Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31834 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ririh Yudhastuti, M. Farid Lusno
KJKMN Vol.6, No.4
Depok : FKM UI, 2012
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nia Watri Wahyuni; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Rico Kurniawan, Sudijanto Kamso, Soedibyo Alimoeso, Sri Sumarmi
Abstrak:

Stunting memiliki dampak jangka pendek dan jangka panjang. Stunting disebabkan oleh banyak factor. Air, sanitasi, dan lingkungan berkontribusi 50% sebagai penyebab stunting. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh sanitasi dan hygiene terhadap stunting pada balita di Papua Tengah, NTT, dan Aceh. Penelitian menggunakan desain cross sectional. Data dari SKI 2023 dengan sampel 5.666 (pasangan balita dan ibu balita). Proporsi kejadian stunting di Provinsi Papua Tengah (35,8%), NTT (33,3%) dan Aceh (27,7%).Variabel yang mempengaruhi stunting di Papua Tengah adalah sumber air minum, penggunaan jamban, pengelolaan sampah, CTPS, tinggi ibu, jumlah anggota keluarga, dan daerah tempat tinggal. Variabel yang mempengaruhi stunting di NTT adalah sumber air minum, penggunaan jamban, pembuangan limbah, pengelolaan sampah, CTPS, BB lahir, PB lahir, jenis kelamin, tinggi ibu, LILA ibu, pendidikan ibu, dan daerah tempat tinggal. Variabel yang mempengaruhi stunting di Aceh adalah pengelolaan sampah, PB lahir, tinggi ibu, dan LILA ibu. Factor sanitasi lingkungan dan kebersihan diri yang paling mempengaruhi stunting di Papua Tengah adalah sumber air minum dengan AOR 3,4 (95% CI: 1,7 – 6,7), di NTT dan Aceh adalah pengelolaan sampah dengan AOR masing-masing 1,4 (95% CI: 0,8 – 2,4) dan 1,1 (95% CI: 0,9 – 1,4) setelah dikontrol variabel lainnya. Bagi pemerintah, diharapkan hasil penelitian ini dapat meningkatkan pemerataan akses sanitasi dan air bersih dengan meningkatkan kerjasama instansi terkait. Bagi Dinas Kesehatan diharapkan dapat mengoptimalkan program STBM, peningkatkan pengawasan air minum, dan meningkatkan promkes tentang PHBS.


Stunting has short-term and long-term impacts. Stunting is caused by many factors. Water, sanitation, and environment contribute 50% as the cause of stunting. The purpose of this study was to determine the effect of sanitation and hygiene on stunting in toddlers in Central Papua, NTT, and Aceh. The study used a cross-sectional design. Data from SKI 2023 with a sample of 5,666 (toddler and toddler mother pairs). The proportion of stunting incidents in Central Papua Province (35.8%), NTT (33.3%) and Aceh (27.7%). The variables that affect stunting in Central Papua are drinking water sources, use of latrines, waste management, CTPS, maternal height, number of family members, and area of residence. The variables that affect stunting in NTT are drinking water sources, use of latrines, waste disposal, waste management, CTPS, birth weight, birth weight, gender, maternal height, maternal LILA, maternal education, and area of residence. The variables that affect stunting in Aceh are waste management, birth weight, maternal height, and maternal LILA. The environmental sanitation and personal hygiene factors that most influence stunting in Central Papua are drinking water sources with an AOR of 3.4 (95% CI: 1.7 - 6.7), in NTT and Aceh are waste management with AORs of 1.4 (95% CI: 0.8 - 2.4) and 1.1 (95% CI: 0.9 - 1.4) respectively after controlling for other variables. For the government, it is hoped that the results of this study can improve equal access to sanitation and clean water by increasing cooperation between related agencies. For the Health Office, it is hoped that it can optimize the STBM program, increase supervision of drinking water, and improve health promotion on PHBS.

 

Read More
T-7168
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sitti Chadijah ... [et al.]
MPPK Vol.24, No.1
Jakarta : Balitbangkes Kemenkes RI, 2014
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Patience Mia Chiotha; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Budi Hartono, Laila Fitria, Save Kumwenda, ria Kusuma
Abstrak:
Diare pada anak masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang penting di Malawi. Survei Demografi dan Kesehatan Malawi (MDHS) tahun 2015–2016 dan 2024 sama-sama melaporkan prevalensi diare sekitar 22%, yang menunjukkan belum adanya penurunan yang berarti selama satu dekade terakhir. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara faktor air, sanitasi, dan higiene rumah tangga (WASH) dengan diare pada anak balita di Malawi. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan data Malawi Demographic and Health Survey (MDHS) 2024, yang mencakup 23.070 rumah tangga dan 12.312 anak balita. Setelah penerapan kriteria inklusi dan eksklusi, sebanyak 11.514 anak balita diikutsertakan dalam analisis. Analisis dilakukan menggunakan Complex Samples Logistic Regression (CSLOGISTIC) dengan mempertimbangkan faktor anak, ibu, rumah tangga, dan geografis.Prevalensi diare dalam dua minggu terakhir adalah 22,4%. Akses terhadap sumber air minum layak tergolong tinggi, namun cakupan sanitasi layak, pengolahan air minum rumah tangga, dan fasilitas cuci tangan dengan sabun dan air masih rendah. Setelah penyesuaian, sanitasi tidak layak dan tidak adanya pengolahan air minum rumah tangga berhubungan dengan peningkatan peluang diare pada anak. Usia anak, usia ibu, pendidikan ibu, dan status pekerjaan ibu juga berhubungan signifikan dengan kejadian diare. Hubungan antara sanitasi dan diare lebih kuat pada anak yang tinggal di daerah perdesaan dibandingkan daerah perkotaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan sanitasi, pengolahan air minum rumah tangga, dan intervensi yang berfokus pada kelompok rentan berpotensi mengurangi beban diare pada anak di Malawi.

Childhood diarrhoea remains a major public health problem among children under five years of age in Malawi. The Malawi Demographic and Health Surveys (MDHS) 2015–2016 and 2024 both reported a diarrhoea prevalence of approximately 22%, indicating limited progress in reducing the burden of the disease over the past decade. This study examined the association between household water, sanitation, and hygiene (WASH) factors and childhood diarrhoea among children under five years of age in Malawi. A cross-sectional study was conducted using data from the 2024 Malawi Demographic and Health Survey, which surveyed 23,070 households and identified 12,312 children under five years of age. After applying the inclusion and exclusion criteria, 11,514 children were included in the analysis. Complex Samples Logistic Regression (CSLOGISTIC) was used to assess the association between household WASH factors and childhood diarrhoea while accounting for child, maternal, household, and geographic factors. The two-week prevalence of childhood diarrhoea was 22.4%. Access to improved drinking water sources was high, but coverage of improved sanitation facilities, household water treatment, and handwashing facilities with soap and water remained low. After adjustment, unimproved sanitation facilities and lack of household water treatment were independently associated with higher odds of childhood diarrhoea. Child age, maternal age, maternal education, and maternal employment status were also significant predictors. The association between sanitation facilities and childhood diarrhoea was stronger among rural children than among urban children. Childhood diarrhoea remains a persistent public health challenge in Malawi. Improving sanitation infrastructure, promoting household water treatment, and strengthening interventions targeting vulnerable children and mothers may contribute to reducing the burden of childhood diarrhoeal disease.
Read More
T-7672
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hari Suryawijaya; Pembimbing: Laila Fitria
S-3557
Depok : FKM UI, 2004
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shirajudin; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto
S-1326
Depok : FKM UI, 1998
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahmad Isa; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Ririn Arminsih, Laila Fitria, Ahmad, Suhartini
Abstrak: Infeksi kecacingan pada anak usia sekolah merupakan salah satu masalahkesehatan masyarakat di Indonesia. Angka prevalensi nasional bervariasi diberbagai daerah dalam kisaran 0,4 hingga 76,67 % (Kemenkes RI, 2011). Jeniscacing yang paling banyak menyerang adalah cacing gelang (AscarisLumbricoides), cacing tambang (Ancylostoma Duodenale dan NecatorAmericanus), dan cacing cambuk (Trichuris Trichuria). (Dirjen P2MPL, 2010).Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara higieneperorangan, sanitasi lingkungan, karakteristik orang tua dan konsumsi obat cacingterhadap kejadian infeksi kecacingan. Penelitian dilakukan di SD Negeri Jagabaya1 Warunggunung Kabupaten Lebak, Banten. Desain penelitian adalah cross-sectional sedangkan pemilihan subjek penelitian di tentukan dengan metode totalsampling. Responden penelitian ini adalah siswa kelas satu hingga kelas lima.Pengumpulan data primer dilakukan pada bulan Juni 2013 dengan menggunakankuisioner dan angket sebagai instrumen.Hasil penelitian menunjukkan prevalensi infeksi kecacingan pada siswaSDN Jagabaya 1 Kabupaten Lebak adalah sebesar 65, 85 %. Pada analisisbivariat, variabel yang memiliki hubungan secara bermakna dengan kejadianinfeksi kecacingan adalah higiene perorangan (OR=3,194), kebersihan kuku(OR=3,765), pendidikan ibu (OR=2,360), dan kepemilikan jamban (OR=3,808).Pada analisis multivariat, variabel yang memiliki hubungan paling kuat (dominan)terhadap kejadian infeksi kecacingan adalah kebersihan kuku (OR=4,062),kepemilikan jamban (OR=3,569), kebiasaan mencuci tangan sebelum makan(OR=2,965).Kata kunci : Infeksi kecacingan, higiene perorangan, sanitasi lingkungan, anakusia sekolah, Lebak, Banten
sanitation with soil transmitted helminth infection onstudents of State Elementary School of Jagabaya 1 atWarunggunung, Lebak District, Province of Banten in 2013Soil transmitted helminth infection is a public health problem in Indonesia.National prevalence of this disease varies by region from 0.4 to 76.67 %(Indonesian Ministry of Health, 2011). The common worm species that causeinfection are roundworm (Ascaris lumbricoides), hookworm (Ancylostomaduodenale and Necator americanus), and whipworm (Trichuris trichuria). (DirjenP2MPL, 2010).The objective of this research was to examine the association of personalhygiene, environmental sanitation, parental characteristics and anti helminthicdrugs with soil transmitted helminth infection. The research was conducted inElementary school of Jagabaya 1 at Warunggunung, Lebak, Banten. This studyutilized cross-sectional survey design, which respondents were selected by usingtotal sampling method. Respondents of the research were first grade to fifth gradestudents. Primary data was collected on July 2013 by using questionnaire.Results showed that the prevalence of soil transmitted helminth infectionon students of Elementary School of Jagabaya 1 was 65.85 %. Bivariate analysisrevealed four variables that were significantly related to soil transmitted helminthinfection were personal hygiene (OR=3,194), nail cleanness (OR=3,765),maternal education (OR=2,360), and toilet ownership (OR=3,808). Multivariateanalysis indicated that the essential factors related to the occurrence of soiltransmitted helminth infection were nail cleanness (OR=4,062), toilet ownership(OR=3,569), and habit of washing hand before eating (OR=2,965).Keywords : soil transmitted helminth infection, personal hygiene, environmentalsanitation, school-age children, Lebak, Banten
Read More
T-4063
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Idah Rifdah; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto, Bambang Wispriyono; Penguji: Dewi Susanna, Evy Nuryana, Didik Supriyono
T-2649
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Prima Gita Pradapaningrum; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Dewi Susanna, Margareta Maria Sintorini Moerdjoko
Abstrak:
Tengkes (stunting) merupakan salah satu permasalahan gizi kurang pada balita yang ada di Indonesia. Pengelolaan sampah yang belum maksimal di TPA dapat menimbulkan pencemaran sanitasi lingkungan yang menjadi faktor penyebab tidak langsung tengkes (stunting) dan perilaku hidup bersih yang kurang. TPA Cipeucang menjadi satu-satunya TPA untuk wilayah Tangerang Selatan dengan 2 kelurahan yang berada dekat dengan TPA mengalami kenaikan kasus tengkes (stunting) pada tahun 2021-2022. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan sanitasi dasar rumah sehat dan personal higiene rumah tangga dengan kejadian tengkes tengkes (stunting) pada balita di pemukiman sekitar TPA Cipeucang Kota Tangerang Selatan. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional melalui pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh balita yang ada di pemukiman sekitar TPA meliputi 2 Kelurahan dengan 4 RT dan 2 RW. Sampel penelitian berjumlah 86 dengan menggunakan teknik total dan purposive sampling. Penelitian dilaksanakan bulan April hingga Juni 2023. Analisis data menggunakan univariat, bivariat (uji Chi Square) dan multivariat (uji regresi logistik). Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan antara sarana air minum dengan tengkes (stunting) (p=0,05, POR=1,89) dan menjadi faktor dominan penyebab tengkes (stunting) (p=0,054). Sedangkan sarana air bersih (p=0,374, POR=1,44), sarana jamban (p=0,613, POR=1,22), sarana pembuangan air limbah (p=1,000, POR=1,54), kebersihan kulit (p=1,000, POR=1,24) serta kebersihan kuku dan tangan (p=0,625, POR=1,22) tidak berhubungan dengan tengkes (stunting) namun berpotensi menjadi risiko tengkes (stunting). Sarana pengelolaan sampah padat rumah tangga (p=0,310) tidak ada hubungan dengan tengkes (stunting) dan bukan merupakan faktor risiko. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah sarana sanitasi dasar air minum memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian tengkes (stunting) dan menjadi faktor dominan yang mempengaruhi kejadian tengkes (stunting) pada balita di pemukiman sekitar TPA Cipeucang Kota Tangerang Selatan Tahun 2023.

Stunting is one of malnutrition problems towards toddlers in Indonesia. Environmental sanitation has an important role against stunting. Waste management that has not been maximized at landfill can cause environmental sanitation pollution and lack of healthy hygiene behavior. Cipeucang Landfill is the only landfill for South Tangerang City with 2 sub-districts that are close to the landfill and have an increase stunting case in 2021-2022. This study aims to determine the relationship between basic healthy home sanitation and household personal hygiene with stunting case towards toddlers in settlements around Cipeucang Landfill, Tangerang Selatan City. This type of research is observational analytic through a cross sectional approach. The study population was all toddlers in settlements around Cipeucang Landfill with 2 Sub-Districts (4 RTs and 2 RWs). The research sample was 86 using a total and purposive sampling technique. The research was conducted from April to June 2023. Data analysis used univariate, bivariate (Chi Square test) and multivariate (logistic regression test). The results showed that there was relation between drinking water facilities and stunting (p=0.05, POR=1.89) and became a dominant factor causing stunting (p=0.054). While clean water facilities (p=0.374, POR=1.44), latrines (p=0.613, POR=1.22), waste water disposal facilities (p=1.000, POR=1.54), skin hygiene (p=1.000, POR=1.24) and hand and nail hygiene (p=0.625, POR=1.22) were not related to stunting but were potentially a risk of stunting. Household solid waste management facilities (p=0.310) have no relation with stunting and is not a risk factor. The conclusion in this study is basic sanitation facility for drinking water has a significant relationship with stunting case and is the dominant factor influencing stunting case towards toddlers in the settlements around TPA Cipeucang, South Tangerang City, 2023.
Read More
T-6751
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive