soon as the baby born, increase antenatal service coverage, and increase birth delivery coverage by health worker. Keyword: Infant, Infant Survival, Survival Analysis, Rural and Urban, Proportional Hazard Model.
Read More
T-2136
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novita Arie Setiawati; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Kusharisupeni, Sandra Fikawati, Agus Triwinarto, Lukas C. Hernawan
Abstrak: Prevalensi kejadian BBLR di Indonesia berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 sebesar 10.2% dengan proporsi BBLR di daerah perkotaan dan perdesaan sebesar 9.4% dan 11.2%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor dominan terhadap kejadian BBLR di daerah perkotaan dan perdesaan di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional dengan menggunakan data sekunder Survei Demografi dan Kesehatan (SDKI) tahun 2017. Responden dalam penelitian ini sebanyak 11.188 WUS yang terbagi menjadi 5.852 di daerah perkotaan dan 5.336 di daerah perdesaan. Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan responden (p = 0.000; OR = 1.471; 95% CI = 1.252-1.730), frekuensi pemeriksaan kehamilan (p = 0.000; OR = 1.713; 95% CI = 1.317-2.229), usia kehamilan saat pertama kali pemeriksaan (p = 0.026; OR = 1.246; 95% CI = 1.031-1.505), dan jumlah konsumsi TTD (p = 0.000; OR = 1.312; 95% CI = 1.131-1.621) dengan BBLR. Sedangkan di perkotaan, faktor yang berhubungan dengan BBLR adalah paritas (p = 0.039; OR = 1.258; 95% CI = 1.018-1.555), tingkat pendidikan responden (p = 0.001; OR = 1.542; 95% CI = 1.199-1.983)  dan jumlah konsumsi TTD (p = 0.020; OR = 1.283; 95% CI = 1.044-1.576), dan di perdesaan adalah tingkat pendidikan responden (p = 0.002; OR = 1.423; 95% CI = 1.145-1.769), frekuensi pemeriksaan kehamilan (p = 0.000; OR = 1.878; 95% CI = 1.345-2.622), tempat pemeriksaan kehamilan (p = 0.037; OR = 0.781; 95% CI = 0.622-0.980), dan jumlah konsumsi TTD (p = 0.010; OR = 1.336; 95% CI = 1.075-1.660). Faktor yang paling dominan terhadap kejadian BBLR di Indonesia dan perdesaan adalah frekuensi pemeriksaan kehamilan, sedangkan di perkotaan adalah tingkat pendidikan responden. Berdasarkan hasil penelitian ini, diharapkan dilakukan sosialisasi dan edukasi terkait kehamilan seperti pemeriksaan kehamilan secara teratur, meningkatkan tingkat pendidikan formal WUS, dan konsumsi TTD secara teratur.

The prevalence of LBW in Indonesia based on the 2013 Basic Health Research was 10.2% with the proportion of LBW in urban and rural areas 9.4% and 11.2%. This study aims to analyze the dominant factors on LBW occurrence in urban and rural areas in Indonesia. This study is a cross-sectional study using secondary data from the Demographic and Health Survey (IDHS) in 2017. Respondents in this study were 11,188 woman of childbearing age divided into 5,852 in urban areas and 5,336 in rural areas. The results of research in Indonesia showed a significant relationship between respondent’s education level (p = 0,000; OR = 1,471; 95% CI = 1,252-1,730), the frequency of antenatal care (p = 0,000; OR = 1,713; 95% CI = 1,317-2,229 ), gestational age at first examination (p = 0.026; OR = 1,246; 95% CI = 1,031-1,505), and total iron tablet consumption (p = 0,000; OR = 1,312; 95% CI = 1,131-1,621) with LBW. While in urban areas, factors related to LBW are parity (p = 0.039; OR = 1,258; 95% CI = 1,018-1,555), respondent’s education level (p = 0.001; OR = 1,542; 95% CI = 1,199-1,983) and total iron tablet consumption (p = 0.020; OR = 1,283; 95% CI = 1,044-1,576), and in rural areas is respondent’s education level (p = 0.002; OR = 1,423; 95% CI = 1,145-1,769), the frequency of antenatal care ( p = 0,000; OR = 1,878; 95% CI = 1,345-2,622), place of antenatal care (p = 0.037; OR = 0.781; 95% CI = 0.622-0.980), and total iron tablet consumption (p = 0.010; OR = 1.336 95% CI = 1,075-1,660). The most dominant factor for LBW occurrence in Indonesia and rural areas is the frequency of antenatal care, while in urban areas is the education level of respondents. Based on the results of this study, it is expected that socialization and education related to pregnancy such as regular pregnancy checks, increasing formal education level of woman of childbearing age, and regular consumption of TTD.
Read More
T-5811
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nabila Novania Hermansyah; Pembimbing: R. Sutiawan; Penguji: Milla Herdayati, Ning Sulistyowati
S-10249
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ika Setya Purwanti; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Yovsyah, Bagus Satriya Budi, Felly P. Senewe
Abstrak:

Latar belakang: Kematian bayi dua pertiga nya terjadi pada periode neonatal. Pelayanan antenatal adalah pelayanan yang diberikan kepada ibu hamil secara berkala untuk menjaga kes*hatan ibu dan janinnya yang terdiri dari pemeriksaan kehamilan dan koreksi terhadap penyimpangan yang ditemukan, pemberian intervensi dasar, serta mendidik dan memotivasi ibu hamil agar dapat merawat dirinya selama hamil dan mempersiapkan persalinannya. Perawatan neonatal yang memadai diperlukan selain perawatan antenatal dan pertolongan persalinan yang adekuat dalam upaya menurunkan kematian bayi karena infeksi pasca lahir seperti tetanus neonatorum dan sepsis, hipotermia dan asfiksia. Tujuan: Diketahuinya kelangsungan hidup bayi selama 28 hari serta perbedaan kelangsungan hidup bayi selama 28 hari berdasarkan kunjungan ANC dan perawatan postnatal. Metode: Desain kohort retrospektif dengan memanfaatkan data SDKJ tahun 20022003 berjumlah 13.240 sampel. Analisis data univariat, bivariat dan multivariat dengan interaksi. Hasil dan Diskusi: Kelangsungan hidup bayi pada periode neonatal probabilitasnya secara keseluruhan sebesar 98,75% ; probabilitas kelangsungan hidup bayi pada periode neonatal berdasarkan kunjungan ANC yang baik sebesar 99,47% ; probabilitas kelangsungan hidup bayi pada periode neonatal berdasarkan perawatan postnatal yang baik sebesar 98,79% ; sedangkan probabilitas kelangsungan hidup bayi pada periode neonatal berdasarkan kunjungan ANC dan perawatan postnatal yang baik sebesar 98,15%. Kesimpulan dan Saran: Meningkatkan kunjungan ANC dan perawatan postnatal karena akan memberikan probabilitas kelangsungan hidup bayi yang besar. Serta peningkatan jumlah dan kualitas serta pemerataan penempatan tenaga kesehatan dan juga meningkatxan akses masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan.


 Background: Two third of infant mortality are occurred in neonatal period. Antenatal service is a service which is given to pregnant women periodically to maintain and improve the health status of pregnant women and their fetus. Antenatal service consist of checking the pregnancy and correcting any deviation found in the pregnancy, also giving health education and motivating the mother to keep on caring themselves and prepare for the delivery. Beside adequate antenatal care and delivery attendance, adequate neonatal care is also needed as part of effort to decrease neonatal mortality due to post-natal infection such as tetanus neonatorum and sepsis, hypothermia and asphyxia. Aims: To identity the neonatal survival and the difference of neonatal survival based on ANC visit and postnatal care. Design: Retrospective cohort design using DHS data in 2002-2003 which is consist of 13,240 samples. Methodology: The data are analyzed using univariate, bivariate, and multivariate with interaction. Results: The probability of infant survival in neonatal period is 98.75%; the probability of infant survival in neonatal period based on ANC visit is 99.47%; the probability of infant survival in neonatal period based on postnatal care is 98.79%; whereas the probability of infant survival in neonatal period based on ANC visit and posinatal care is 98.15%. Conclusion: ANC visit and post natal care should be increased since they will increase the probability of neonatal survival. Quantity, quality and distribution of health workers should be improved, and the accessibility of health facilities towards the community should also be increased.

Read More
T-2778
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kesmas ( Jur. Kesmasnas ), Vo. 7, No.1, Agt. 2012: hal. 8-15. ( ket. ada di bendel 2012- 2013)
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kesmas ( Jur. Kesmasnas ), Vo. 7, No.1, Agt. 2012: hal. 8-15. ( ket ada di bendel majalah campuran no. 19 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bul.Pen. Sistem Kes. (Bulitsiskes), Vol.14, No.2, Apr. 2011, hal: 108-114
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rosmita Alisanti; Pembimbing; Besral; Penguji: R. Sutiawan, Itje Aisah Ranida, Fajrinayanti
Abstrak: Kelangsungan hidup bayi direfleksikan oleh salah satu indikator dampak pembangunan kesehatan, yaitu Angka Kematian Bayi (AKB). AKB di Indonesia tergolong tinggi di antara negara-negara ASEAN. Pemberian ASI segera merupakan intervensi paling efektif dan potensial terhadap dampak kematian dan kelangsungan hidup bayi. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian ASI segera terhadap kelangsungan hidup bayi di Indonesia menggunakan data SDKI 2012. Besar sampel 14.583 balita dengan analisis regresi cox ganda. Hasil penelitian menemukan pemberian ASI segera mempengaruhi kelangsungan hidup bayi dimana probabilitas kelangsungan hidup bayi di Indonesia adalah 985 per 1000 kelahiran hidup. Pemberian ASI segera 1-23 jam setelah lahir dan bayi yang tidak mendapatkan ASI mempunyai kelangsungan hidup yang lebih rendah dibandingkan dengan pemberian ASI segera kurang dari satu jam setelah lahir, masing-masing 0,72 dan 0,48, sedangkan pemberian ASI segera ≥24 jam memiliki kelangsungan hidup bayi 1,96 lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian ASI segera kurang dari satu jam setelah lahir setelah dikontrol oleh tingkat sosial ekonomi, pendidikan ibu, paritas, BBLR, dan pemeriksaan antenatal care. Oleh karena itu perlu penguatan dan pengawasan pelaksanaan pemberian ASI segera setelah lahir di layanan kesehatan seperti; rumah sakit, rumah bersalin dan klinik serta peningkatan promosi tentang pentingnya pemberian ASI segera setelah lahir di berbagai media. Kata Kunci : ASI segera, Kelangsungan hidup bayi, SDKI
Read More
T-4261
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mona Lisa; Pembimbing: Iwan Ariawan; Penguji: Besral, Hadi Pratomo, Lukas C. Hermawan, Ingan Ukur Taringan
Abstrak: Kelangsungan hidup bayi didefinisikan sebagai kemampuan bayi untuk bertahan hidup menjalani kehidupan sampai berusia 1 tahun. Tahun 2012, AKB Indonesia sebesar 32 per-1000 kelahiran hidup. Status ekonomi akan mempengaruhi kekangsungan hidup bayi melalui faktor maternal, gizi, kondisi janin saat lahir, pengendalian penyakit dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berat lahir menurut usia kehamilan terhadap kelangsungan hidup bayi di Indonesia. Metode penelitiannya adalah kohort retrospektif dengan pemanfaatan 13.295 data anak yang terdapat pada data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013. Hasil analisis menunjukkan bahwa kelangsungan hidup bayi berat lahir kecil masa kehamilan memiliki probabilitas paling rendah sebesar 97%. Hasil cox regresi diperoleh berat lahir kecil masa kehamilan pada status ekonomi kaya, HR=8,95, pada ekonomi menengah, HR=3,72, dan pada ekonomi miskin, HR=7,36. Kecil masa kehamilan memiliki kontribusi terhadap kematian bayi di populasi sebesar 42%. Peningkatan kualitas antenatal care selama kehamilan dan sosialisasi metode perawatan kanguru pada bayi baru lahir merupakan salah satu alternatif untuk menurunkan kejadian kecil masa kehamilan. Kata kunci: Kelangsungan hidup bayi, kecil masa kehamilan, status ekonomi Infant survival is defined as the ability of infants to survive through life until the age of 1 year. In 2012, Indonesia IMR reported as 32 per 1,000 live births. Sosioeconomic status will affect infant suvival through maternal factors, nutrition, fetal condition at birth, disease control and environment. This study aims to determine the effect of birth weight for gestational age on the infants survival in Indonesia. The Method of study is a retrospective cohort, utilize of data 13 295 child data contained in the Riskesdas data 2013. Result of the analysis showed that the survival of small for gestatioanal age had the lowest probability of 97%. Results cox regression showed that small for gestational age on the high economic status , HR = 8.95, the middle-income status, HR = 3.72, and the poor economic status, HR = 7.36. Small for gestational age have contributed to infant mortality in the population by 42%. Improving the quality of antenatal care for during pragnancy and socialization of kangaroo care method for birth weight small for gestational age is an alternative to decrease the incidence of small for gestational age. Keywords: Infant survival, small for gestational age, economic status
Read More
T-4814
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive