Ditemukan 34203 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Any Setyawati, Bagoes Widjanarko, Budi Laksono
JKR Vol.1, No.3
Jakarta : Departemen Kesehatan RI, 2011
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nurmah Yasinta; Pembimbing: Toha Muhaimin; Penguji: Sabarinah B. Prasetyo, Arif Rachman Iryawan
S-8111
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nasya Shafira; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Nurjannah
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan factor sosiodemografi, pengetahuan dan persepsi, perilaku penggunaan napza, perilaku berisiko seks, dan perilaku pencegahan dengan kejadian HIV pada kelompok kunci pengguna narkotika suntik (penasun) di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data sekunder STBP 2018-2019. Sampel yang digunakan adalah penasun yang ada diseluruh Indonesia yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi dengan jumlah sampel sebanyak 1.364. data dianalisis secara univariat dan bivariat. Prevalensi HIV sebanyak 13,7%.
Read More
S-10542
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Novi Ariyanto; Pemibimbing: Sudarto Kresno; Penguji: Rina A. Anggorodi, Linda Patricia
S-5985
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Salma Noor Azzahra; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Suparmi
Abstrak:
Read More
Dilaporkan terdapat 38,4 juta orang yang hidup dengan HIV pada tahun 2021 dan terdapat sebanyak 58 juta kasus kasus kronis Hepatitis C pada tahun 2019. Pengguna NAPZA suntik merupakan populasi yang paling rentan untuk terinfeksi kedua virus ini akibat jalur transmisi kedua virus ini yang sangat besar melalui jarum suntik tidak steril. Kedua penyakit ini dapat terjadi secara bersamaan yang menyebabkan percepatan progres keduanya menjadi kronis. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian koinfeksi HIV/HCV untuk mencegah penyebaran yang lebih lanjut dengan melakukan analisis bivariat dengan menggunakan chi-square dan melihat crude prevalence rate. Studi cross-sectional dari data STBP 2018-2019 di tujuh kabupaten/kota Jawa Barat populasi Penasun dilakukan dan didapatkan bahwa positivity rate koinfeksi HIV/HCV pada Penasun mencapai sebesar 9%. Ditemukan bahwa terdapat hubungan antara usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status perkawninan, riwayat dipenjara, usia pertama kali menggunakan NAPZA suntik, lama menggunakan NAPZA suntik, pernah menggunakan alat suntik tidak steril, usia pertama kali berhubungan seksual, hubungan seksual satu tahun terakhir, penggunaan kondom dengan pasangan tetap, pengetahuan komprehensif HIV, akses LASS, dan akses PTRM dengan kejadian koinfeksi HIV/HCV. Dari hasil tersebut diperlukan intervensi yang tepat untuk mencegah dan menanggulangi tingginya kejadian koinfeksi HIV/HCV pada Penasun.
There are 38.4 million people reported living with HIV in 2021 and there are as many as 58 million cases of chronic hepatitis C cases in 2019. Injecting drug users are the most vulnerable population to be infected with these two viruses due to the transmission routes of these two viruses via unsterile needles. These two diseases can occur simultaneously which causes the accelerated progress of both infections to become chronic. This study aims to look at the factors associated with the incidence of HIV/HCV coinfection to prevent further spread by conducting bivariate analysis using chi-square and looking at the crude prevalence rate. A cross-sectional study of 2018-2019 IBBS data in seven districts/cities of West Java of the IDU population was conducted and it was found that the positivity rate of HIV/HCV coinfection in IDU reached 9%. It was found that there was a relationship between age, gender, education level, marital status, history of imprisonment, age at first injecting drug use, duration of injecting drug use, ever using unsterile injecting equipment, age at first sexual intercourse, sexual intercourse in the past year, use of condoms with regular partners, comprehensive knowledge of HIV, access to sterile syringe service, and access to methadone treatment, with HIV/HCV coinfection. From these results, appropriate interventions are needed to prevent and overcome the high incidence of HIV/HCV co-infection among IDU.
S-11342
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sri Herwanti Saputra; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Victoria Indrawati
Abstrak:
Angka kasus infeksi HIV terus meningkat dan telah menginfeksi sekitar 36,7 juta penduduk dunia dan 2 juta diantaranya anak-anak dibawah usia 15 tahun. Tingginya prevalensi HIV pada populasi penasun menunjukkan bahwa Penasun merupakan populasi kunci yang penting dalam penyebaran HIV di Indonesia. Penelitian ini untuk mengetahui determinan yang mempengaruhi terjadinya infeksi HIV pada Penasun di Indonesia tahun 2015 dengan menggunakan data sekunder STBP Penasun pada 6 kota besar yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI. Sebanyak 1231 penasun diwawancara dan diambil sampel darahnya kemudian di lakukan analisis multivariat regresi cox dan didapatkan prevalensi HIV sebesar 28,8%, 653 (55,2%) pernah menyuntik bersama, 1116 (90,7%) menggunakan jarum bekas pakai, 336 (35%) sedang terapi PTRM. Dari penelitian ini diketahui bahwa pasangan seks dengan sesama penasun beresiko terkena HIV 2,22 kali dibanding yang tidak (95% CI 1,152-4,281, nilai p=0,017), persepsi diri merasa beresiko terkena HIV 1,68 kali kali beresiko terkena HIV (95% CI 1,176-2,406, nilai p=0,004), sharing needle memiliki resiko 1,90 kali terinfeksi HIV (95% CI 0,68-5,35), status sifilis dan riwayat IMS memiliki resiko 1,2 kali terkena HIV dan perilaku penggunaan kondom menunjukkan hasil bermakna (nilai p=0,006) dapat mencegah terkena HIV. Program pengendalian HIV di Indonesia diharapkan dapat lebih memfokuskan intervensi pada populasi kunci (penasun) edukasi pengetahuan HIV, pengobatan dan perilaku preventif.
Kata kunci : HIV, Penasun, sharing needle, pasangan seks, kondom, IMS.
HIV infection cases keep increasing and have been inestmated infecting 36.7 million people in the world and 2 million among them are children below 15 years old. The high prevallence rate of HI among IDUs indiacted IDU is important HIV key population in Indonesia. The aim of this study was to know determinant affecting HIV infection among IDUs in Indonesia in year 2015 by using secondary data of IBBS (STBP) among IDUs in 6 big cities done by Ministry of Health (Kemkes RI). In IBBS/STBP study about 1231 IDUs were interviewed and taken their blood samples. In study we used multivariate analysis using Cox regrssion analiysis and found that the HIV prevalence rate was 28.8%. About 55,2% have shared needles, 90,7% have used already used needles, 35% have been following methadone substitution therapy. From this study we also found that having IDUs sex partner increased risk to get HIV infection for about 2,22 times as compared those did not have (95% CI of PR: 1,152- 4,281, p-value=0,017), Self perception that ones being at risk of HIV increased risk to get HIV infection 1,68 times (95% CI 1,176-2,406, nilai p=0,004), sharing needle increased risk to get infected by HIV 1,90 times (95% CI 0,68-5,35), status of Sifilis infection and STI (sexual transmitted infection) both increased risk 1,2 times and condom use had protective effect and showed signficant association (p-value=0,006). HIV control programs in Indonesia were expected to be more focus on intervention toward key population of IDUs in areas of education to increase knowledge of HIV, therapy and behavior intervention.
Kata kunci : HIV, IDUs, sharing needle, sex partners, condom, STI.
Read More
Kata kunci : HIV, Penasun, sharing needle, pasangan seks, kondom, IMS.
HIV infection cases keep increasing and have been inestmated infecting 36.7 million people in the world and 2 million among them are children below 15 years old. The high prevallence rate of HI among IDUs indiacted IDU is important HIV key population in Indonesia. The aim of this study was to know determinant affecting HIV infection among IDUs in Indonesia in year 2015 by using secondary data of IBBS (STBP) among IDUs in 6 big cities done by Ministry of Health (Kemkes RI). In IBBS/STBP study about 1231 IDUs were interviewed and taken their blood samples. In study we used multivariate analysis using Cox regrssion analiysis and found that the HIV prevalence rate was 28.8%. About 55,2% have shared needles, 90,7% have used already used needles, 35% have been following methadone substitution therapy. From this study we also found that having IDUs sex partner increased risk to get HIV infection for about 2,22 times as compared those did not have (95% CI of PR: 1,152- 4,281, p-value=0,017), Self perception that ones being at risk of HIV increased risk to get HIV infection 1,68 times (95% CI 1,176-2,406, nilai p=0,004), sharing needle increased risk to get infected by HIV 1,90 times (95% CI 0,68-5,35), status of Sifilis infection and STI (sexual transmitted infection) both increased risk 1,2 times and condom use had protective effect and showed signficant association (p-value=0,006). HIV control programs in Indonesia were expected to be more focus on intervention toward key population of IDUs in areas of education to increase knowledge of HIV, therapy and behavior intervention.
Kata kunci : HIV, IDUs, sharing needle, sex partners, condom, STI.
T-5430
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Berdita; Pembimbing: Kemal N. Siregar; Penguji: Indang Trihandini, Besral, Kristina, Vinny Sutriani Tobing
T-4071
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Epidemiologic reviews, Vol.16, No.2, 1994. hal. 418-436. ( ket. ada di bendel 1990-1994)
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sukma Citra Puspitasari
JKR Vol.3, No.1
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 2012
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Soitawati; pembimbing: Nuning Maria Kiptiyah; penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, IBN Banjar, Nurjanah
Abstrak:
Read More
Penyalahgunaan narkoba merupakan masaiah nasional bahkan mendunia. Hal ini ditandai dengan meningkatnya studi tentang penyalahgunaan narkoba, Berbagai studi didapatkan adanya peningkatan penyalahgunaan narkoba hiata BNN (2007) sekitar l,5% penduduk Indonesia teijerat narkoba dirnana narkoba suntik merupakan cara penggunaan narkoba kedua terbanyak, sedangkan DKI Jakarta merupakan daerah paling rawan clibandingkan provinsi lainnya. Masalah terkait dengan narkoba suntik adalah masalah kesehatan temmasuk kematian dan keoelakaan, rnasalah sosial dan huklun. Masalah kesehatan pada pengguna narkoba suntik (penasun) yaitu pcnularan penyakit HIV/AIDS yang didapatkan 50-60% positif pada penasun, hepatitis B sckitar 25-35%, sedangkan hepatitis C sekitar 70-95% positif pada penasun. Strategi utama dalam penanggulangan narkoba yaitu Supplcga reduction, Demand Reduction dan Harm Reduction dimana PTRM mcrupakan salah satu upaya untuk mengurangi dampak btuuk akibat penggunaan narkoba suntik. Angka drop out di puskesmas satelit PTRM rata~rata menunjukkan > 45% (indicator < 45%). Hal ini menjadi masalah karena penasun yang putus akan kembali menggunakan narkoba suntik dan meningkatkan kerentanan terhadap HIV/AIDS dan hepatids, selain itu kebErhasiian PTRM akan menurun karena prosedur dan dosis obat dimulai lagi dari awal. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi putus berobat pasien penasim di klinik PTRM Puskesmas Kec Jatinegara dan Puskesmas Kee Gambit tahun 2007-2008, dengan tujuan khusus mengetahui dan mendapatkan model yang sesuai untuk menggambarkan hubungan faktor predisposisi (umur, sex, pendidikan, pekerjaan, marital, sikap dan pengetahuan), faktor pendukung (dukungan keluarga/teman dan aksesibilitas) serta faktor kebutuhan pelayanan kesehatan (gejala putus obat) dengan putus berobat. Ruang Iingkup studi ini adalah studi observasi dengan disain kasus kontrol, data kasus dan kontrol berdasarkan data registrasi pasien sedangkan data pajanan didapatkan dengan wawancara menggimakan kuesioner. Metodologi studi ini merupakan studi retrospektif dengan disain kasus konirol. Popuiasi studi adalah pasien penasun yang berobat di ldinik PTRM Puskesmas Kec Jatinegara dan Puskesmas Kee Gambir tahun 2007-2008, sedangkan sampel adalah populasi studi yang terpilih dengan memperlirnbankan kriteria inklusi dan eksklusi dengan jumlah sampel kasus 156 dan kontrol 156 (ratio 1:l), pengambilan sampel bcrdasarkan proporsi kasus di kedua lokasi. Kasus adalah pasien yang putus berobat (tidak minum metadon minimal 7 hari berturut-turul) sedangkan kontrol adalah pasien yang teratur berobat, baik kasus maupun kontrol diambil secara acak sederhana. Analisis data dilakukan secara multivariate dengan mulriple Iogislic regression. Hasil penelirjan ini didapatkan variabel jenis kelamin (p 0.003 dan OR 13.184, CI 95% l.491- 6.800), pengetahuan (p 0.027 dan OR l.729, CI 95% 1.064-2.812), dukungan keluarga/teman (p 0.000 OR 2.704, CI 95% 1.664 -4396) dan aksesibilitas (aksesibilitas rendah p 0.007 OR 3.656, CI 95% 1.790-7.468 dan aksesibilitas sedang (p 0.000 OR 2293, CI 95% 1,258 - 4.l77). Studi ini rnemberikan rekomendasi yaitu meningkatkan lcualitas dan kuantitas sarana pclayanan kesehatan yang menyelenggarakan PTRM, memberikan penyuluhan tentang PTRM pada masyarakat dan mengingatkan untuk senantiasa memberi dukungan pada pasien PTRM terutarna pada laki-Iaki, saran penelitian lebih Ianjut adalah meneliti survival time dan faktor lain yang bclum dileliti pada studi.
Drugs abuse had been a national concerned problem further more it had been global concerned recently. There are many researches about drugs abuse concluded that drug users increased about five times. According to National Narkotics Organization (BNN), in 20071 there are l,5% population in Indonesia was a drug users that intravenous/injecting was the second most ways among dru users. In addition. DKI Jakarta is the highest risk province regard to drug users among provinces in Indonesia. Drugs abuse can lead many problems that consist of health problems including deaths and accidents, socials dan laws. Health problems among IDUs such as spread of HIV/AIDS that about 50-60% positive& hepatitis B about 25-35% positively and hepatitis C that positivebf among IDUs about 70-95%, The main strategies for controlling drugs abuse are Supply reduction, Demand reduction and Harm reduction which Methadone Maintenance Therapy (MJT) Programme was one of ejorts to reduce harm of drugs abuse. There are drop out rate in Satelite Primary Health Centre > 45% that indicators for assessing successfully .MMT Programme such as drop out rate < 45%. Regard to that, susceptible of IDUs was increasing because of back to using drug injecting in addition that caused failure in MMT Programme. susceptible of ID Us was increasing because of back to using drug injecting in addition that caused failure in MMT programme. This study aimed to understand factors related to MMT drop out among IDUs in Jatinegara Primary Health Centre West Jakarta and Gambir Primary Health Centre, Central Jakarta in 2007-2008, particularly predisposing factors (age, gender, education, marital, working status, knowledge, and attitude), enabling factors (familv/companions support and accessibility) as well as needsjllctor (withdrawl symptoms). This study design is case control with 156 cases and 156 controls (l:1). Cases were patients on MMT that dqined not drink methadone for 7 days consecutivelyg controls were patients on MMT that regular drink methadone daily in the same period All of both selected by siniple random sampling. Data were analyzed in multivariate ways by multiple logistic regession. This study result shows that gender (p 0.003 OR 3. 184, CI 95% ].49l- 6. 800). knowledge (p 0. 027 OR l. 729, C1 95% 1.064-2.812), familieshzeers group support Q 0.000 OR 2. 704, CI 95% 1.664 -4.396) and accesibiliqy (low accesibility 0.007 ()R 3. 656, CI 95% 1.790-1468 and moderate accesibility p 0.000 OR 2.293, CI 95% 1.258 - 4.1 77) are related to MMT drop out among ID Us in Jatinegara Primary Health Centre West Jakarta and Gambir Primary Health Centre, Central Jakarta in 2007-2008. This study recommended to government to increase MMT programme in other primary health services including quantity and quality of services, to announce information and education regard to MMT to public, to warn jbr supporting patients in MMT particularly supporting be conducted for males. In addition, other research to be conducted by survival time and other factors that related to MMT.
T-3059
Depok : FKM UI, 2009
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
