Ditemukan 28267 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Percik, edisi II, 2010, hal. 22-26
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Edgina Dhafia Callista; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Budi Haryanto, Ikha Purwandari
Abstrak:
Read More
Hingga tahun 2024, prevalensi stunting di Indonesia masih berada di angka 19,8% dan belum mencapai target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024, yakni 14%. Distribusi stunting dan faktor risikonya terbukti tidak terjadi secara acak, melainkan membentuk pola kewilayahan. Sementara itu, penelitian menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG) terkait faktor lingkungan masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor lingkungan (akses sumber air minum dan sanitasi) terhadap stunting di Indonesia pada tahun 2024 dengan mengontrol faktor Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR), tingkat pendidikan ibu, dan kepemilikan jaminan kesehatan. Penelitian dilakukan dengan desain cross-sectional menggunakan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024. Sampel dalam penelitian ini adalah 273.281 balita usia 0–59 bulan di Indonesia. Analisis data dilakukan melalui analisis univariat, bivariat (uji chi-square), multivariat (regresi logistik ganda), serta visualisasi spasial dengan pendekatan SIG. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunting sebesar 21,2% dengan sebaran yang tidak merata antarprovinsi. Analisis spasial menunjukkan wilayah Indonesia bagian timur memiliki kombinasi prevalensi stunting tinggi dengan akses sumber air minum dan sanitasi tidak layak yang tinggi, sedangkan wilayah bagian barat cenderung memiliki kondisi yang lebih rendah. Hasil analisis multivariat membuktikan kedua faktor lingkungan tetap berhubungan signifikan setelah dikontrol faktor perancu, dengan akses sanitasi tidak layak (aPOR=1,292; 95% CI: 1,258–1,327) dan akses sumber air minum tidak layak (aPOR=1,287; 95% CI: 1,245–1,330). Dengan demikian, ketidaklayakan faktor lingkungan secara independen meningkatkan risiko stunting dan membentuk pola kewilayahan, sehingga diperlukan intervensi multisektoral berbasis wilayah untuk menekan prevalensi stunting di Indonesia.
As of 2024, the prevalence of stunting in Indonesia remains at 19.8% and has not yet reached the target set in the 2020–2024 National Medium-Term Development Plan, which is 14%. The distribution of stunting and its risk factors has been shown not to occur randomly, but rather to form regional patterns. Meanwhile, research using a Geographic Information System (GIS) approach regarding environmental factors remains limited. This study aims to determine the relationship between environmental factors (access to drinking water and sanitation) and stunting in Indonesia in 2024 by controlling for Low Birth Weight (LBW), maternal education level, and health insurance ownership. The study used a cross-sectional design using data from the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey. The sample in this study consisted of 273,281 children aged 0–59 months in Indonesia. Data analysis was performed using univariate analysis, bivariate (chi-square test), multivariate (multiple logistic regression), and spatial visualization using a GIS approach. The results showed a stunting prevalence of 21.2%, with uneven distribution across provinces. Spatial analysis showed that eastern Indonesia has a high prevalence of stunting combined with high rates of inadequate access to drinking water and sanitation, while western regions tend to have lower rates. Multivariate analysis results confirm that both environmental factors remain significantly associated after controlling for confounding factors, specifically inadequate sanitation access (aPOR=1.292; 95% CI: 1.258–1.327) and inadequate access to drinking water sources (aPOR=1.287; 95% CI: 1.245–1.330). Thus, inadequate environmental factors independently increase the risk of stunting and form regional patterns, necessitating region-based multisectoral interventions to reduce the prevalence of stunting in Indonesia.
S-12240
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Interaksi, edisi 1, 2014, hal. 54-. ( ket. ada di bendel Maj. Demografi 2008- 2011)
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Kliping median indonesia 2012-2013, hal 85
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Koran Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Koran Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hertina Raisa Putri; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Rico Kurniawan, Umi Fahmida
Abstrak:
Read More
Stunting masih menjadi masalah gizi utama bagi anak di Indonesia. Laporan data SSGI 2022 menunjukkan prevalensi stunting di Indonesia mencapai 21,6%. Stunting disebabkan oleh banyak faktor, di antaranya akses air bersih dan sanitasi. Pada tahun 2020, akses kualitas air minum aman di Indonesia hanya mencapai 11,9%. Selain itu, angka rumah tangga yang memiliki sarana toilet dengan sambungan tangki septik tertutup dan rutin dibersihkan kurang dari 8%. Di sisi lain, program akses air bersih dan sanitasi di Indonesia belum menjadi prioritas dalam penanggulangan stunting. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana akses air bersih dan sanitasi memengaruhi stunting. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan populasi seluruh anak usia 6-23 bulan di Indonesia. Seluruh subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi menjadi sampel penelitian, yaitu sebanyak 56.536 sampel. Uji statistik menggunakan regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara akses air bersih dan sanitasi dengan stunting. Anak dengan akses air bersih dan sanitasi yang kurang memiliki odds 1,17 kali lebih tinggi untuk mengalami stunting. Dengan demikian, peningkatan akses air bersih dan sanitasi perlu dilakukan untuk menanggulangi stunting.
Stunting is still a major nutritional problem for children in Indonesia. The 2022 SSGI data report shows that the prevalence of stunting in Indonesia has reached 21.6%. Stunting is caused by many factors, including access to clean water and sanitation. In 2020, access to safe drinking water in Indonesia will only reach 11.9%. In addition, the number of households that have toilet facilities with closed septic tank connections and are regularly cleaned is less than 8%. On the other hand, clean water and sanitation access programs in Indonesia have not been a priority in preventing stunting. Therefore, this research aims to find out the relationship between access to clean water and sanitation with stunting. This study used a cross-sectional design with a population of all children aged 6–23 months in Indonesia. All subjects who met the inclusion and exclusion criteria became the research sample, namely 56,536 samples. Statistical tests use multiple logistic regressions. The research results show that there is a significant relationship between access to clean water, sanitation, and stunting. Children with poor access to clean water and sanitation have 1.17 times higher odds of experiencing stunting. Thus, increasing access to clean water and sanitation needs to be done to overcome stunting.
S-11745
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Bul. Pen. Sis. Kes. (Bulitsiskes), Vol.17, No.2, Apr. 2014 : hal. 107-114. ( ket. ada di bendel 2013 - 2014 )
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Marceline Ferto Tanaya; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Al Asyary, Nurusysyarifah Aliyyah
Abstrak:
Read More
Penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, termasuk di Kabupaten Tangerang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara proporsi rumah sehat, akses air minum layak, dan penggunaan jamban sehat dengan kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Sukadiri, Pakuhaji, dan Sukawali pada tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan unit analisis desa/kelurahan. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang dan masing-masing puskesmas. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson dan Spearman sesuai dengan hasil uji normalitas data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang lemah dan berarah positif antara proporsi rumah sehat dengan kejadian diare (ρ = 0,387; p = 0,075), serta hubungan yang lemah dan berarah negatif antara akses air minum layak (r = -0,276; p = 0,214) dan penggunaan jamban sehat (ρ = -0,334; p = 0,128) dengan kejadian diare. Ketiga hubungan tersebut tidak signifikan secara statistik. Hasil ini menunjukkan bahwa meskipun arah hubungan sebagian besar sejalan dengan teori, hubungan antara indikator lingkungan dan kejadian diare belum dapat dibuktikan secara signifikan di wilayah penelitian ini.
Diarrhea remains a significant public health issue in Indonesia, including in Tangerang Regency. This study aims to analyze the relationship between the proportion of healthy homes, access to safe drinking water, and the use of proper sanitation facilities with the incidence of diarrhea in the working areas of Sukadiri, Pakuhaji, and Sukawali Community Health Centers in 2023. This study employed an ecological study design with the unit of analysis being villages/sub-districts. The data used were secondary data obtained from the Tangerang District Health Office and respective health centers. Bivariate analysis was conducted using Pearson and Spearman correlation tests, based on the results of the normality test. The findings show a weak positive correlation between the proportion of healthy homes and the incidence of diarrhea (r = 0.387; p = 0.075), a weak negative correlation between access to safe drinking water (r = -0.276; p = 0.214), and a weak negative correlation between the use of proper sanitation facilities (r = -0.334; p = 0.128) with the incidence of diarrhea. All three correlations were found to be statistically insignificant. Although the direction of the relationship aligns with theoretical expectations, the relationship between environmental health indicators and the incidence of diarrhea could not be statistically confirmed in the study area.
Diarrhea remains a significant public health issue in Indonesia, including in Tangerang Regency. This study aims to analyze the relationship between the proportion of healthy homes, access to safe drinking water, and the use of proper sanitation facilities with the incidence of diarrhea in the working areas of Sukadiri, Pakuhaji, and Sukawali Community Health Centers in 2023. This study employed an ecological study design with the unit of analysis being villages/sub-districts. The data used were secondary data obtained from the Tangerang District Health Office and respective health centers. Bivariate analysis was conducted using Pearson and Spearman correlation tests, based on the results of the normality test. The findings show a weak positive correlation between the proportion of healthy homes and the incidence of diarrhea (r = 0.387; p = 0.075), a weak negative correlation between access to safe drinking water (r = -0.276; p = 0.214), and a weak negative correlation between the use of proper sanitation facilities (r = -0.334; p = 0.128) with the incidence of diarrhea. All three correlations were found to be statistically insignificant. Although the direction of the relationship aligns with theoretical expectations, the relationship between environmental health indicators and the incidence of diarrhea could not be statistically confirmed in the study area.
S-12056
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Percik, edisi III, 2010, hal. 16-17
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Medika, No.5, Mei 1993, hal. 32-42
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
