Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39556 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Umar Fahmi Achmadi
Medika, No. 11
Jakarta : [s.n.] : 1990
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurmetia Priliani; Pembimbing: Umar Fahmi Achmadi
S-634
Depok : FKM UI, 1992
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Herman Abdullah; Pembimbing: Umar Fahmi Achmadi
S-672
Depok : FKM UI, 1993
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gede Harsa Wardana; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Adang Bachtiar, A. A. N. Biarta; Virawan, Made Koen
B-1992
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tulus Ludiyo Setiawan; Pembimbing: Ratna Djuwita
S-792
Depok : FKM UI, 1994
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Koko Suryoko; Pembimbing: Nuning M. Kiptiyah
S-2759
Depok : FKM-UI, 2002
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aulia Rossari Farmashinta; Pembimbing: Umar Fahmi Achmadi; Penguji: Zakianis, Didik Supriyono
Abstrak: Kejadian keracunan makanan di Kabupaten Bogor mengalami fluktuasi dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan hal tersebut, diperlukan adanya penelitian untuk mencari tahu faktor risiko keracunan makanan. Penelitian menggunakan studi deskriptif dengan menggunakan data sekunder dari bagian rekam medis RSUD Cibinong pada tahun 2008 hingga 2012. Berdasarkan hasil analisis, didapatkan bahwa golongan umur dewasa yaitu 15 hingga 49 tahun mengalami keracunan makanan paling besar, yaitu sebanyak 64% Selain itu, tingkat pendidikan dasar berpotensi dalam kejadian keracunan makanan. Golongan tidak bekerja atau ibu rumah tangga juga memiliki risiko terhadap keracunan makanan dengan jumlah kasus sebanyak 60%. Jenis kelamin tidak berisiko untuk menimbulkan keracunan karena memiliki proporsi yang hampir sama. Wilayah pedesaan, khususnya di Kecamatan Babakan Madang menjadi lokasi yang berisiko karena di wilayah tersebut terjadi keracunan makanan akibat jamur sebanyak 20%. Penyebab keracunan yang menjadi faktor risiko adalah penyebab npon-bakteri. Jenis makanan yang berisiko adalah jamur. Waktu kejadian keracunan makanan paling banyak terjadi pada Januari hingga April dan musim hujan. Musim hujan berkaitan dengan masa tumbuh jamur. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor risiko keracunan makanan dari analisa kasus rawat inap di RSUD Cibinong adalah umur, pekerjaan, pendidikan, wilayah domisili, jenis makanan, dan waktu kejadian.
 

Incidence of food poisoning in Bogor district experiencing fluctuations in the last five years. As such, the existence of the necessary research to find out the risk factors of food poisoning. Research using a descriptive study using secondary data from the medical record of RSUD Cibinong in 2008 to 2012. Based on the results of the analysis, obtained that the adult age of 15 to 49 years had the most food poisoning, that is as much as 64% in addition, the primary education is potentially in the event of food poisoning. The unemployed or the housewife also has a risk of food poisoning with the number of cases as much as 60%. Sex is not at risk to cause poisoning because it has almost the same proportion. Rural areas, especially in the Babakan Madang be risky due to the location in the area of food poisoning occurs due to mushrooms as much as 20%. The cause of the poisoning to be a risk factor was non-bacterial. The type of food that is at risk is a fungi. The incidence of food poisoning at the most happen in the January until April and the rainy season. The rainy season is related to the growing mushrooms. Based on this it can be concluded that the risk of food poisoning from analysis of inpatient cases in RSUD Cibinong is the age, occupation, education, region of domicile, type of food, and the time of the incident.
Read More
S-7696
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putu Ayu Novianitri; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Adang Bachtiar, Sri Henni Setiawati, I.B.G. Fajar Manuaba
Abstrak: Indikator kinerja rawat inap di RSU Bintang Klungkung diketahui masih berada di bawah standar yang telah ditetapkan. Salah satu indikatornya adalah BOR dan TOI. Indikator yang berada dibawah rata-rata menunjukkan efektifitas dan efisiensi pelayanan.Perbedaan jumlah kunjungan pasien di unit rawat inap dan poliklinik bagian kebidanan kandungan dan anak cukup signifikan. Perlu pengukuran kinerja untuk mengetahui perspektif apa saja yang menyebabkan kinerja di unit rawat inap dan poliklinik belum maksimal. Tujuan penelitian adalah untuk menilai kinerja pelayanan dengan menggunakan pendekatan balanced scorecard di unit rawat inap dan poliklinik bagian kebidanan kandungan dan anak di RSU Bintang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dan kualitatif dengan menggunakan data primer (wawancara mendalam dan kuesioner) serta data sekunder (data dari humas dan bagian keuangan). Hasil penelitian kinerja keuangan cukup baik, akan tetapi efektifitas biaya masih kurang pada unit rawat inap anak, perspektif pelanggan cukup memuaskan, perspektif bisnis internal cukup baik ditunjukan dengan dijalankannya SOP dan telah memiliki prosedur rujuk pasien, akan tetapi pada rujukan keluar dan fasilitas rs masih kurang di semua unit layanan. Kinerja perspektif pertumbuhan pembelajaran baik ditunjukan dengan angka turn over karyawan yang menurun, akses terhadap pelatihan dan pendidikan yang semakin baik namun perlu dievaluasi efektivitasnya, serta sistem informasi yang telah baik pula namun perlu dukungan keakuratan informasi. Kinerja unit rawat inap kebidanan kandungan relatif lebih baik jika dibandingkan dengan kinerja rawat inap anak oleh karena tingkat efektivitas keuangan unit rawat inap anak masih belum baik. Sedangkan pada poliklinik kandungan dan anak memiliki kinerja yang sama-sama baik. Saran yang diberikan adalah manajemen hendaknya lebih teliti dalam membuat perencanaan anggaran dan tepat menentukan strategi yang baik dengan cara membuat kendali mutu kendali biaya serta clinical pathways (CPW). Rumah sakit hendaknya melakukan pengembangan kualitas SIM RS untuk efisiensi pelayanan. Manajemen berkoordinasi dengan kepala ruangana untuk menerapkan kepemimpinan transformasional, serta melakukan monitoring dan evaluasi yang berkelanjutan.

The inpatient indicator at Bintang General Hospital is known to be below the established standard. One of the indicators is BOR and TOI. Indicators that are under average show the effectiveness and efficiency of the service. The difference in the number of patient visits in the inpatient unit and the policlinic of the obstetric and gynecological parts is significant. It needs performance measurement to find out what perspectives cause performance in inpatient unit and polyclinic not maximal yet. The purpose of this study was to assess service performance by using balanced scorecard approach in inpatient unit and polyclinic of children, obstetric and gynecology section at Bintang Hospital. This research is a quantitative and qualitative research using primary data (in-depth interview and questionnaire) and secondary data (data from public relations and finance department). The results of financial performance research is quite good, but the cost effectiveness is still less on the inpatient unit of children, customer perspective is quite satisfactory, internal business perspective is quite well aimed at the implementation of SOP, and has had patient referral procedures, but on outgoing referrals and hospital facilities are lacking in all service units. The performance of the learning growth perspective is well aimed at decreasing employee turnover, better access to training and education but needs to be evaluated for effectiveness, as well as information systems that have been good but need to support the accuracy of information. The performance of inpatient obstetric care unit is relatively better compared to the performance of the inpatient because the effectiveness level of the in-patient unit's financial unit is still not good. While the policlinic content and children have a performance that is equally good. The advice given is that management should be more careful in making budget planning and appropriately determine a good strategy with quality control of cost control and clinical pathways (CPW). Hospitals should develop quality of information system for service efficiency. Management coordinates with the head of the room to implement transformational leadership, as well as conducting ongoing monitoring and evaluation. 
Read More
B-2066
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lia G. Partakusuma
ARSI Vol.1, No.1
Depok : Pusat Kajian AKK FKM UI, 2014
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ni Wayan Kesumawati; Pembimbing: Prastuti Soewondo; Penguji: Atik Nurwahyuni, Oom Komariah
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Ni Wayan Kesumawati Program Studi : Kajian Administrasi Rumah Sakit Judul : Analisis Piutang Pada Pasien Rawat Inap Jaminan Kesehatan di Rumah Sakit Umum Famili Husada Periode 2015-2016 Pergeseran skema pembayaran biaya kesehatan ke rumah sakit telah bergeser dari majoritas biaya sendiri dibayar tunai ke pembayaran melalui pihak penyelenggara jaminan kesehatan, yang menyebabkan rumah sakit harus mengelola piutang dengan baik karena penerimaan pendapatan rumah sakit dibayar non-tunai. Keterlambatan pembayaran piutang dan atau kegagalan pengelolaan piutang dapat mempengaruhi posisi arus kas, yang kalau ini berlanjut mengakibatkan terganggunya kegiatan operasional rumah sakit. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui posisi gambaran piutang pada pasien jaminan kesehatan di RSU Famili Husada periode tahun 2015 – 2016 dimana rumah sakit telah memutuskan untuk melayani pasien BPJS Kesehatan. Selain itu perlu juga diketahui jumlah piutang dan kebijakan pemberian kredit yang ada agar dapat dijadikan masukan untuk perbaikan manajemen kedepan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan melibatkan seluruh pegawai yang bekerja di bagian keuangan, kasir, front office dan manajemen, sebanyak 14 orang sebagai informan. Data dikumpulkan dengan teknik wawancara mendalam dan observasi partisipan, kemudian dianalisis menggunakan content analysis. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat peningkatan saldo piutang pasien rawat inap pasien jaminan kesehatan pada tahun 2015 – 2016  terutama untuk pasien JKN yaitu dari sebasar 17% meningkat menjadi 30,66%, sedangkan rata – rata persentase pembayaran piutangnya sebesar 45% yang artinya pembayaran piutang dari pasien BPJS Kesehatan belum lancar sehingga bila ini tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan terganggunya arus kas dan akhirnya kegiatan opreasional rumah sakit pun terganggu.  Kesimpulan yang dapat diambil bahwa seiring dengan terjadinya peningkatan jumlah piutang rumah sakit terdapat ketebatasan secara kuantitas maupun kualitas dari sumber daya manusia dalam pengelolaan piutang; belum ada standar prosedur operasional yang mengatur secara khusus tentang pemberian kredit dan kebijakan pengumpulan piutang. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar melakukan evaluasi terhadap kebijakan pemberian kredit dan penagihan piutang yang berlaku, evaluasi beban kerja petugas pengelola piutang dan lakukan pelatihan – pelatihan khusus di bidangnya, serta lakukan pendekatan pada pihak debitur. Kata Kunci: Jaminan Kesehatan, Piutang


ABSTRACT Name : Ni Wayan Kesumawati Study Program : Hospital Administration Title : Accounts Receivable Analysis In Inpatient Patients Health Insurance at Famili Husada Public Hospital Period 2015-2016 The shift in health-care payment schemes to hospitals has shifted from the majorities of their own expenses paid in cash to payments through health insurance providers, which causes hospitals to manage receivables well because hospital revenue is paid non-cash. Delinquent receivables and / or failure of receivables management may affect cash flow position, which if this continues to result in disruption of hospital operations. The purpose of this study is to know the position of the description of receivables in health insurance patients at RSU Famili Husada period 2015 - 2016 where the hospital has decided to serve the patient BPJS Health. In addition, it is also necessary to know the amount of receivables and lending policies available to be used as input for future management improvement. This research uses qualitative descriptive research method by involving all employees who work in finance, cashier, front office and management, as many as 14 people as informant. Data were collected by in-depth interview technique and participant observation, then analyzed using content analysis. The results show that there is an increase in the balance of accounts receivable of patient in health care patient in 2015 - 2016 especially for JKN patient that is from sebasar 17% increase to 30,66%, whereas the average of payment percentage of receivable equal to 45% which mean payment of receivable from patient BPJS Health has not been smoothly so that if it is not managed properly will cause disruption of cash flow and finally hospital operational activities were disrupted. The conclusion can be made that in line with the increase of the number of hospital receivables there are limitations in quantity and quality of human resources in the management of receivables; there is no standard operating procedure that specifically regulates the provision of credit and collection policy of receivables. Based on the result of this research, it is suggested to evaluate the crediting policy and receivable billing, evaluation of workload of receivable management officer and do special training in the field, and approach the debtor. Keywords: Health Insurance, Accounts Receivable

Read More
B-1998
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive