Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31868 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ch M. Kristanti, Yuyus Rusiawati
JEN Vol.5, Ed.2
Jakarta : [s.n.] : 2001
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia (MOGI), Vol.11, No.1, Jan. 1985, hal. 14-18. ( ket. ada di bendel 1985- 1992)
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indirawati Tjahja Notohartojo, Magdarina D.A.
MPPK Vol.23, No.1
Jakarta : Balitbangkes Kemenkes RI, 2013
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Henny Chandrawati ... [et al.]
JRI Vol.28, N0.1
Jakarta : Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2008
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Berita Epidemiologi, September 1989, hal. 3-15. ( ket. ada di bendel 1989 - 1992 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Nurul Triastuti; Pembimbing: Sudijanto Kamso
S-3735
Depok : FKM UI, 2004
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sharleen Callista Widjaja; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Diah Mulyawati Utari,Kusharisupeni Djokosujono
Abstrak:
Obesitas pada anak dan remaja merupakan masalah kesehatan masyarakat yang terus meningkat dan memerlukan deteksi dini menggunakan indikator antropometri yang akurat. Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) WHO merupakan indikator yang paling umum digunakan, namun memiliki keterbatasan karena perubahan komposisi tubuh selama masa pertumbuhan. Tri-Ponderal Mass Index (TMI) dikembangkan sebagai alternatif yang dinilai lebih stabil pada anak dan remaja. Penelitian ini bertujuan membandingkan kinerja diagnostik TMI dan IMT/U WHO dalam menentukan obesitas pada anak dan remaja usia 5-18 tahun di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Sampel penelitian terdiri dari 191.454 anak dan remaja usia 5-18 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Kinerja diagnostik dievaluasi berdasarkan kelompok usia dan jenis kelamin. Hasil penelitian menemukan IMT/U WHO menunjukkan sensitivitas yang sangat tinggi pada sebagian besar kelompok usia dan jenis kelamin berdasarkan standar IOTF. TMI juga menunjukkan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi, terutama pada kelompok usia remaja. Nilai NPV kedua indikator sangat tinggi, sedangkan PPV TMI cenderung lebih rendah dibandingkan IMT/U WHO. Nilai AUC TMI meningkat seiring bertambahnya usia dengan performa terbaik pada kelompok usia 16-18 tahun. Meskipun nilai AUC IMT/U WHO secara umum lebih tinggi, perbedaan antara kedua indikator semakin kecil pada kelompok remaja. TMI dan IMT/U WHO sama-sama memiliki kemampuan yang baik dalam menentukan obesitas pada anak dan remaja. TMI berpotensi digunakan sebagai indikator alternatif yang sederhana dan praktis dalam skrining serta surveilans obesitas pada anak dan remaja di Indonesia.

Obesity in children and adolescents is a growing public health problem that requires early detection using accurate anthropometric indicators. The WHO Body Mass Index for Age is the most commonly used indicator, but it has limitations due to changes in body composition during growth. The Tri-Ponderal Mass Index (TMI) was developed as an alternative that is considered more stable in children and adolescents. This study aims to compare the diagnostic performance of TMI and WHO BMI in determining obesity in children and adolescents aged 5-18 years in Indonesia. This study used a cross-sectional design with secondary data from Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. The study sample consisted of 191,454 children and adolescents aged 5-18 years who met the inclusion and exclusion criteria. Diagnostic performance was evaluated by age group and sex. The study results found that WHO BMI demonstrated very high sensitivity in most age groups and sexes based on IOTF standards. TMI also demonstrated high sensitivity and specificity, especially in adolescents. The NPV values of both indicators were very high, while the PPV of TMI tended to be lower than that of WHO BMI. The AUC of the TMI increased with age, with the highest performance in the 16-18 age group. Although the AUC of WHO BMI was generally higher, the difference between the two indicators narrowed in the adolescent group. Both the TMI and the WHO BMI  both had good ability to determine obesity in children and adolescents. The TMI has the potential to be used as a simple and practical alternative indicator for screening and surveillance of obesity in children and adolescents in Indonesia.
Read More
S-12329
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Julianty Pradono ... [et al.]
Bulitkes Vol.28, No.3&4
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 2000
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rusepno Hassan, Arjatmo Tjokronegoro
618.9 HAS p
Jakarta : FK UI, 1982
Buku (pinjaman 1 minggu)   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bara Miradwiyana; Pembimbing: Engkus Kusdinar Achmad; Penguji: Trini Sudiarti, Kusharisupeni Djokosujono, Pritasari, Marzuki Iskandar
Abstrak:
Masalah gizi Iebih pada masa sekarang ini sudah menjadi masalah global. Gizi Iebih terjadi tidak hanya di negara maju, tetapi juga sudah mulai terjadi pada negara-negara dunia ketiga khususnya didaerah perkotaan. Orang dewasa yang mengalami over-weigh! dipastikan sebagian besar mengalami overweight pada masa remaja. Masa remaja merupakan tahapan kritis terakhir untuk terjadinya kemungkinan overweight. Overweight yang terjadi pada masa remaja akan menimbulkan masalah penyakit degeneratif pada masa kehidupan selanjutnya. Untuk menentukan apakah seorang remaja mengalami overweight atau tidak dilakukan pengukuran dengan menggunakan lndeks Massa Tubuh (IMT) menurut umur. Hubungan antara asupan kalsium dengan berat badan masih menjadi kontroversi. Beberapa penelitian menunjukan hubungan yang signifikan antara asupan kalsium dengan kejadian overweight. Diduga, orang yang mengkonsumsi kalsium dalam jumlah sama dengan atau Iebih dari yang dianjurkan akan dapat mencegahnya untuk menjadi overweight. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang status gizi pada siswa SLTP Al Azhar 12 Rawamangun Jakarta beserta asupan kalsiumnya dan faktor lain yang kemungkinan mempengaruhi IMT. Penelitian ini merupakan anaiisis data primer dengan pendekatan kuantitatif observasional. Rancangan penelitian yang digunakan adalah cross-sectional. Jumlah sampel 125 orang. Siswa pada penelitian ini diwakili oleh siswa kelas 7 dan 8. Pemilihan sampel dilakukan secara stratyied random sampling dari IO kelas yang ada. Variabel terikat adalah IMT dan variabel bebas adalah asupan kalsium, total energi. persen energi dari Karbohidral, protein dan lemak, lama menonton tv, kebiasan konsumsi fa.s'U’oocL soda, jenis kelamin, pendidikan orangtua, pendapatan orangtua dan suku. Hasil penelitian menunjukan rata- rata IMT siswa adalah 22.28 kg/m2 i 5.09. Proporsi siswa yang overweight sebesar 4l.6%. Rana- rata asupan kalsium adalah sebesar 396 mg, asupan energi 1972 kalori. Hasil analisis multivariat bahwa ada hubungan bermakna antara jenis keiamin, suku, persen energi dari karbohidrat dan persen energi dari Iemak. Variabel persen energi dari Iemak merupakan variabel yang paiing berpengaruh dengan IMT menurut umur. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada instansi kesehatan yang terkait umuk membuat program untuk mcncegah semakin banyaknya remaja yang mengalami gizi Iebih. Kegiatan yang dapat dilakukan misalnya mengadakan seminar tentang overweight dengan sasaran remaja. Untuk puskesmas, perlu kerja sama dengan sekolah dalam mengadakan penyuluhan yang berkesinambungan tentang masalah gizi. Untuk sekolah lebih memanfaatkan klinik yang ada disekolah dan melakukan pemantauan IMT pada awal dan akhir semester. Overweight has a global problem of public health in recent years. Overweight not only to occurred in industrial countries but now in developing countries too, especially in urban areal.

Overweight in adolescent is directly associated with being overweight in adulthood. Adolescence, represents a second critical period for the development of overweight. Overweight present in adolescence increase the risk of degenerative disease later in life. For adolescence, Body Mass Index (BMI)-for-age is used to screen for overweight, at risk of overweight, or underweight. The relation between calcium intake and body weight still remains controversial. Some studies have reported of significant association between calcium intake and overweight. Suggested, people who is consume recommended amounts or more of calcium intake can prevent to be overweight. The objective of this study was to findings status of nutrition, calcium intake and the others factor description which may be to influencing BMI in Al Azhar junior high school adolescence Rawamangun Jakana. This study was to form primer data analyze with observational quantitative approach. This study used cross-sectional design. Sample size was l25. Sample of this study was taken from students in both class of seven and class of eight with stratified random sampling from ten class offer there.. Dependent variable was BM] and independent variables were calcium intake, total energy, percent energy from carbohydrate, protein and fat, watching tv, fast-food consumption, soda consumption, sex, parents education degree, parents income and ethnic. Results showed that average ot`BMl-for-age was 22.28 kg/m2 nt: 5.09. Propose from o students were 4 I .6%. An average of calcium intake was 396 mg, mean of energy intake was |972 kkal. Results from multivariate showed that there was not significantly relationship between calcium intake and BMI-for-age. There was significant relation between sex, ethnic, percent energy from tat and carbohydrate. Dominant variables of this study which was to influence BM l was percent energy from fat. Based from results of study, suggested to health authority was made many program for decrease overweight of adolescence. To create seminar about overweight in adolescence example, was an activity which one to worked. For Puskesmas, collaborated with the school to create of information about problem nutrition through a routine was important. For the school, to maximized the clinic offer there and BMI monitoring on both the beginning and the end of semester.
Read More
T-2717
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive