Ditemukan 20307 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Sandjaja, Sihadi
JEN Vol.7, Ed.3
Jakarta : [s.n.] :
2005
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sandjaja, Sihadi
JEI Vol.7, Ed.3
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 2005
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Lukman Hakim, Asep Jajang Kusnandar
AJPPTV Vol.4, No.1
Ciamis : Balitbangkes Depkes RI, 2012
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yanti Afrian Siswianti; Pembimbing: Engkus Kusdinar Achmad; Penguji: Tri Krianto, Dewi Damayanti
S-7350
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Arjatmo ... [et al]
Medika, No. 2
Jakarta : [s.n.] :
1991
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Widiana Kusumasari Agustin; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Kusharisupeni Djokosujono, Diah Mulyawati Utari, Sri Puji Wahyuni, Yuni Zahraini
Abstrak:
Read More
ABSTRAK Kurang gizi pada balita 0-23 bulan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Provinsi DKI Jakarta. Pada tahun 2017 prevalensi underweight di Provinsi DKI Jakarta tergolong prevalensi medium (14,5%), sementara wasting tergolong serius, sedangkan untuk stunting termasuk rendah (18,1%). Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara asupan energi, asupan protein, asupan lemak, keragaman jenis makanan, frekuensi pemberian makanan, ASI eksklusif, inisiasi menyusu dini, penimbangaan berat badan, pemberian kapsul vitamin A, riwayat pendidikan formal ibu dan status ibu bekerja dengan kurang gizi pada Balita 0-23 bulan di Provinsi DKI Jakarta tahun 2017. Kurang gizi diukur menggunakan Compocite Index of Anthropometric Failure (CIAF). Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan jumlah sampel 658 balita 0- 23 bulan. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi kurang gizi pada Balita 0-23 bulan dengan indikator CIAF jauh lebih tinggi (31,9%) dibandingkan dengan indikator BB/U, PB/U, dan BB/PB. Asupan protein, keragaman jenis makanan, pemberian kapsul vitamin A dan status bekerja ibu berhubungan signifikan dengan kurang gizi. Faktor dominan adalah asupan protein. Balita yang mengkonsumsi protein kurang memiliki risiko sebesar 4,8 kali (95% CI: 0.599-38.746) untuk mengalami kurang gizi dibandingkan Balita yang mengkonsumsi protein cukup. Terdapat interaksi antara asupan protein dan keragaman jenis makanan. Interaksi tersebut saling melemahkan terhadap kejadian kurang gizi. Kata kunci: Kurang gizi, balita 0-23 bulan, CIAF, asupan protein Undernutrition in under five children (0-23 months) is still a public health problem in DKI Jakarta Province. In 2017, the prevalence of underweight in DKI Jakarta is classified as medium prevalence (14.5%), while wasting is considered serious, meanwhile stunting is low (18.1%). The objectives of the study were to investigate the relationship between energy intake, protein intake, fat intake, food diversity, feeding frequency, exclusive breastfeeding, early breastfeeding initiation, weight monitoring, vitamin A capsule supplementation, maternal formal education and maternal working status with undernutrition in under five children (0-23 months). Undernutrition was measured using the Composite Index of Anthropometric Failure (CIAF). This research use cross sectional design with number of sample 658. The results showed prevalence of undernutrition using CIAF indicator is much higher (31.9%) compared with BB / U, PB / U, and BB / PB indicators. Protein intake, dietary diversity, vitamin A capsule supplementation and maternal working status were significantly associated with undernutrition. The dominant factor is protein intake. Toddlers who consumed less protein had 4.8 times higher risk (95% CI: 0.599-38.746) to experience undernutrition compared to toddlers who consumed enough protein. There is an interaction between protein intake and food diversity. The interactions are mutually debilitating to the incidence of undernutrition. Key words: Undernutriton, under five children (0-23 months), CIAF, protein intake
T-5195
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ahmad Toifur Sya`ban; Pembimbing: Iwan Ariawan
S-3014
Depok : FKM UI, 2003
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Haridah Iswiyani; Pembimbing: Siti Arifah Pudjonarti
S-3662
Depok : FKM UI, 2004
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Luriana Nur Pratiwi; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Dwi Gayatri, Syafrial
S-7415
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nuril Aiffa Dewantari; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Asih Setiarini, Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Evi Fatimah, Yekti Widodo
Abstrak:
Kekurangan gizi pada balita terutama pada dua tahun pertama kehidupan masih merupakan salah satu permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia. Selain kekurangan gizi berdasarkan indikator tunggal BB/U, TB/U, BB/TB, balita juga berisiko mengalami permasalahan kurang gizi kombinasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran status gizi balita umur 6-23 bulan berdasarkan indikator antropometri tunggal dan CIAF serta mengetahui hubungan antara status ASI eksklusif (inisiasi menyusui dini, ASI eksklusif), status MP ASI (inisiasi MP ASI, keragaman konsumsi makanan, protein hewani), penyakit infeksi (diare, ISPA, TB paru), tinggi badan ibu, status BBLR dan faktor dominan terhadap status gizi balita umur 6-23 bulan berdasarkan CIAF. Penelitian ini merupakan studi cross sectional menggunakan data sekunder Riskesdas 2018 dengan jumlah sampel 12.366 balita umur 6-23 bulan di Indonesia. Analisis bivariat dilakukan dengan uji chi square dan analisis multivariat dilakukan dengan uji regresi logistik dengan nilai signifikansi (p value< 0,05). Hasil penelitian menunjukkan terdapat 42,4% balita yang mengalami kurang gizi berdasarkan indikator CIAF. ASI eksklusif, inisiasi MP ASI, tinggi badan ibu, dan status BBLR berhubungan signifikan dengan status gizi berdasarkan CIAF dan status BBLR merupakan faktor dominan. Balita yang dilahirkan dalam kondisi BBLR berisiko mengalami kurang gizi sebesar 2,17 kali (95%CI: 1,8692,524) dibandingkan balita yang dilahirkan normal. Diperlukan peningkatan edukasi gizi melalui kolaborasi dengan kegiatan kemasyarakatan sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran gizi pada masyarakat dan mencegah terjadinya permasalahan gizi.
Undernutrition in children under five especially the first two years of life was still one of public health problem in Indonesia. Besides undernutrition according to single indicator WAZ, HAZ, and WHZ, children might be risk of combination undernutrition problem. Until the first two years of life, children were in important periode of growing and developing. The aim of this study was to know nutrition status of children 6-23 months of age using a single indicator of anthropometry and CIAF, besides determining the relationship between exclusive breastfeeding status (initiation of early breastfeeding, exclusive breastfeeding), complementary feeding status (initiation of complementary feeding, dietary diversity, animal protein), infectious diseases (diarrhea, upper respiratory tract infection, pulmonary tuberculosis), maternal height, low birth weight status and the dominant factor of nutrition status in children 6-23 months of age using CIAF. This was crosssectional study using secondary datas on 12.366 children from Indonesia Basic Health Research 2018. Data analysis used chi square for bivariat and logistic regression for multivariate with significance value (p value < 0,05). The results of this study showed 42,4% children 6-23 months were undernutrition by using CIAF. Exclusive breastfeeding, initiation of complementary feeding, maternal height, and low birth weight status were significantly related to undernutrition based on CIAF with low birth weight status as the dominant factor. Children 6-23 months of age had 2.17 times risk (95% CI: 1.869-2.524) of undernutrition compared to children who were born normally. Increasing nutrition education was required by collaborating with public activities so that it would be able to increase nutrition knowledge and awareness moreover to prevent undernutrition.
Read More
Undernutrition in children under five especially the first two years of life was still one of public health problem in Indonesia. Besides undernutrition according to single indicator WAZ, HAZ, and WHZ, children might be risk of combination undernutrition problem. Until the first two years of life, children were in important periode of growing and developing. The aim of this study was to know nutrition status of children 6-23 months of age using a single indicator of anthropometry and CIAF, besides determining the relationship between exclusive breastfeeding status (initiation of early breastfeeding, exclusive breastfeeding), complementary feeding status (initiation of complementary feeding, dietary diversity, animal protein), infectious diseases (diarrhea, upper respiratory tract infection, pulmonary tuberculosis), maternal height, low birth weight status and the dominant factor of nutrition status in children 6-23 months of age using CIAF. This was crosssectional study using secondary datas on 12.366 children from Indonesia Basic Health Research 2018. Data analysis used chi square for bivariat and logistic regression for multivariate with significance value (p value < 0,05). The results of this study showed 42,4% children 6-23 months were undernutrition by using CIAF. Exclusive breastfeeding, initiation of complementary feeding, maternal height, and low birth weight status were significantly related to undernutrition based on CIAF with low birth weight status as the dominant factor. Children 6-23 months of age had 2.17 times risk (95% CI: 1.869-2.524) of undernutrition compared to children who were born normally. Increasing nutrition education was required by collaborating with public activities so that it would be able to increase nutrition knowledge and awareness moreover to prevent undernutrition.
T-6119
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
