Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 18318 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Kusharisupeni
JKT Vol.23, No.3
Jakarta : FK Univ. Trisakti, 2004
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ela Laelasari; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto
T-892
Depok : FKM UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rosni Lubis; Promotor: Ratu Ayu Dewi Sartika; Kopromotor: Endang Laksminingsih Achadi, Atmarita; Yekti Widodo, Aryono Hendarto, Ahmad Syafiq, Sutanto Priyo Hastono
Abstrak:

Prevalensi stunting pada balita di Indonesia, khususnya Kabupaten Bogor masih tergolong tinggi. Minimum Acceptable Diet (MAD), salah satu penilaian pada praktik pemberian makanan pendamping ASI, merupakan salah satu determinan utama dalam kejadian stunting. Penelitian ini bertujuan melihat hubungan MAD dan faktor lainnya dengan kejadian stunting pada anak umur 6-23 bulan. Metode penelitian ini menggunakan desain studi kohor prospektif data penelitian Kohor Tumbuh Kembang Anak (TKA) yang dilaksanakan sejak tahun 2012 di Kota Bogor. Sampel penelitian ini adalah anak umur 6-23 bulan pada studi kohor TKA yang dilakukan pengukuran berulang secara lengkap. Anak yang lahir pada pada tahun 2012-2017 dan diikuti hingga umur 23 bulan (pada tahun 2014-2019).

Variabel dependen pada penelitian ini ialah anak stunting yang diamati pada saaat usia 12, 18 dan 24 bulan. Variabel independen utama pada penelitian ini ialah MAD yang diamati pada rentang umur 6-11, 12-17 dan 18-23 bulan.

Hasil: Prevalensi stunting dalam penelitian ini masih cukup tinggi yaitu anak umur 12 bulan (23,8%), 18 bulan (33,2%) dan 24 bulan (24,6%). Capaian MAD tidak adekuat paling banyak terjadi pada anak umur 6-11 bulan (77,9%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa MAD umur 6-11, 12-17 dan 18-23 tidak berhubungan terhadap kejadian stunting pada anak umur 12,18 dan 24 bulan.. Analisis Multivariat Regresi Cox menunjukkan stunted usia sebelumnya dan asupan protein mempengaruhi terjadinya stunting.

Kesimpulan: Upaya lebih lanjut perlu dilakukan untuk capaian MAD yang direkomendasikan pada anak usia 6-23 bulan untuk mencegah stunting. Studi skala besar untuk mengeksplorasi peran MAD dalam mengurangi stunting dan studi kualitatif untuk mengidentifikasi kendala dan faktor yang mempengaruhi praktik pemberian makan bayi dan anak yang lebih baik sangat penting untuk perbaikan program.


 

The prevalence of stunting among children under-fives in Indonesia, particularly in Bogor, West Java, is still relatively high. Minimum Acceptable Diet (MAD), one of the  assesments on the practice of complementary feeding is one of the main determinants of stunting. This study aims to examine the relationship between MAD and other factors with the incidennce of stunting in children aged 6-23 months. Methods: This research method uses a prospective cohort study design from the Cohort of Growth and Development  of children (TKA) research data which has been carried out since 2012 in Bogor City.

The sample of this study was children aged 6-23 months in the TKA cohort study whio underwent complete repeated measurements. Children born in 2012-2017 and followed up to 23 months of age (in 2014-2019).

The dependent variables were stunted children at ages 6-11, 12-17. 18-23 and 24 months. The main independent variable was Minimum Acceptable Diet at the age interval of 6-11, 12-17, and 18-23 months. The data collection on the MDD, the MMF, and the MAD used twenty-four-hour dietary recall. Result: Prevalence of stunting was higher for child aged 12 months (41,7%) than for those in 18 months (8,1%) and 24 months (4,0%) category. Inadequate MAD achievement was most common in children aged 6-11 months (41.7%). Bivariate analysis showed that fulfilment MAD aged 6-11, 12-17 and 18-23 were not associated with stunting. Multivariate analysis Cox Regression indicated that stunted early age and protein intake were significantly associated with stunting.

Conclusion: More efforts need to be done to achieve the recommended MAD for all children aged between 6-23 months and to prevent stunting. Large scale studies to explore the role of MAD in reducing stunting and qualitative studies to identify the constraints and promoting factors to better infant and young child feeding practices are imperative for programme improvement.

 

 

 

 

 

 

 

 

Read More
D-563
Depok : FKM UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Debri Rizki Faisal; Pembimbing: Syahrizal Syarif, Ratna Djuwita; Penguji: Nurhayati Adnan Prihartono, Abas Basuni Jahari, Rusli
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Debri Rizki Faisal Program Studi : Epidemiologi (Field Epidemiology Training Program) Judul : Pengaruh Status Gizi Stunting Saat Balita dan Obesitas Ketika   Dewasa Terhadap Risiko Hipertensi (Studi Longitudinal IFLS 1993 – 2014) Pembimbing : dr.Syahrizal Syarif, MPH, PhD. Stunting merupakan salah satu bentuk kekurangan gizi kronis yang ditandai dengan tinggi badan menurut usia kurang dari -2 SD (standar deviasi). Kondisi stunting pada usia balita berdampak jangka panjang terhadap dewasa yang pendek dan rentan terhadap penyakit tidak menular ketika dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh efek gabungan kondisi stunting saat balita dan obesitas ketika dewasa terhadap risiko hipertensi. Desain penelitian cohort retrospective menggunakan data sekunder Indonesia Family Life Survey (IFLS) periode 1-5. Populasi target adalah balita usia 2-5 tahun pada tahun 1993 sebanyak 2.642 orang, kemudian di follow up hingga dewasa pada tahun 2014. Jumlah sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi adalah 588 orang. Analisis data menggunakan uji cox regression dengan 95%CI. Standar pengukuran sebagai berikut stunting (TB/U < -2 SD), obesitas (IMT ≥ 27 kg/m 2 ) dan hipertensi (≥ 140/90 mmHg). Hasil penelitian didapatkan bahwa dari 588 orang dimana 13.27% mengalami hipertensi dengan proporsi orang yang stunting saat balita dan obesitas ketika dewasa 27.27%. Analisis multivariate ditemukan bahwa responden dengan status gizi stunting dan obesitas berisiko 2.46 (95% CI; 1.23 - 4.90) kali; obesitas dan tidak stunting 2.25 (95% CI; 1.12 – 4.50) kali; stunting dan tidak obesitas berisiko 0.95 (95% CI; 0.55 – 1.62) kali, mengalami hipertensi dibandingkan dengan responden yang tidak mengalami stunting saat balita dan tidak obesitas ketika dewasa. Risiko kejadian hipertensi meningkat 10.56% akibat interaksi antara kondisi stunting saat balita dan obesitas ketika dewasa. Pentingnya pencegahan stunting pada 1000 Hari Pertama Kehidupan dan mengoptimalkan Posbindu PTM dalam melakukan skrining obesitas dan hipertensi serta pengendalian faktor risiko PTM untuk menurunkan prevalensi penyakit tidak menular terutama obesitas dan hipertensi. Kata kunci: Stunting, Obesitas, Hipertensi, Kohort, Efek Gabungan.


ABSTRACT Name : Debri Rizki Faisal Study Program : Epidemiology (Field Epidemiology Training Program) Title : The Effect Of Early Stunting And Adult Obesity To Increase Risk Of Hypertension (Longitudinal Study IFLS 1993 – 2014) Counsellor : dr.Syahrizal Syarif, MPH, PhD. Stunting due to chronic malnutrition condition that is characterized by Height for Age Z score less than -2 SD (standard deviation). The early stunting in children under five years has a long-term impact on adults are short stature and vulnerable to risk non-communicable diseases in later life. This study aims to determine the joint effect of early stunting conditions and adult obesity to risk for hypertension. This study design was a cohort retrospective using secondary data from the Indonesia Family Life Survey (IFLS) period 1-5. The target population was children aged 2-5 years in 1993 with numbers of 2,642 people and then follow up until adulthood in 2014. The number of samples that met the inclusion and exclusion criteria were 588 people. Data analysis used Cox regression test with 95% CI. Standard of measurements was stunting (HAZ <-2 SD), obesity (IMT ≥ 27 kg / m 2 ) and hypertension (≥ 140/90 mmHg). The results showed that of 588 people where 13.27% had hypertension where the proportion of respondent with early stunting and adult obese was 27.27%. Multivariate analysis found that respondents with nutritional status both early stunting and adult obesity have a risk of 2.46 (95% CI; 1.23 - 4.90) times; obese and not stunting 2.25 (95% CI; 1.12 - 4.50) times; stunting and not obese 0.95 (95% CI; 0.55 - 1.62) times, for having risk of hypertension compared to respondents neither experience stunting and obese. The risk of hypertension increases 10.56% due to the interaction between early stunting and obesity adults. The importance prevention of stunting in The First 1000 Days of Life and optimize Posbindu PTM in screening obesity, hypertension and controlling risk factors NCD to reduce the prevalence of non-communicable diseases, especially obesity and hypertension. Key words: Stunting, Obesity, Hypertension, Cohort, Joint Effects.

Read More
T-5732
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sally Mutia; Pembimbing: Fatmah, Anies Irawati; Penguji: Kusharisupeni, Itje Aisah Ranida, Judhi Astuti Februhartanty
T-2263
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Almas Grinia Iksan; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji:Endang Laksminingsih Achadi, R. Giri Wurjandaru; M. Nur Hasan Syah
T-5390
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erna Mutiara; Promotor: Budi Utomo; Kopromotor: Endang L. Achadi, Adi Hidayat; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Farid Anfasa Moeloek, Sudijanto Kamso, Ratna Djuwita, Soewarta Kosen
D-191
Depok : FKM-UI, 2006
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Helwiah Umniyati; Promotor: Budi Utomo; Ko-Promotor: Endang L. Achadi, Siti Muslimatun; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Kusharisupeni, Abas Basuni Jahari, Ratna Djuwita
D-227
Depok : FKM-UI, 2009
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eka Desi Purwanti; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Ratna Djuwita, Soewarta Kosen, Woro Riyadina
Abstrak: Stunting merupakan bentuk malnutrisi yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dan menyebabkan berbagai dampak buruk bagi kesehatan anak. Selain disebabkan karena kurangnya asupan gizi secara kronis, stunting juga dapat disebabkan oleh penyakit infeksi berulang. Upaya pencegahan penyakit infeksi seperti imunisasi akan turut berperan dalam meningkatkan pertumbuhan anak khususnya di negara berkembang. Tujuan penelitian ini untuk melihat hubungan antara status imunisasi dasar dengan kejadian stunting pada balita di Indonesia. Penelitian ini menggunakan disain studi cross sectional dan menggunakan data sekunder SSGI Tahun 2021. Kriteria inklusi penelitian ini adalah balita berusia 12-59 bulan saat pengumpulan data, diukur tinggi badannya, tidak sedang mengalami sakit berat/kronis, dan memiliki data variabel yang lengkap. Sebanyak 70.267 balita memenuhi kriteria inklusi dan seluruhnya diambil sebagai sampel penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan uji cox regression untuk mendapatkan besar asosiasi prevalence ratio (PR) dengan interval kepercayaan 95%. Penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi stunting balita usia 12-59 bulan di Indonesia adalah 23,1% dan proporsi balita yang mempunyai status imunisasi dasar lengkap adalah 74,92%. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa status imunisasi dasar berhubungan signifikan secara statistik dengan kejadian stunting. Balita dengan status imunisasi dasar yang tidak lengkap berisiko 1,19 kali lebih tinggi untuk mengalami stunting dibandingkan balita dengan status imunisasi dasar lengkap [adjusted PR 1,19 (95% CI 1,15 – 1,23)]. Balita yang tidak imunisasi sama sekali mempunyai risiko yang lebih tinggi lagi yaitu 1,27 kali untuk mengalami stunting dibandingkan balita dengan status imunisasi dasar lengkap [adjusted PR 1,27 (95% CI 1,15 – 1,39)], setelah mengontrol variabel pendidikan ibu, status ekonomi dan berat lahir anak. Diperlukan upaya untuk melengkapi status imunisasi anak sesuai jadwal dan peningkatan pengetahuan ibu mengenai pemanfaatan pelayanan kesehatan, pemenuhan gizi balita dan stimulasi tumbuh kembang anak.
Stunting is a malnutrition that is still a public health problem in Indonesia and causes various adverse effects on children's health. Besides caused by a chronic lack of nutrition, stunting can also be caused by recurrent of infectious diseases. Efforts to prevent infectious diseases, such as immunization, will play a role in increasing child growth, especially in developing countries. The purpose of this study was to examine the association between basic immunization status and the incidence of stunting in toddlers in Indonesia. This study used a cross-sectional study design using secondary data from SSGI 2021. The inclusion criteria for this study were that toddlers were aged 12–59 months at the time of data collection, their height was measured, were not experiencing severe or chronic illness, and had complete variable data. A total of 70,267 toddlers met the inclusion criteria, and all were taken as research samples. Data analysis was performed using the Cox regression to obtain a prevalence ratio (PR) with 95% of confidence interval. This study shows that the prevalence of stunting among children aged 12–59 months in Indonesia is 23.1%, and the proportion of children under five who have complete basic immunization status is 74.92%. The results of the multivariate analysis showed that basic immunization status had a statistically significant association with the incidence of stunting. Toddlers with incomplete basic immunization status are at risk 1.19 times higher for stunting compared to toddlers with complete basic immunization status [adjusted PR 1.19 (95% CI 1.15–1.23)]. Toddlers who are not immunized at all have an even higher risk of experiencing stunting, which is 1.27 times higher compared to toddlers with complete basic immunization status [adjusted PR 1.27 (95% CI 1.15–1.39)], after controlling for variables such as the mother's education, economic status, and the child's birth weight. Efforts are needed to complete the child's immunization status on time according to schedule and increase the mother's knowledge regarding the use of health services, the fulfillment of toddler nutrition, and the stimulation of child growth and development.
Read More
T-6625
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Titi Indriyati; Promotor: Asri C. Adisasmita; Kopromotor: Mardiati Nadjib, Imam Subekti; Penguji: Ratna Djuwita, Soewarta Kosen, Woro Riyadina, Telly Purnamasari
Abstrak:
ABSTRAK Peran Perubahan Status Sindrom Metabolik Terhadap Kualitas Hidup Terkait Kesehatan Pada Orang Dewasa Di Kota Bogor (Data Studi Kohor Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Dalam 4 Periode Pemantauan, Tahun 2011-2018) Pemantauan kualitas hidup pada penderita sindrom metabolik perlu dilakukan secara berkelanjutan, untuk mencapai status kesehatan yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan menilai peran perubahan status sindrom metabolik terhadap kualitas hidup terkait kesehatan (HRQoL). Pendekatan studi menggunakan desain follow up prevalence sebagai turunan dari cross sectional yang merupakan bagian dari studi kohor induk. Diagnosis SM ditegakkan ketika jumlah kriteria SM >3 dari 5 faktor risiko menggunakan data studi kohor faktor risiko PTM yang dikelola oleh Balitbangkes Kemenkes RI di Kecamatan Bogor Tengah dalam 4 periode pemantauan tahun 2011-2018. HRQoL diukur melalui wawancara langsung terhadap 874 responden menggunakan kuesioner SF-36 dan EQ-5D-5L. Perubahan status SM yang dapat diidentifikasi adalah: SM persisten (6,8%); SM memburuk (12,8%), SM membaik (10,3%), dan tidak SM (70,1%). Kriteria SM pada periode pemantauan T4 yaitu: obesitas sentral pada laki-laki 23,2% dan perempuan 78,6%; kadar HDL rendah pada laki-laki 31% dan perempuan 36,4%; hipertensi 35,5%; trigliserida tinggi >150 mg/dl adalah 21,9%; serta gula darah puasa tinggi >100 mg/dl adalah 38,2%. Gambaran HRQoL dari hasil pengukuran kuesioner SF-36 yaitu 50,3% memiliki kualitas hidup baik pada dimensi fisik dan 51% baik pada dimensi mental. HRQoL EQ-5D-5L untuk profil status kesehatan adalah 95,7% tidak bermasalah pada dimensi kemampuan perawatan diri; sedangkan masalah yang paling besar adalah pada dimensi ketidaknyamanan (rasa nyeri) seebanyak 76,8%. Pada skala EQ-VAS responden dengan kategori HRQoL rendah sebanyak 8,5% memiliki nilaidi bawah rerata EQ-VAS orang Indonesia pada umumnya. Ada interaksi dalam hubungan perubahan status SM dengan HRQoL pada dimensi fisik berdasarkan faktor riwayat penyakit penyerta (PTM), Analisis multivariat regresi logisttik ganda membuktikan bahwa perubahan status SM yang berinteraksi dengan riwayat penyakit penyerta (PTM: jantung, strok, DM, kanker) memberikan efek HRQoL rendah pada dimensi fisik sebesar POR (95%CI) = 27,5 (10,3-73,2) dan strata tidak memiliki penyakit penyerta sebesar = 9,2 (5,7 – 15,0) setelah dikontrol oleh umur, status kesehatan mental, perubahan IMT, rutinitas periksa kesehatan dalam setahun, dan pengetahuan. Efek interaksi yang dijelaskan menggunakan nilai rasio peluang disebut interaksi multiplikatif dan ini penting dalam menjelaskan hubungan kausalitas bahwa perubahan status SM yang memburuk sebagai penyebab rendahnya HRQoL dimensi fisik. Rekomendasi mengembangkan upaya sinergi dengan instansi terkait dalam menentukan progam intervensi kesehatan dan Germas yang memungkinkan untuk diintegrasikan dalam studi kohor PTM di Kota Bogor.

ABSTRACT The Role of Changes in Metabolic Syndrome Status on Health-Related Quality of Life in Adults in Bogor City (Data on Cohort Study of Non-Communicable Disease Risk Factors in 4 Monitoring Periods, 2011-2018) Monitoring the quality of life in patients with metabolic syndrome needs to be carried out on an ongoing basis, to achieve a better health status. This study aims to assess the role of changes in metabolic syndrome status on health-related quality of life (HRQoL). The study approach uses a follow-up prevalence design as a cross-sectional derivative which is part of the main cohort study. The diagnosis of MS is enforced when the total number of criteria for MS >3 from 5 risk factors using a cohort study data of NCD risk factors managed by the Research and Development Center of the Ministry of Health of Indonesia in Central Bogor District in 4 monitoring periods 2011-2018. HRQoL was interviewed with 874 participants using the SF-36 and EQ-5D-5L questionnaires. Changes in MS status that can be identified are: persistent MS (6.8%); worsened MS (12.8%), improved MS (10.3%), and no MS (70.1%). The criteria for MS in the fourth monitoring period were: central obesity in males 23.2% and females 78.6%; low HDL levels in men 31% and women 36.4%; hypertension 35.5%; high triglycerides >150 mg/dl is 21.9%; and high fasting blood sugar> 100 mg/dl is 38.2%. The HRQoL description from the SF-36 questionnaire is 50.3% have a good quality of life on the physical dimension and 51% have a good quality of life on the mental dimension. HRQoL EQ-5D-5L for the health status profile is 95.7% without problems on the dimension of self-care ability; while the biggest problem is the dimension of discomfort (pain) as much as 76.8%. On the respondent's EQ-VAS scale with a low HRQoL category of 8.5% has a value below the average EQ-VAS of Indonesians in general. There is an interaction in the relationship between changes in MS status and HRQoL on the physical dimension based on the history of co-morbidities (NCD). Low HRQoL in the physical dimensions of POR (95% CI) = 27.5 (10.3-73.2) and without comorbidities of = 9.2 (5.7 – 15.0) after adjusting for age, mental health status, changes in BMI, routine health checks in a year, and knowledge. The effect modifications are explained using the probability ratio is called the multiplicative interaction is important in explaining the causal relationship that worsening MS status changes low HRQoL physical dimension. Recommendations for developing a synergy program with related agencies in determining health and Germas intervention programs that allow them to be integrated into the NCD cohort study in Bogor City.
Read More
D-486
Depok : FKM-UI, 2023
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive