Ditemukan 24696 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Malaria merupakan masalah kesehatan dunia termasuk Indonesia. Kasus baru malaria tahun 2009/2010 di seluruh indonesia berdasar Riskesdas 2010 masih tinggi, yaitu 22,9 permil. Beberapa penelitian sebelumnya telah menemukan adanya hubungan antara perilaku dalam mencegah gigitan nyamuk dengan kejadian malaria, tetapi dalam wilayah yang sebatas lokasi penelitian di tingkat kabupaten atau suatu provinsi. Sehingga peneliti merasa tertarik untuk melakukan analisa pada sampel rumah tangga yang ada pada seluruh provinsi di indonesia menggunakan data sekunder Riskesdas 2010. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara penggunaan obat anti nyamuk dan hubungan antara penggunaan kelambu sewaktu tidur dengan kejadian malaria di indonesia tahun 2010. Desain penelitian ini adalah cross-sectional, dengan mencari hubungan dua vaiabel utama (Penggunaan obat anti nyamuk dan penggunaan kelambu sewaktu tidur) terhadap terjadinya penyakit malaria. Sumber data adalah data sekunder Riskesdas 2010 dengan total sampel adalah 251.833 responden. Hasil penelitian mendapatkan proporsi responden yang menderita malaria sebesar 2,6 % dan yang tidak menderita malaria 97,4%. Dapat dikatakan bahwa prevalensi malaria di Indonesia tahun 2010 sebesar 26‰. Analisis bivariat menunjukan adanya hubungan bermakna obat anti nyamuk dengan kejadian malaria (p=0,000) dan mendapatkan nilai odds ratio 1,34 (95% Cl: 1,26 – 1,42). Sedangkan hubungan penggunaan kelambu dengan kejadian malaria diperoleh nilai odds ratio (OR)= 0,471 dan 95% Cl: 0,448-0,495 (p= 0,000). Kemudian dilakukan analisis multivariat guna melihat hubungan variabel utama dengan outcome setelah mengontrol pengaruh dari variabel confounder. Didapat hasil, variabel obat anti nyamuk memiliki OR=1,515 (95% CI = 1,25 – 1,84) dengan nilai p = 0,000, setelah dikontol variabel kelambu, variabel endemisitas, dan dikontrol juga dengan adanya variabel interaksi obat anti nyamuk oleh kelambu. Sedangan variabel penggunaan kelambu, dari hasil analisis memiliki OR=0,750 (95% CI = 0,604 - 0,931) dengan nilai p = 0,009, setelah dikontol variabel penggunaan obat anti nyamuk, varibel endemisitas, dan dikontrol juga dengan adanya variabel interaksi kelambu oleh obat anti nyamuk. Kata kunci : Malaria, Obat anti nyamuk, Kelambu, Riskesdas 2010.
Malaria is a major health problem globaly including Indonesia. Based on Riskesdas 2010 data, incidence of malaria 2009/2010, is high, 22.9‰. Previous studies found an association of behavior in preventing mosquito bites with the incidence of malaria, but in a limited area like in the district or a province. So the researcher was interested to analize the households sample in all provinces in Indonesia using Riskesdas 2010 data. The objective of this study was to determine the relationship between the use of anti-mosquito repellent/insecticide and mosquito bed net with the incidence of malaria in Indonesia by the year of 2010. Study design is cross-sectional, to find the relationship of two main variabels (the use of anti-mosquito repellent/insecticide and the use of mosquito bed net) to the occurence of malaria. Data sources are Riskesdas 2010 data, with a total sample of respondents are 251,833. The results obtain proportion of respondents who infected by malaria of 2.6% and 97.4% did not infected by malaria. It could be argued that the prevalence of malaria in Indonesia in 2010 are 26‰. Bivariate analysis showed a significant relationship of anti-mosquito with malaria incidence (p = 0.000) and obtain the value of odds ratios 1.34 (95% Cl: 1.26 to 1.42). While the relationship with the incidence of malaria bed net use values obtained odds ratio (OR) = 0.471 and 95% Cl: 0.448 to 0.495 (p = 0.000). Then performed multivariate analysis to see the relationship with the primary outcome variables after controlling for the influence of confounder variables. The result, anti-mosquito variable has odds ratio = 1.515 (95% CI = 1.25 to 1.84) with p-value = 0.000, adjusted by net variable, endemicity, and controlled also by the presence of interactions anti-mosquito by bed nets . As a Bed nets variabel, the results of the analysis has odds ratio 0.750 (95% CI = 0.604 to 0.931) with a pvalue = 0.009, adjusted by the use of anti-mosquito, endemicity, and also controlled by an interaction anti-mosquito by bed nets . Key words: Malaria, Anti-mosquito, Mosquito bed net, Riskesdas 2010.
