Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 3605 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rahmaniar Brahim
JDIK Vol.2, No.2
Jakarta : Departemen Kesehatan RI, 2002
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pusat Data dan Informasi Departemen Kesehatan
R 615.7822 IND g
Jakarta : Departemen Kesehatan RI, 2004
Referensi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Departemen Kesehatan
R 615.788 IND p
Jakarta : Departemen Kesehatan RI, 2004
Referensi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pusat Data dan Informasi
362.29 IND g
Jakarta : Pusat Data dan Informasi Depkes RI, 2004
Buku (pinjaman 1 minggu)   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pusat Data dan Informasi Depkes
362.29 IND g
Jakarta : Pusat Data dan Informasi Depkes RI, 2004
Buku (pinjaman 1 minggu)   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ketut Kusminarno
CDK No.135, 2002
Jakarta : Kalbe Farma, 2002
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jumontang Manurung; Pembimbing: Pandu Riono, Besral; Penguji: Sutanto Priyo Hastomo, Ariani Murti, Sehat Ginting
Abstrak: Latar Belakang: Penyebab utama tingginya prevalensi tuberkulosis di Indonesia adalah cukup besarnya jumlah penduduk dan tingginya kepadatan penduduk Indonesia terutama pada beberapa daerah. Pengobatan yang cukup lama yaitu 6 – 8 bulan menyebabkan banyak penderita yang tidak menyelesaikan pengobatannya secara tuntas. Di samping itu tingkat kedisiplinan penderita tuberkulosis untuk minum obat masih rendah dan tuberkulosis menyerang orang dengan status gizi buruk dan kurang dengan kondisi fisik yang lemah. Sementara sistem pencatatan dan pelaporan tuberkulosis yang terlalu rumit dengan formulir isian sebanyak 13 formulir (TB 01 – 13) yang dilakukan secara manual sehingga besar kemungkinan terjadi kesalahan pada waktu pengisian sehingga banyak ditemukan data yang tidak lengkap. Data yang tidak lengkap bila diolah akan menghasilkan informasi yang tidak baik, sehingga informasi tersebut tidak dapat digunakan untuk menanggulangi tuberkulosis. Tujuan: Tujuan dikembangkannya sistem menjadi komputerisasi dengan pengolahan dan penghitungan secara otomatis dapat memberikan gambaran masalah tuberkulosis di Kotamadya Jakarta Timur. Metoda: Metoda yang digunakan dalam Pengembangan Sistem Informasi Penanggulangan Tuberkulosis adalah metoda Siklus Hidup Pengembangan Sistem yang terdiri dari preanalisis sistem, analisis sistem, perancangan sistem dan uji coba. Hasil: Hasil pengembangan sistem adalah terbentuknya prototipe Sistem Informasi Penanggulangan Tuberkulosis yang dapat membantu memberikan gambaran situasi an kegiatan tuberkulosis di Jakarta Timur dan memberikan gambaran yang akan dilakukan serta membantu pengelola program dalam membuat rencana kerja program tahunan. Pengembangan Sistem Informasi Penanggulangan Tuberkulosis di Kotamadya Jakarta untuk menggantikan sistem lama (TB elektronik) merupakan suatu upaya untuk mengatasi permasalahan tuberkulosis di Kotamadya Jakarta Timur. Dengan terbentuknya sistem ini, akan membantu dalam mengolah dan menganalisis data tuberkulosis menjadi informasi, seperti angka penemuan kasus baru, angka kesembuhan, angka konversi, angka kesalahan laboratorium, pola penyebaran kasus baru dan kasus dropout pada daerah yang padat penduduknya dan daerah gakin, memberikan gambaran kinerja puskesmas dan penyebaran puskesmas dalam pelayanan penderita tuberkulosis. Kesimpulan: Teridentifikasinya peluang dan kelayakan untuk pengembangan Sistem Informasi Penanggulangan Tuberkulosis. Kata kunci: TBC, Sistem Informasi TBC.
Background:The high cause of tuberculosis prevalence in Indonesia is the enough big of population number and the high density of Indonesian population especially in some of regions. The enough long treatment, 6 – 8 months cause many patients cannot settle their treatment completely. Beside that the discipline level of tuberculosis patient for drinking medicine is still low and tuberculosis attacked people with bad nutrient status and weak physical condition. While the system of recording and reporting of tuberculosis which were most complicated with registration form in number of 13 forms (TB 01 – 13) which was executed manually so that it is much possible that the mistake was happened at the time of filling and many found incomplete data. Incomplete data if it is processed, hence it will create improper information, so that said information cannot be used to prevent tuberculosis. Objective: The objective to be developed the former system becoming new system with automatic processing and calculation can give description of tuberculosis problem in East Jakarta Municipality. Methode: Method used in the development of information system of tuberculosis prevention is life cycle of system development consisting of pre analysis, planning and try out systems. Result: The result of system development is established information system prototype of tuberculosis prevention which can give description of tuberculosis condition in East Jakarta and give conducted description activity as well as help program manager in making work plan of annual program. The development of information system of tuberculosis prevention in East Jakarta for changing former system (TB electronic) represents one effort to handle tuberculosis problem in East Jakarta Municipality. With the establishment of this system, it will help in processing and analyzing tuberculosis data becoming information, such as percentage of new case invention, percentage of recovery, percentage of conversion, percentage of laboratory mistake, the path of new case distribution and drop out case and density population area and poor family (gakin) area, as well as give description of health center performance and health center distribution in servicing tuberculosis patient. Conclusion: Identification of the opportunity and feasibility for developing information system of tuberculosis prevention. Keyword: TBC, Information System of Tuberkulosis
Read More
T-2162
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yety Intarti; Pembimbing: Indang Trihandini, Pandu Riono
T-1881
Depok : FKM UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wini Wulansari; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Tris Eryando, R. Sutiawan, Herbet Sidabutar, Dyah Purwaning
Abstrak: Kasus penyalahgunaan maupun ketergantungan NAPZA akibat gangguan jiwa atau sebaliknya merupakan masalah kesehatan jiwa. Para ahli mengatakan bahwa jika seseorang yang memiliki gangguan jiwa namun tidak terdiagnosis akan mengarah kepada penyalahgunaan NAPZA. Begitu pula mereka yang memiliki risiko tinggi gangguan jiwa akibat pengaruh genetik, lingkungan, masalah sosial dan lainnya akan mendorong mereka ke arah penyalahgunaan NAPZA Laporan BNN menyebutkan bahwa hingga akhir November 2015, jumlah penyalahguna di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan dari 4,2 juta jiwa menjadi 5,9 juta jiwa. Sedangkan penyalahguna yang melakukan program rehabilitasi sebagai upaya pengobatan tercatat baru mencapai 100 ribu jiwa. Berdasarkan hal tersebut, pemerintah perlu membuat suatu upaya pencegahan dan pengendalian penyalahgunaan NAPZA dengan membentuk masyarakat yang memiliki ketahanan dan kekebalan terhadap penyalahgunaan NAPZA. Upaya tersebut adalah melakukan skrining penggunaan zat. Skrining ini bertujuan untuk menggali informasi pasien terkait keterlibatannya dengan penggunaan NAPZA. Skrining dapat membantu petugas kesehatan untuk mencatat dan melaporkan kasus penyalahgunaan zat di wilayah Puskesmas. Penelitian ini bertujuan untuk membangun sistem informasi skrining NAPZA untuk kesehatan jiwa. Penelitian ini menggunakan skrining dengan metode ASSIST. Sistem ini memberikan informasi yang berguna bagi pasien untuk meningkatkan status kesehatannya dan memberikan gambaran kasus penyalahgunaan NAPZA yang berguna bagi Puskesmas untuk menentukan langkah yang tepat melaksanakan pencegahan dan pengendalian penyalahgunaan NAPZA di wilayah kerja Puskesmas. Kata kunci: penyalahgunaan, NAPZA, skrining, ASSIST Cases of drug abuse or dependence due to mental or otherwise are mental health problems. Similarly, those who have high risk of mental disorders due to genetic, environmental, social and other influences will push them to drug abuse. The National Drugs Agency report says that by the end of November 2015, the number of drugs abuser in Indonesia has increased significantly from 4.2 million people to 5.9 million people. Drugs abuser who perform the rehabilitation program only reached 100.000 people. Based on this, the government needs to make an effort to prevention and control of drug abuse by forming a society that has resilience and immunity against drug abuse. The effort is to screen for substance use. This screening aims to explore patient information related to their involvement with drug use. Screening can help health workers to record and report substance abuse cases in the public health center area. This study aims to build a system of drug screening information for mental health. This research used screening with ASSIST method. The drugs screening information system provides useful information for people to improve their health status and provides an illustration of drug abuse cases that are useful for public health center to determine appropriate measures to implement prevention and control of drug abuse in public health center working areas. Key words: drugs user, drugs, screening, ASSIST
Read More
T-4909
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Supriyono Pangribowo; Pembimbing: Martya Rahmaniati; Penguji: Besral, Popy Yuniar, Boga Hardhana, Endang Burni
Abstrak:

Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Kepmenkes RI No. 581/Menkes/SK/VII/1992, menyebutkan bahwa penyakit ini dapat menimbulkan kematian, dan termasuk salah satu penyakit yang dapat menimbulkan wabah. Kota Bogor merupakan salah satu wilayah endemis DBD di Provinsi Jawa Barat. Kasus DBD di Kota Bogor menunjukkan peningkatan dalam 3 tahun terakhir, pada tahun 2008 dilaporkan terdapat 1.193 kasus, meningkat menjadi 1.513 kasus pada tahun 2009, dan kembali naik menjadi 1.686 pada tahun 2010. Program pencegahan, pemberantasan, dan surveilans DBD membutuhkan dukungan sistem informasi yang baik sebagai landasan pengambilan keputusan. Sistem informasi yang berjalan saat ini belum memanfaatkan manajemen basis data yang terstruktur sehingga sering ditemui kendala dalam hal pengelolaan data. Selain itu juga belum terdapat aplikasi khusus pemetaan yang dapat menghasilkan informasi secara otomasi dalam memberikan analisis kewilayahan tentang potensi yang dimiliki tiap wilayah terhadap peningkatan kasus maupun KLB. Pengembangan sistem informasi DBD berbasis SIG bertujuan untuk mengatasi permasalahan pengelolaan data dan analisis kewilayahan. Sistem informasi tersebut dikembangkan oleh peneliti berdasarkan metode System Development Life Cycle (SDLC), dengan mengintegrasikan aplikasi basis data Postgresql dan aplikasi pemetaan Open Geo Suite 2.2. Sistem ini mengolah data program DBD menjadi indikator IR DBD, CFR DBD, kepadatan penduduk, dan ABJ. Aplikasi mengolah indikator tersebut melalui proses perhitungan skor sehingga dihasilkan output berupa laporan, peta, dan grafik. Dalam rangka pengembangan sistem informasi lebih lanjut, diperlukan penambahan variabel lingkungan dan indikator untuk monitoring dan evaluasi program pencegahan dan pemberantasan DBD. Kata kunci : DBD, pemetaan, basis data


 Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) is a disease caused by Dengue virus transmitted through Aedes aegypti bite. The Minister’s of Health Decree (Kepmenkes RI Nr. 581/Menkes/SK/VII/1992) stated that this disease can cause death, and lead an outbreak. Bogor is one of DHF endemic area in West Java. DHF cases in Bogor have shown an escalation in the last three years. In 2008 it was reported 1,193 of cases, in 2009 the cases has risen to 1,513 and the trend were continued in 2010 with 1,686 of cases. DHF control significantly requires information system to generate an effective policy. Current information system has not been supported with database management. Hence, data and information management of DHF frequently meets bottleneck. Furthermore, the absence of mapping application lead to bottleneck on spatial analysis of outbreak and cases increase. The system information is developed to solve the bottlenecks on data information and spatial analysis using System Development Life Cycle (SDLC) methods. It combines Postgresql and Open Geo Suite 2.2. The system process several indicators i.e IR DBD, CFR DBD, population density and ABJ. The application manages those indicators through the process of scoring which result in report, map, and chart. Sustainability of this proposed system requires environment variables and monitoring and evaluation indicators of DHF control. Key words : DHF, mapping, database

Read More
T-3402
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive