Ditemukan 35472 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Medika, No. 5, th.16, Mei 1990, hal. 353-356
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Siti Hasnah Soetedjo; Pemb. R. Hertonobroto
A-256
Jakarta : FKM UI, 1977
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Evaluasi Pelaksanaan Pengawasan Kualitas Air Minum pada Daerah Percontohan di Kab. Gunung Kidul 1989
Nurhayati; Pembimbing: I Made Djaja
S-494
Depok : FKM UI, 1989
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nurhalina; Promotor: Tri Yunis Miko Wahyono; Kopromotor:Bambang Wispriyono, Syahrizal Syarif; Penguji: Besral, Helda, Ririn Arminsih Wulandari, Suwito, Soewarta Kosen
Abstrak:
Read More
Pada tahun 2024, prevalensi stunting di Kabupaten Gunung Mas adalah 14,1%, kekurangan berat badan (14,8%), gizi kurang (9,6%), dan gizi buruk (2,3%). Masalah gizi telah menurun selama lima tahun terakhir, tetapi belum mencapai target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Upaya pencegahan masih berfokus pada intervensi gizi, tetapi belum memasukkan efek paparan merkuri dalam kerangka global. Merkuri diketahui berinteraksi dengan nutrisi dan mengganggu metabolisme tubuh sehingga mempengaruhi asupan zat gizi dan meningkatkan risiko penyakit infeksi. Kedua faktor tersebut merupakan determinan masalah gizi di dunia. Tujuan penelitian ini adalah menilai dampak pajanan merkuri terhadap status gizi Balita. Metode penelitian ini adalah studi observasional dengan pendekatan crosssectional study,yang dilakukan pada 146 balita yang berdomisili di daerah pertambangan emas skala kecil selama satu tahun atau lebih. Pengukuran antropometri dilakukan untuk menilai gizi kurang/buruk, stunting dan underweight. Penelitian ini mengukur konsentrasi merkuri rambut dan merkuri urin sebagai biomarker pajanan merkuri. Asupan merkuri melalui konsumsi ikan dinilai untuk mengetahui sumber pajanan merkuri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 20,6% responden mengalami gizi kurang/buruk, stunting (34,25%), dan underweight (32,2%). Konsentrasi merkuri rambut 0,008 - 1,122 mg/kg (median 0,163 mg/kg), sedangkan konsentrasi merkuri urin 0,0011 - 0,0317 mg/L (median 0,0023 mg/L). Asupan merkuri melalui konsumsi ikan 0,020 - 0,0609 mg/kg/hari. Asupan merkuri melalui konsumsi ikan berhubungan secara signifikan dengan kadar merkuri rambut. Kelompok dengan asupan ≥ 0,20 mg/kg/hari memiliki konsentrasi merkuri dalam rambut lebih tinggi, 0,165 mg/kg, tetapi konsentrasi merkuri urin lebih rendah,0,001 mg/L. Hasil uji statistik menunjukkan konsentrasi merkuri rambut secara signifikan meningkatkan risiko gizi kurang/buruk sebesar 19,6 kali (95% CI = 1,1– 362,3); risiko stunting 8,4 kali (95% CI = 0,1–1094), dan risiko underweight 15,89 kali (95% CI = 0,0–1562,0). Dengan demikian, disimpulkan bahwa konsentrasi merkuri rambut merupakan faktor yang paling berperan dalam hubungan pajanan merkuri terhadap status gizi Balita. Hasil penelitian ini menjadi informasi awal tentang pajanan merkuri dan dampaknya terhadap status gizi. Oleh karena itu, pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan tentang pencegahan pencemaran merkuri di lingkungan, pemantauan rutin pajanan merkuri dan keamanan pangan, serta pengobatan dan perawatan kelompok kasus. Kami merekomendasikan integrasi intervensi gizi dan kesehatan lingkungan dalam kerangka kerja nasional untuk pencegahan dan tatalaksana malnutrisi di Indonesia, khususnya di daerah-daerah dengan pajanan merkuri yang tinggi.
In 2024, the prevalence of stunting in Gunung Mas Regency was 14.1%, underweight 14.8%, wasting 9.6%, and severe wasting 2.3%. During the last years, the nutritional problems have decreased, but these figures have not reached the target of Sustainable Development Goals (SDGs). Prevention efforts still focused on nutritional intervention, but they had not yet included the effects of mercury exposure in the global framework. Mercury was known to interact with nutrition and disrupt the body's metabolism, thus affecting nutrient intake and increasing the risk of infectious disease. Both factors were determinants of nutritional problems in the world. This study aimed to assess the impact of mercury exposure on the toddlers' nutritional status. This study was a cross-sectional observational study; it was conducted on 146 toddlers who had lived in small-scale gold mining areas for one year or more. Anthropometric measurements were conducted to assess wasting, stunting, and underweight. Mercury exposure was assessed based on biomarker measurements by measuring mercury levels in hair and urine. The results showed that 20.6% of respondents were wasting, 34.25% stunted, and 32.2% underweight. Hair mercury concentration was 0.008 - 1.122 mg/kg (median 0.163 mg/kg), while urinary mercury was 0.0011 - 0.0317 mg/L (median 0.0023 mg/L). Mercury intake through fish consumption was 0.020 - 0.0609 mg/kg/day. Mercury intake through fish consumption was significantly associated with hair mercury concentration. The group with intake ≥ 0.20 mg/kg/day had higher hair mercury concentration of 0.165 mg/kg, but lower for urinary mercury concentration of 0.001 mg/L. Statistical analysis showed that hair mercury concentration significantly increased the risk of wasting by 19.6 times (95% CI = 1.1–362.3). The risk of stunting was 8.4 times (95% CI = 0.1–1094), and the risk of underweight was 15.89 times (95% CI = 0.0–1562.0). This study concluded that hair mercury concentration was the most important factor in the relation of mercury exposure and toddler nutritional status. This study result became basic information about mercury exposure and the effect on toddler nutritional status. Therefore, the government should develop a policy on mercury pollution prevention, routine monitoring of mercury exposure, food safety, medication, and treatment of case groups. We recommend integrating nutrition and environmental health interventions into Indonesia’s national framework for preventing and managing malnutrition, especially in areas with high mercury exposure.
D-642
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Djasio Sanropie; Pembimbing: P.M.H. Sinaga
T-15
Depok : FKM UI, 1982
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Andry Harmany; Pembimbing: Kusharisupeni; Penguji: Sandra Fikawati
Abstrak:
Read More
Masa anak balita relatif pendek, tetapi sarat dengan proses pertumbuhan dan perkembangan, sehingga masa anak balita tersebut menempati posisi penting dalam siklus kehidupan manusia. Kemiskinan erat hubungannya dengan keadaan gizi balita, karena penduduk miskin memiliki akses yang relatif kecil terhadap kebutuhan pangan dan pelayanan kesehatan dasar, serta biasa hidup dalam lingkungan yang kurang sehat. Umumnya anak balita yang hidup di dalam keluarga miskin mengalami gangguan pertumbuhan dan kurang gizi, namun ternyata ada sebagian. anak balita dan keluarga miskin mempunyai kemampuan untuk bertahan sehingga mampu untuk tumbuh kembang dengan baik. Karena itu timbul pertanyaan, faktor-faktor apakah yang menyebabkan anak balita keluarga miskin dapat mempunyai status gizi baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk rnengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi baik anak balita di daerah miskin yaitu Kabupaten Gunung kidul dan Kabupaten Sukabumi. Penelitian ini menggunakan desain potog lintang (Cross Sectional) dengan 440 jumlah sampel yang diolah dari studi Penyimpangan Positif Status Gizi anak balita dan Faktor yang berperan di Kabupaten Gunung Kidul dan Kabupaten Sukabumi, suatu penelitian yang dilakukan oleh Puslitbang Gizi Bogor bulan April - November 2000. Hasil penelitian ini menunjukkan proporsi gizi baik anak balita di Gunung Kidul 68,01 % dan di Sukabumi 67,43 %, hasil uji chi-square menunjukkan ada hubungan bermakna (p < 0,05) antara status gizi ibu (MT) dengan status gizi baik balita dan antara pendapatan keluarga dengan status gizi baik balita, serta tidak ada hubungan bermakna (P > 0,05) masing-masing antara karakteristik (umur ibu, pendidikan ibu, dan pengetahuan ibu), karakeristik keluarga (jumlah- anggota keluarga, dan keadaan rumah tinggal), konsumsi anak balita (energi dan protein), riwayat kesehatan anak, dan perilaku ibu (gizi dan kesehatan) dengan status gizi baik anak balita. Hasil analisis multivariat regresi logistik ganda menunjukkan bahwa faktor yang dominan berhubungan dengan status gizi baik anak balita adalah pendapatan keluarga, status gizi ibu (IMT), dan umur ibu. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa proporsi gizi baik masih rendah dan adanya beberapa faktor dominan yang berhubungan dengan status gizi baik anak balita di daerah miskin. Untuk itu dinas kesehatan kabupaten/kota dalam merencanakan strategi upaya perbaikan konsumsi dan status gizi pada golongan rawan, perlu dipertimbangkan faktor dominan setiap daerah, sehingga strategi program yang telah direncanakan dapat tepat diterapkan pada setiap daerah. Untuk puskesmas perlu lebih digalakan program pemantauan pertumbuhan anak balita dan penyuluhan tentang pentingnya kegunaan KMS untuk memonitor pertumbuhan anak balita melalui penemuan ibu-ibu.
Short period of 0 - 5 years old is full of growth and development processes. Thus, it is the most important stage on human life cycle. Malnutrition is strongly associated with the poverty because of limited access to fill the necessity of food and health service among the poor. Commonly, children under five, who live in poor family, have interference of their development. Nevertheless, some children, who live in economic pressure, can survive to grow and develop well. This phenomenon is called "positive deviance". Then the question appears " What factors operate among those well nourished children ? ". The purpose of this study is to find out about factors related to children under five's nutritional status in Gunung Kidul and Sukabumi. This study used cross sectional design of 440 children, who have been included, from 450 children as the sample of positive deviance study on children under five's nutritional status and associated factors which have a role in Gunung Kidul and Sukabumi. Nutrition Research and Development Center (Puslitbang) of Bogor did the study in April - November 2000. The result indicated that proportion of well nourished children under five in Gunung Kidul was 68,01% and 67,43% in. Sukabumi. The chi-.square's test result showed that there's significant association (pO,O5) between mother's characteristics (age, education, and nutrition knowledge), family's characteristic (family's number and the residence's condition), good consumption of children (energy and protein), child morbidity, and mother's attitude (nu lion and health), and child nutrition status. The result of double logistic regression raultivariate analysis showed that family's income, mother's nutritional status, and mother's age are dominant factors which are associated with the children under five's nutritional status. In summary, the result showed that the proportion of good nutritional status is still low and there are significant factors, which are related to the children under five's nutritional status in destitute area, in the manner of planning strategy to improve the consumption and nutrient status on high risk group, the district health office need to consider the plan which is appropriate with significant factors in each area. So, the program strategy can he applied appropriately. In addition, Health Center (Puskesmas) needs to strengthen the growth monitoring program of children under five and also the use of KMS as a tool to monitor child growth in every contact with mothers.
T-1642
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sri Sularsih Endartiwi; Pembimbing: Yvonne Magdalena Indrawani
S-3608
Depok : FKM UI, 2004
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Karlyn Jeclina Wuemasa Pandy; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Yvonne M. Indrawani, Ida Ruslita Amir
S-4325
Depok : FKM UI, 2005
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ristiyanto ... [et al.]
JEK Vol.3, No.2
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 2004
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Suryati Kumorowulan, Asih Setyani, Yusi Dwi Nurcahyani
MGMI Vol.3, No.2
Magelang : Balitbang GAKI Kemenkes RI, 2012
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