This study aimed to determine compliance to bed nets LLIN?s relation to malariaincidence. This study analized data of Baseline Survey bed nets with insecticide in Sikka district of East Nusa Tenggara Province in February 2009.
Indonesia sebagai salah satu negara yang masih tinggi angka kesakitan malaria tahun 2007 sekitar 311 libu kasus, dan ditargetkan turun hingga 5 per 1000 penduduk pada tahun 2010. Berbagai faktor dapat mempengaruhi keberhasilan program pembelantasan malaria, termasuk penggunaan kelambu yang ditempat lain terbukti dapat menurunkan resiko malaria. Sampai dengan tahun 2007 angka kesakitan malaria di Kabupaten Aceh Jaya masih tinggi. Untuk itu perlu dilihat melihat bagaimana hubungan penggunaan kelambu dengan kejadian malaria dan faktor-faktor lain yang mempengaruhinya. Penelitian ini adalah penelitian observasional kasus kontrol yang dilakukan dengan cara wawancara tersuuktur. Responden adalah penduduk dad desa yang terpilih dalam kegiatan mass blood survey. Penduduk dengan hasil pemeriksaan posififdimasukkan sebagai kelompok kasus (97 orang), sedangkan penduduk dengan hasil pemeriksaan negatif dipilih secara random dan dimasukkan kedalam kelompok kontrol (194 orang). Analisis dilakukan secara multivaliat dengan menggunakan analisis regresi logistik. Hasil penelitian mencmukan bahwa risiko malaria jika tidak menggunakan kclambu sebesar 2,11 (95% CI 0,91 - 4,93), OR kelambu dan anti nyamuk 11,9 (95% CI 2,29 - 62,0). Artinya mereka yang tidak menggunakan kclambu bcrisiko malaria sebesar 2,1 kali dibandingkan dengan mereka yang menggunakan kelambu, dan risiko malaria tersebut meningkat menjadi 11,9 kali jika tidak menggunakan anti nyamuk. Diketahui dari kelompok kasus 81,4% tidak menggunakan kelambu dan pada kelompok kontrol 38,I% tidak menggunakan kelambu. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak yang tidak menggunakan kelambu meskipun telah mendapatkan pembagian kelambu. oleh karena im Perlu meningkatkan penyuiuhan dan pcnyebaran infommasi kepada masyarakat tentang pentingnya penggunaan kelambu dan juga anti nyamuk baik itu anti nyamuk bakar, oles maupun semprot, dengan rnelibatkan secara aktif para tokoh masyarakat dan kader untuk menyampaikan informasi tenaang penyakit malaria secara benar dan dapat memberikan contoh yang baik sehingga tidak lagi menganggap remeh terhadap penyakit malaria.
Indonesia is one of the countries with high malaria incidence rate. In 2007, the incidence rate was 311000 cases and it is targetted to be decreased to 5 per 1000 resident in 2010. Many factors that influenced the success of malaria elimination program, including mosquiuto net utilization which has been proved to decrease malaria risk. Until 2007, the malaria morbidity rate in Aceh Jaya District was still high. Therefor, it is needed to examine the relationship of mosquito net utilization with incidence of malaria and factors contributed to it. This was case control observational research conducted by sructured interview. Respondent were residents from selected villages in Mass Blood Survey. Residents with positive test result were included in case group (97 respondents) whereas those with negative test result were included in control group (194 respondents). The results revealed that when mosquito net was not used, the risk of malaria was 2.11 (95% CI 0.91 - 493), OR of mosquito net and mosquito repellent was 11.9 (95% CI 2.29-620), meaning that those who did not use mosquito net had a risk to have malaria as 2.2 times compare to those who used mosquito net, and the risk was increased to 16.6 times when mosquito repellent was not used. The result showed that 81.4% of case group did not use the mosquito net whereas those in control group was 38.1% This suggested that many residents still.
