Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39389 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Wenny Wiharsini; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Tri Yunis Miko, Rosamarlina
Abstrak: Proposi kasus TB anak mencapai 10.45% (Kemkes, 2011). Presentase kunjungan untuk kasus TB pada balita meningkat dari tahun 2009 sebesar 28,9% menjadi 34% pada tahun 2010 dari semua kunjungan kasus TB.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor kontak, karakteristik balita dan orang tua dengan kejadian TB paru pada balita di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso pada tahun 2012.
 
Desain studi kasus kontrol, kasus adalah pasien usia 6-59 bulan yang berkunjung ke RSPI Prof. Dr. Sulianti Sarorso dan telah didiagnosa menderita TB paru. Kontrol adalah balita yang datang berobat dan tidak didiagnosa menderita TB paru.
 
Faktor risiko antara lain, kontak penderita, karakteristik balita: jenis kelamin, status gizi, riwayat berat badan lahir, pemberian ASI eksklusif, status imunisasi BCG, usia saat imunisasi BCG, dan karakteristik orang tua: pendidikan dan pekerjaan ibu, penghasilan orang tua, pengetahuan, faktor kebiasaan merokok antara lain: keberadaan perokok dan tempat merokok.
 
Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa 4 variabel faktor risiko yaitu, kontak penderita OR = 3,23 (95% CI: 1,29-8,10), status gizi OR= 2,38 (95% CI: 1,13-5,01), status imunisasi (keberadaan scar) OR=5,57 (95% CI: 2,48-12,54) dan pekerjaan ibu OR=0,279 (95% CI: 0,10-0,78) menunjukkan adanya hubungan bermakna, sedangkan variabel lainnya seperti jenis kelamin, status gizi, riwayat berat badan lahir, pemberian ASI eksklusif, status imunisasi BCG, usia saat imunisasi BCG, pekerjaan dan pendidikan ibu, penghasilan orang tua, pengetahuan, faktor kebiasaan merokok: keberadaan perokok dan tempat merokok menunjukkan hubungan yang tidak bermakna.
 
Dari hasil penelitian ini maka disarankan perlu adanya penyuluhan mengenai penyakit TB seperti cara penularannya dan bagaimana sebaiknya orang tua mencegah agar anaknya tidak tertular TB paru.
 

Proportion of TB cases child reaches 10.45% (MOH, 2011). The percentage of visits to cases of TB in infants increased from 28.9% in 2009 to 34% in 2010 of all visits TB.Penelitian cases aims to determine the relationship of contact factors, the characteristics of toddlers and parents with the incidence of pulmonary tuberculosis in infants RSPI Prof Dr Sulianti Saroso in 2012.
 
Design case-control study, cases were patients aged 6-59 months who visited RSPI Prof. Dr. Sulianti Sarorso and had been diagnosed with pulmonary tuberculosis. Controls were children who came for treatment and was diagnosed with pulmonary tuberculosis.
 
Among other risk factors, patient contacts, toddler characteristics: gender, nutritional status, history of birth weight, exclusive breastfeeding, BCG immunization status, age at BCG, and parental characteristics: mother's education and occupation, parental income, knowledge factors, smoking habits, among others: the presence of smokers and smoking areas.
 
The results of the bivariate analysis showed that four variables are risk factors, patient contact OR = 3.23 (95% CI: 1.29 to 8.10), the nutritional status OR = 2.38 (95% CI: 1.13 to 5, 01), immunization status (presence of scar) OR = 5.57 (95% CI: 2.48 to 12.54) and maternal employment OR = 0.279 (95% CI: 0.10 to 0.78) showed a significant correlation , while other variables such as gender, nutritional status, history of birth weight, exclusive breastfeeding, BCG immunization status, age at BCG, occupation and maternal education, parental income, knowledge, habit factors: the presence of smokers and the smoke show relationships were not significant.
 
From these results it is recommended that there is need for education about TB disease such as the mode of transmission and how parents should prevent their children not infected with pulmonary TB.
Read More
S-7562
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amelia Pradipta; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Adria Rusli
S-10310
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lily Banonah Rivai; Pembimbing: Lukman Hakim Tarigan; Penguji: Ratna Djuwita, Indang Trihandini, Janto G. Lingga, Dyah Erty Mustikawati
T-3032
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cucu Irawan; Pemb: I. Made Djaja, Yovsyah; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Hendri, Juhandi
T-2580
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Aini Hidayah; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Adria Rusli
Abstrak: Pada kondisi dengan keterbatasan sumber daya untuk mengakses pemantauan viral load, pemantauan imunologis menjadi bagian dari standar perawatan terapi pasien dengan pengobatan antiretroviral yang dapat digunakan untuk menilai respon terapi. Studi ini dilakukan untuk melihat hubungan antara ketidakpatuhan pengobatan terhadap kegagalan imunologis pada pasien HIV/AIDS di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso. Studi kohort retrospektif dilakukan di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso pada 284 pasien HIV/AIDS dewasa yang inisiasi antiretroviral lini pertama pada periode Januari 2014-April 2018, yang diikuti selama 12 bulan waktu pengamatan. Analisis menggunakan Kaplan Meier digunakan untuk mengestimasi probabilitas kegagalan imunologis berdasarkan ketidakpatuhan pengobatan (ambil obat dan minum obat), yang signifikansinya dilihat dengan Log-Rank Test. Analisis Cox Proportional Hazard dilakukan untuk menghitung Hazard Ratio dengan 95% confidence interval. Sebanyak 29 (10,2%) pasien mengalami kegagalan imunologis dengan 4,8 per 10.000 orang hari. Kepatuhan ambil obat (aHR 1,72, 95%CI: 0,67-4,44) dan kepatuhan minum obat (aHR 1,14, 95%CI: 0,41-3,19) berasosiasi terhadap kejadian gagal imunologis, meskipun tidak signifikan. Asosiasi yang tidak signifikan ini dimungkinkan karena pemantauan imunologis bukanlah gold standard dalam menilai respon pengobatan. Perhitungan sensitivitas dan spesifisitas kegagalan imunologis terhadap kegagalan virologis pada penelitian ini yaitu 50% dan 82,66%. Monitoring kepatuhan secara berkala dan pemeriksaan CD4/viral load yang lebih tepat waktu diperlukan untuk mencegah kegagalan pengobatan lebih dini. Kata kunci: Kegagalan imunologis, kepatuhan minum obat, kepatuhan ambil obat
Read More
T-5530
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yenni Risniati; Pembiming: Lukman Hakim Tarigan; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, I Made Setiawan, Toni Wandra
Abstrak:

Sindroma Syok Dengue (SSD) merupakan salah salu masalah kcschatan utama di Indonesia. Penyakit ini merupakan bagian dari demam berdarah dengue (DBD) dalam bentuk klinis yang berat. Berbagai Penelitian diiakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang mcmpengaruhi terjadinya SSD, namun patogenesis terjadinya SSD hingga saat ini belum diketahui secara pasti. Penclitian ini bcrtujuan untuk mengetahui apakah leucopenia mempunyai pengaruh terhadap terjadinya SSD. Bila hal ini benar, maka para klinisi akan dapat memprediksi dan menangani pcnderita DBD dengan lehih baik, schingga progresiiitas teljadinya SSD dapat dicegah dengan melakukan obscrvasi tanda-tanda SSD sejak dini. Pcnclitian ini menggunakan dcsain kasus kontrol. Sampel diambil dari rekam medis 43 penderita SSD untuk kasus, dan 86 penderita DBD untuk kontrol, berusia < 15 tahun yang dirawat di RS. Penyakit lnfeksi Pro£ Dr. Sulianti Saroso pada bulan Januari 2006 -» April 2008. Semua kasus dengan rekam mcdis lengkap menjadi sampel dan kontrol dipilih dengan simple random sampling. Jumlah sampel ini sesuai perhitungan sampel dengan oL= 0,05 dan B= 0,20 dengan jumlah kasus:kontroI l:2. Pengaruh leukopenia terhadap SSD ditentukan dengan menggunakan analisis multwle logisiic regression menggunakan perangkat STATA 7,0. Dari hasil analisis didapatkan bahwa pcnderita DBD dengan leukopenia mcmpunyai risiko untuk terjadi SSD 2,86 kali lebih besar dibandingkan penderita tanpa Ieukopenia (OR, = 2,86 ; 95%CI = 1,23-6.62). Variabel yang menjadi konfounding adalah peningkatan nilai hematokrit (OR, = 3,99 ; 95%Cl = l,68-9,50) dan perdarahan masif (OR, = 2,12 ; 95%CI = 0,87-6,I9). Variabcl lainnya yang tidak menjadi konfounding adalah status gizi (OR, = ll,l8 ; 95%Cl = 1,88-66,69),jum1ah trombosit (OR, = 2,17 ; 95%CI = l,03~4,57), usia (OR, = 0,57 ; 95%Cl = 0,27-l,20) dan status infeksi (OR, = 0,57 ; 95%Cl = 0,25-1,3 l). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa leukopenia merupakan faktor prognosis terjadinya SSD pada penderita DBD. Oleh karena itu, tanda-tanda adanya syok pada penderita DBD yang mengalami Ieukopenia sebaiknya lebih diperhatikan sejak dini.


Syndroma shock dengue (DSS) is a major health problem in indonesia. This disease is a severe form of dengue haemorrhagic fever (DH F). Many researches be made to know about factors which are infiucnce DSS, but until now the pathogenesis DSS wasn't know exactly. In this research we tried to study about the influence leucopenia to DSS. The purpose of this research were the clinician can predict and manage the DHF patient better and the progressivity DSS can be controlled by early observation DSS signs. This was a case-control study. Samples were medical record from 43 DSS as cases and 86 DHF as controls, less than I5 years old who admitted in Proti Dr. Sulianti Saroso IDH from January 2006 to April 2008. All complete medical record from DSS patient be samples and controls were chosen by simple random sampling. Total samples were counted by ct=0,05, [3=0,20 and the comparison cases and control was l:2. The influence leucopenia to SSD was determined by Multiple logistic regression. Result from the study found there were influence leucopenia to DSS (OR.=2,86 ; 95%CI = 1,23-6,62). Confoundings were the increasing hematocrite (OR, = 3,99 95%CI = 1,68-9,50) and bleeding (OK, = 2,12 ; 95%CI = 0,87-6,l9). Variables nutritional status (0R¢ =1l,l8 ; 95%CI = |,88-66,69), platelets count (ORC = 2,17 ; 95%CI = 1,03-4,S7), age (OR¢ 0,57 ; 95%CI = 0,27-l,20) and dengue infection (OR¢ = 0,57 ; 95%CI = 0,25-l,3l) were not con founding. From this research we can got conclusion that leucopenia was prognostic factor for DSS. DHF patients who have leucopenia should be observed the signs of shock early.

Read More
T-2898
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizky Perdana; Pembimbing: Nuning MK. Masjkuri, Mondastri Korib Sudaryo, Biomed Yuwono M.; Penguji: Ratna Djuwita, Tri Yunis Miko, Erni J. Jelwan, Zen Hafy
Abstrak: Disertasi ini membahas hubungan varian genotip alel G gen CD209 titik promoter -336 terhadap kejadian Infeksi oportunistik TB Paru Pada ODHA, dengan rancangan potong lintang. Data infeksi oportunistik TB Paru  diperoleh dari catatan rekam medik RSPI Sulianti Saroso, sedangkan adanya penentuan varian genotip alel A/G gen CD209 titik promoter-336 dari pemeriksaan PCR dan analisis sekuensing. Analisis data menggunakan regresi cox.
 
 
Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan alel G gen CD209 titik promoter-336 terhadap kejadian infeksi oportunistik TB Paru (PR 1,57 p=0,235, CI: 0,74-3,32). Alel G gen CD209 titik promoter -336 merupakan faktor risiko pada perempuan terhadap kejadian infeksi oportunistik TB Paru (PR 1,75 p=0,11, CI;0,97-3,14). Alel G gen CD209 titik promoter-336 pada malnutrisi terdapat hubungan terhadap kejadian infeksi oportunistik TB Paru (PR 2,1 p=0,22, Cl; 0,68-6,39). Alel G gen CD209 titik promoter-336 pada kelompok umur diatas 50 tahun  berisiko 3,5 kali mengalami kejadian infeksi oportunistik TB Paru (PR 3,5 p=0,07, Cl;1,09-11,3). Adanya riwayat kontak TB Paru serumah dengan alel G gen CD209 titik promoter-336 juga berisiko 1,5 kali dapat mencetuskan kejadian infeksi oportunistik TB Paru, walaupun tidak signifikan (PR 1,5 p=0,36, Cl 0,85-2,73).
Read More
D-409
Depok : FKM-UI, 2019
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurvika Widyaningrum; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Adria Rusli, Tepy Usia
T-4676
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rini Handayani; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Febya Asmirna
Abstrak: Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular yang masih menjadi permasalahan di dunia. TB dapat menyebabkan kematian pada penderitanya. Salah satu tempat penyebaran tinggi TB adalah Penjara. Pada penelitian sebelumnya diketahui bahwa prevalensi TB di Penjara lebih besar dibandingkan dengan prevalensi TB di masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya hubungan status HIV dengan kejadian TB Paru berdasarkan karakteristik individu, kepadatan hunian kamar, kontak dalam sel, dan faktor perilaku pada narapidana di Lembaga Permasyarakatan Narkotika Kelas II A Jakarta tahun 2013. Penelitian ini dilakukan denngan desain cross sectional, dengan sampel 250 naparidana yang terdata pada tahun 2013 dan masih berada di Lapas Narkotika Kelas II A Jakarta. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 6,2% responden yang mengalami TB Paru. Berdasarkan hasil uji bivariat didapatkan bahwa ada hubungan antara status HIV dengan kejadian TB Paru. Setelah dilakukan stratifikasi, di dapatkan bahwa hubungan status HIV dengan kejadian TB Paru lebih cenderung terjadi pada responden yang memiliki kepadatan hunian kamar yang memenuhi syarat, memiliki kontak dalam sel dengan pasien TB, atau pernah merokok.
 

Tuberculosis (TB) is communicable infection disease that still is problem in the world. TB can make people who affected with bacteria of TB dead. One of high-risk group of TB is prisoners. Recent researches show that prevalence of TB in prisons higher than prevalence of TB in public. This research then comes to find the relationship between status of HIV and Pulmo TB be stratificated based on individual factors, rooms occupy density, contact in cell, and behavior factors on prisoners in Lembaga Permasyarakatan Narkotika Kelas II A Jakarta on 2013. The research was done with cross-sectional design with 250 samples of prisoners who registered on 2013 and still is in Lembaga Permasyarakatan Narkotika Kelas II A Jakarta. It found that 6,2% respondents were have Pulmo TB. Based on bivariate analysis, the research also found that there are relationships between status of HIV with pulmo TB. After stratification, it show that relationship between status of HIV and pulmo TB have preference happen in respondent who having good Room occupy density, having contact in cell with patients of TB, or have been smokers in the past.
Read More
S-7996
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Nastiti; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Agustina Helda, Sulistiyo Pompini
Abstrak: Tantangan dalam penanggulangan Tuberkulosis (TB) semakin besar karena TBjuga memiliki hubungan dengan penyakit tidak menular, seperti Diabetes Mellitus(DM). DM memiliki pengaruh pada setiap fase perjalanan penyakit TB dandiduga memiliki pengaruh terhadap hasil pengobatan TB. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui pengaruh DM terhadap hasil pengobatan TB pada pasien TBparu dewasa (> 15 tahun) di RSPI Sulianti Saroso Tahun 2011-2014. Penelitianini menggunakan desain studi kasus kontrol = 1:2 dengan melibatkan 96 kasusdan 192 kontrol. Sebanyak 50 pasien TB (17,4%) diketahui memiliki DM.Sebanyak 19,8% pasien TB hasil pengobatan buruk dan 16,1% pasien TB hasilpengobatan baik memiliki penyakit DM, akan tetapi perbedaan ini tidaksignifikan. Nilai crude OR pada pasien TB-DM untuk mendapatkan hasilpengobatan TB buruk sebesar 1,28 (95% CI: 0,68-2,41), sedangkan pada adjustedOR sebesar 1,29 (95% CI: 0,67-2,49). Hasil penelitian ini belum dapatmembuktikan secara statistik bahwa pasien TB-DM memiliki risiko yang lebihtinggi untuk mendapatkan hasil pengobatan TB yang buruk. Skrining DM,pencatatan dan monitoring kadar gula darah pada pasien TB-DM sangatdiperlukan untuk mendapatkan data yang lebih valid.Kata Kunci : Diabetes Mellitus, Tuberkulosis Paru, Hasil PengobatanTuberkulosis, RSPI Sulianti Saroso
Read More
T-4556
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive