Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35702 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Edhy Listiyo, Widodo J. Pudjirahardjo
JAKK Vol.2, No.3
Surabaya : Unair, 2004
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Menok Susanti; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Robiana Modjo, Nur Ratih Permana, Rini Sasanti
T-3354
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuki Melati Indriana; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Helen Andriani, Adang Bachtiar, Dyah Eko Judihartanti, Hari Sulistiyono
Abstrak: Mendaki gunung telah menjadi salah satu pilihan aktivitas luar ruangan dengan pertumbuhan peminat paling cepat. Beberapa motivasi individu yang mendorong individu untuk terlibat dalam aktivitas pendakian gunung antara lain untuk mendapatkan pengalaman di alam bebas, relaksasi, kegiatan kebugaran, pengurangan stress, mendapatkan kesenangan, dan untuk alasan kesehatan. Pada aktivitas pendakian Gunung Ciremai, jumlah pendaki mengalami peningkatan setiap tahunnya. Sebanyak 41.460 pendaki melakukan aktivitas pendakian sepanjang tahun 2017 dan meningkat menjadi 46.995 pendaki sepanjang tahun 2018. Sejumlah risiko yang terlibat dalam aktivitas pendakian gunung seperti intensitas cidera fisik yang parah hingga kematian menjadikan pendakian gunung sebagai salah satu olahraga ekstrim. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan analisis yang bertujuan untuk melakukan manajemen risiko pada aktivitas dan jalur pendakian Gunung Ciremai. Dari hasil identifikasi risiko diketahui risiko yang paling sering muncul dalam aktivitas pendakian gunung ciremai adalah terjatuh dan tergelincir. Kemudian, hasil analisis risiko menunjukkan sejumlah potensi bahaya juga memiliki nilai risiko yang cukup tinggi meliputi faktor cuaca, perilaku berlari ketika turun gunung, dan tidak lengkapnya peralatan pendakian. Faktor cuaca memiliki peran yang cukup besar dalam terjadinya sejumlah insiden seperti dehidrasi, hipotermia, dan pohon tumbang. Faktor cuaca ini semakin diperparah dengan ketidak lengkapan dan ketidak sesuaian peralatan pendakian yang digunakan untuk aktivitas pendakian gunung, sehingga menyebabkan risiko pendaki untuk berada dalam situasi berbahaya semakin tinggi. Perilaku ini berkaitan dengan persepsi risiko pendaki terhadap aktivitas pendakian. Persepsi risiko ini juga mempengaruhi perilaku berisiko yang dilakukan oleh pendaki seperti berlari ketika turun gunung
Read More
B-2233
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Verawati Lenny M; Pembimbing: Suprijanto Rijadi
S-3331
Depok : FKM UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Monika N. Susanto; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Dumilah Ayuningtyas, Amila Megraini, Mohamad Firas
Abstrak: ABSTRAK Proses pembuatan formularium Rumah Sakit XYZ oleh Tim Farmasi Terapi (TFT) belum mempertimbangkan tingkat kritis suatu obat bagi pasien. Hal ini menyebabkan masih ada pembelian obat cito (obat diperlukan segera, mempengaruhi keselamatan pasien). Obat-obat ini dapat diidentifikasi dengan metode ABC untuk menetapkan jenis obat yang termasuk dalam kelompok A indeks kritis. Belum ada data mengenai obatobat yang bernilai investasi besar di RS XYZ, sehingga belum ada fokus dalam kontrol biaya persediaan obat. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif dengan menerapkan metode ABC berdasarkan pemakaian, nilai investasi dan indeks kritis terhadap data kebutuhan obat tahun 2018. Data penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi dan telaah dokumen terkait perencanaan dan pengadaan obat. Sebesar 82% jenis obat yang tersedia di gudang jarang digunakan, namun 53 di antaranya merupakan obat yang memiliki nilai investasi tinggi yang memerlukan perhatian khusus. Obat yang memiliki 5 (lima) nilai investasi terbesar namun sangat jarang digunakan (kelompok C nilai pemakaian) adalah: Albuminar 25% infus, Octalbin 