Ditemukan 3590 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pajanan faktor lingkungan fiisik kerja dengan kejadian ISPA pada pekerja di industry batik printing Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 103 pekerja.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor lingkungan fisik kerja yang memiliki hubungan bermakna dengan kejadian ISPA pada pekerja adalah kelembaban udara (3,14;1,20-8,25). Himbauan penggunaan APD perlu diterapkan pada pekerja industry batik printing.
Kata Kunci : Faktor Lingkungan Fisik Kerja, Infeksi Saluran Pernapasa Akut (ISPA), Industri Batik Printing
ABSTRAK Nama : Ni Ketut Mirra Betri Agustina Program Studi : Magister Keselamatan dan Kesehatan Kerja Judul : Analisis Faktor Beban Kerja Individu dengan Keluhan Subjektif pada Pekerja yang Terpajan Panas di Industri Manufaktur Suku Cadang Otomotif Shift 1, Kelapa Gading Pada Tahun 2017 Paparan panas yang ekstrem bisa mengakibatkan penyakit akibat kerja dan luka. Iklim kerja yang tinggi bisa mengakibatkan sengatan panas, panas yang berlebihan, kram panas, atau ruam panas. Panas juga dapat meningkatkan risiko cedera pada pekerja karena dapat menyebabkan telapak tangan berkeringat, kacamata pengaman yang berkabut, dan pusing. Penelitian ini dilakukan pada perusahaan perakitan suku cadang yang memiliki proses produksi panas yang dapat memajan pekerjanya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran tingkat tekanan panas pada lapangan kerja 2, bagaimana keluhan subjektif akibat panas yang dirasakan para pekerja dan faktor apa saja yang berpengaruh. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional dengan melakukan pengukuran langsung tekanan panas pada 10 titik pengukuran dan pengukuran langsung terhadap pekerja menggunakan kuesioner. Pengambilan data di dilakukan pada 129 pekerja shift 1. Analisis data digunakan uji statistik menggunakan perangkat lunak statistik. Dan didapatkan hasil berupa seluruh pekerja di lapangan kerja 2 seluruhnya merasakan iklim kerja yang panas (melebihi NAB yang berlaku di Indonesia) dan seluruhnya merasakan keluhan subjektif akibat panas. Faktor kovariat yang memiliki hubungan signifikan dengan keluhan subjektifnya adalah status hidrasi (p value = 0,000) dan status kesehatan (p value = 0,002). Dikarenakan adanya pajanan panas berlebih pada lapangan kerja 2 maka perusahaan harus melakukan pengendalian teknis, administrated dan personal pekerja untuk meminimalisir kejadian tekanan panas dan keluhan subjektif yang dirasakan pekerja. Kata kunci: Tekanan panas, keluhan subjektif, otomotif, manufaktur
ABSTRACT Name : Ni Ketut Mirra Betri Agustina Study Program : Master of Occupational Safety and Health Title : Analysis of Individual Workload Factors With Subjective Complaints In Heat Exposed Workers in Spare Parts Automotive Industry Manufacture Shift 1, Kelapa Gading In 2017 Exposure to extreme heat can result in occupational illnesses and injuries. Heat stress can result in heat stroke, heat exhaustion, heat cramps, or heat rashes. Heat can also increase the risk of injuries in workers as it may result in sweaty palms, fogged-up safety glasses, and dizziness. This study was conducted on a spare parts assembly company that has a hot production process that can expose its workers. This study aims to see the description of the level of heat stress on work area 2, how subjective complaints caused by the heat felt by workers and what factors are influential. This study uses cross sectional method by conducting direct measurement of heat pressure at 10 points of measurement and direct measurement to workers using questionnaire. Data collection was done on 129 workers shift 1. Data analysis used statistical test using statistical software. And the results obtained in the form of all workers in work area 2 entirely exposed to heat pressure and entirely feel the climate is hot (overpass Indonesia’s TLV) subjective complaints due to heat. Covariate factors that have significant relationship with subjective complaints are hydration status (p value = 0,000) and health status (p value = 0,002). Due to excessive heat exposure in work area 2, the company must perform technical, administrated and personal controls to minimize the incidence of heat stress and subjective complaints felt by workers. Keywords: heat stress, subjective complaints, automotive, manufacturing
ABSTRAK Batik Indonesia secara resmi diakui oleh United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) pada tahun 2009 dan masuk dalam daftar representatif sebagai Budaya Tak Benda Warisan Manusia. Faktanya, industri kerajinan batik di Indonesia telah tumbuh dan berkembang sejak berabad-abad yang lalu. Saat ini, pembinaan pada Pengrajin Batik merupakan salah satu program kerja Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah Provinsi DIY Seksi UKM dan termasuk dalam kategori kegiatan informal. Namun ironisnya hingga saat ini belum semua usaha-usaha ekonomi informal terjangkau oleh program-program pembinaan dan perlindungan yang berkesinambungan. Pengrajin Batik Tulis X merupakan salah satu UKM yang berada dibawah binaan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Provinsi D.I Yogyakarta. Berdasarkan pengamatan awal yang dilakukan pada Pengrajin Batik Tulis X, di wilayah Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada bulan Oktober 2011, Peneliti mendapati kondisi pembatik tulis melakukan pekerjaan membatik dalam posisi duduk dalam durasi kerja yang panjang, ± 6-8 jam per hari. Namun ironisnya, ruang dan peralatan kerja (kursi, gawangan dan posisi kompor) yang dipergunakan belum ergonomis yaitu belum adanya kesesuaian dengan antropometri tubuh orang Indonesia yang akhirnya mengharuskan pembatik bekerja dalam postur janggal. Dalam kurun waktu yang panjang hal ini dapat berakibat munculnya penyakit akibat kerja seperti cedera otot. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan perancangan ulang terhadap ruang dan peralatan kerja bagi pembatik tulis sehingga dapat meminimalisir kemungkinan risiko-risiko kesehatan yang mungkin muncul pada kemudian hari dengan berpedoman pada penerapan dimensi-dimensi tubuh antropometri orang Indonesia.
Abstract United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) officially recognized Batik Indonesia in 2009, and registered under culture themes of Intangible Cultural Heritage of Humanity. Nevertheless, batik craft industry have grown and evolved since hundred years ago. Furthermore, one of work program of Cooperation Trade Industry and Small Medium Business Unit in Provincial Jogjakarta under Small Medium Business Section is to coach small and medium business of batik crafter, thus, it is categorized as informal activity. Unluckily, this informal activity which related to economic empowerment has not been covered by sustainable coaching and protecting program from local government. Hand-drawn Batik Craft Industry X is one of small medium business activiy under supervision of Cooperation Trade Industry and Small Medium Business Unit Provincial Jogjakarta. Based on preliminary observation Hand-drawn Batik Crafter Industry X in District of Bantul under Provincial Jogjakarta in October 2011, researcher captured the hand-drawn batik crafter while they worked, seating for long period 6-8 hours a day. In addition, work space and work tools used (work chair, gawangan and stove) are not in ergonomic condition, means that the work station and work tools are not suitable for body anthropometry of Indonesian people; consequently the hand-drawn batik crafter works in awkward posture. As a result of current working condition, it might significantly effect to hand-drawn batik crafter such as muscle injury. This research is aim to redesign of work station and tools by using ergonomic approach for hand-drawn batik crafter, so that the health effect could be minimized in the long term period; at once, work station and work tools should be adjusted with dimension of body anthropometry of Indonesian people.
