Ditemukan 26453 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Medika, No. 7, th.16, Juli 1990, hal. 584-586
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Kliping koran Media Indonesia 2015
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Koran Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Buku III, Kompas. hal :132
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Koran Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Cermin Dunia Kedokteran (CDK)-183, Vol.38, No.2, Maret 2011, hal. 128-
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Arabia Tamrin; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Syahrizal, Romauli
Abstrak:
Read More
HIV merupakan masalah kesehatan masyarakat utama secara global. HIV memerlukan pengobatan seumur hidup sehingga kepatuhan terhadap pengobatan antiretroviral sangat diperlukan oleh ODHIV agar mencapai keberhasilan pengobatan. Tesis ini mengkaji seberapa besar pengaruh tingkat kepatuhan terapi antiretroviral terhadap resiko kegagalan virologis yang dikur dari capaian supresi virus pada orang dengan HIV di Kota Bogor. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode observasional analitik dan desain kasus kontrol melalui pemanfaatan data SIHA versi 1.7 di 11 fasilitas kesehatan. Hasil penelitian didapatkan orang dengan HIV di Kota Bogor dengan kepatuhan terapi rendah memiliki resiko 13,21 kali (95% CI: 6,00-29,06; p: 0,000) menyebabkan virus tidak supresi. Disarankan untuk optimalisasi konseling kepatuhan melalui peran konselor dalam menggali hambatan kepatuhan pada orang dengan HIV di layanan
HIV is a major public health problem globally. requires lifelong treatment so that adherence to antiretroviral treatment is needed by PLHIV to achieve treatment success. This thesis examines how much influence the level of adherence to antiretroviral therapy has on the risk of virological failure as measured by the achievement of virus suppression in people living with HIV in Bogor City. This research is a quantitative study using analytic observational methods and a case-control design using SIHA version 1.7 data in 11 health facilities. The results of the study found that people with HIV in Bogor City with low adherence to therapy had a 13.21 times (95% CI: 6.00-29.06; p: 0.000) risk of causing the virus to not be suppressed. It is suggested to optimize adherence counseling through the counselor's role in exploring adherence barriers in people with HIV in services.
T-6758
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Media indonesia 2012: hal 09
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Koran Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wardiman; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Trisari Anggondowati, Bai Kusnadi
Abstrak:
Read More
Latar belakang: Pencapaian supresi viral load merupakan indikator keberhasilan terapi antiretroviral (ARV) sekaligus pilar ketiga target fast track 95-95-95. Kota Bogor mencatat capaian supresi viral load sebesar 67% pada tahun 2024, jauh di bawah target 95%. Belum diketahui secara komprehensif faktor-faktor yang memprediksi tidak tercapainya supresi tersebut, baik dari aspek kuantitatif maupun kualitatif. Metode: Penelitian menggunakan rancangan mixed methods dengan explanatory sequential design. Komponen kuantitatif menggunakan studi potong lintang (cross-sectional) terhadap 724 Orang Dengan HIV (ODHIV) dewasa (≥15 tahun) yang tercatat di SIHA 2.1 Dinas Kesehatan Kota Bogor tahun 2025 dan memiliki data viral load lengkap. Analisis dilakukan secara bivariat dan multivariat menggunakan regresi logistik. Komponen kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap enam informan yang terdiri dari pemegang program HIV Dinas Kesehatan, LSM pendamping, dan ODHIV. Hasil: Proporsi supresi viral load sebesar 79%. Analisis multivariat menunjukkan bahwa ketidakpatuhan konsumsi ARV merupakan prediktor kejadian viral load tidak tersupresi (aOR 90,11; 95% CI: 37,93–214,09), stadium klinis lanjut 3–4 (aOR 7,94; 95% CI: 3,24–19,48), regimen ARV lini 2 (aOR 2,91; 95% CI: 1,18–7,19), dan usia 25–34 tahun (aOR 4,51; 95% CI: 1,41–14,44). Kelompok LSL menunjukkan odds viral load tidak tersupresi yang lebih rendah dibandingkan bukan populasi kunci (aOR 0,18; 95% CI: 0,03–0,96), yang kemungkinan mencerminkan peran keterjangkauan layanan dan pendampingan komunitas pada kelompok yang teridentifikasi dalam sistem layanan. Temuan kualitatif mengidentifikasi stigma diri, kejenuhan terapi, beban efek samping lini 2, keterlambatan diagnosis, serta keterbatasan pendampingan sebagai faktor penghambat supresi. Kesimpulan: Pencapaian supresi viral load pada ODHIV di Kota Bogor dipengaruhi oleh kombinasi faktor individu, klinis, perilaku, dan kesiapan sistem layanan. Temuan ini menekankan perlunya intervensi yang tidak hanya berfokus pada konseling kepatuhan, tetapi juga memperkuat deteksi dini, pendampingan berbasis komunitas, tindak lanjut pasien dengan viral load tidak tersupresi, serta kesinambungan logistik ARV dan pemeriksaan viral load.
Background: Achieving viral load suppression is a key indicator of antiretroviral (ARV) therapy success and the third pillar of the 95-95-95 fast-track targets. Bogor City recorded a viral load suppression rate of only 67% in 2024, well below the 95% target. The factors predicting failure to achieve suppression have not been comprehensively identified, either quantitatively or qualitatively. Methods: This study employed a mixed-methods design with an explanatory sequential approach. The quantitative component used a cross-sectional study of 724 adult people living with HIV (PLHIV; ≥15 years) registered in SIHA 2.1 of the Bogor City Health Office in 2025 with complete viral load data. Bivariate and multivariate analyses were conducted using logistic regression. The qualitative component involved in-depth interviews with six informants comprising HIV program officers from the Health Office, supporting NGOs, and PLHIV. Results: The proportion of viral load suppression was 79%. Multivariate analysis identified ARV non-adherence as the strongest predictor of unsuppressed viral load (aOR 90.11; 95% CI: 37.93–214.09), followed by advanced clinical stage 3–4 (aOR 7.94; 95% CI: 3.24–19.48), second-line ARV regimen (aOR 2.91; 95% CI: 1.18–7.19), and age 25–34 years (aOR 4.51; 95% CI: 1.41–14.44). MSM had lower odds of unsuppressed viral load than non-key populations (aOR 0.18; 95% CI: 0.03–0.96), which may reflect better service reach and community support among MSM identified within the service system. Qualitative findings identified self-stigma, therapy fatigue, second-line side-effect burden, delayed diagnosis, and limited peer support as barriers to suppression. Conclusion: Viral load suppression among PLHIV in Bogor City is shaped by the interaction of individual, clinical, behavioral, and health-system factors. These findings highlight the need for interventions that go beyond adherence counseling by strengthening early detection, community-based support, follow-up for patients with unsuppressed viral load, and continuity of ARV and viral load testing logistics.
T-7509
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
MJKI Th.XXXVI, No.6
Jakarta : Grafiti Medika Pers, 2010
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Budhiarto
CDF-No.22
Jakarta : [s.n.] :
1994
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yullie Mulyadi
KJKMN Vol.3, No.5
Depok : FKM UI, 2009
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
