Ditemukan 32224 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Keberadaan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia yang sudah hampir setengah abad yang lalu sejak pertama kali di temukan kasusnya di Surabaya pada tahun 1968 belum dapat di berantas secara tuntas dari bumi Indonesia, bahkan jumlah kasus cenderung meningkat setiap tahunnya. Sampai saat ini belum ada obat yang dapat membunuh / membasmi virus demam berdarah sehingga cara yang paling tepat dan efektif adalah dengan cara memotong mata rantai penularan dengan membasmi nyamuk Aedes-nya, dan cara yang paling tepat guna adalah dengan membasmi jentik / larva yang ada di tempat perkembangbiakannya yang sudah di kenal dengan program Pemberantasan Sarang Nyamuk DBD (PSN-DBD) dengan cara 3M. Dari kondisi tersebut dapat di ketahui bahwa peran serta masyarakat yaitu perilaku masyarakat terutama perilaku hidup bersih dan sehat dari masyarakat termasuk kebersihan lingkungan pada umumnya mempunyai kontribusi yang cukup besar di dalam keberhasilan pemberantasan DBD. Penelitian ini ingin mengetahui perilaku masyarakat terutama faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku masyarakat dalam pencegahan demam berdarah dengue (DBD) di Kecamatan Kedaton Kota Bandar Lampung. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan non eksperimen sedangkan pengumpulan data di lakukan secara Cross Sectional (potong lintang). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh rumah yang ada pada 4 kelurahan yang paling endemis di Kecamatan Kedaton Kota Bandar Lampung yaitu: (Kedaton, Perum Way Halim, Labuhan Ratu, dan Sepang Jaya), pengambilan sampel di lakukan pada 400 kepala keluarga dengan cara Systematic Random Sampling, sedangkan metode pengumpulan data menggunakan kuesioner. Hasil penelitian di ketahui bahwa sebanyak 57 % responden mempunyai perilaku baik dalam pencegahan DBD, dan sebanyak 43 % responden mempunyai perilaku kurang baik dalam pencegahan DBD. Hasil analisis bivariat menggunakan uji statistik Chi Square di dapatkan kelima variabel independen (pendidikan, pengetahuan, sikap, ekonomi, dan keterpaparan informasi / penyuluhan) masing-masing menghasilkan p-value < 0,05 artinya ada hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan formal, pengetahuan, sikap, ekonomi, dan keterpaparan informasi / penyuluhan dengan perilaku masyarakat dalam pencegahan DBD. Sedangkan pada analisis multivariat menggunakan analisis regresi logistik ganda model prediksi di ketahui bahwa variabel yang paling besar pengaruhnya / paling dominan terhadap perilaku masyarakat terhadap pencegahan DBD adalah variabel pengetahuan, di dapatkan Odd Ratio (OR) dari variabel pengetahuan adalah 7,667 artinya responden yang memiliki pengetahuan yang baik tentang PSN-DBD mempunyai peluang melakukan pencegahan DBD sebesar 7,667 kali lebih tinggi di banding yang mempunyai pengetahuan rendah / kurang setelah dikontrol variabel pendidikan, sikap, status ekonomi dan keterpaparan. Perilaku masyarakat di ketahui memiliki kontribusi yang cukup besar di dalam pemberantasan DBD, dari penelitian ini diketahui bahwa faktor pengetahuan responden tentang pencegahan dan pemberantasan DBD merupakan faktor yang paling dominan untuk terjadinya perilaku pencegahan dan pemberantasan DBD. Perlu di pikirkan bentuk sosialisasi yang lebih efektif agar pengetahuan tentang pencegahan dan pemberantasan DBD dapat di miliki secara merata pada seluruh lapisan masyarakat, dengan demikian masyarakat akan lebih mudah di dalam melakukan pencegahan DBD / perilaku pencegahan ke arah yang lebih baik.
In Indonesia, Dengue Fever (DF) has been acknowledged in almost half a century as its first case was found at Surabaya in 1968. Since then, the disease cannot be completely eradicated and the cases are more likely to increase from year to year. Until now, there is no cure that be able to kill or destroy the dengue virus. Therefore, the effective way on dealing with the disease is to detach the chain of transmission by eradicating the Aedes mosquitoes. And the most proper way to eliminate the mosquitoes is by terminating its larva at its breedingplaces, which is known by a program called Pemberantasan Sarang Nyamuk DBD (PSN-DBD) with 3M or the Dengue's Mosquito Breedingplace Eradications Program (DM-BEP). To meet the condition, community participation has played an important role, especially the community behavior on healthy and clean life in keeping a healthy environment. This, in general, will contribute to a successful program of Dengue eradication. The study has an aim on describing the community behavior for factors that related to the dengue prevention behavior at Kedaton Sub-district of Kota Bandar Lampung. The study is a quantitative research with a non-experiment design, and data is gathered by a cross-sectional approach. The population is all household at 4 most endemic villages (kelurahan) at Kedaton Sub-district, namely: Kedaton, Perum Way Halim, Labuhan Ratu, and Sepang Jaya. Method of sampling is using a systematic random sampling, and 400 household has drawn. Data is collected by using questionnaire. The result of the study found that there are 57% of respondents have a good behavior in term of dengue fever prevention. From bivariate analysis, with Chi Square Test, showed that five variables, namely: formal education level, knowledge, attitude, level of economic, and IEC exposures, have a p-value less than 0.05. This indicates that those variables have a significant relationship with the community behavior on the prevention of the disease. While its multivariate analysis, with a double logistic regression, found that the most dominant variable at the prediction model for community behavior on the dengue prevention is knowledge, with an OR in 7.667. This means that respondents who have a good knowledge on DM-BEP will have a probability 7.667 times to do the dengue prevention, compare to those who have low or less knowledge on DM-BEP. The value of OR is resulted after the variable is controlled with variables of education, attitude, economic status, and exposures. To conclude, community behaviors have a great contribution on the effort of eradicating the DF, and the study found that factor of respondent?s knowledge on DMBEP is the most dominant factors on creating the behavior on preventing and eradicating the DF. It is suggested that there is a need on constructing an effective form of socialization in order to raise the awareness and increase the community knowledge on DM-BEP in all level, in such that the community will easily applying the way to prevent the disease, as well as having a better prevention behavior.
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus dengue (DENV). Kepadatan permukiman serta perilaku masyarakat yang belum optimal dalam pencegahan menjadi faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya risiko penularan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status sosial ekonomi, pengetahuan, dan individual beliefs berdasarkan teori Health Belief Model terhadap perilaku ibu rumah tangga dalam pencegahan penyakit DBD. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian terdiri dari ibu rumah tangga di RW 01 Pasar Minggu yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis data menggunakan uji chi-square dengan tingkat signifikansi 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku pencegahan DBD dengan p-value sebesar 0,007 dan nilai Odds Ratio (OR) 3,260 (1,439–7,386). Analisis hasil menunjukkan bahwa ibu rumah tangga dengan pengetahuan kategori kurang baik memiliki risiko dengan peluang sebesar 3,260 kali lebih besar untuk melakukan perilaku pencegahan penyakit DBD yang kurang baik. Kesimpulannya adalah pengetahuan berperan penting dalam mendorong perilaku pencegahan DBD pada ibu rumah tangga di RW 01 Pasar Minggu. Oleh karena itu, saran yang dapat diberikan kepada masyarakat yaitu meningkatkan implementasi program edukasi berbasis masyarakat serta memperkuat peran kader jumantik dalam penyuluhan dan pemantauan lingkungan, terutama jentik nyamuk di rumah.
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an infectious disease caused by the bite of Aedes aegypti mosquitoes carrying the dengue virus (DENV). High population density and suboptimal community preventive behaviors contribute to an increased risk of disease transmission. This study aimed to analyze the association between socioeconomic status, knowledge, and individual beliefs based on the Health Belief Model with housewives’ dengue prevention behaviors. This study employed a cross-sectional design with a quantitative approach. The sample consisted of housewives in RW 01 Pasar Minggu, selected using simple random sampling. Data were collected through structured interviews using a questionnaire. Data analysis was performed using the chi-square test with a 95% confidence level (α = 0.05). The results showed that knowledge was significantly associated with dengue prevention behavior, with a p-value of 0.007 (p < 0.05)and an Odds Ratio (OR) of 3.260 (95% CI: 1.439–7.386). The findings indicate that housewives with poor knowledge were 3.260 times more likely to have poor dengue prevention behavior compared to those with better knowledge. In conclusion, knowledge plays a crucial role in influencing dengue prevention behavior among housewives in RW 01 Pasar Minggu. Therefore, it is recommended to enhance community-based educational programs and strengthen the role of jumantik (larvae monitoring cadres) in health education and environmental monitoring, particularly in controlling mosquito larvae at the household level.
