Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 5113 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Lingkungan & Pembangunan, Vol.12, No. 3, 1992: hal. 158-170
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Warta Demografi, Ke-38, No.3, 2008, hal. 7-16. ( ket. ada di bendel 2008 - 2011 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lingkungan & Pembangunan, Vol.21, No. 4, 2001: hal. 267-273
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lingkungan & Pembangunan, Vol.15, No.3, 1995: hal. 315-332
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lingkungan & Pembangunan, Vol.21, No. 1, 2001: hal. 13-21
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Edwi Saraswati
Seri Gizi 22
Bogor : P3G, 1999
Laporan Penelitian   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hardya Gustada Hikmahrachim; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Helda, Rinawati Rohsiswatmo, Rini Sekartini
Abstrak:
Tesis ini membahas dampak komorbiditas neonatal berat terhadap gangguan pertumbuhan ekstrauterin pada bayi prematur. Seiring dengan semakin membaiknya layanan bayi prematur dan kesintasan semakin meningkat, perhatian kini beralih menjadi bagaimana mengoptimalkan pertumbuhan bayi prematur. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif dengan subjek bayi prematur yang lahir di RSUPN Cipto Mangunkusumo tahun 2018-2020 dan bertahan hidup hingga pulang rawat. Kriteria eksklusi adalah bayi yang menderita kelainan kongenital berat dan bayi prematur pulang atas permintaan sendiri. Komorbiditas neonatal berat adalah komorbiditas terkait prematuritas yang mengancam kehidupan bayi prematur, diantaranya adalah penyakit membrane hialin, duktus arteriosus persisten, displasia bronkopulmonal, enterokolitis nekrotikans, sepsis neonatorum, dan perdarahan intraventrikel. Bayi diikuti sejak lahir hingga pulang perawatan, kemudian dinilai status pertumbuhannya. Gangguan pertumbuhan ekstrauterin didefinisikan dengan selisih berat badan pulang dan berat badan lahir lebih dari -0.80 menggunakan z-score pada kurva pertumbuhan bayi prematur Fenton. Kovariat yang dikendalikan pada penelitian ini adalah usia gestasi, jenis kelamin, status pertumbuhan janin, riwayat resusitasi bayi baru lahir, penggunaan ventilator berkepanjangan, dan pemberian steroid pascanatal. Dari 275 subjek penelitian, ditemukan 93 bayi prematur yang memiliki komorbiditas neonatal berat (33,82%) dan 82 bayi prematur yang mengalami gangguan pertumbuhan ekstrauterin (29,83%). Komorbiditas neonatal berat meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan ekstrauterin dengan risiko relatif 1,61 (IK95% 1,05-2,46) setelah dikendalikan kovariat. Disimpulkan bahwa komorbiditas neonatal berat merupakan faktor risiko independen gangguan pertumbuhan ekstrauterin pada bayi prematur sehingga perlu menjadi perhatian bagi para klinisi dan ahli gizi untuk memberikan asupan nutrisi yang optimal dan pencegahan komorbiditas neonatal berat tersebut.

As neonatal care is improving and survival rate is better, clinicans are now focus on optimizing postnatal growth. This retrospective study involved preterm infant in RSUPN Cipto Mangunkusumo from 2018-2020 which are inborn and survive at discharge. Exclusion criteria are infants with congenital anomalies and discharged at request. Severe neonatal morbidites are hyaline membrane disease, persistent ductus arteriosus, bronchopulmonary dysplasia, necrotizing enterocolitis, proven neonatal sepsis, and intraventricular hemorrhage. Extrauterine growth restriction is defined as the difference between discharge weight and birth weight more than -0.8 z-score based on Fenton Preterm Growth Chart. Controlled covariates are gestational age, sex, intrauterine growth status, history of resuscitation, prolonged use of invasive ventilation, and postnatal steroid. From 275 subjects, 93 of them had severe neonatal morbidities (33.82%) and 82 had extrauterine growth restriction (29.83%). Severe neonatal morbidities increase risk of extrauterine growth restriction by 1.61 (95%CI 1.05-2.46) after being controlled by covariates. In conclusion, severe neonatal morbidities is an independent risk factor of extrauterine growth restriction among preterm infants.

Read More
T-5930
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agus Purnomo; Pembimbing: Rachmadi Purwana; I Made Djaja; Penguji: Bambang Wispriyono, Athena Anwar, Ely Setyawati
T-2232
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eflita Meiyetriani; Promotor: Budi Utomo; Kopromotor: Ratu Ayu Dewi Sartika, Dian Kusuma; Penguji: Besral, Budi Iman Santoso, Hartono Gunardi, Helda Khusun, Alimoeso Sudibyo, Dwi Nastiti Iswarawanti
Abstrak:

Periode seribu hari pertama kehidupan (1000 HPK) merupakan masa yang sangat rentan terjadinya berbagai masalah gizi yang berdampak terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Salah satu bentuk gangguan pertumbuhan yang sering muncul pada periode ini adalah stunting. Kelahiran risiko tinggi, khususnya kelahiran “4 TERLALU” (terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat, terlalu banyak) berperan penting dalam meningkatkan risiko morbiditas pada ibu dan anak. Sejumlah studi mengaitkan kelahiran “4 TERLALU” terhadap stunting, namun demikian temuan mengenai hal ini masih terbatas, tidak konsisten, dan umumnya hanya mencakup anak usia balita. Penelitian ini menggunakan data longitudinal Indonesia Family Life Survey (IFLS) tahun 2000, 2007, dan 2014 di 13 provinsi dengan 1.401 anak usia 0–59 bulan yang diikuti hingga usia remaja untuk menilai pengaruh kelahiran 4 TERLALU terhadap status stunting dan perubahan status stunting. Status stunting ditentukan dengan z skor PB/U atau TB/U berdasarkan standar WHO 2007, dan perubahan status dikelompokkan menjadi remained normal, height faltering, catch-up growth, dan remained stunted. Analisis dilakukan menggunakan Generalized Estimating Equation (GEE) untuk menilai dampak kelahiran “4 TERLALU” terhadap status stunting dan multinomial regresi logistik untuk menilai dampak kelahiran “4 TERLALU” terhadap perubahan status stunting di usia sekolah dan usia remaja. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunting tertinggi pada usia balita (39%), menurun pada usia sekolah (35%), dan mencapai 25% pada remaja. Proporsi kelahiran terlalu muda sebesar 12,7%, terlalu tua 9,6%, terlalu dekat 6,8%, terlalu banyak 16,2%, dengan kelahiran risiko tinggi ≥1 sebesar 36,1% dan ≥2 sebesar 8,7%. Kelahiran terlalu dekat (<24 bulan) secara konsisten meningkatkan risiko stunting sejak balita hingga remaja, sedangkan kelahiran terlalu muda, terlalu tua, dan terlalu banyak tidak menunjukkan hubungan signifikan. Faktor lain yang berpengaruh antara lain usia anak pada saat baseline, berat badan lahir rendah, pendidikan ibu rendah, tinggi badan ibu ≤150 cm, tinggi badan ayah ≤161,9 cm, serta kondisi sosioekonomi dan lingkungan, di mana anak dari keluarga kuintil aset 3 memiliki risiko 21% lebih rendah dibanding kuintil 1. Analisis perubahan status stunting menunjukkan bahwa jarak kelahiran terlalu dekat meningkatkan risiko anak menjadi stunted (height faltering) dan remained stunted. Temuan ini menegaskan bahwa stunting bersifat dinamis dan kelahiran terlalu dekat berkontribusi besar pada gangguan pertumbuhan linier jangka panjang, sehingga diperlukan intervensi gizi, kesehatan reproduksi, dan pemantauan pertumbuhan yang berkesinambungan sejak masa sebelum konsepsi hingga masa remaja.


 

The first 1,000 days of life (1,000 HPK/Hari Pertama Kehidupan) represents a critical window during which children are highly vulnerable to various nutritional problems that can adversely affect their growth and development. Stunting is one of the most common forms of growth faltering that occurs during this period. Births with high-risk factors, particularly those related to the "4 Too's" (maternal age being too young or too old, a short birth interval, and numerous previous births), greatly increase the likelihood of illness among mothers and their children. Although several studies have linked the "4 Too's" birth characteristics to stunting, the evidence remains limited, inconsistent, and is generally confined to children under five years of age. This study used longitudinal data from the Indonesia Family Life Survey (IFLS) conducted in 2000, 2007, and 2014 across 13 provinces. A cohort of 1,401 children aged 0-59 months was followed through adolescence to assess the influence of the "4 Too's" birth characteristics on stunting status and its longitudinal changes. Stunting status was determined using height-for-age z-scores (HAZ) based on the 2007 WHO standards. Stunting status changes were classified as normal, height faltering, catch-up growth, and stunted persistence. Generalized Estimating Equations (GEE) were used to examine the impact of the 'Four Too' birth factors on stunting, while multinomial logistic regression was employed to investigate their effect on changes in stunting during school age and adolescence. The findings showed that stunting prevalence was most common among 5- year-olds (39%), decreased to 35% during school age, and dropped to 25% in adolescence. The proportions of high-risk births were as follows: 12.7% to mothers who were too young, 9.6% to mothers who were too old, 6.8% with a short birth interval, and 16.2% with high parity. The prevalence of births with at least one risk factor was 36.1%, while 8.7% had two or more risk factors. A birth interval of less than 24 months was constantly linked to an elevated risk of stunting from early childhood through adolescence, while no noteworthy correlation was found between births to mothers of young or older age and those of high parities. The other significant risk factors were the child's age at baseline, low birth weight, low levels of maternal education, maternal height of 150 cm or less, and paternal height of 161.9 cm or less. Socioeconomic factors also played a role, with children from the third asset quintile having a 21% lower risk of stunting than those from the first quintile. Analysis of the changes in stunting status revealed that short birth intervals increased the risk of a child experiencing height faltering or remaining stunted. These findings affirm the dynamic nature of stunting and highlight that a short birth interval is a major contributor to long-term linear growth faltering. Consequently, sustained nutritional and reproductive health interventions, along with continuous growth monitoring, are imperative from the pre-conception period through adolescence to break the intergenerational cycle of stunting.

Read More
D-597
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kesmas. Ind. (MKMI), XXVII, No.10, Nop. 1999, hal. 565-570
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive