Ditemukan 9658 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Kata kunci: Kinerja antrian, M/M/1, Radiologi, Sistem antrian.
The Queueing system which has been implemented for MRI Service in Radiology Instalation in RSUP Fatmawati results in a long queue. Based on the report and observation to the scheduling service, the queue for MRI examinationm reachs 20 days long. This research aims to measure the queue performance by using M/M/1 queueing model taken from queueing theory. Using this theory, queue components affecting a queueing system includes the interarrival time distribution, service time distribution, number of server, System Capasity, Population source, and Queueing Diciplin. This research is a quantification case study using both qualitative and quantitative method. The qualitative method is used to explain each of the queue components while quantitative method is used to calculate the queue performance. the qualitative method results in an independent interarrival, various service time distribution range from 24 up to 400 minutes, 1 server serves 1 examination at a time, and an infinite source of patients which comes to the queue, and a combination of First Come First served with Priority Queueing Dicipline. Quantitative method results in 0,889 per hour mean number of customer, 0,009 per hour mean number waiting customers, 88,9% of server utilization, 10,31 hour of distribution of response time of a customer, and 1,14 hour distribution of waiting time.
Keywords: M/M/1, Queue performance, Queueing System.
Penyakit jantung koroner merupakan penyebab utama kematian di dunia yang akan terus meningkat dan menjadi pandemi tanpa memandang batas negara. Setiap tahun di dunia sebanyak 3.8 juta laki-laki dan 3.4 jiwa wanita meninggal karena penyakit jantung koroner. Perubahan daya hidup, peningkatan usia harapan hidup dan urbanisasi mendorong timbulnya abnormalitas metabolisme seperti obesitas, dislipidemia, resistensi insulin dan hipertensi. Kumpulan abnormalitas metablik ini disebut dengan sindroma metabolik pada akhirnya akan meningkatkan kemungkinan menderita penyakit jantung koroner tiga kali lipat Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuinya hubungan sindroma metabolik dengan penyakit jantung koroner di RS. DR. M. Djamil Padang Tahun 2008 setelah dikontrol dengan variabel umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, kebiasaan merokok, kebiasaan minum alkohol dan aktivitas fisik. Desain penelitian ini adalah kasus kontrol. Kasus adalah penderita baru penyakit jantung koroner berdasarkan pemeriksaan EKG oleh dokter, penyakit tersebut baru terdiagnosis pada Bulan Januari sampai Mei 2008. Kontrol adalah semua pengunjung ang dinyatakan sebagai bukan penderita penyakit jantung koroner, pada Bulan Januari sampai Mei 2008 berdasarkan pemeriksaan EKG oleh dokter. Sindroma Metabolik menurut AHA/NHLBI 2005 ditegakkan diagnosis bila terdapat empat kriteria dibawah ini: tekanan darah > 130/85 mmHg, kadar trigliserida darah >150mg/dl, kolesterol HDL pada laki-laki < 40 mg/dl dan wanita < 50 mg/dl dan kadar gula darah puasa > 100mg/dl Telah dilakukan panelitian terhadap 300 orang responden terdiri dari 150 pada kelompok kasus dan 150 pada kelompok kontrol. Hasil analisis multivariat didapatkan kejadian penyakit jantung koroner (PJK) berisiko 4,67 kali lebih besar pada orang yang mengalami sindroma metabolik dibandingkan dengan orang yang tidak mengalami sindroma metabolik setelah dikontrol dengan variabel jenis kelamin (95% CI:1,20-18,06). Pada hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara sindroma metabolik dengan kejadian penyakit jantung koroner di RS. DR. M. Djamil Padang tahun 2008.