25%, Terfacef injeksi, Trijec 1 gram dan Lanmer injeksi. Formularium RS XYZ berikutnya harus mengeluarkan 530 jenis obat yang tidak kritis dan tidak ada pemakaian. Jumlah jenis obat yang masuk ke dalam formularium yang lebih sedikit akan memudahkan proses kontrol dan penyimpanan persediaan. Kata kunci : Logistik, farmasi, obat, metode ABC indeks kritis ABSTRACT The process of making the XYZ Hospital formulary by the Therapy Pharmacy Team (TFT) has not considered the critical level of a drug for patients. This causes the purchase of cito drugs (drugs needed immediately, affecting patient safety). These drugs can be identified by the ABC method to determine the types of drugs included in the critical index group A. There is no data on drugs that are worth a large investment in XYZ Hospital, so there is no focus in controlling the cost of drug supplies. This study used a qualitative research design by applying the ABC method based on usage, investment value and critical index of drug needs data in 2018. The research data was obtained through in-depth interviews, observation and document review related to drug planning and procurement. 82% of the types of drugs available in warehouses are rarely used, but 53 of them are drugs that have high investment value that require special attention. Drugs that have the top 5 (five) investment values but are very rarely used (group C usage value) are: Albuminar 25% infusion, Octalbin 25%, Terfacef injection, Trijec 1 gram and Lanmer injection. The next XYZ Hospital formulary must issue 530 types of drugs that are not critical and have no use. The smaller number of types of drugs that enter the formulary will facilitate the process of control and storage of inventory. Keywords: Logistics, pharmacy, medicine, ABC index critical method
Read More
B-2043
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pita Aprilia; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Purnawan Junadi, Susan Oktiwidya Ananda, Dian Trisnawati
Abstrak:
Persediaan farmasi harus dikelola dengan baik untuk kelancaran operasional dan keuangan rumah sakit. Sistem informasi dibutuhkan untuk mengelola persediaan farmasi agar memudahkan pengambilan keputusan dengan data yang akurat pada waktu yang tepat. RS Premier Jatinegara mengembangkan sistem persediaan baru yaitu RSDI yang menggabungkan informasi data perencanaan hasil analisis metode ABC-VEN dan MMSL, serta informasi terkini status tahap pemesanan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur output dari penggunaan sistem RSDI yang ditinjau dari indikator efektivitas dan efisiensi. Penelitian dilakukan dengan operational research terhadap sampel obat hasil analisis ABC-VEN dan MMSL di Instalasi Farmasi RS Premier Jatinegara setelah dilakukan intervensi. Hasil analisis ABC diperoleh obat kategori A mewakili 70% dari total investasi. Jumlah non esensial mencapai 53% dari total obat secara keseluruhan. Obat kategori EA dan NA memiliki nilai investasi tertinggi yaitu 63%. Apabila obat kategori EA dan NA dikelola dengan baik maka sekitar 63% biaya investasi dapat dikendalikan. Hasil penelitian menunjukan angka kejadian kekosongan obat turun 57%. Kekosongan masih ada karena kondisi stok yang kosong di distributor yang tidak dapat dihindari oleh karena itu integrasi B2B dengan distributor perlu ditingkatkan. Namun nilai ITOR juga turun dari 7 kali menjadi 6 kali. Penyesuaian periode pengadaan, pengurangan lead time distributor dan pengurangan jumlah stok obat non esensial perlu dilakukan untuk meningkatkan efisiensi. Informan menyampaikan sistem RSDI membantu memprioritaskan pengadaan ketika obat vital, esensial atau kategori A kosong, mempercepat pengambilan keputusan, menghilangkan permintaan berulang, dan meningkatkan komunikasi antara Instalasi Farmasi-Gudang-Pengadaan. Penelitian diharapkan dapat dilanjutkan agar pencapaian efektivitas dan efisiensi persediaan semakin baik.

Pharmaceutical supplies must be managed well for smooth hospital operations and finances. Information systems are needed to manage pharmaceutical supplies to facilitate decision making with accurate data at the right time. Premier Jatinegara Hospital developed a new inventory system, namely RSDI. This research aims to measure the output from using the RSDI system in terms of indicators of effectiveness and efficiency. The research was carried out using operational research on drug samples resulting from ABC-VEN and MMSL analysis at the Pharmacy Department after the intervention. The results showed that total investment category A drugs is 70%. The number of non-essential drugs reaches 53%. EA and NA category drugs have the highest investment value 63%, if EA and NA category are managed well then around 63% of investment costs can be controlled. The research results showed that the incidence of stock out decreased by 57%. Stock out still exist due to unavailable stock at distributors which cannot be avoided, therefore B2B integration with distributors needs to be improved. However, the ITOR value also fell from 7 times to 6 times. Adjusting the procurement period, reducing distributor lead time, and reducing the amount of non-essential drug needs to be done to increase efficiency. Informants said that the RSDI system helps prioritize procurement when vital or category A drugs are out of stock, speeding up decision making, eliminating repetitive requests, and improving communication between the Pharmacy-Warehouse-Procurement. This research should be continued to achieve better inventory effectiveness and efficiency.
Read More
B-2424
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Risna Mulyanti; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Helen Andriani, Purnawan Junadi, Endang Adriyani, Vitrie Winastri
Abstrak:
Permasalahan yang sering dihadapi dalam pengelolaan persediaan obat di RS LNG Badak adalah sulitnya mengontrol jumlah stok yang optimal karena tidak adanya distributor obat di Kota Bontang, sehingga sering terjadi kekurangan stok. Hal ini dapat mengakibatkan kerugian finansial dan terhambatnya pelayanan kesehatan.: Pengelolaan persediaan obat di rumah sakit merupakan hal yang krusial untuk menjamin ketersediaan obat bagi pasien. Salah satu metode yang efektif untuk mengoptimalkan pengelolaan persediaan adalah Metode Analisis ABC Indeks Kritis. Untuk menganalisis dan menerapkan Metode Analisis ABC Indeks Kritis dalam pengelolaan persediaan obat di Rumah Sakit LNG Badak, Bontang, Kalimantan Timur pada tahun 2024. Metode Penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Data yang digunakan adalah data primer berupa wawancara mendalam kepada para informan serta pengisian kuesioner nilai kritis obat dan data sekunder berupa data pemakaian obat selama periode tertentu. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan Metode Analisis ABC Indeks Kritis dengan mengklasifikasikan item obat berdasarkan nilai, volume penggunaan dan tingkat kepentingan setiap item obat. Kemudian dihitung jumlah obat yang harus dipesan (Economic Order Quantity), stok pengaman (Safety Stock) dan titik pemesanan kembali (Reorder Point). Hasil Analisis ABC Nilai Pakai pada Kelompok A dengan jumlah pemakaian 589.695 (70%) menunjukkan pemakaian yang paling besar, disusul oleh kelompok B dan kelompok C. Dari sisi pemakaian, kelompok A merupakan prioritas yang harus diperhatikan dalam perencanaan obat. Hasil Analisis ABC Nilai Investasi pada Kelompok A dengan jumlah investasi sebanyak  4.708.882.160 (70%) menunjukkan investasi yang paling besar, disusul oleh kelompok B dan kelompok C. Dari sisi investasi, kelompok A merupakan prioritas yang harus diperhatikan dalam perencanaan obat.  Hasil Analisis ABC Indeks Kritis pada Kelompok A dengan nilai kritis rata-rata 10.36 menunjukkan kekritisan yang paling tinggi, disusul oleh kelompok B dengan nilai 8.6 . Dari sisi kekritisan, kelompok A merupakan prioritas yang harus diperhatikan dalam perencanaan obat. Diperlukan penghitungan EOQ, SS dan ROP dalam perencanaan dan pengendalian obat di RS LNG Badak. Integrasi nilai EOQ, SS, dan ROP ke dalam SIM Rumah Sakit akan membuat proses perencanaan dan pengendalian persediaan farmasi menjadi lebih akurat dan otomatis. Hasil analisis akan digunakan untuk memberikan rekomendasi pengelolaan persediaan obat yang lebih efektif. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan efisiensi pengelolaan persediaan obat di Rumah Sakit LNG Badak, serta dapat menjadi referensi bagi rumah sakit lain dalam menerapkan Metode Analisis ABC Indeks Kritis. 

The problem often encountered in the management of drug supplies at Badak LNG Hospital is the difficulty of controlling the optimal amount of stock due to the absence of drug distributors in Bontang City, so that stock shortages often occur. This can result in financial losses and obstruction of health services: The management of drug inventory in hospitals is crucial to ensure the availability of drugs for patients. One effective method to optimize inventory management is the Critical Index ABC Analysis Method. To analyze and apply the Critical Index ABC Analysis Method in managing drug supplies at Badak LNG Hospital, Bontang, East Kalimantan in 2024. The research method used is a qualitative descriptive method. The data used are primary data in the form of in-depth interviews with informants and filling out drug critical value questionnaires and secondary data in the form of drug usage data during a certain period. The data were then analyzed using the Critical Index ABC Analysis Method by classifying drug items based on the value, volume of use and importance of each drug item. Then calculate the amount of drugs that must be ordered (Economic Order Quantity), safety stock (Safety Stock) and reorder point (Reorder Point). The results of ABC Analysis of Use Value in Group A with a total usage of 589,695 (70%) show the greatest usage, followed by group B and group C. In terms of usage, group A is a priority that must be considered in drug planning. The results of ABC Analysis of Investment Value in Group A with a total investment of 4,708,882,160 (70%) show the largest investment, followed by group B and group C. In terms of investment, group A is a priority that must be considered in drug planning.  The results of the ABC Analysis of Critical Index in Group A with an average critical value of 10.36 show the highest criticality, followed by group B with a value of 8.6. In terms of criticality, group A is a priority that must be considered in drug planning. EOQ, SS and ROP calculations are needed in drug planning and control at Badak LNG Hospital. The integration of EOQ, SS, and ROP values into the Hospital SIM will make the pharmaceutical inventory planning and control process more accurate and automated. The results of the analysis will be used to provide recommendations for more effective drug inventory management. It is hoped that this research can contribute to improving the efficiency of drug inventory management at Badak LNG Hospital, and can be a reference for other hospitals in applying the Critical Index ABC Analysis Method.
Read More
B-2504
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mohamad Firas; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Vetty Yulianty Permanasary, Purnawan Junadi, Amira Ganis, Rima Fatmasari
Abstrak: Tesis ini bertujuan untuk menganalisis persediaan 5 obat terbesar berdasarkanABC investasi melalui penilaian terhadap average inventory, ITOR dan PNP padaRSIA XYZ selama periode 6 bulan.Metode yang digunakan saat ini pada RSIAXYZ dibandingkan dengan metode Periodic Review System, Order Up To Level.Penelitian bersifat simulasi untuk membandingkan sebelum dan sesudah simulasidilakukan. Hasil penelitian menunjukkan perbaikan nilai persediaan terutamapada Pantozol Inj dengan penurunan nilai average inventory Rp 25.782.883 Vs Rp8.003.832 dengan nilai P < 0.001, peningkatan ITOR 11,8 Vs 37,9 dan PNP 71% Vs227%. Hasil ini juga dilakukan pada 4 obat lainnya yang memberikan hasilefisiensi yang serupa. Dengan menerapkan Periodic Review System,Order Up ToLevel, manajemen RSIA XYZ diharapkan dapat menghindari terjadinya kelebihanstok farmasi dengan investasi tinggi yang dapat mempengaruhi arus kas rumahsakit.Kata Kunci :ABC investasi, average inventory, ITOR, PNP, periodic review system dan orderup to level
This research is to analyze inventory control in top 5 medicine based on ABCinvestment using the value of average inventory, ITOR and PNP at XYZMaternity Hospital for 6 months period. Current methods are compared toperiodic review system, order up to level methods. This is a simulation study tocompare the effect before and after the simulation. The result of study showed thathighest improvement of inventory management in Pantozol Inj by decreasingaverage inventory 25.782.883 IDR Vs 8.003.832 IDR, with P value < 0.001, increasingITOR 11,8 Vs 37,9 and PNP 71% Vs 227%. It also applied on 4 other drugs withthe same more efficient result. The result concludes that by using periodic reviewsystem and order up to level, management of XYZ Maternity Hospital couldavoid overstocking of the high investment pharmacy that potentially effecthospital cash flow.Keywords :ABC investment, average inventory, ITOR, PNP, periodic review system andorder up to level
Read More
B-1734
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
610.73 HOS h (Rs)
[s.l.] : Boca Raton : CRC Press, 2013, s.a.]
Kumpulan Daftar Isi Buku   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive