Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 30515 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Maj. Kedokteran Indonesia (MKI), Vol.55, No.4, April. 2005: hal. 351-360
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ikeu Lestari Budi Rahayu; Pem. L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Robiana Modjo, Ramadansyah Siregar
S-4992
Depok : FKM UI, 2007
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Krismadies; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasril Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Hendra, Jamal Thaib, Tata Soemitra
Abstrak:

Gangguan pendengaran karena bising merupakan salah satu penyakit akibat kerja yang sering ditemui pada perusahaan manufaktur. Hazard yang bisa menyebabkan gangguan pendengaran meliputi bising, zat kimia dan getaran. Ruang lingkup penelitian tesis ini adalah melihat dampak pajanan bising terhadap fungsi pendengaran pekerja yang terpajan bising diatas 82 dBA. Jenis penelitian adalah cross sectional study yang meneliti hubungan faktor independen berupa dosisi pajanan dalam perhitungan leq, umur dan masa kerja serta faktor penggangu berupa pemakaian alat pelindung diri serta kebiasaan dengan fungsi pendengaran pekerja. Dari survei tingkat bising ditemukan departemen PVC, CDM, CDS dan CDB mempunyai tingkat kebisingan diatas nilai ambang batas yang diperbolehkan.

Hasil pemeriksaan audiometri ditemukan dua orang responden yang mengalami gangguan pendengaran. Responden yang mengalami gangguan pendengaran satu orang berumur diatas 40 tahun, bekerja pada ruangan PVC dimana merupakan tingkat pajanan bising tertinggi di pabrik ini dan sudah bekerja selama lebih dari 5 tahun. Responden yang mengalami gangguan pendengaran lainnya merupakan pekerja yang berumur dibawah 40 tahun dan sudah bekerja selama lebih dari 5 tahun. Dari hasil analisis statistik tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara Leq pajanan bising, faktor masa kerja, pemakaian alat pelindung diri dan kebiasaan merokok dengan gangguan pendengaran. Ditemukan hubungan yang signifikan antara umur dan gangguan pendengaran dengan OD ratio 7.99.


Noise induced hearing loss is one of the occupational diseases are often found in manufacturing companies. Hazard that can cause hearing loss include noise, chemicals and vibration. The scope of this thesis research on the impact of noise exposure on hearing function of workers exposed to noise above 82 dBA. This type of research is a cross-sectional study examining the relationship be an independent factor in the noise dose exposure (leq), age and working period and disturbance factors such as the use of personal protective equipment, smoking with hearing function. From the survey found noise levels PVC department, CDM, CDS and CDB have noise levels above the permitted threshold value.

Audiometric examination found two participant who suffered from hearing loss. Respondents who suffered from hearing loss a person aged over 40 years, working on PVC indoor noise exposure level which is the highest in the plant and it has been working for more than 5 years. Other participant who suffered from hearing loss is under the age of 40 years and has been working for more than 5 years. From the analysis found no statistically significant relationship between Leq noise exposure, working period, the use of personal protective equipment and smoking with hearing loss. Found a significant relationship between age and hearing loss with OD ratio 7.99.

Read More
T-3715
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indah Kusumawati; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Laila Fitria, Didik Supriyono
S-7405
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Delfina Siagian; pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Devie Fitri Octaviani
S-8285
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Aisyah Amanda; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Dura Vendela
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kebisingan, faktor karakteristik pekerja (usia, masa kerja, durasi kerja, riwayat diabetes, riwayat hipertensi), dan faktor perilaku pekerja (penggunaan APT dan perilaku merokok), dengan gangguan pendengaran pada pekerja bagian refining PT X tahun 2019. Desain studi yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional dengan jumlah sampel sebanyak 66 orang pekerja bagian refining. Data gangguan pendengaran pada pekerja diperoleh dari hasil Medical Check Up rutin yang dilakukan oleh perusahaan, sedangkan data tingkat kebisingan diperoleh melalui pengukuran secara langsung menggunakan Sound Level Meter di area kerja bagian refining. Hasil uji Chi Square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara usia (OR 7; 95% CI: 1,608-30,474), masa kerja (OR 7,8; 95% CI: 0,925-65,747, dan perilaku merokok (OR 7,8; 95% CI: 0,925-65,747) dengan gangguan pendengaran pada pekerja bagian refining. Selain itu, didapatkan rata-rata tingkat kebisingan yang berbeda pada setiap unit kerja bagian refining, yakni unit kerja Peleburan sebesar 87,08 dBA, Pemurnian Perak sebesar 89,04 dBA, Pemurnian Emas sebesar 83,25 dBA, dan Waste Management sebesar 77,85 dBA.
Read More
S-9979
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maria Agnes; Pembimbing: Astrid B. Sulistomo; Penguji: Faisal Yunus
Abstrak: Paparan debu keramik yang mengandung silika bebas di lingkungan kerja pabrik keramik Inerupakan faktor resiko untuk terjadinya penyakit pare akibat kerja. Untuk mencegah timbulnya penyakit pneumokoniosis perlu dilakukan upaya pemantauan secara khusus dan berkelanjutan terhadap para pekerja melalui pemeriksaan kesehatan secara berkala dan pemantauan terhadap lingkungan kerja. Penelitian terhadap tenaga kerja pabrik kerami; di Cikarang dilakukan pada 66 pekerja laki-laki, dengan metode krosseksional., terdiri dari 31 orang dare bagian pembuatan badan keramik dan 35 orang dad bagian pengepakan. Penelitian lingkungan kerja dilakukan dengan mengukur kadar debu total, kadar debu respirable dan kadar silika bebas di bagian pembuatan badan keramik dan di bagian pengepakan. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, pemeriksaan fisik, pemeriksaan fungsi paru dan pemeriksaan foto toraks.
 
Hasil dan kesimpulan: Didapatkan prevalensi batuk kronik 4,5%, bronkitis kronik 4,5%, dahak kronik 4,5%, kelainan radiologi paru 10,6% dan restriksi 47% di pabrik tsb. Dibagian pembuatan badan keramik, kadar debu total, kadar debu respirable dan kadar silika bebas melebihi NAB yang ditetapkan. Tidak ditemukan hubungan antara kelainan fungsi pare dengan faktor-faktor umur, pendidikan, status gizi, masa kerja, kebiasaan merokok, kebiasaan memakai alat pelindung diri. Tidak ditemukan perbedaan prevalensi batuk kronik, bronkitis kronik, restriksi dan kelainan radiologi dengan tingkat paparan.
 

 
Scope and Methodology
 
Exposure to ceramic dust which contains free silica in a ceramic factory is a risk factor for occupational lung diseases. To prevent pneumoconiosis, specific and continuous monitoring of the workers through periodic health examinations and work environment measuring is very important. A study on 66 by ceramic factory workers consisting of 31 men from ceramic-body preparation division and 35 men from packaging division in Cikarang using cross-sectional method has been conducted. The work environment study was done by measuring total dust contamination, respirable dust, and free silica in ceramic-body preparation division and packaging division. Data collection was done by interviews, physical examination, lung function test and X-ray examination.
 
Results : The prevalence of chronic cough were 4,5 %, chronic bronchitis 4,5 %, changes in lung radiologic 10,6 % and restriction 47 %. The total dust concentration, respirable dust and the free silica concentration was found to exceed the permissible limit in ceramic-body preparation division. No relation was found between lung function changes, age, education, nutrition condition, work period, smoking habits and mask users habits. No significant different in the prevalence of chronic cough, chronic-bronchitis, restriction and radiologic changes was found different level of dust exposure.
Read More
T-872
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adelia Hanita Dewi; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Ema Hermawati, Suparjiyono
Abstrak: PT X merupakan salah satu industri tekstil di Indonesia yang memiliki berbagai mesin dan peralatan yang dapat menimbulkan kebisingan dengan intensitas tinggi di beberapa area kerjanya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kebisingan yang lebih dari 85 dBA dengan keluhan gangguan pendengaran pada pekerja di departemen spinning, weaving, dan dyeing PT X. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 84 pekerja di departemen spinning, weaving, dan dyeing yang dipilih menggunakan teknik sampling proportionate stratified random sampling. Variabel independen dalam penelitian ini adalah tingkat kebisingan dan variabel dependen adalah keluhan gangguan pendengaran, dengan variabel konfounding meliputi karakteristik dan perilaku pekerja.
Hasil penelitian menunjukan sebanyak 37 pekerja (44%) mengalami keluhan gangguan pendengaran tinggi. Berdasarkan uji chi square, terdapat hubungan yang signifikan antara kebisingan > 85 dBA (p value=0,039, OR=2,8), usia (p value=0,012, OR=3,457) dan penggunaan alat pelindung telinga (APT) (p value=0,046, OR=2,761) dengan keluhan gangguan pendengaran. Sedangkan variabel masa kerja, riwayat penyakit telinga, riwayat hipertensi, riwayat diabetes, merokok, dan hobi terpajan bising tidak menunjukan hubungan yang signifikan.
Hasil analisis multivariat menunjukan pekerja yang terpajan kebisingan diatas NAB memiliki risiko 4,512 kali lebih tinggi dibandingkan pekerja yang terpajan kebisingan dibawah NAB setelah dikontrol oleh variabel usia. Pekerja yang terpajan kebisingan berisiko untuk mengalami keluhan gangguan pendengeran. Pekerja yang berusia lebih dari 40 tahun dan tidak menggunakan APT saat berkeja memiliki risiko lebih besar untuk mengalami keluhan gangguan pendengaran.
Kata kunci: Industri Tekstil, Kebisingan, Keluhan Gangguan Pendengaran

PT X is a textile industry in Indonesia with a variety of machinery and equipment generating high-intensity noise in several areas. This study aimed to analyze the relationship between noise intensity higher than 85 dBA with hearing loss complain on workers of spinning, weaving, and dyeing department at PT X. The method used in this study was quantitative analysis with a cross-sectional study design. The number of samples in this study was 84 workers chosen by proportionate stratified random sampling method. The independent variable in this study was noise level while the dependent variable was hearing loss complaints, with confounding variables included characteristic and worker behavior.
The study result shows that 37 workers (44%) experienced hearing loss complaints. Based on the chi-square test, there was a significant relationship between noise > 85 dBA (p value = 0.039, OR = 2.8), age (p value = 0.012, OR = 3.457) and hearing protection device (HPD) utilization (p value = 0.046, OR = 2.761) with hearing loss complaints. Meanwhile, variables of the working period, ear disease history, hypertension history, diabetes history, smoking history, and noise exposure do not show a significant relationship.
The multivariate result shows that workers exposed to noise above TLV possess 4.512 times higher risk than the workers exposed to noise under TLV after being controlled by age variable. Noise-exposed workers are at risk of experiencing complaints of hearing loss. Workers who are over 40 years old and do not use HPD while working have a greater risk of experiencing hearing loss complaints.
Keywords: Hearing Loss Complain, Noise, Textile Industry
Read More
S-10477
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dimas Brilliant Sunarno Sunarno; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri, Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Mila Tejamaya, Arief Zulkarnain, Aris Kristanto
Abstrak: Tingkat kebisingan di Instalasi Pengolahan Air (IPA) cukup tinggi. Meningkatnya kebutuhan air bersih seiring dengan bertambahnya populasi penduduk, membuat Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dituntut untuk meningkatkan kapasitas produksi. Terdapat alat-alat dan proses produksi yang memiliki karakteristik berbeda dibanding jenis industri lain. Terdapat 306 PDAM di seluruh Indonesia, potensi jumlah pekerja yang terpajan bising sangat besar, maka perlu diteliti lebih lanjut mengenai hubungan karakteristik bising serta faktor-faktor determinannya terhadap gangguan pendengaran pada pekerja di PDAM untuk memperoleh bentuk pengendalian yang paling tepat. Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang. Tahapan penelitian ini yaitu mengukur tingkat kebisingan serta memberikan kuesioner sebagai data primer, menganalisis hasil audiometri pekerja sebagai data sekunder dan menggunakan uji statistika Chi Square dan analisis multi determinan untuk mengetahui hubungan di antara variabel independen dan dependen. Hasil penelitian diperoleh bahwa sumber bising di instalasi pengolahan air adalah pompa, exhaust fan, kompresor, blower, vacuum dan terjunan air. Sebanyak 84.4% pekerja di area produksi terpajan bising > 85 dBA. Sebanyak 15.6% pekerja mengalami gangguan pendengaran. Diperoleh kesimpulan bahwa pekerja yang terpajan bising di atas 85 dBA yang memiliki frekuensi bising dominan > 2000 Hz dapat menyebabkan terjadinya gangguan fungsi pendengaran dan diperparah apabila pekerja berusia > 40 tahun dan memiliki masa kerja > 14 tahun. Kata kunci: Kebisingan, PDAM, Gangguan pendengaran, Frekuensi bising

Noise level in Water Treatment Plant (WTP) is high enough. Increasing the need for clean water in line with the increasing population, making the Water Supply Company (PDAM) is required to increase production capacity. There are machines and production processes that have different characteristics than other types of industries. There are 306 PDAMs throughout Indonesia, the potential number of workers exposed to noise is very large, it is necessary to further investigate the relationship between noise characteristics and its determinants to hearing loss to PDAM workers to obtain the most appropriate form of control. This study used a cross sectional study design. The stages of this study are to measure the noise level and provide questionnaires as primary data, analyzing the worker audiometric results as secondary data and using Chi Square statistical test and multi determinant analysis to find out the relationship between independent and dependent variables. The results obtained that the source of noise in water treatment plants are pumps, exhaust fan, compressor, blower, vacuum and waterfall. About 84.4% of workers in the production area exposed to noise > 85 dBA. About 15.6% of workers have hearing loss. It is concluded that exposure workers over 85 dBA with dominant noise frequency > 2000 Hz can cause hearing impairment and aggravate if workers are > 40 years old and have a working life > 14 years. Key words: Noise, Water supply company, Hearing loss, Noise frequency
Read More
T-5214
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wahyudin Lihawa; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Hendra, Robiana Modjo, Dartini, Triyo Hartono
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran hubungan antara intensitas bising dengan gangguan pendengaran terhadap pekerja.Penelitian dilakukan terhadap 349 responden di bagian Steel Melting dan Rolling Mills PT X pada bulan Maret - Juni 2014 menggunakan desain cross-sectional, data primer berupa hasil pengukuran intensitas bising dan audiogram, data sekunder berupa gambaran umum perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 52 responden (14,9%) mengalami gangguan pendengaran, responden yang mengalami gangguan pendengaran terbanyak yaitu sebesar 59,6% (31 responden) adalah responden yang bekerja di Area Steel Melting yang memiliki intensitas kebisingan >85 dB. Penelitian menunjukkan gangguan pendengaran tidak berhubungan dengan pajanan debu, riwayat penyakit Diabetes melitus dan riwayat penyakit Hipertensi (p-value>α(0,05). Untuk mencegah terjadinya gangguan pendengaran kepada pekerja lainnya, perlu dilakukan upaya pengendalian risiko dengan melakukan pengendalian teknis, pengendalian administratif dan perlindungan kepada pekerja yang bekerja di area tersebut.

This study aims to provide an overview of the relationship between the intensity of noise with a hearing loss of workers. Study was conducted on 349 respondents at the Steel Melting and Rolling Mills PT X in March - June 2014 using cross-sectional design, the primary data in the form of noise intensity measurement results and results of audiometric measurement, secondary data from a general overview of the company. The results showed that 52 respondents (14.9%) had hearing loss, respondents who have a hearing loss that is equal to 59.6% (31 respondents) of respondents who work in Steel Melting areas that have noise intensity > 85 dB. Research showed hearing loss is not related to dust exposure, history of diabetes mellitus and a history of hypertension (p-value> α (0.05). To prevent hearing loss to other workers, risk control efforts should be made to perform technical control, control administrative and protection to employees who work in the area.
Read More
T-4096
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive