Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 26666 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Agustina Lubis, Soeharsono Soemantri, Sarimawar Djaja
JEN Vol.5, Ed.2
Jakarta : [s.n.], 2001
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Warta Demografi, Ke-39, No.3, 2009, hal. 12-27, ( Cat. ada di bendel 2008-2009 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
The Indonesian J. of Public Health (IJPH), Vol.2, No.1, Juli 2005, hal. 27-31. ( ket. ada di bendel 2005- 2007), dan ( ada di bendel 2005- 2006)
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
614 BUD b
[s.l.] : Bandung : Refika aditama, 2015, s.a.]
Kumpulan Daftar Isi Buku   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ni Luh Putu Arum Puspitaning Ati; Pembimbing: Prastuti Soewondo; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Dimposma Sihombing, Ermawan
Abstrak:

Sebanyak 22 dari 62 kabupaten daerah tertinggal (35,48%) belum mencapai target Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagaimana ditetapkan dalam Strategi Nasional Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Tahun 2020–2024. Oleh karena itu, dilakukan penelitian ini yang bertujuan untuk mengevaluasi faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pencapaian IPM melalui program afirmasi kesehatan dalam Rencana Aksi Nasional Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (RAN-PPDT). Metode yang digunakan dengan pendekatan kualitatif, melalui analisis data sekunder dari laporan realisasi dan evaluasi program, serta wawancara mendalam dengan pengampu program afirmasi dari Kementerian Desa PDTT, Kementerian Kesehatan, BKKBN, serta perwakilan dari daerah tertinggal yang telah dan belum mencapai target. Evaluasi dilakukan menggunakan enam kriteria dari teori evaluasi William N. Dunn, yakni efektivitas, efisiensi, kecukupan, pemerataan, responsivitas, dan ketepatan. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa hambatan utama dalam pencapaian IPM meliputi ketidaksinkronan perencanaan dan penganggaran, rendahnya realisasi kegiatan, dan distribusi program yang belum merata. Sementara faktor pendukungnya mencakup kesesuaian program dengan prioritas nasional, pemanfaatan data ketertinggalan, serta komitmen lintas sektor. Kesimpulannya bahwa program afirmasi kesehatan berkontribusi positif terhadap peningkatan IPM, terutama melalui intervensi kesehatan dasar. Namun, efektivitas program belum optimal, efisiensinya terganggu oleh ketidaksinkronan perencanaan dan penganggaran, kecukupannya belum memenuhi kebutuhan riil di daerah, pemerataannya masih timpang, responsivitasnya sudah adaptif terhadap kebutuhan, serta ketepatannya sudah sesuai untuk mendukung IPM. Rekomendasi perbaikan yang disarankan mencakup penguatan perencanaan dan implementasi secara terpadu melalui sinkronisasi lintas sektor, penganggaran berbasis kebutuhan, serta sistem monitoring terintegrasi dalam upaya meningkatkan dampak program afirmasi kesehatan terhadap peningkatan IPM di daerah tertinggal.


 

Out of 62 underdeveloped regencies in Indonesia, 22 (35.48%) have not yet achieved the  Human Development Index (HDI) targets set in the National Strategy for the Acceleration  of Underdeveloped Regions Development 2020–2024. This study aims to evaluate the  supporting and hindering factors affecting HDI improvement through the health  affirmation program within the National Action Plan for the Acceleration of  Underdeveloped Regions Development (RAN-PPDT). A qualitative approach was used,  involving secondary data analysis from program realization and evaluation reports, as  well as in-depth interviews with officials from the Ministry of Villages, Development of  Disadvantaged Regions and Transmigration; the Ministry of Health; BKKBN; and  representatives from underdeveloped regions that have and have not met the HDI targets.  The evaluation is based on six criteria from William N. Dunn’s evaluation theory:  effectiveness, efficiency, adequacy, equity, responsiveness, and appropriateness. The  findings indicate that key barriers include the lack of synchronization between planning  and budgeting, low implementation realization, and uneven program distribution.  Supporting factors include program alignment with national priorities, utilization of  underdevelopment data, and cross-sectoral commitment. The health affirmation program  contributes positively to HDI improvement, especially through basic health interventions,  although not yet optimal. Recommended improvements involve strengthening integrated  planning and implementation through cross-sectoral synchronization, needs-based  budgeting, and an integrated monitoring system to enhance the program’s impact on HDI  in underdeveloped regions.

Read More
T-7238
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jihan Ramadhany Ginting Manik; Pembimbing: Wahyu Septiono; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Popy Yuniar, Nirmala Ahmad Ma’ruf, Ari Nurman
Abstrak:
Stunting masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia dengan prevalensi nasional sebesar 19,8% pada tahun 2024. Meskipun prevalensinya menurun, beban kasus masih terkonsentrasi di Pulau Sumatera dan Jawa yang menampung sebagian besar balita Indonesia. Kesenjangan karakteristik antarkabupaten/kota di kedua pulau tersebut sering kali tertutupi oleh rata-rata tingkat provinsi, sehingga intervensi yang diterapkan cenderung bersifat seragam dan kurang tepat sasaran. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik wilayah berdasarkan indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan determinan stunting, mendeskripsikan karakteristik setiap cluster, serta menyusun rekomendasi kebijakan berbasis karakteristik wilayah. Penelitian menggunakan desain studi ekologi dengan unit analisis 273 kabupaten/kota di Pulau Sumatera dan Jawa berdasarkan data SUSENAS dan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2024. Analisis dilakukan menggunakan metode K-Means Clustering terhadap empat indikator IPM dan enam determinan stunting, sedangkan prevalensi stunting digunakan sebagai variabel pembanding melalui uji ANOVA. Hasil penelitian mengidentifikasi empat cluster dengan karakteristik yang berbeda. Cluster 3 memiliki tingkat pembangunan manusia tertinggi dan prevalensi stunting terendah, sedangkan Cluster 4 memiliki prevalensi stunting tertinggi yang disertai tingkat kemiskinan lebih tinggi serta akses air minum dan sanitasi yang lebih rendah. Temuan penting menunjukkan bahwa Cluster 4 memiliki rasio puskesmas dan bidan yang relatif tinggi, namun tetap mencatat prevalensi stunting tertinggi, mengindikasikan bahwa intervensi layanan kesehatan saja belum cukup tanpa perbaikan determinan sosial dan lingkungan. Uji ANOVA menunjukkan perbedaan prevalensi stunting yang bermakna antarcluster (p<0,001). Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan kebijakan berbasis karakteristik  wilayah diperlukan agar strategi percepatan penurunan stunting dapat disesuaikan dengan karakteristik masing-masing cluster sehingga menjadi lebih tepat sasaran, efektif, dan berkelanjutan.

Stunting remains a major public health challenge in Indonesia, with a national prevalence of 19.8% in 2024. Although the prevalence has declined, the absolute burden of cases remains concentrated in the islands of Sumatra and Java, which are home to the majority of Indonesia's under-five population. Disparities among regencies and municipalities are often masked by provincial averages, resulting in uniform interventions that may not adequately address local needs. This study aimed to identify regional typologies based on the Human Development Index (HDI) indicators and stunting determinants, describe the characteristics of each cluster, and develop policy recommendations tailored to regional characteristics. An ecological study design was employed using secondary data from 273 regencies and municipalities in Sumatra and Java obtained from the 2024 National Socioeconomic Survey (SUSENAS) and the 2024 Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI). The K-Means Clustering method was applied to four HDI indicators and six stunting determinants, while stunting prevalence was used as a validation variable through analysis of variance (ANOVA). The analysis identified four distinct regional clusters with different characteristics. Cluster 3 exhibited the highest level of human development and the lowest stunting prevalence, whereas Cluster 4 had the highest stunting prevalence, accompanied by higher poverty rates and lower access to improved drinking water and sanitation. A notable finding was that Cluster 4 had relatively high ratios of primary healthcare centers and midwives despite recording the highest stunting prevalence, indicating that healthcare interventions alone are insufficient without addressing broader social and environmental determinants. ANOVA confirmed significant differences in stunting prevalence among the clusters (p<0.001). This study concludes that a regional typology-based approach is essential for designing more targeted, effective, and sustainable stunting reduction policies that are tailored to the characteristics of each cluster.
Read More
T-7558
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siswoyo Mardisoeroso Pemb. Akmal Hadi
A-181
Jakarta : FKM UI, 1978
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bul. Pen.Sis. Kes. (Bulitsiskes), Vo. 14, No.4, Okt. 2011, hal. 366-374
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arief Hargono; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Besral
Abstrak:
Penyebaran HIV telah menjadi permasalahan dunia. Salah satu upaya umtuk memantau perkembangan penularan HIV adalah dengan melakukan pemlantauan atau surveilans yang menjadi tanggung jawab Departemen Kesehatan. Data dan informasi kegiatan surveilans generasi kedua belum berada dalam satu basis data yang terpusat Pengembangan prototipe aplikasi komputerisasi dengan standarisasi formulir diharapkan dapat mengurangi hambatan tersebut. Media internet yang bersifat global dan lintas sektor diharapkan dapat menjembatani dan mempercepat proses pelaporan. Penelitian ini merupakan riset operasional dengan menggunakan pendekatan sistem untuk memecahkan masalah karena memandang permasalahan ini sebagai suatu permasalahan sistem. Tahapan pendekatan sistem tersebut berupa siklus hidup pengembangan sistem yang terdiri dari penelitian awal, analisis sistem, desain sistem dan pembuatan prototipe. Pengumpulan data dilakukan dengan telaah dokumen dan wawancara mendalam. Wawancara mendalam dilakukan terhadap responden pada instansi Dinas Kesehatan Jawa Timur, KPAD Jawa Timer, PM UTD Cabang Surabaya, Rumah Sakit Dr Soetomo Surabaya dan Laboratorium Kesehataa Daerah Jawa Timor. Permasalahan system informasi surveilans HIV/AIDS teebagi dalarn permasalahan pada masukan, proses dan keluaran. Permasalahan pada masukan antara lain adalah data yang tidak lengkap, formulir pencatatan yang belum baku, belum adanya sekretariat tetap dan ketergantungan kepemimpinan individu tertentu. Pengolahan data yang belum otomatis dan faktor kebijakan menjadi permasalahan pada proses sistem informasi. Sedangkan permasalahan pada keluaran sistem adalah lemahnya komunikasi data dan penggunaan data yang belum optimal. Upaya surveilans HIV/AIDS memerlukan dukungan dalam bentuk kebijakan atau peraturan yang mengikat.Kebijakan tersebut harus didukung oleh suatu sistem yang memungkinkan komuni`kasi data dan informasi dan semua instansi terkait sehingga dapat mamberikan gambaran yang menyeluruh tentang kejadian HIV dan AIDS di suatu tempat sehingga upaya penanggulangan menjadi lebih efektif dan efisien. Pengembangan prototipe aplikasi komputer berbasis internet dilakukan melalui tahapan pendekatan sistem. Prototipe tersebut memuat variabel yang digunakan dalam surveilans HIV/AIDS untuk menghasikan indikator surveilans biologi dan surveilans perilaku kasus HIV/AIDS. Komputerisasi sistem informasi yang dilakukan dapat mempermudah proses pencatatan dan media internet dapat mempercepat proses pelaporan serta terbentuknya satu basis data dan berbagai kegiatan surveilans. Sejalan dengan perkembangan teknologi yang pesat, pengembangan dan kajian sistem informasi surveilans HIV/AIDS berbasis komputer dan internet dapat terus dikembangkan untuk menghasilkan informasi yang cepat dan tepat sehingga upaya penanggulangan menjadi lebib terarah.

Development of System Application of Information of Surveilans HIV & AIDS Base on Internet [in] East Java ProvinceSpreading of HIV have come to the world problems. One of the effort to watch the growth of HIV infection is conducting monitoring or surveillance which becoming responsibility of Health Department Data and information of second generation surveillance activity not integrated in one data base. Development of computerize application prototype with standardizes form can reduce the problemInternet media having the global and inter sector character can link institution and quicken reporting processes. This research looking into the problems as system problems and represent the operational research by using system approach to solve that problem. The step of system approach is the form of the system development live cycle and consisted of the preliminary research, systems analysis, system design and prototyping. Data collected with the in-depth interview and document study. In-depth interview was conducted to responder at institution of Public Health Service East Java, KPAD East Java, PMI. Branch Surabaya, Dr Soetomo Surabaya Hospital and Health Laboratory of East Java. Problems of surveillance information system of HIV/AIDS consist of input, process and output problem. The example of input problems is incomplete data, not standardized form, there is no existence of secretariat and depending on individual leadership. Data processing which not yet automatically and policy factor become the problems at information system process. The problems of information system output is the weakness of data communications and data used which not optimal. Surveillance HIV/AIDS need the good support in the form of policy or obligatory regulation. The policy have to be supported by a conducive data and information communications system from all related institution so that can give the totally picture about occurrence of HIV and AIDS so the effort to overcome become more effective and efficient. Development of computer application prototype base on the internet conducted by through step of system approach. The prototype consist of the variable used in surveillance IRVIAIDS to make output of the biological indicator surveillance and behavioral surveillance of HIV/AIDS. Computerize the information system can make the record process more easier and media intemet can quicken the reporting processes and forming one data bases from various surveillance activity. In line with fast technology growth, development and study of information system of surveillance HIV/AIDS base on the computer and internet can be developed to make the information become faster and precisely so that effort to overcome become more directional.
Read More
T-1813
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Berita Epidemiologi, Juli 1997, hal. 1-8. ( ket. ada di bendel 1996 - 1997 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive