Ditemukan 38149 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Kata kunci: Angka Rujukan, Puskesmas, BPJS Kesehatan
This study analyzes the comparation of number of patients referred based on the characteristics of JKN users in Puskesmas North Kebayoran Lama and Puskesmas Petogongan in the period of January to March 2020. This study uses qualitative methods such as indepth interview, document review and literature review. The result of this study is that the number of patients referred in Puskesmas North Kebayoran Lama is 21,49% higher than in Puskesmas Petogongan. It caused by the limited health facilities, the lack of knowledge about gatekeeper among health providers and there are plenty of patients who submits the referral process by their own requests so it may increases the number of patients referred in the advanced medical facility.
Key words: Number of Patients Referred, Public Health Center, BPJS Kesehatan
Obat merupakan komponen terpenting dalam pelayanan kesehatan, sehingga harus selalu tersedia dalam jumlah dan jenis yang cukup. Penggunaan obat secara rasional penting untuk menjamin akses obat, ketersediaan, dan mutu pelayanan kesehatan. Di Puskesmas, banyak terjadi peresepan dan penggunaan obat tidak rasional yang umumnya tidak disadari oleh tenaga kesehatan. Peresepan dan penggunaan obat yang tidak rasional meliputi polifamasi, penggunaan Antibiotika pada ISPA non pneumonia, dan penggunaan injuksi pada Myalgia. Penelitian ini bertujuan Untuk mengelahui faktor-faktor yang berhubungan dengan peresepan obat tidak rasional oleh tenaga kesehatan di 15 Puskesmas Kota sukabumi Tahun 2006. Desain peneiitian mqrupakan kombinasi studi kuantitatif dan kualitatif, dengan rancangan cross sectional untuk studi kuantilatif dan wawancara mendalam untuk studi kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen - instrumen kuesioner, form monitoring peresepan, fonn pemantauan ketersediaan obat, dan pedoman wawancam mendalam. Sedangkan Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan analisis content dafam bentuk matrik hasil wawancara mendalam. Sampel penelitian adalah seluruh populasi yaitu 74 orang tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter umum dan perawat yang melakukan pelayanan pengobatan di Puskesmas dengan resep yang ditulisnya Selama bulan april 2006 dengan diagnosa penygkit ISPA non pneumonia, Diare non spesifik, dan myalgia. Sebagai variabel terikat adalah penggunaan obat tidak rasional dan yariabel bebas adalah masa kerja, pengetahuan, sikap, pelatihan, permintaan pasien dan ketersediaan obat. Hasil penelitian menunjukan bnhwa rata-rata peresepan obat tidak rasional di Puskesmas Kota Sukabumi adalah 49,74 %, dengan polifarmasi (79,47 %), Antibiotika (65,32%), dan Injeksi (4,43 %). Dari hasil analisis bivariat diketahui bahwa variabel pendidikan profesi, masa kerja, pengetahuan, sikap, pelatihan, dan permintaan pasien tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan peresepan obat tidak rasional, tetapi variabel ketersediaan obat berhubungan secara signifikan, dengan interpretasi semakin berlebih ketersediaan obat, semakin tidak rasional. Hasil analisis content pada matrik hasil wawancara mendalam menunjukan bahwa faktor internal tenaga kesehatan seperti pengalaman pribadi, otoritas profesi, seni pengobatan, dan faktor eksternal yaitu kondisi penyakit dan perilaku pasien temyata berhubungan dengan peresepan obat yang tidak rasional. Rekomendasi dari penelitian ini adalah perencanaan pengadaan obat dengan metoda morbiditas dan ditindaklanjuti dengan Monitoring dan evaluasi peresapan obat yang lebih intensif, merancang pelatihan terprogram untuk meningkatkan pengetahuan bagi perawat dan peningkatan motivasi bagi tenaga dokter. Menyusun dan mensosialisasikan standar pengobatan dasar di Puskesmas terutama bagi perawat dengan dukungan legalitas sampai dengan tenaga dokter memadai. bagi Peneliti lain sebaiknya menggali variabel pemanfaatan dan kepatuhan pada buku pedoman pengobatan dasar dan tingkat pengetahuan pasien atau masyarakat.
ABSTRAK Perawat sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan yang berhubungan langsung dengan pasien dituntut untuk memiliki kinerja yang tinggi. Banyak faktor yang mempengaruhi kinerja diantaranya adalah Imbalan Finansial dan Imbalan Non Finansial. Imbalan Finansial dan Imbalan Non Finansial mempunyai peran penting dalam menentukan Kinerja Perawat. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan imbalan finansial dan imbalan non finansial terhadap kinerja perawat di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta Tahun 2011. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2011. Rancangan penelitian yang digunakan adalah cross sectional pada 63 responden. Analisis yang digunakan adalah analisis univariat, bivariat dan multivariat dengan menggunakan uji asumsi yang disyaratkan dan analisis regresi linier berganda. Dari hasil analisis bivariat diperoleh temuan penelitian adanya hubungan yang bermakna antara gaji, hubungan dengan atasan, hubungan dengan teman, promosi jabatan, kesempatan mengembangkan diri dan penghargaan terhadap hasil pekerjaan dengan kinerja perawat. Dari Analisis multivariat diperoleh temuan penelitian yaitu variabel yang mempengaruhi kinerja adalah imbalan finansial yaitu gaji dan imbalan non finansial yaitu hubungan dengan teman sekerja. Dengan hasil penelitian tersebut diatas, perlu bagi manajemen RSKO Jakarta untuk meningkatkan kinerja melalui imbalan finansial yaitu gaji, dan imbalan non finansial yaitu hubungan dengan teman. Disamping itu perlu juga memberikan kesempatan yang luas kepada para perawat untuk mengembangkan diri dengan mengikutsertakan perawat dalam pelatihan-pelatihan terkait bidang tugas dan pendidikan lanjutan agar kualifikasi dan kinerja perawat meningkat serta memberikan penghargaan atas hasil kerja perawat misalnya dengan pemilihan perawat teladan sehingga dapat memotivasi perawat untuk lebih meningkatkan kinerjanya. Kata kunci: imbalan finansial, imbalan non finansial, kinerja.
ABSTRACT Nurses as the spearhead of health services that relate directly to the patient is required to have high performance. Many factors affect the performance of which is the Financial Rewards and Nonfinancial Rewards. Financial Rewards and Non Financial Rewards play an important role in determining the performance of Nurses. This study aims to determine the relationship of financial rewards and non-financial rewards to the performance of nurses at the Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta in 2011. The study was conducted in May 2011. The design of the study is a cross sectional study in 63 respondents. The analysis used is univariate, bivariate and multivariate tests using the assumptions required and multiple linear regression analysis. From the results obtained by bivariate analysis of the research findings of a significant relationship between salary, relationships with superiors, relationships with friends, job promotion, an opportunity to develop themselves and respect for the work with the performance of nurses. Multivariate analysis of research findings obtained by the variables that affect the performance of the financial rewards of salary and non-financial rewards relationships with co-workers. With the above results, it is necessary for management RSKO Jakarta to improve performance through financial reward of salary and non-financial reward of relationships with friends. Besides it should also provide ample opportunity for nurses to develop themselves by engaging nurses in training-related tasks and qualifications and continuing education for nurses increased performance and reward the work of nurses such as choosing a exemplary nurse that can motivate nurses to further improve its performance. Key words: financial rewards, non-financial rewards, performance.
One of the functions of hospital bylaws is as a means of legal protection for allparties associated with the hospital. Legal protection is very necessary when healthworkers get claim. One of the things that can cause the claim is unexpected incidence (adverse events). The purpose of this research is to know in depth about how thepolicy content of hospital bylaws in efforts to protect health workers against theclaim of adverse events and the content of policy conformance with existing guide lines. Research design with qualitative methods. Results of the study was RSKO Jakarta hospital bylaws policy already contains about legal protection for healthworkers but still need to be equipped with making other technical operationalpolicies and there is still a discrepancy contents policy with Hospital Bylawsguidelines. Suggestion is that the contents of the RSKO Jakarta hospital bylawspolicy can be improved, making technical operasional policies and improvement ofhospital bylaws guidelines by government. Keywords : Hospital Bylaws, Adverse events, legal Protection, Healthworkers.
